<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="https://journal.fk.unpad.ac.id/lib/pkp/xml/oai2.xsl" ?>
<OAI-PMH xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/
		http://www.openarchives.org/OAI/2.0/OAI-PMH.xsd">
	<responseDate>2026-04-15T19:19:44Z</responseDate>
	<request from="2022-01-21" metadataPrefix="oai_dc" verb="ListRecords">https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/oai</request>
	<ListRecords>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2757</identifier>
				<datestamp>2022-03-21T03:53:24Z</datestamp>
				<setSpec>mkb:FBM</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2774</identifier>
				<datestamp>2022-04-08T04:00:10Z</datestamp>
				<setSpec>mkb:FBM</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3237</identifier>
				<datestamp>2023-02-15T02:10:29Z</datestamp>
				<setSpec>amj:fbma</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2574</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Sensitivitas dan Spesifisitas Kuesioner COVID-19 untuk Skrining Pasien Praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Sensitifitas dan Spesifisitas Kuesioner Covid-19 untuk Skrining Pasien Praoperatif di RSUP dr. Hasan Sadikin</dc:title>
	<dc:creator>Simamora, Marrylin Tio</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19; kuesioner;praoperatif;sensitivitas; spesifisitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) memberi dampak ke seluruh aspek, salah satunya dalam pelayanan kesehatan. Skrining praoperatif menjadi salah satu hal penting dalam persiapan dan pemilihan pasien yang akan menjalani operasi elektif di masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas kuesioner COVID-19 yang digunakan untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari 2021 hingga Maret 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan hasil kuesioner dengan hasil PCR COVID-19 yang diambil dari data pasien praoperatif bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa sensitivitas kuesioner COVID-19 untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin sangat lemah (36,4%), sedangkan spesifisitasnya sangat kuat (97,2%). Rasio kemungkinan positif sempurna (13), sedangkan rasio kemungkinan negatif cukup (0,65). Simpulan penelitian ini kuesioner COVID-19 kurang baik bila digunakan pada populasi dengan prevalensi yang rendah, tetapi cukup baik untuk menyaring pasien yang sehat, namun masih belum dapat dijadikan sebagai alat uji diagnostik, masih membutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendiagnosis COVID-19.Covid-19 Sensitivity and Specificity Questionnaire for Screening Preoperative Patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungThe 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) pandemic impacts all aspects, one of which is health services. Preoperative screening is one of the essential things in the preparation and selection of patients who will undergo elective surgery during the COVID-19 pandemic. This study aimed to determine the sensitivity and specificity of the COVID-19 questionnaire used to screen preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital. The study was conducted at the Medical Record Unit of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from February 2021 to March 2021. This study was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design to compare the results of the questionnaire with the results of the COVID-19 PCR taken from preoperative patient data from June 2020 to August 2020. The results found that sensitivity in the COVID-19 questionnaire for screening preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital was very weak (36.4%), while the specificity was very strong (97.2%). The positive likelihood ratio was perfect (13), while the negative likelihood ratio was moderate (0.65). This study concludes that the COVID-19 questionnaire is unsuitable for use in a low prevalence population but is good enough to screen healthy patients. However, it still cannot be used as a diagnostic test tool and requires other supporting tests to diagnose COVID-19.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) memberi dampak ke seluruh aspek, salah satunya dalam pelayanan kesehatan.Aspek penting yang perlu menjadi perhatian khusus yaitu menghindari potensi penularan dari pasien COVID-19. Skrining praoperatif menjadi salah satu hal penting dalam persiapan dan pemilihan pasien yang akan menjalani operasi elektif di masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas dari kuesioner COVID-19 yang digunakan untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari 2021 hingga Maret 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan hasil kuesioner dengan hasil PCR COVID-19 yang diambil dari data pasien praoperatif bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa sensitivitas kuesioner COVID-19 untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin sangat lemah (36,4%), sedangkan spesifisitasnya sangat kuat (97,2%). Rasio kemungkinan positif sempurna (13), sedangkan rasio kemungkinan negatif cukup (0,65). Simpulan penelitian ini kuesioner COVID-19 kurang baik bila digunakan pada populasi dengan prevalensi yang rendah, tapi cukup baik untuk menyaring pasien yang sehat namun masih belum dapat dijadikan sebagai alat uji diagnostik, masih membutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendiagnosis COVID-19.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2574</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2574</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 50-57</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 50-57</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2574/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2574/2813</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2574/2814</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3110</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:03Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Komplikasi Berat Pemasangan Central Venous Catheter: Serial Kasus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Komplikasi Berat Pemasangan Central Venous Catheter: Serial Kasus</dc:title>
	<dc:creator>Muchtar, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Adil, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Syukur, Rusmin Bolo</dc:creator>
	<dc:creator>Kusumanegara, Jayarasti</dc:creator>
	<dc:creator>Pangerang, Andi Wija Indrawan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Central venous catheter; pembedahan endovaskular; resusitasi; syok hemoragik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Central venous catheter; pembedahan endovaskular; resusitasi; syok hemoragik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kateter vena sentral/central venous catheter (CVC) diindikasikan untuk melakukan pemantauan terhadap tekanan vena sentral/central venous pressure (CVP), pemberian cairan untuk menangani hipovolemia dan syok, nutrisi parenteral dan untuk mendapatkan akses vena bagi pasien yang akses vena perifernya sulit didapatkan. Salah satu komplikasi pemasangan CVC yang paling umum adalah penusukan arteri yang dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan penanganan syok hemoragik pascapemasangan CVC melalui resusitasi yang adekuat dan pembedahan endovaskular.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kateter vena sentral (central venous catheter [CVC]) diindikasikan untuk melakukan pemantauan terhadap tekanan vena sentral (central venous pressure [CVP]), pemberian cairan untuk menangani hipovolemia dan syok, nutrisi parenteral dan untuk mendapatkan akses vena bagi pasien yang akses vena perifernya sulit untuk didapatkan. Salah satu komplikasi pemasangan CVC yang paling umum adalah penusukan arteri yang dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan penanganan syok hemoragik pasca pemasangan CVC melalui resusitasi yang adekuat dan pembedahan endovaskular.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3110</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3110</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 125-130</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 125-130</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3110/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3826</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:16:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Uji Kesesuaian Pengukuran Berat Badan antara Metode Lorenz dan Metode Modifikasi PAWPER-XL MAC dengan Tempat Tidur Bertimbangan Khusus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Uji Kesesuaian Pengukuran Berat Badan antara Metode Lorenz dan Metode Modifikasi PAWPER-XL MAC dengan Tempat Tidur Bertimbangan Khusus</dc:title>
	<dc:creator>Pamugar, Bramantyo</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Berat badan aktual, metode Lorenz, metode modifikasi PAWPER-XL MAC, timbangan khusus</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">berat badan aktual; metode Lorenz; metode modifikasi PAWPER-XL MAC; timbangan khusus</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan potong lintang pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement (LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan cross-sectional pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement(LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3826</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3826</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 193-201</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 193-201</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3826/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3826/4846</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3826/5363</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2549</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:28Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Kombinasi Parasetamol dan Deksametason dengan Deksametason Praoperasi untuk Mengurangi Angka Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaanestesi Umum</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Kombinasi Parasetamol dan Deksametason dengan Deksametason Praoperasi untuk mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok pasca operasi anestesi umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung</dc:title>
	<dc:creator>Laory, Jansen</dc:creator>
	<dc:creator>Kadarsah, Rudi Kurniadi</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi umum, parasetamol, postoperative sore throat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anestesi umum, parasetamol, postoperative sore throat</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Postoperative sore throat (POST) setelah anestesi umum dengan pemasangan pipa endotrakea merupakan komplikasi yang sering terjadi dan tidak diinginkan. Angka kejadian nyeri tenggorok pascaoperasi setelah pemasangan pipa endotrakea adalah 6–76%. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi parasetamol dan deksametason dengan deksametason tunggal untuk mengurangi angka kejadian POST pada pasien setelah anestesi umum. Penelitian ini merupakan eksperimental dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Januari–April 2021. Total 92 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok deksametason dan parasetamol (n=46) diberikan deksametason 10 mg dan parasetamol 1.000 mg intravena. Kelompok deksametason (n=46) diberikan deksametason 10 mg intravena dan plasebo. Pada penelitian ini, derajat POST dipantau. Angka kejadian POST didapatkan lebih rendah pada kelompok kombinasi deksametason dan parasetamol dibanding dengan kelompok deksametason dan plasebo pada jam ke-0, 1, dan 6 (p=0,0001, p=0,001, dan p=0,0001). Simpulan penelitian ini adalah kombinasi deksametason parasetamol lebih baik dibanding dengan deksametason tunggal dalam menurunkan angka kejadian POST anestesi umum.Comparison of Combined Paracetamol and Dexamethasone with Preoperative Dexamethasone for Reducing Sore Throat Post General AnesthesiaPostoperative sore throat (POST) following general anesthesia with endotracheal tube insertion is a common and undesirable complication. The incidence of postoperative sore throat after insertion of an endotracheal tube is  6–76%. This study aimed to compare the effect of combined paracetamol and dexamethasone with single-dose dexamethasone to reduce POST incidence in patients after general anesthesia. This experimental study conducted a double-blind, complete randomized controlled clinical trial at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung during  January–April 2021 Ninety-two patients scheduled for elective surgery were randomly assigned to two groups. The dexamethasone and aracetamol group (n=46) were given dexamethasone 10 mg and paracetamol 1000 mg intravenously. Dexamethasone group (n=46) was given dexamethasone 10 mg intravenously and placebo. In this study, the degree of POST was monitored. Results showed that the incidence of POST was lower in the dexamethasone and paracetamol combination group than in the dexamethasone and placebo group at 0, 1, and 6 hours (p=0.0001, p=0.001, and p=0.0001). This study concludes that the combination of dexamethasone paracetamol is better than single-dose dexamethasone in reducing the incidence of POST general anesthesia. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Postoperative sore throat (POST) setelah anestesi umum dengan pemasangan pipa endotrakea merupakan komplikasi yang sering terjadi dan tidak diinginkan. Angka kejadian nyeri tenggorok pascaoperasi setelah pemasangan pipa endotrakea antara 6 – 76%. Pada penelitian ini, dilakukan perbandingan efek kombinasi parasetamol dan deksametason dengan deksametason tunggal untuk mengurangi angka kejadian POST pada pasien setelah anestesi umum. Penelitian ini merupakan eksperimental dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda. Total 92 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok Deksametason dan Parasetamol (n=46) diberikan Deksametason 10 mg dan Parasetamol 1000 mg intravena. Kelompok Deksametason (n=46) diberikan Deksametason 10 mg intravena dan plasebo. Derajat POST dipantau, selain itu sebagai tambahan skala nyeri luka operasi pascaoperasi dan penggunaan opioid pascaoperasi dibandingkan. Didapatkan hasil angka kejadian POST lebih rendah pada kelompok kombinasi Deksametason dan Parasetamol dibandingkan Deksametason dan placebo pada jam ke 0, 1 dan 6 (p=0,0001, p=0,001, dan p=0,0001). Mekanisme POST disebabkan adanya inflamasi pada faring dan trakea saat tindakan intubasi endotrakea. Deksametason dan parasetamol memiliki efek antiinflamasi dan penghambatan cyclooxygenase (COX) sebelum dilakukan tindakan intubasi endotrakea. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi deksametason parasetamol lebih baik dibandingkan deksametason tunggal dalam menurunkan angka kejadian POST anestesi umum.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2549</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2549</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 174–181</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 174–181</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2549/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2769</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2770</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2771</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2772</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3116</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Mula Kerja Ropivakain 0,75% dengan Levobupivakain 0,5% untuk Blokade Peribulbar pada Pasien yang Menjalani Operasi Vitrektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Mula Kerja Ropivacaine 0,75% dengan Levobupivacaine 0,5% untuk Blokade Peribulbar pada Pasien yang Menjalani Operasi Vitrektomi</dc:title>
	<dc:creator>Fahruzi, Odih</dc:creator>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Prihartono, M. Andy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar; levobupivakain; ropivakain; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">peribulbar</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan membandingkan mula kerja antara ropivakain dan levobupivakain pada blokade peribulbar. Jenis penelitian ini berupa eksperimental prospektif yang menggunakan desain double blind randomized controlled trial dengan analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney. Subjek terdiri dari 34 orang yang menjalani operasi vitrektomi dengan blokade peribulbar. Penelitian dilakukan bulan Maret–April 2022 di di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung. Enam belas subjek dilakukan blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dan 18 subjek mendapatkan levobupivakain 0,5%. Mula kerja rerata pada grup ropivakain 0,75% didapatkan 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit dengan perbedaan bermakna (p&lt;0,05). Volume rerata grup ropivakain 0,75% adalah 8,06±1,44 mL, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 mL. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding dengan levobupivakain. Simpulan penelitian ini adalah mula kerja levobupivakain 0,5% pada blokade peribulbar lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan. Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama, dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan mencari mula kerja dari ropivakain dan levobupivakain. Metode. Sebanyak 34 subjek dilakukan vitrektomi di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung dengan blokade peribulbar. Enam belas subjek mendapatkan ropivakain 0,75% dan delapan belas subjek mendapatkan levobupivakain 0,5% untuk blokade peribulbar. Setelah penyuntikan dilakukan penilaian gerak bola mata untuk menilai akinesia, dinilai Cicendo Akinesia Score (CAS) setiap menit selama 10 menit, blokade tercapai bila skor CAS 2 atau 3. Hasil. Grup ropivakain 0,75% didapatkan mula kerja rerata 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit setelah penyuntikan. Hasil statistik didapatkan nilai p &lt;0,05 yang berarti bermakna dari mulai kerja kedua obat. Volume rerata grup ropivakain 0,75%  8,06±1,44 ml, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 ml.  Diskusi. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding levobupivakain. Anatomi bola mata diselubungi oleh jaringan lemak, kemungkinan penetrasi ropivakain lebih lambat dibanding dengan levobupvakain. Simpulan. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibandingkan dengan ropivakain 0,75% pada blokade peribulbar. Kata Kunci: blokade peribulbar, levobupivakain, ropivakain, vitrektomi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Padjajaran University</dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3116</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.3116</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 43–48</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 43–48</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3116/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3741</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Nilai Platelets to Lymphocyte Ratio dengan Length of Stay ICU  pada Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Nilai Platelets to Lymphocyte Ratio Dengan Length of Stay ICU Pada Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Sigai, Erlina Ana Sepra Liber</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Aditya, Ricky</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Keparahan pasien ICU; limfosit, platelet; platelets to lymphocytes ratio; sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Keparahan pasien ICU; limfosit, platelet; platelets to lymphocytes ratio, sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang ditandai adanya disfungsi organ yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi respons inflamasi yang tidak terkendali atau imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis. Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai Platelets to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di ICU. Sebanyak 102 data rekam medis pasien sepsis diamati dalam penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU diperoleh r=0,611 (p≤0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU=(0,11xnilai PLR)–7,96 hari. Berdasarkan penelitian ini, terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi suatu respons inflamasi yang tidak terkendali ataupun imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis.  Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai PLR dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di  ICU. Sebanyak 102 data rekam medik pasien sepsis diamati pada penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU didapatkan r = 0,611 (p ≤ 0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU = (0,11 x nilai PLR) – 7,96 hari.  Bedasarkan penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3741</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3741</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 119-125</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 119-125</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3741/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3741/4633</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3741/4634</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4591</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:03:15Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Prognostic Value of Alactic Base Excess for 28 Day Mortality in Sepsis Patients: A Retrospective Prognostic Accuracy Study in an Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:creator>Sulistiono, Paulus</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alactic base excess; Intensive Care Unit; mortality; prognosis; sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Introduction: Prognostication in sepsis is challenging. Serum lactate is widely used but cannot separate non-lactate contributions to metabolic acidosis. Alactic Base Excess (ABE) provides a more complete assessment of acid–base status. This study assessed ABE’s value in predicting 28-day mortality in sepsis patients.Methods: A retrospective study included 109 adult sepsis patients meeting Sepsis-3 criteria with arterial blood gas analysis within 24 hours of ICU admission. ABE was calculated from base excess and lactate. Prognostic performance was evaluated using ROC analysis, and association with mortality was assessed using odds ratios (OR).Results: Of 109 patients, 59 (54.1%) died within 28 days. Non-survivors had more negative median ABE than survivors (-7.04 vs. -0.15; p&lt;0.001). Optimal ABE cut-off was ≤ -4.1. Patients with ABE ≤-4.1 had a higher risk of mortality (OR 38.6; 95% CI: 13.2–112.9; p&lt;0.001).Discussion: ABE showed strong prognostic performance, reflecting non-lactate metabolic acidosis not captured by lactate alone. As it is derived from routine arterial blood gas analysis, ABE is practical for early risk stratification in critically ill sepsis patients.Conclusion: ABE demonstrates excellent prognostic value for 28-day mortality in ICU sepsis patients. An ABE ≤-4.1 is linked to significantly higher mortality and may serve as a readily available biomarker for early risk assessment and timely clinical decisions.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4591</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4591</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 174-181</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 174-181</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4591/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4591/5917</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4591/5918</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2610</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:49Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kejadian Nyeri Kronis dan Kualitas Hidup Pascaoperasi Jantung Terbuka di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari–Desember 2019</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kejadian Nyeri Kronis dan Kualitas Hidup Pascaoperasi Jantung Terbuka di Rumah Sakit DR. HAsan Sadikin Bandung Periode Januari 2019-Desember 2019</dc:title>
	<dc:creator>Putra, Andri Febriyanto Eka</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kualitas hidup, kuesioner McGill, kuesioner SF-36, nyeri kronis, pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kualitas hidup; kuesioner McGill; kuesioner SF-36; nyeri kronis; pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Operasi merupakan salah satu penyebab tersering nyeri kronis, salah satu operasi yang paling sering menimbulkan nyeri kronis pascaoperasi adalah tindakan operasi di regio jantung (sebesar 55%). Nyeri kronis pascaoperasi dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental dan menurunnya kualitas hidup yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian nyeri kronis dan kualitas hidup pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melakukan studi potong lintang melalui pengisian kuesioner yang dilakukan melalui wawancara jarak jauh dengan telepon terhadap pasien pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai Desember 2019. Hasil penelitian menyatakan angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih tinggi 78% (45 dari 58 orang) dengan nyeri intensitas ringan sebanyak 31 orang dan intensitas sedang sebanyak 14 orang, sedangkan kualitas hidup pasien pascaoperasi jantung terbuka pada 58 pasien secara keseluruhan baik. Skor SF-36 pada kelompok yang tidak mengalami nyeri kronis lebih tinggi dibanding dengan kelompok yang mengalami nyeri kronis, skor SF-36 pada kelompok yang mengalami nyeri intensitas ringan lebih tinggi dibanding dengan kelompok nyeri intensitas sedang. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Januari sampai dengan Desember 2019 masih tinggi, namun memiliki kualitas hidup yang baik. Chronic Pain and Quality of Life Post Open Heart Surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung in January–December 2019Surgery is one of the most common causes of chronic pain, one of the operations that most often causes postoperative chronic pain is surgery in the heart region (55%). Postoperative chronic pain can lead to mental health problems and significantly reduced quality of life. This study aimed to determine the incidence of chronic pain and quality of life after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung. This descriptive study is conducting a cross-sectional study by filling out questionnaires through long-distance telephone interviews with patients after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung from January to December 2019. The study results stated that the incidence of chronic pain after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin Bandung was still high at 78% (45 out of 58 people), with mild-intensity pain in 31 people and moderate intensity in 14 people. At the same time, the overall quality of life for patients after open heart surgery in 58 patients was good. The SF-36 score in the group that did not experience chronic pain was higher than in the group that experienced chronic pain. The SF-36 score in the group that experienced mild-intensity pain was higher than the moderate-intensity pain group. This study concludes that the incidence of chronic pain after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin Bandung from January to December 2019 is still high; however, it has a good quality of life.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Operasi merupakan salah satu penyebab tersering nyeri kronis, salah satu operasi yang paling sering menimbulkan nyeri kronis pascaoperasi adalah tindakan operasi di regio jantung (sebesar 55%). Nyeri kronis pascaoperasi dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental dan menurunnya kualitas hidup yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian nyeri kronis dan kualitas hidup pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melakukan studi potong lintang melalui pengisian kuesioner yang dilakukan melalui wawancara jarak jauh dengan telepon terhadap pasien pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2019 sampai Desember 2019. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih tinggi 77,6% (45 dari 58 orang) dengan nyeri intensitas ringan sebanyak 31 orang dan intensitas sedang sebanyak 14 orang sedangkan kualitas hidup pasien pascaoperasi jantung terbuka pada 58 pasien secara keseluruhan baik. Skor SF-36 pada kelompok yang tidak mengalami nyeri kronis lebih tinggi dibanding dengan kelompok yang mengalami nyeri kronis, skor SF-36 pada kelompok yang mengalami nyeri intensitas ringan lebih tinggi dibanding dengan kelompok nyeri intensitas sedang. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Januari 2019 sampai dengan Desember 2019 masih tinggi namun memiliki kualitas hidup yang baik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2610</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2607</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 167–179</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 167–179</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2610/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2610/3109</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3702</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T05:10:01Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Nyeri dengan Agitasi pada Pasien yang Terintubasi di Intensive Care  Unit (ICU) RSUP Haji Adam Malik Medan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">CORRELATION OF PAIN AND AGITATION IN INTUBATED PATIENTS IN HAJI ADAM MALIK GENERAL HOSPITAL ICU</dc:title>
	<dc:creator>Syakur, Muhammad</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agitasi; CPOT; ICU; nyeri; RASS</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Agitation, CPOT, ICU,  Pain, and RASS</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Agitasi umum terjadi pada pasien ICU dan dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan baru, paparan obat, kondisi medis, dan kondisi kesehatan mental. Nyeri juga banyak dialami oleh pasien yang diintubasi di ICU yang menerima perawatan medis seperti suctioning ETT, pemasangan kateter urin, nasogastrik, dan tindakan perawatan pasien rutin sehari-hari dapat memperburuk agitasi. Dalam perawatan ICU, penting mempertimbangkan hubungan antara agitasi, nyeri, delirium, dan faktor-faktor lain untuk mengelola dan mengatasi kondisi pasien secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nyeri menggunakan critical-care pain observation tool (CPOT) dan agitasi menggunakan RASS pada pasien intubasi di ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan studi cross sectional menggunakan skala CPOT dan Richmond agitation sedation scale (RASS) sebagai alat ukur selama periode Oktober 2023. Didapatkan perbedaan yang signifikan antara pengukuran pagi dan malam di semua penilaian hemodinamik. Diketahui ada korelasi positif yang signifikan antara CPOT dan RASS pada pagi hari dengan tingkat korelasi sedang dan arah korelasi positif. Perbedaan nilai CPOT pagi dan RASS pagi dengan sore hari signifikan secara statistik. Simpulan, didapatkan korelasi antara nyeri dan agitasi pada pasien yang diintubasi di ICU RSUP Adam Malik dengan tingkat korelasi sedang. CPOT dianggap memiliki manfaat untuk digunakan di ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Agitation is common in ICU patients and can be caused by factors such as the new environment, drug exposure, medical conditions, and mental health conditions. Pain is also widely experienced by patients intubated in the ICU who receive medical care such as ETT suctioning, urinary catheter insertion, nasogastric, and routine daily patient care actions can worsen agitation. In ICU care, it is important to consider the relationship between agitation, pain, delirium, and other factors to effectively manage and cope with the patient's condition. This study aimed to analyze the correlation between pain using CPOT and agitation using RASS in intubated patients in the ICU of Haji Adam Malik General Hospital. The study design was observational analytic with a cross-sectional study using the CPOT and RASS scales as measuring tools during the October 2023 period. There was a statistically significant difference between morning and evening measurements across all hemodynamic assessments. It is known that there is a significant positive correlation between CPOT and RASS in the morning with a moderate degree of correlation and a positive correlation direction. It is known that the difference in morning CPOT and morning and evening RASS values is statistically significant. The conclusion of this study showed a significant correlation between pain and agitation in patients intubated in the ICU of Adam Malik General Hospital with a moderate degree of correlation. CPOT is considered to have benefits for use in the ICU.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3702</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3702</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 33-43</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 33-43</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3702/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3702/4581</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3702/4888</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3743</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Skor Apgar antara Seksio Sesaria Metode Konvensional dengan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery di Rumah Sakit Bina Sehat Jember</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Apgar Score pada Menit Pertama antara Sectio Caesarea Metode Konvensional dengan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery di RS Bina Sehat Jember</dc:title>
	<dc:creator>Safitri, Athiyah Naura</dc:creator>
	<dc:creator>Efendi, Erfan</dc:creator>
	<dc:creator>Rumastika, Nindya Shinta</dc:creator>
	<dc:creator>Shodikin, Muhammad Ali</dc:creator>
	<dc:creator>Parti, Dita Diana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Enhanced recovery after caesarean surgery; skor apgar; seksio sesaria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ERACS, Enhanced Recovery After Caesarean Surgery, Sectio Caesarea, Apgar Score</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode seksio sesaria yang menggunakan pendekatan multimodal untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah pembedahan dengan tujuan mempercepat pemulihan pascapersalinan. Metode ERACS terbukti memberikan manfaat klinis bagi ibu, namun penelitian mengenai dampaknya terhadap kondisi bayi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan skor Apgar bayi antara prosedur seksio sesaria konvensional dan ERACS. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Bina Sehat Jember periode September 2022–Agustus 2023. Total terdapat 92 sampel, terdiri atas 46 bayi yang lahir melalui seksio sesaria konvensional dan 46 bayi yang lahir dengan metode ERACS. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk menilai perbedaan skor Apgar antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76 bayi memiliki skor Apgar baik, 16 bayi memiliki skor Apgar sedang, dan tidak terdapat bayi dengan skor Apgar rendah. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara skor Apgar bayi pada kelompok seksio sesaria konvensional dan ERACS (p=0,099).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Background: Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) is a sectio caesarea method that uses a special approach to optimize maternal health pre-operatively, intra-operatively, and after cesarean surgery with the purpose of faster post-natal recovery. ERACS has been proven to have a good impact on mothers, but there is no research on the impact of ERACS on babies, so this research was conducted on the difference in baby Apgar scores between conventional SC and ERCAS.Methods: This research is an analytical observational study using medical record data from Bina Sehat Jember Hospital for the period September 2022 - August 2023. The total number of research samples was 92 samples, with 46 babies born using conventional SC and 46 babies born using ERACS SC. The data were analyzed using chi-square to determine whether there was a significant difference in the baby's Apgar score between the conventional SC method and the ERACS SC method.Results: The research results showed that 76 babies were born with good Apgar scores, 16 babies were born with moderate Apgar scores, and no babies were born with low Apgar scores.Conclusion: There is no significant difference between the Apgar scores of babies born using the conventional cesarean section method and babies born using the Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) section method with a value of p=0.099.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3743</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.3743</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 83-87</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 83-87</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3743/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3743/4643</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3743/4659</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2428</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:24Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Adductor Canal Block dan Femoral Nerve Block dengan Kekuatan Otot Kuadrisep Femoris Pascaoperasi Total Knee Replacement</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Adductor Canal Block Dan Femoral Nerve Block  Terhadap Kekuatan Otot Quadriceps Femoris Pascaoperasi Total Knee Replacement</dc:title>
	<dc:creator>Tari, Eva Srigita</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Prihartono, M Andy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Adductor canal block, blokade saraf femoral, kekuatan otot paha, manual muscle test, total knee replacement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Adductor canal block; blokade saraf femoral; manual muscle test; kekuatan otot paha; total knee replacement</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Abstrak Blokade saraf femoral telah digunakan terlebih dahulu dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperasi total knee replacement (TKR). Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kekuatan otot paha pascaoperasi TKR antara femoral nerve block (FNB) dan adductor canal block ACB dengan mengukur nilai manual muscle test (MMT), selain itu penelitian ini membandingkan nilai numeric rating scale (NRS) dengan total kebutuhan patient controlled anlagesia (PCA) morfin yang digunakan pascaoperasi TKR. Penelitian dilakukan pada periode Oktober–November 2020 di RS Santosa Bandung. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal melibatkan 18 pasien yang menjalani operasi TKR. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kelompok ACB, n=9 dan kelompok FNB, n=9. Pemeriksaan MMT otot kuadrisep femoris dilakukan pada jam ke-24 pascaoperasi TKR. Analisis data numerik dengan uji T tidak berpasangan dan Mann Whitney. Data kategorik dengan uji chi square. Nilai NRS ACB lebih tinggi pada jam ke- 24 saat diam dan bergerak serta total kebutuhan PCA morfin lebih tinggi pada kelompok ACB, namun tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Nilai MMT pascaoperasi TKR pada jam ke-24 pada kelompok ACB lebih tinggi dibanding dengan kelompok FNB dengan perbedaan bermakna (p&lt;0,05). Adductor canal block sebagai modalitas penatalaksanaaan nyeri pascaoperasi total knee replacement memberikan efek analgetik yang tidak berbeda dengan femoral nerve block, namun lebih baik memulihkan kekuatan motorik otot kuadrisep femoris yang dibuktikan  dengan penilaian MMT yang lebih baik. Comparison of Adductor Canal Block and Femoral Nerve Block with Quadriceps Femoris Muscle Strength PostoperativeTotal Knee Replacement Femoral nerve blocks (FNB) were previously used in pain management post-total knee replacement (TKR). This study aimed to determine the differences in thigh muscle strength post-TKR surgery between patients with FNB and adductor canal block (ACB) by measuring manual muscle tests (MMT). In addition to MMT scores, this study also compared the NRS scores and total patient-controlled analgesia (PCA) of morphine required post-TKR surgery. The study was conducted in October-November 2020 at Santosa Hospital, Bandung. The study was a controlled, randomized, blinded study of 18 patients who underwent TKR surgery. Patients were divided into two groups, one ACB group, n=9, and one FNB recipient group, FNB n=9. Next, an MMT examination of the quadriceps femoris muscle was performed 24 hours post-TKR surgery. Numerical data were analyzed using the unpaired T-test and Mann-Whitney test. Categorical data using chi-square test. MMT measurements in the ACB group were higher than in the FNB group at 24 hours (p), whereas NRS scores in the ACB group were higher at 24 hours when idle and with movement. The total PCA morphine required was higher in the ACB group but was not statistically significant. MMT examination in postoperative TKR patients was better in ACB patients compared to FNB patients. Adductor canal block as a postoperative pain modality in total knee replacement procedure provides a similar analgesic effect as a femoral nerve block. However, it is better in restoring motor strength of the quadriceps femoris muscle, as evidenced by a better assessment of MMT.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Blokade saraf femoral telah digunakan terlebih dahulu dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperasi Total Knee Replacement (TKR), namun Femoral Nerve Block (FNB) menurunkan kekuatan otot Quadriceps femoris yang berperan penting dalam mobilitas. Adductor Canal Block (ACB) merupakan blokade saraf terbaru yang khusus memengaruhi saraf sensorik paha depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekuatan otot paha pascaoperasi TKR antara FNB dan ACB dengan mengukur nilai Manual Muscle Test (MMT), selain itu penelitian ini membandingkan nilai Numeric Rating Scale (NRS) dan total kebutuhan Patient Controlled Anlagesia (PCA) morphine yang digunakan pascaoperasi TKR. Penelitian dilakukan pada periode Oktober- November 2020 di RS Santosa Bandung. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal melibatkan 18 pasien yang menjalani operasi TKR.Pasien dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang dilakukan ACB (kelompok ACB, n=9) dan kelompok yang dilakukan FNB (kelompok FNB, n=9). Pemeriksaan MMT otot Quadriceps Femoris dilakukan pada jam ke-24 pascaoperasi TKR. Analisis data numerik dengan uji T tidak berpasangan dan Mann Whitney. Data kategorik dengan uji Chi Square. Nilai NRS ACB lebih tinggi pada jam ke- 24 saat diam dan bergerak dan total kebutuhan PCA morphin lebih tinggi pada kelompok ACB namun tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Nilai MMT pascaoperasi TKR pada jam ke-24 pada kelompok ACB lebih tinggi dibandingkan kelompok FNB dengan perbedaan bermakna (p&lt;0,05).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2428</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2428</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 107–114</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 107–114</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2428/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2590</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2591</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2592</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2593</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3686</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Remifentanil Vs Fentanil terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol pada Pasien dengan Ventilasi Mekanis di Ruang Rawat Intensif</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Remifentanil Vs Fentanyl Terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanis Di Ruang Rawat Intensif</dc:title>
	<dc:creator>Fitrianti, Nadia</dc:creator>
	<dc:creator>Muchtar, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Hisbullah, Hisbullah</dc:creator>
	<dc:creator>Salahuddin, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Ratnawati, Ratnawati</dc:creator>
	<dc:creator>Palinrungi, Ari Santri</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Analgosedasi; fentanil; remifentanil; ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">analgosedasi, fentanyl, remifentanil, ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pascaventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tata laksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antarpasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam pascaoperasi tiroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni–Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanil. Respons hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistole, diastole, rerata tekanan arteri serta denyut jantung yang lebih stabil daripada fentanil. Penggunaan fentanil menunjukkan penurunan kadar kortisol dalam 24 jam yang lebih tinggi daripada penggunaan remifentanil (p&lt;0,05), tetapi kadar kortisol serum dalam 24 jam lebih rendah pada kelompok remifentanil dibanding dengan kelompok fentanil. Simpulan, remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri pasca ventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tatalaksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti tentang penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antar pasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam post operasi tyroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni sampai Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia Remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanyl. Respon hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok Remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistol, diastol, rerata tekanan arteri, denyut jantung, frekuensi pernapasan dan suhu tubuh yang lebih stabil daripada Fentanyl. Penggunaan Fentanyl menunjukkan penurunan kadar kortisol yang lebih tinggi daripada penggunaan Remifentanil (p &lt; 0,05).. Simpulan bahwa Remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3686</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3686</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 146-153</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 146-153</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3686/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3981</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:40Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Nilai Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI) dengan  Durasi Ventilasi Mekanik pada Pasien Pascabedah Otak</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Nilai Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI) dengan  Durasi Ventilasi Mekanik pada Pasien Pasca Operasi Bedah Otak</dc:title>
	<dc:creator>Prasetya, Raka Jati</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni Trihartini</dc:creator>
	<dc:creator>Pison, Osmond Muftilov</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Cedera otak; perawatan kritis; tekanan intrakranial; ultrasonografi doppler  transkranial; ventilator</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Tekanan Intrakranial (TIK); Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI); durasi ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan kondisi umum pada pasien pascabedah otak dan berpotensi menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan drive napas, serta cedera paru akut, yang dapat menyulitkan proses penyapihan ventilator. Pemantauan TIK secara invasif belum menjadi prosedur rutin, sehingga dibutuhkan alternatif noninvasif, salah satunya Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI). Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik pada pasien pascabedah otak. Desain penelitian ini adalah observasional prospektif, dilakukan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Februari–April 2024. Pemeriksaan TCD-PI dilakukan 12–24 jam setelah pasien masuk ICU. Sebanyak 39 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan rerata nilai TCD-PI sebesar 1,39 dan rerata durasi ventilasi mekanik selama 6,59 hari. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik, dengan koefisien korelasi r=0,671 dan koefisien determinasi r²=0,450 (p&lt;0,001). Simpulan, terdapat korelasi positif dengan kekuatan sedang antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik, sehingga TCD-PI berpotensi sebagai indikator noninvasif untuk memprediksi lamanya ventilasi mekanik pada pasien pascabedah otak. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan masalah yang sering  terjadi pada pasien pasca operasi bedah otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan drive pernapasan dan cedera paru akut pada pasien neurokritis sehingga sulit untuk lepas dari bantuan ventilasi mekanik. Pemantauan TIK dengan metode invasif tidak rutin dilakukan dan memiliki berbagai risiko dan komplikasi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi di otak seperti TCD-PI (Transcranial Doppler Pulsatility Index) dapat menjadi alternatif untuk mengevaluasi TIK. Penelitian ini menggunakan studi prospektif observasional dengan analisis korelasi untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (r2) dan arah korelasi dari pemeriksaan TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik pasien pasca operasi bedah otak. Subjek penelitian adalah pasien yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2024 dengan melakukan pemeriksaan TCD-PI pada pasien pasca bedah otak 12-24 jam setelah  admisi di ICU. Sebanyak 39 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata TCD-PI pada seluruh subjek penelitian adalah 1,39 dan rata-rata durasi ventilasi mekanik pada seluruh pasien penelitian adalah 6,59 hari. Dari uji Pearson product moment antara TCD-PI dengan durasi ventilasi mekanik didapatkan koefisien korelasi r = 0,671dan koefisien determinasi r2 = 0,450 (p &lt; 0,001). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik memiliki arah korelasi positif berkekuatan medium/sedang. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3981</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3981</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 50-59</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 50-59</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3981/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3981/4996</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3981/4997</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3981/4998</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2463</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efektivitas Gabapentin, Deksametason, dan Gabapentin+Deksametason terhadap Angka Kejadian PONV Pascaoperasi Telinga Tengah</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efektivitas Gabapentin, Deksametason, dan Gabapentin+Deksametason terhadap Angka Kejadian PONV Pascaoperasi Telinga Tengah</dc:title>
	<dc:creator>Santosa, Sugeng Budi</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Wardhana, Irfan Tri Budhi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Deksametason; gabapentin; PONV,; operasi telinga tengah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Deksametason; gabapentin; PONV; operasi telinga tengah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Post operative nausea vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi tersering pascaoperatif terutama pada operasi risiko tinggi seperti operasi telinga tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason dalam mencegah PONV. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan double blind randomized control trial pada 30 pasien ASA I dan II yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi telinga tengah dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Moewardi Surakarta pada Maret–Mei 2019. Kelompok sampel terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok deksametason, kelompok gabapentin, dan kelompok gabapentin+deksametason. Pencatatan meliputi skala PONV (0–3) yang dinilai pada jam ke-1, 12, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik yang digunakan untuk uji perbedaan PONV adalah Uji Kruskal. Skala PONV pada jam ke-1, 12, dan 24 antara ketiga kelompok tidak didapatkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason tidak memiliki perbedaan efektivitas terhadap angka kejadian PONV pascaoperasi telinga tengah, akan tetapi kombinasi kedua obat tersebut memberikan hasil yang lebih baik.Differences in Effectiveness of Gabapentin, Dexamethasone, and Gabapentin-Dexamethasone on Incidence Rate of PONV Post Middle Ear SurgeryPostoperative nausea and vomiting (PONV) are among the most common complications after anesthesia, especially after high-risk PONV surgery, such as middle ear surgery. This study aimed to analyze the differences in the effectiveness of gabapentin+dexamethasone in preventing PONV post-middle ear surgery. This study was an experimental study with a double-blind, randomized controlled trial on 30 samples that met the inclusion criteria and was conducted in the Central surgical installation of Dr. Moewardi Hospital Surakarta from March to May 2019. The sample was divided into three groups receiving dexamethasone, gabapentin, or both treatments. Records included the PONV (0–3) scale, graded at 1, 12, and 24 hours postoperatively. The statistical analysis used to test for differences in PONV was the Kruskal test. There was no significant difference between the two groups on the PONV scale at 1, 12, and 24 hours (p&gt;0.05). In conclusion, gabapentin, dexamethasone, and gabapentin+dexamethasone have no difference in effectiveness in the PONV incidence post-middle ear surgery. However, the combination of the two drugs gives better results.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Post operative nausea vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi tersering pascaoperatif terutama pada operasi risiko tinggi seperti operasi telinga tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason dalam mencegah PONV. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan double blind randomized control trial pada 30 pasien ASA I dan II yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi telinga tengah dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Moewardi Surakarta pada Maret–Mei 2019. Kelompok sampel terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok deksametason, kelompok gabapentin, dan kelompok gabapentin+deksametason. Pencatatan meliputi skala PONV (0–3) yang dinilai pada jam ke-1, 12, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik yang digunakan untuk uji perbedaan PONV adalah Uji Kruskal. Skala PONV pada jam ke-1, 12, dan 24 antara ketiga kelompok tidak didapatkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason tidak memiliki perbedaan efektivitas terhadap angka kejadian PONV pascaoperasi telinga tengah, akan tetapi kombinasi kedua obat tersebut memberikan hasil yang lebih baik.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2463</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2463</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 1-9</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 1-9</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2463/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3159</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:03Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Mortalitas dan Morbiditas Pasien Bedah Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ditinjau berdasarkan Skor American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS)</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Mortalitas dan Morbiditas Pasien Bedah Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ditinjau Berdasarkan Skor American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS)</dc:title>
	<dc:creator>Alfasha, Alkadia</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Bisri, Dewi Yulianti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ASA-PS; morbiditas; mortalitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Elective Surgery;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ASA-PS, morbiditas, mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari risiko mortalitas dan morbiditas yang meningkat. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019−2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intraoperatif maupun pascaoperasi. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari meningkatnya risiko mortalitas dan morbiditas. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019-2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti  ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intra operatif maupun pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3159</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 86-96</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 86-96</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3159/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3159/3854</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3159/3859</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3889</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:14:54Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan antara Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol dengan Ketorolak dan Parasetamol Intravena Terhadap Derajat Nyeri dan Rasio Neutrofil Limfosit Pasca-Functional Endoscopic Sinus Surgery</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Antara Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol dengan Ketorolak dan Parasetamol Intravena Terhadap Derajat Nyeri dan Rasio Neutrofil Limfosit Pasca-Functional Endoscopic Sinus Surgery</dc:title>
	<dc:creator>Rahim, Muh. Rezah</dc:creator>
	<dc:creator>Musba, A. M. Takdir</dc:creator>
	<dc:creator>Palinrungi, Ari Santri</dc:creator>
	<dc:creator>Ahmad, Muh. Ramli</dc:creator>
	<dc:creator>Muhadi, Ratnawati</dc:creator>
	<dc:creator>Rum, Muhammad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">functional endoscopic sinus surgery, ibuprofen, ketorolak, nyeri pascaoperasi, parasetamol</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia; pain</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">functional endoscopic sinus surgery, ibuprofen, ketorolak, nyeri pascaoperasi, parasetamol</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Prosedur ini tetap menimbulkan rasa nyeri pascaoperasi, walaupun tindakan bersifat minimal invasif. Parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Penelitian ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL yang dilakukan di RSUlP Wahidin Suldirohulsodo dan rumah sakit jejaring antara bulan Agustus 2023 hingga Februari 2024. Desain penelitian adalah uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p&gt;0,05) dan juga RNL (p&gt;0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Hingga saat ini, functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Tindakan FESS, walaupun bersifat invasif minimal, tetap menimbulkan rasa nyeri pada pasien pascaoperasi. Asetaminofen atau parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen dan ketorolak dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik dalam suatu pembedahan adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Studi ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL. Penelitian ini menggunakan desain penelitian uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. Pasien dialokasikan ke masing-masing kelompok secara acak. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok secara rata. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p&gt;0,05) dan juga RNL (p&gt;0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3889</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3889</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 161-168</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 161-168</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3889/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3889/4853</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3889/4854</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3889/5415</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4454</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:34Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hemodynamic Effects of Phenylephrine 100 µg versus Ephedrine 5 mg During Propofol-Induced General Anesthesia: A Randomized Study</dc:title>
	<dc:creator>Sibarani, Nicholas Hamonangan</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:creator>Bangun, Chrismas Gideon</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APGAR score; caesarean section; early ambulation; enhanced recovery after surgery</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Propofol is widely used for induction of general anesthesia; however, it frequently associated hypotension due to vasodilation and myocardial depression. Vasopressors such as phenylephrine and ephedrine are commonly administered to counteract this effect, but evidence comparing their hemodynamic efficacy during induction remains limited.Methods: This randomized double-blind clinical trial included 80 patients undergoing elective surgery under general anesthesia. Patients were randomly allocated into two groups to receive either phenylephrine 100 µg or ephedrine 5 mg at the time of propofol induction. Demographic characteristics (sex, age, body mass index, and ASA physical status) were recorded. Hemodynamic parameters, including systolic blood pressure, diastolic blood pressure, mean arterial pressure, and heart rate, were measured after premedication and 30 seconds following propofol administration.Results: Baseline characteristics were comparable between the two groups. At 30 seconds after induction, there were no statistically significant differences in systolic blood pressure, diastolic blood pressure, mean arterial pressure, or heart rate between the phenylephrine and ephedrine groups. Both vasopressors effectively maintained hemodynamic stability during propofol induction.Discussion: The findings suggest that phenylephrine and ephedrine have similar hemodynamic profiles when administered during propofol induction. Despite their differing pharmacological mechanisms, both agents were equally effective in preventing early hypotension without significant differences in heart rate or blood pressure responses.Conclusion: Phenylephrine 100 µg and ephedrine 5 mg demonstrated comparable efficacy in maintaining hemodynamic stability during propofol-induced general anesthesia, with no significant difference in their ability to prevent hypotension. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4454</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4454</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 148-154</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 148-154</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4454/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4454/5878</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4454/5879</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4454/5880</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2493</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:27Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Kebutuhan Morfin PCA Pascalaparatomi antara Infiltrasi Ketamin dan Infiltrasi Levobupivakain</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Kebutuhan Morfin PCA Pasca Laparatomi  antara  Infiltrasi Ketamin Dan Infiltrasi  Levobupivakain</dc:title>
	<dc:creator>Purnomo, Heri Dwi</dc:creator>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Widayat, Arif Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Infiltrasi ketamin, infiltrasi levobupivakain, laparatomi, morfin, PCA</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penanganan nyeri akut yang tidak adekuat merupakan faktor risiko terjadin nyeri kronik dan komplikasi lainnya. Metode yang efektif dan efisien mengontrol nyeri akut yang berat adalah infiltrasi tepi luka operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infiltrasi ketamin dan levobupivakain dalam mengurangi kebutuhan morfin patient controlled analgesia (PCA) pascalaparatomi. Penelitian ini merupakan uji klinik acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Agustus 2018. Sampel terdiri atas 30 subjek yang dilakukan operasi laparatomi dengan anestesi umum yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok infiltrasi levobupivakain, infiltrasi ketamin, dan infiltrasi saline. Semua pasien mendapatkan morfin PCA pascaoperasi. Setelah itu dinilai jumlah penggunaan morfin dan efek mual-muntah pascaoperasi, dan efek samping tindakan infiltrasi. Penggunaan morfin PCA pada kelompok ketamin rerata 2,20+1,32 mg, pada kelompok levobupivakain penggunaan morfin rerata 5,80+1,03 mg, dan pada kelompok NaCl penggunaan morfin rerata 10,00+1,76 mg. Uji statistik Kruskal Wallis didapatkan perbedaan yang signifikan penggunaan morfin PCA antara pasien kelompok ketamin, levobupivakain dan NaCl (p&lt;0,05). Simpulan penelitian ini bahwa infiltrasi ketamin mengurangi nyeri pascalaparatomi lebih baik dibanding dengan infiltrasi levobupivakain dan saline.Differences in Post-laparotomy PCA Morphine Needs between Ketamine Infiltration and Levobupivacaine Infiltration Inadequate acute pain management is a risk factor for chronic pain and other complications. Laparotomy is a painful procedure with severe acute pain. Patient controlled analgesia (PCA) morphine use in acute pain control is promoted for efficiency and effectiveness. Wound infiltration is also effective in reducing acute pain. This study aimed to determine the effectiveness of ketamine and levobupivacaine wound infiltration in reducing the need for post-laparotomy PCA morphine. This study used a single-blind randomized clinical trial at RSUD Dr. Moewardi Surakarta on 30 subjects who underwent laparotomy and met the inclusion criteria. The samples were divided into three groups: wound infiltration with levobupivacaine, wound infiltration with ketamine, and wound infiltration with saline. All patients received standard general anesthetic treatment and were then evaluated for the total use of PCA morphine. It also assessed the effects of postoperative nausea-vomiting and the side effects of wound infiltration. The average PCA morphine use in the ketamine group was 2.20+1.32 mg. In the Levobupivacaine group was 5.80+1.03 mg, and in the NaCl group was 10.00+1.76 mg. Kruskal Wallis statistical test obtained p-value=0.000 (p&lt;0.05), which means that there was a significant difference in PCA morphine use after 24 hours between the three groups. No complication occurred with the three-group wound infiltration. Thus, there is a significant difference in the use of PCA morphine between wound infiltration with ketamine and wound infiltration with levobupivacaine and with saline infiltration. Ketamine wound infiltration can be used effectively to reduce post-laparotomy pain. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penanganan nyeri akut yang tidak adekuat merupakan faktor risiko terjadinya nyeri kronik dan komplikasi lainnya. Laparatomi merupakan operasi dengan nyeri operasi berat. Patient Controlled Analgesia (PCA) adalah suatu metode yang efektif dan efisien untuk mengontrol nyeri akut yang berat. Infiltrasi tepi luka efektif untuk mengurangi nyeri dan penggunaan PCA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infiltrasi ketamin dan Levobupivakain dalam mengurangi kebutuhan Morfin PCA pasca laparatomi. Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada 30 subyek yang dilakukan operasi laparatomi dan memenuhi kriteria inklusi dimulai pada bulan Agustus 2018. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok infiltrasi dengan Levobupivakain, infiltrasi dengan ketamin dan infiltrasi dengan saline. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan kemudian diberikan Morfin PCA pasca operasi. Setelah itu dinilai jumlah penggunaan morfin dan efek mual-muntah pasca operasi, dan efek samping tindakan infiltrasi. Ketiga kelompok memiliki karakteristik dasar yang homogen. Penggunaan morfin PCA pada kelompok ketamin rata-rata 2,20 +1,32 mg, pada kelompok Levobupivakain penggunaan morfin rata-rata 5,80 +1,03 mg, dan pada kelompok NaCl penggunaan morfin rata-rata 10,00 +1,76 mg. Uji statistik kruskal wallis didapatkan nilai p=0,000 (p&lt;0,05) yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan penggunaan morfin PCA antara pasien kelompok Ketamin, Levobupivakain dan NaCl. Dengan demikian, terdapat perbedaan penggunaan morfin PCA yang bermakna antara infiltrasi ketamin dan infiltrasi Levobupivakain serta infiltrasi saline. Infiltrasi ketamin dapat digunakan secara efektif untuk mengurangi nyeri pasca laparatomi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2493</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2493</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 142–149</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 142–149</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2493/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2493/2696</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2490</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:53Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pola Bakteri dari Jam Tangan dan Kacamata yang Dibawa ke Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pola Bakteri dari Jam Tangan dan Kacamata yang Dibawa ke Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Siregar, Geovaldy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Infeksi nosokomial; jam tangan; kacamata; pola bakteri; Staphylococcus hominis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tenaga kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata tenaga kesehatan yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggnakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni–Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian terhadap 40 hardware, yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (83%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata. Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis sebanyak 16 hardware (40%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10%). Simpulan penelitian ini adalah hardware yang diteliti mayoritas terdapat patogen (83%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah staphylococcus hominis pada 40% hardware.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tangan petugas kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Beberapa jam tangan mengandung bakteri patogen, namun efeknya sebagaipembawa bakteri belum dapat dijelaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni - Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan metode swab dan dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret untuk diidentifikasi. Data dianalisis dengan Uji Fhiser Exact Test. Hasil penelitian terhadap 40 hardware yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RS Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (82,5%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata, (p= 0,040). Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus            hominis sebanyak 16 hardware (40,0%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17,5%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10,0%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah hardware yang diteliti dan terdapat pathogen ada 33 hardware (82,5%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis pada 40,0% hardware.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2490</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2490</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 6–12</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 6–12</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2490/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2490/2691</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3866</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Blok Peritonsiler Levobupivakain Isobarik 0,125% terhadap Intensitas Nyeri dan Kadar Interleukin 6 Pascatonsilektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Blok Peritonsiler Levobupivacaine Isobarik 0,125% Terhadap Intensitas Nyeri Dan Kadar Interleukin 6 Pada Pascabedah Tonsilektomi</dc:title>
	<dc:creator>Silaban, Herman Mangasi</dc:creator>
	<dc:creator>Palinrungi, Ari Santri</dc:creator>
	<dc:creator>Ahmad, Muh. Ramli</dc:creator>
	<dc:creator>Salam, Syamsul Hilal</dc:creator>
	<dc:creator>Husain, Alamsyah Ambo Ala</dc:creator>
	<dc:creator>Tan, Charles Wijaya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Interleukin-6; levobupivakain; intensitas nyeri; tonsilektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Interleukin-6, Levobupivacaine, Nyeri, Tonsilektomi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pascatonsilektomi memengaruhi banyak aspek pada pasien. Intensitas nyeri berhubungan dengan kadar interleukin (IL)-6 yang meningkat pada proses inflamasi. Levobupivakain merupakan anestesi lokal potensi tinggi dengan durasi kerja panjang dan onset kerja relatif lambat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivakain isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pascatonsilektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin dan Rumah Sakit jejaring pendidikan pada bulan Desember 2023–Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi (diberikan levobupivakain isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah. Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pascabedah pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan kelompok intervensi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pascabedah (P&lt;0,05). Perubahan kadar IL-6 pascabedah juga berbeda secara signifikan (p=0,033) dengan kelompok kontrol (74,56±33,79) mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok intervensi (44,67±45,44). Simpulan didapatkan bahwa levobupivakain isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri pascatonsilektomi mempengaruhi banyak aspek pada pasien. Dilaporkan ada hubungan antara intensitas nyeri dengan kadar interleukin (IL)-6, yang berhubungan dengan inflamasi. Levobupivacaine merupakan anestesi lokal potensi tinggi, kerja lama dengan onset kerja yang relatif lambat. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivacaine isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pasca tonsilektomi.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUP Wahidin Sudirohusodo dan RS jejaring pendidikannya pada bulan Desember 2023 – Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok: intervensi (diberikan levobupivacaine isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah.Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan pada kelompok intervensi pascabedah tonsilektomi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pasca bedah (P&lt;0,05). Perubahan kadar IL-6 juga berbeda secara signifikan pascabedah (p = 0,033), dimana kelompok kontrol (74,56 ± 33,79) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibanding kelompok intervensi (44,67 ± 45,44).Didapatkan bahwa levobupivacaine isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. Kata kunci: Interleukin-6, Levobupivacaine, Nyeri, Tonsilektomi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Ari Santri Palinrungi1,Muh. Ramli Ahmad1, Syamsul Hilal Salam1, Alamsyah Ambo Ala Husain1, Charles Wijaya Tan1 1Departemen Ilmu Anestesi Dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin</dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3866</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3866</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 81-88</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 81-88</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3866/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/4818</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/4848</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/4861</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/5157</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3374</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:21Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Anestesi pada Pasien Osteogenesis Imperfecta</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Manajemen Anestesi pada Pasien Achondroplasia dan Osteogenesis Imperfecta</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Ihsaniar, Aura</dc:creator>
	<dc:creator>Cinkalasari, Bunga Ayu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Displasia; kesulitan intubasi; manajemen anestesia; osteogenesis imperfecta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Achondroplasia; Kesulitan intubasi; Manajemen Anestesia ; Osteogenesis imperfecta</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Osteogenesis Imperfecta (OI) merupakan bentuk displasia skeletal yang jarang ditemukan, diturunkan secara autosomal dominan, dan ditandai oleh gangguan osifikasi endokondral yang menyebabkan perawakan pendek, penurunan massa tulang, serta kerapuhan tulang. Dari sudut pandang anestesi, pasien dengan OI menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama pada manajemen jalan napas. Kelainan kraniofasial seperti hipoplasia midface, makroglosia, dan keterbatasan ekstensi tulang servikal sering menyulitkan laringoskopi langsung serta menghambat visualisasi glotis. Kondisi ini meningkatkan risiko kesulitan intubasi dan komplikasi perioperatif. Pemberian anestesi umum yang cermat dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, serta persiapan menyeluruh terhadap kondisi darurat sangat penting untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan oksigenasi, sehingga keselamatan pasien dapat dipertahankan. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien dengan osteogenesis imperfecta serta strategi yang digunakan untuk menghadapi tantangan tersebut.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Administrasi anestesi umum yang hati-hati dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, dan persiapan untuk kondisi darurat memastikan kondisi yang aman untuk mempertahankan hemodinamik dan oksigenasi sehingga memberikan hasil yang sangat baik bagi pasien. Achondroplasia adalah penyakit genetik autosomal dominan yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan kerapuhan tulang. Manajemen anestesi pasien dengan achondroplasia membuktikan tantangan dengan kelainan saluran udara bagian atas mereka dan kesulitan memvisualisasikan pembukaan glotis pada laringoskopi langsung. Kata Kunci : Achondroplasia; Kesulitan intubasi; Manajemen Anestesia ; Osteogenesis imperfecta</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3374</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.3374</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 122-126</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 122-126</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3374/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3374/4474</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2465</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:48Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Durasi Blokade Sensorik dan Motorik, Gejolak Hemodinamik, serta Efek Samping Deksmedetomidin dengan Fentanil sebagai Adjuvan pada Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Efek Durasi Blokade Sensorik dan Motorik, Gejolak Hemodinamik, serta Efek Samping Deksmedetomidin dengan Fentanil sebagai Adjuvan pada Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:creator>Purnomo, Heri Dwi</dc:creator>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Muslihan, Frans Kausario</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Adjuvan, deksmedetomidin, fentanil, spinal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Adjuvan; Dexmedetomidin; Fentanyl; Spinal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Fentanil dan deksmedetomidin merupakan agen yang berpotensi baik sebagai adjuvan anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan menilai kecepatan mula kerja, pemanjangan lama kerja blokade sensorik dan motorik anestesi spinal, termasuk pengaruhnya terhadap gejolak hemodinamik serta efek samping. Penelitian ini merupakan single blind randomized control trial untuk membandingkan pengaruh penambahan deksmedetomidin 3 mcg dengan fentanil 25 mcg pada lidokain 75 mg hiperbarik yang diberikan sebagai anestesi spinal di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta bulan Maret–Mei 2018. Subjek penelitian adalah pasien usia 19–64 tahun yang menjalani pembedahan abdomen bagian bawah dan ekstremitas bawah secara elektif dengan anestesi spinal dengan ASA I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penambahan deksmedetomidin dan fentanil pada lidokain 5% yang diberikan sebagai anestesi spinal, dengan menilai perbedaan kecepatan onset dan pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik, yaitu penambahan deksmedetomidin 3 mcg (diencerkan dalam NaCl 0,9% 0,5 mL) pada 1,5 mL Lidokain 5% lebih efektif dalam pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik dibanding dengan penambahan fentani 25 mcg (0,5 mL) pada 1,5 mL lidokain 5% dan tidak berbeda pengaruhnya pada perubahan tanda vital dan juga tidak meningkatkan efek samping. Comparison of Effects of Sensory and Motor Blockade Duration, Hemodynamic Fluctuations, and Side Effects of Dexmedetomidine with Fentanyl as Adjuvant in Spinal AnesthesiaFentanyl and dexmedetomidine are potentially suitable adjuvants to spinal anesthesia. This study aimed to assess the initial onset of work and prolongation of the duration of sensory and motor blockade of spinal anesthesia, including the effect on hemodynamic turbulence that appears and the occurrence of adverse effects. This study was a single-blind randomized control trial, comparing the impact of adding 3 mcg of dexmedetomidine with 25 mcg fentanyl on hyperbaric lidocaine 75 mg given as spinal anesthesia in the operating room of the central surgical installation of RSUD Dr. Moewardi Surakarta from March–May 2018. The research subjects were patients aged 19–64 who underwent elective abdominal and lower extremity surgery under spinal anesthesia with ASA I and II physical status and obtained informed consent. Based on the results of the study, it found that there was an effect of adding dexmedetomidine and fentanyl to 5% lidocaine given as spinal anesthesia by assessing the difference in the speed of onset and the prolongation of the duration of sensory and motor blockade. The addition of dexmedetomidine 3 mcg (diluted in 0.9% NaCl 0.5 mL) to 1.5 mL lidocaine was 5% more effective in prolonging the duration of sensory and motor blockade compared to 25 mcg fentanyl (0.5 mL) at 1.5 mL 5% lidocaine and no difference in changes in vital signs. Moreover, it also did not increase the occurrence of side effects. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Fentanil dan deksmedetomidin merupakan agen yang berpotensi baik sebagai adjuvan anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan menilai kecepatan mula kerja, pemanjangan lama kerja blokade sensorik dan motorik anestesi spinal, termasuk pengaruhnya terhadap gejolak hemodinamik serta efek samping. Penelitian ini merupakan single blind randomized control trial untuk membandingkan pengaruh penambahan deksmedetomidin 3 mcg dengan fentanil 25 mcg pada lidokain 75 mg hiperbarik yang diberikan sebagai anestesi spinal di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta bulan Maret–Mei 2018. Subjek penelitian adalah pasien usia 19–64 tahun yang menjalani pembedahan abdomen bagian bawah dan ekstremitas bawah secara elektif dengan anestesi spinal dengan ASA I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penambahan deksmedetomidin dan fentanil pada lidokain 5% yang diberikan sebagai anestesi spinal, dengan menilai perbedaan kecepatan onset dan pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik, yaitu penambahan deksmedetomidin 3 mcg (diencerkan dalam NaCl 0,9% 0,5 mL) pada 1,5 mL Lidokain 5% lebih efektif dalam pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik dibanding dengan penambahan fentani 25 mcg (0,5 mL) pada 1,5 mL lidokain 5% dan tidak berbeda pengaruhnya pada perubahan tanda vital dan juga tidak meningkatkan efek samping.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2465</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2465</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 133–140</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 133–140</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2465/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3126</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T02:47:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Bedah Anak pada Persiapan Perioperatif di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Bedah Anak pada Persiapan Perioperatif di RSD dr. Soebandi Jember</dc:title>
	<dc:creator>Supangat, Supangat</dc:creator>
	<dc:creator>Sakinah, Elly Nurus</dc:creator>
	<dc:creator>Nugraha, Muhammad Yuda</dc:creator>
	<dc:creator>Baswedan, Achmad Haykal</dc:creator>
	<dc:creator>Haritsah, Prisma Atha</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bedah anak; kecemasan; perioperatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Perioperative Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Bedah Anak, Kecemasan, Perioperatif</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pasien anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pascaoperasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memengaruhi tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September–Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1–18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya, tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 48% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p=0,000). Sebagian besar pasien yang mengalami kecemasan usia kurang dari 10 tahun. Simpulan, tingkat kecemasan berhubungan dengan usia terutama usia &lt;10 tahun. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pada pasien anak-anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pasca operasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September-Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1-18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 47,92% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p-value= 0.000), dimana sebagian besar responden yang mengalami kecemasan  pada usia kurang dari 10 tahun.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3126</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3126</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 1-5</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 1-5</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3126/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3126/3783</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3126/3784</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3494</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:39Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Kombinasi Bupivakain 0,25 % dan Epinefrin 1:10.000 dengan Epinefrin 1:10.000 terhadap Perdarahan Intranasal setelah Intubasi Nasotrakeal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Bupivacain 0,25 % + Epinefrin 1:10.000 dengan Epinefrin 1:10.000 dalam Mencegah Perdarahan Intranasal Setelah Intubasi Nasotrakeal</dc:title>
	<dc:creator>Rachman, Abdul</dc:creator>
	<dc:creator>Unaesih, Uun</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bupivakain; epinefrin; epistaksis; intubasi nasotrakeal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intubasi Nasotrakeal, Epistaksis,Bupivacaine+Epinefrin</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Epistaksis dan rasa tidak nyaman pada hidung merupakan komplikasi paling umum dari intubasi nasotrakeal, dengan angka kejadian yang dilaporkan antara 22–77%. Pencegahan komplikasi ini penting untuk meningkatkan kenyamanan pasien serta kelancaran prosedur anestesi dan pembedahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kombinasi bupivakain dan epinefrin dibanding dengan epinefrin tunggal dalam mengurangi epistaksis dan nyeri intranasal pascaoperasi. Penelitian dilakukan dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal di RSUD Dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat, pada Juni–Juli 2023. Sebanyak 72 pasien yang menjalani pembedahan elektif dengan intubasi nasotrakeal diacak ke dalam dua kelompok. Kelompok kombinasi (BE, n=36) menerima 2 mL larutan bupivakain 0,25%+epinefrin 1:10.000 intranasal, sedangkan kelompok epinefrin (E, n=36) menerima 2 mL epinefrin 1:10.000. Parameter yang dievaluasi meliputi status hemodinamik, kejadian epistaksis, dan nyeri intranasal pascaoperasi. Hasil menunjukkan bahwa angka kejadian epistaksis serupa pada kedua kelompok, namun skor nyeri intranasal pascaoperasi secara signifikan lebih rendah pada kelompok BE. Simpulan, kombinasi bupivakain dan epinefrin memberikan efektivitas setara dalam mencegah epistaksis dan memberikan manfaat tambahan berupa penurunan nyeri intranasal pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Intubasi nasotrakeal dapat menyebabkan epistaksis, bakteremia, kerusakan mukosa, dan rasa tidak nyaman pada hidung. Epistaksis adalah komplikasi intubasi nasotrakeal yang paling umum dan kejadiannya telah dilaporkan berkisar antara 22% sampai 77%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efikasi praterapi bupivakain dan epinefrin untuk mengurangi epistaksis dan nyeri hidung dibandingkan dengan praterapi epinefrin. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pendekatan single blind randomized control trial. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Agoesdjam Ketapang Kalimantan Barat bulan Juni-Juli 2023. Total 72 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok bupivacaine+epinefrin (n=36) diberikan  2 ml intranasal. Kelompok epinefrin (n=36) diberikan 2 ml intranasal. Pada penelitian ini,hemodinamik, epistaksis dan nyeri intranasal di pantau.Angka kejadian epistaksis sama pada kedua kelompok tapi nyeri hidung paska operasi lebih rendah pada kelompok bupivacaine+epinefrin. Bupivacain 0,25 % + Epinefrin 1:10.000 sama efektifnya dengan Epinefrin 1:10.00 dalam pencegahan epistaksis tetapi lebih baik dalam pencegahan nyeri hidung paska operasi. Kata kunci : Intubasi Nasotrakeal, Epistaksis,Bupivacaine+Epinefrin</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3494</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3494</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 18-24</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 18-24</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3494/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3494/4288</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3494/5849</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2674</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:20Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Blokade Peribulbar Menggunakan Ropivakain 0,75% untuk Vitrektomi  pada Pasien dengan Komorbid</dc:title>
	<dc:creator>Sukmara, Uta Provinsiana</dc:creator>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Fahruzi, Odih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar; ropivakain; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien dengan kelainan mata yang dilakukan vitrektomi sebagian besar geriatri dan dapat disertai beberapa komorbid, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Serial kasus ini melaporkan dua kasus pasien dengan komorbid hipertensi dan diabetes melitus yang dilakukan tindakan vitrektomi. Tindakan anestesi blokade peribulbar dilakukan kedua pada pasien tersebut menggunakan ropivakain 0,75%. Penyuntikan dilakukan dengan pendekatan inferotemporal dan medial kantus, tercapai nilai Cicendo Akinesia Score 3 dan memfasilitasi vitrektomi tanpa komplikasi. Blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dapat digunakan untuk pembedahan vitrektomi pada pasien geriatri memiliki komorbid. Peribulbar Block Using Ropivacaine 0.75% in Patients with ComorbiditiesMost patients with eye disorders undergoing vitrectomy are geriatric and may have several comorbidities, such as hypertension and diabetes mellitus. This case series reports two patients with hypertension and diabetes mellitus who underwent vitrectomy. Both patients received peribulbar block with 0.75% ropivacaine. Peribulbar injection was performed with an inferotemporal and medial canthus approach. The peribulbar block was successful in both patients with a Cicendo Akinesia score of 3 and facilitated uncomplicated vitrectomy. Peribulbar block using 0.75% ropivacaine can be used for uncomplicated vitrectomy in geriatric patients with comorbidities. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2674</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2674</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 65–70</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 65–70</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2674/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2674/3196</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3013</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:02Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Skor ANDC sebagai Prediktor Kematian pada Pasien COVID-19 di Ruang Intensif Isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung  Periode Januari–Juni 2021</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Skor ANDC sebagai Prediktor Kematian pada Pasien COVID-19 di Ruang Intensif Isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Juni 2021</dc:title>
	<dc:creator>Munthe, Hengki Saputra</dc:creator>
	<dc:creator>Bisri, Dewi Yulianti</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Angka mortalitas; Coronavirus disease 2019 (COVID-19); skor ANDC</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), skor ANDC, angka mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan angka mortalitas tinggi. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan mengetahui gambaran skor Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein (ANDC) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada periode Januari–Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan tingginya angka mortalitas. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran skor ANDC (Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari-Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5,0% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50,0% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3013</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3013</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 76-85</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 76-85</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3013/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3604</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3605</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3606</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3607</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/4134</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3838</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:20:58Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Teknik Pemasangan Pipa Nasogastrik Antara Manuver Reverse Sellick dan Manuver Fleksi Leher Terhadap Angka Keberhasilan dan Durasi Waktu Pemasangan pada Pasien Terintubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN TEKNIK PEMASANGAN PIPA NASOGASTRIK ANTARA MANUVER REVERSE SELLICK DENGAN MANUVER FLEKSI LEHER TERHADAP ANGKA KEBERHASILAN DAN DURASI WAKTU PEMASANGAN PADA PASIEN TERINTUBASI DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG</dc:title>
	<dc:creator>Nasution, Muhammad Habibi</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:creator>T. Maskoen, Tinni</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Angka keberhasilan; durasi waktu pemasangan; manuver fleksi leher; manuver reverse Sellick; pemasangan NGT</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">pemasangan NGT, manuver reverse sellick, manuver fleksi leher</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) penting dilakukan pada beberapa pembedahan dan pada pasien di ruang rawat intensif (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit pada pasien terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT. Manuver reverse Sellick merupakan teknik yang dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05). Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499±1,571 detik dan 20,5,06±3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p&lt;0,05; Tabel 2). Simpulan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick memiliki angka keberhasilan yang tidak berbeda signifikan dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher. Durasi pemasangan dari kelompok manuver reverse Sellick lebih singkat dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) merupakan tindakan penting pada operasi dan pasien-pasien di ruang intensive care unit (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit karena berada dalam keadaan terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT sehingga NGT terpilin atau tertekuk didalam rongga orofaring. Manuver reverse sellick merupakan teknik dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan Manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) sejak tanggal 12 Juni 2023 hingga 17 Juli 2023 terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05) dan Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499 ± 1,571 detik dan 20,5,06 ± 3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p&lt;0,05; Tabel 4.2). Simpulan dari penelitian ini yaitu Manuver reverse sellick memiliki tingkat keberhasilan pada pemasangan pertama lebih tinggi dan durasi pemasangan yang lebih singkat daripada teknik fleksi leher. Kata kunci: Angka keberhasilan; durasi waktu pemasangan; manuver fleksi leher; manuver reverse sellick; pemasangan NGT</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3838</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3838</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 202-208</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 202-208</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3838/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3838/4772</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3838/4822</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2579</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:29Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Prokalsitonin, Skor SOFA, dan Rasionalitas Pemberian Antibiotik pada Pasien Luka Bakar Berat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari–Agustus 2021</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">gambaran prokalsitonin, skor sofa dan rasionalitas pemberian antibiotik pada pasien luka bakar berat di rsup hasan sadikin</dc:title>
	<dc:creator>Ananta, Kurnia Ricky</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Antibiotik, luka bakar berat, prokalsitonin, sepsis, skor SOFA</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia; ruang rawat intensif, unit luka bakar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Antibiotik, luka bakar berat, prokalsitonin, sepsis, skor SOFA</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis masih menjadi penyebab utama kematian pada luka bakar berat karena dampak luka bakar yang luas pada sistem organ. Prokalsitonin dan skor sequential organ failure assessment (SOFA) memiliki kemampuan yang sama dalam menilai prognosis pada pasien sepsis untuk indikator mortalitas, terapi yang lebih awal dan mengevaluasi terapi yang diberikan, agar angka mortalitas dapat menurun. Penggunaan antibiotik yang tepat dan akurat juga dapat dianggap sebagai faktor penting dalam meningkatkan prognosis. Tujuan penelitian ini melihat gambaran prokalsitonin, skor SOFA, dan rasionalitas pemberian antibiotik pada pasien luka bakar berat di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik yang dilakukan pada 38 pasien yang dirawat di ULB dan ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Februari–Agustus 2021. Penelitian ini diperoleh hasil bahwa nilai prokalsitonin yang didukung skor SOFA dapat dijadikan acuan untuk mempertimbangkan keberhasilan pemberian antibiotik dan penghentian antibiotik pada pasien luka bakar berat. Pemberian antibiotik pada seluruh pasien luka bakar berat di RSUP Dr. Hasan Sadikin tidak rasional dikarenakan tidak didasari pemeriksaan kultur dan prokalsitonin pada hari pertama pasien terpapar. Pemberian antibiotik profilaksis secara rasional harus didukung oleh tanda-tanda infeksi yang jelas dilihat dari nilai prokalsitonin, skor SOFA, dan kultur untuk menghindari resistensi antibiotikOverview of Procalcitonin, SOFA Score, and Rationality of Antibiotics Administration to Patients with Severe Burns at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, February–August 2021Sepsis is currently the leading cause of death in severe burns due to its wide-ranging effects on organ systems. Procalcitonin and sequential organ failure assessment (SOFA) scores can determine the prognosis of septic patients in terms of mortality indicators, early therapy, and evaluation of the therapy given to reduce mortality and morbidity. Correct and accurate use of antibiotics is also essential in improving the patient's prognosis. This study aimed to determine the procalcitonin, SOFA scores, and the rationality of antibiotics administration to patients with severe burns at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This analytic observational study was conducted on 38 patients hospitalized in the Burn Unit and ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung during February–August in 2021. Procalcitonin values supported by SOFA scores may refer to successful antibiotic administration and ceasing therapy in severe burn injury patients. Antibiotic administration to all patients with severe burns in Dr. Hasan Sadikin General Hospital was irrational as it was not based on cultural examination and procalcitonin on the first day of exposure. Clear signs of infection seen from the procalcitonin value, SOFA score, and culture to avoid antibiotic resistance must support rational prophylactic antibiotic administration. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Latar Belakang: Saat ini sepsis masih menjadi penyebab utama kematian pada luka bakar berat karena dampak luka bakar yang luas pada sistem organ. Prokalsitonin dan skor SOFA memiliki kemampuan yang sama dalam menilai prognosis pada pasien sepsis untuk indikator mortalitas, terapi yang lebih awal dan mengevaluasi terapi yang diberikan, agar angka mortalitas dan morbiditas dapat menurun. Penggunaan antibiotik yang tepat dan akurat juga dapat dianggap sebagai faktor penting dalam meningkatkan prognosis pasien. Tujuan penelitian ini untuk melihat gambaran prokalsitonin,  skor SOFA dan rasionalitas pemberian antibiotik pada pasien luka bakar berat di RSUP DR Hasan Sadikin BandungMetode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik yang dilakukan pada 38 pasien yang dirawat di unit luka bakar dan ICU RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2021.Hasil: Penelitian ini diperoleh hasil bahwa pasien dengan prokalsitonin ³ 2 yang mengalami penurunan sebanyak 9 atau sebesar 81,8% dengan antibiotik yang diberikan pada hari ke-3 yaitu ceftriaxon sebanyak 5 atau sebesar 45.5% dan meropenem sebanyak 5 atau sebesar 45.5%.Kesimpulan: Nilai prokalsitonin yang didukung skor SOFA dapat dijadikan acuan untuk mempertimbangkan keberhasilan pemberian antibiotik dan penghentian terapi antibiotik pada pasien luka bakar berat. Pemberian antibiotik pada seluruh pasien luka bakar berat di RS Hasan Sadikin tidak rasional dikarenakan tidak didasari pemeriksaan kultur dan prokalsitonin pada hari pertama pasien terpapar. Pemberian antibiotik profilaksis secara rasional harus didukung oleh tanda-tanda infeksi yang jelas dilihat dari nilai prokalsitonin, skor SOFA dan kultur untuk menghindari resistensi antibiotik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">kurnia ricky ananta, universitas padjadjaran, department anestesiologi dan terapi intensif</dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2579</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2579</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 182–191</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 182–191</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2579/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2579/2823</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2579/2824</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2579/2825</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2855</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:54Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Total Intravena General Anesthesia Kombinasi dengan Blok Subtenon pada Operasi Vitrektomi pada Pasien Gagal Ginjal Kronik dan Hemodialisis Reguler</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">TOTAL INTRAVENOUS ANESTHESIA COMBINED WITH SUB-TENON BLOCK IN VITRECTOMY OPERATION WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE ON REGULAR HEMODIALYSIS</dc:title>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:creator>Masharto, Alegra Rifani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blok subtenon; general anesthesia; hemodinamik; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesiologi dan Terapi Intensif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Vitrektomi, General anesthesia, Subtenon block, hemodinamik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Vitrektomi adalah operasi mata untuk mengangkat bagian vitreous body. Hingga saat ini berbagai teknik anestesi tengah dikembangkan untuk mencapai kondisi teknik anestesi ideal. Teknik anestesi kombinasi general anesthesia dengan blok subtenon pada operasi vitrektomi memiliki potensi yang bagus untuk mengurangi nyeri pascaoperasi, mengurangi insiden refleks okulokardiak dan mengurangi jumlah penggunaan analgesia. Pada laporan ini, dilaporkan pasien laki-laki berusia 40 tahun dengan keluhan penglihatan kabur pada mata kanan sejak tiga bulan yang lalu. Pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes melitus tipe II, dan memiliki riwayat penggunaan heparin. Pasien didiagnosis non-closing vitreous hemorrhage. Pasien direncanakan dilakukan vitrektomi dengan general anesthesia yang dikombinasikan dengan blok subtenon. Selama operasi tidak terjadi perubahan hemodinamik yang bermakna. Keberhasilan teknik anestesi kombinasi ini ditunjukkan oleh hemodinamik yang stabil selama operasi. Teknik anestesi kombinasi pada pasien dengan komorbid yang menjalani vitrektomi seperti pada kasus ini dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pada pengelolaan kasus sejenis di masa yang akan datang.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">ABSTRACTIntroduction: Vitrectomy is eye surgery to remove part of the vitreous body. Until now, various anesthetic techniques are being developed to achieve the ideal anesthetic technique conditions. The combined anesthetic technique, namely general anesthesia with subtenon block in vitrectomy surgery, has great potential to reduce postoperative pain, reduce the incidence of oculocardiac reflexes and reduce the amount of analgesia used.Case Presentation: In this case, we report a male patient aged 40 years with complaints of decreased vision in the right eye since three months ago. The patient had a history of hypertension, type II diabetes mellitus and had a history of heparin use. The patient was diagnosed with non-closing vitreous hemorrhage. The patient was planned for vitrectomy under general anesthesia combined with sub-tenon block. During surgery, there were no significant hemodynamic changes.Conclusion: In this case report, we present the success of the combined anesthetic technique of general anesthesia and subtenon block. The success of this combination anesthetic technique is demonstrated by stable hemodynamics during surgery. To date, case reports of combined anesthetic techniques in patients with chronic renal failure undergoing vitrectomy have not been reported.Keywords: Vitrectomy, General Anesthesia, Subtenon Block, Hemodynamic</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-13</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2855</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2855</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 49–55</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 49–55</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2855/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3717</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Mortalitas Pasien Sepsis Berdasarkan Fluid Accumulation di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Mortalitas Pasien Sepsis Berdsarkan Fluid Accumulation di ICU RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022</dc:title>
	<dc:creator>Rachman, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Akumulasi cairan; mortalitas; resusitasi cairan pasien sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Perawatan Intensif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Resusitasi Cairan Pasien Sepsis; Mortalitas; Fluid Accumulation</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Manajemen cairan pasien sakit kritis memiliki risiko terjadinya akumulasi cairan. Resusitasi cairan merupakan bagian penting dalam menstabilkan status hemodinamik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa balans cairan kumulatif positif merupakan faktor prognostik yang kuat untuk mortalitas pasien sepsis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran mortalitas pada pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan selama dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling secara retrospektif melalui rekam medis pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 1 Januari 2021–31 Desember 2022 dengan jumlah sampel adalah 107 orang subjek penelitian. Analisis menunjukkan bahwa karakteristik pasien relatif sama antara kelompok yang mengalami mortalitas dan yang bertahan hidup. Pada kategori akumulasi cairan &gt;10%, semua pasien (100%) mengalami mortalitas, sedangkan pada kategori akumulasi cairan &lt;10%, 27 pasien (51,9%) meninggal dan 25 pasien (48,1%) bertahan hidup. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Manajemen cairan pasien sakit kritis memiliki resiko terjadinya fluid accumulation. Resusitasi cairan bagian penting untuk menstabilkan status hemodinamik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa balans cairan kumulatif positif merupakan faktor prognostik yang kuat untuk mortalitas pasien sepsis. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran mortalitas pada pasien sepsis yang mengalami fluid accumulation selama dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling secara retrospektif melalui rekam medis pasien sepsis yang mengalami fluid accumulation di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2022 dengan jumlah sampel adalah 107 orang subjek penelitian. Analisis data menggunakan program SPSS versi 24.0 for Windows. Hasil penelitian dari keseluruhan analisis karakteristik subjek penelitian, variabel jenis kelamin, usia, BB, dan IMT antara kelompok mortalitas dan kelompok bertahan hidup relatif sama. Namun, terdapat beberapa perbedaan yang dapat diidentifikasi dalam karakteristik seperti terapi ginjal pengganti, skor SOFA, dan skor APACHE II. Pada kategori Fluid Accumulation &gt;10% terdapat 55 pasien dimana semua pasien (100%) mengalami mortalitas. Tidak ada pasien (0%) dalam kategori ini yang bertahan hidup. Sedangkan kategori Fluid Accumulation &lt;10% terdapat 52 pasien dimana 27 pasien (51.9%) mengalami mortalitas. Dari 52 pasien, 25 pasien (48.1%) bertahan hidup. Didapatkan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1.93, yang menunjukkan bahwa pasien dengan Fluid Accumulation &gt;10% memiliki peluang mengalami mortalitas 1.93 kali lebih tinggi daripada pasien dengan Fluid Accumulation &lt;10%. Interval Kepercayaan (Confidence Interval, CI) 95% untuk PR adalah antara 1.48 dan 2.50.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3717</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3717</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 126-135</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 126-135</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3717/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3717/4602</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3717/4603</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3673</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:33Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="id-ID">Comparison between Local Infiltration Combination of 1% 200 mg Lidocaine and 10 mg Dexametason with 0.75% 150 mg Ropivacaine on Degree of Pain in Post-Caesarian Operative Wounds</dc:title>
	<dc:creator>Simamora, Veronica</dc:creator>
	<dc:creator>Bangun, Chrismas Gideon</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Harahap, Juliandi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology; Pain Management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Caesarean section; dexamethasone; local infiltration; lidocaine; ropivacaine</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Introduction: Local anesthetic wound infiltration reduces postoperative pain, promotes early mobilization, and shortens hospital stay after cesarean section. Lidocaine is widely used, and the addition of dexamethasone may prolong its analgesic effect. Ropivacaine provides longer-lasting analgesia but is more expensive and less accessible in many hospitals. This study aimed to compare the analgesic effects of local wound infiltration using 0.75% ropivacaine 150 mg versus 1% lidocaine 200 mg combined with 10 mg dexamethasone on postoperative pain following cesarean section.Methods: This randomized, double-masked, controlled clinical trial involved 38 patients undergoing cesarean section under spinal anesthesia. Participants were randomly allocated using a computer-generated sequence to receive wound infiltration with either 1% lidocaine (200 mg) plus dexamethasone (10 mg) or 0.75% ropivacaine (150 mg). Patients and outcome assessors were blinded to group allocation. Postoperative pain intensity was assessed using the Numeric Rating Scale (NRS) at rest and during passive movement at 2, 6, 12, and 24 hours after surgery.Results: The ropivacaine group had significantly lower NRS scores at rest and during passive movement at 2, 6, and 12 hours postoperatively compared with the lidocaine–dexamethasone group (p &lt; 0.05). At 24 hours after surgery, no significant difference in pain intensity was observed between groups (p&gt;0.05).Conclusion: Local wound infiltration with 0.75% ropivacaine 150 mg provided superior analgesia during the first 12 hours after cesarean section compared with lidocaine combined with dexamethasone. The lidocaine–dexamethasone combination remains a practical alternative where ropivacaine is unavailable.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3673</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.3673</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 139-147</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 139-147</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3673/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3673/4545</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3673/5996</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3673/5997</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2644</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:49Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Skoring STS dan Euro Score II sebagai Prediktor Mortalitas pada Pasien Bedah Pintas Arteri Koroner di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode 2019–2020</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">GAMBARAN SKORING STS DAN EUROSCORE II SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITAS PADA PASIEN BEDAH PINTAS ARTERI KORONER DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE 2019–2020</dc:title>
	<dc:creator>Saputri, Lusy Octavia</dc:creator>
	<dc:creator>Kadarsah, Rudi Kurniadi</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">BPAK, EuroSCORE, mortalitas, STS skor</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia, anesthesiology, cardiac anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Bedah Pintas Arteri Koroner, Euroscore II, mortalitas, skor Society of Thoracic Surgeon</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Bedah pintas arteri koroner (BPAK) merupakan suatu prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien dengan penyakit arteri koroner. Skoring risiko seperti Society of Thoracic Surgeons (STS) dan European System for Cardiac Operative Risk Evaluation (EuroSCORE) banyak digunakan untuk memprediksi hasil luaran pascaoperasi jantung. Operasi jantung di RSUP Hasan Sadikin Bandung setiap tahun terus mengalami peningkatan dan masih terdapat mortalitas setiap tahun, sedangkan belum ada skoring resmi yang digunakan untuk memprediksi kejadian mortalitas maupun morbiditas pada pasien yang menjalani operasi bedah jantung di RSUP Hasan Sadikin Bandung saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data dari rekam medis pasien yang menjalani BPAK di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari periode januari 2019 sampai desember 2020, sebanyak 82 data rekam medis dilakukan perhitungan STS skor, EuroSCORE II, dan kejadian mortalitasnya. Pada penelitian ini didapatkan hasil STS Skor dan EuroSCORE risiko rendah sebanyak 69 pasien (84%), risiko sedang 11 pasien (14%), dan risiko tinggi 2 pasien (2%). Angka mortalitas BPAK sebanyak 9 orang (11%) dengan stratifikasi skor terhadap mortalitas pada kelompok risiko rendah sebesar 0%, risiko sedang sebesar 7 dari 11 orang dan risiko tinggi 2 dari 2 orang. Hasil yang didapatkan baik pada STS skor maupun EuroSCORE II menunjukkan tingkat kesamaan prediksi yang sama. Profile of STS and EuroSCORE II Scoring as Mortality Predictor in Coronary Artery Bypass Surgery Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, 2019–2020Coronary artery bypass graft surgery (CABG) is used to treat coronary artery disease patients. Risk scoring, such as the Society of Thoracic Surgeons (STS) and the European System for Cardiac Operative Risk Evaluation (EuroSCORE), have been commonly used to predict post-cardiac surgery outcomes. The number of cardiac surgeries at Dr. Hasan Sadikin General Hospital increases yearly, yet some mortalities persist. No official scoring system can be used to predict the mortality and morbidity incident in patients undergoing cardiac surgeries at Dr. Hasan Sadikin General Hospital. This study was a descriptive study with a retrospective approach using patients' medical record data who underwent Coronary artery bypass graft surgery at Dr. Hasan Sadikin Hospital from January 2019 to December 2020. The 82 medical record data were used to assess STS, EuroSCORE II, and mortality incidents. The result showed that STS score and EuroSCORE II with low risk were 69 patients (84%), moderate risk were 11 patients (14%), and high risk were two patients (2%). The number of CABG mortality was nine patients (11%), with a stratification score of mortality in the low-risk group was 0%, the moderate-risk group was seven people, and the high-risk group was 2 out of 2 patients. Both STS and EuroSCORE II showed similar results of prediction. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">GAMBARAN SKORING STS DAN EUROSCORE II SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITAS PADA PASIEN BEDAH PINTAS ARTERI KORONER DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE 2019–2020 Lusy Octavia Saputri, Rudi Kurniadi Kadarsah, Budiana RismawanDepartemen Anestesiologi dan Terapi IntensifFakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Abstrak Bedah pintas arteri koroner merupakan suatu prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien dengan penyakit arteri koroner. Skoring risiko seperti Society of Thoracic Surgeons (STS) dan European System for Cardiac Operative Risk Evaluation (EuroSCORE) banyak digunakan untuk memprediksi hasil luaran pascaoperasi jantung. Operasi jantung di RSUP Hasan Sadikin Bandung setiap tahunnya terus mengalami peningkatan dan masih terdapat mortalitas setiap tahunnya, sedangkan belum ada skoring resmi yang digunakan untuk memprediksi kejadian mortalitas maupun morbiditas pada pasien yang menjalani operasi bedah jantung di RSUP Hasan Sadikin Bandung saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran skor EuroSCORE II dan skor STS sebagai predictor mortalitas di RSUP Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data dari rekam medis pasien yang menjalani bedah pintas arteri koroner di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dari periode januari 2019 sampai desember 2020. Sebanyak 82 data rekam medis dilakukan perhitungan STS skor, EuroSCORE II, dan kejadian mortalitasnya. Pada penelitian ini didapatkan hasil STS Skor dan EuroSCORE risiko rendah sebanyak 69 pasien (84,1%), risiko sedang 11 pasien (13,4%), dan risiko tinggi 2 pasien (2,43%). Angka mortalitas bedah pintas arteri koroner sebanyak 9 orang (11%) dengan stratifikasi skor terhadap mortalitas pada kelompok risiko rendah sebesar 0%, risiko sedang sebesar 7 orang (63,6%) dan risiko tinggi 100%. Hasil yang didapatkan baik pada skor STS maupun skor EuroSCORE II menunjukkan tingkat prediksi yang sama. Kata kunci: Bedah Pintas Arteri Koroner, Euroscore II, mortalitas, skor Society of Thoracic Surgeon</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">padjajaran university</dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2644</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2644</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 180–190</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 180–190</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2644/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2644/3110</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2644/3111</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2644/3112</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3626</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T05:40:43Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Platelet Lymphocyte Ratio (PLR) dengan Status Mortalitas H-28         pada Pasien Sepsis Associated Acute Kidney Injury</dc:title>
	<dc:creator>Tarigan, Franz Josef</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni T.</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Rasio platelet limfosit; sepsis; sepsis-associated acute kidney injury; status mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Inflamasi merupakan proses yang berperan penting dalam perkembangan Sepsis-associated acute kidney injury (S-AKI). Rasio platelet-limfosit (PLR) merupakan penanda inflamasi baru yang mulai sering digunakan untuk memperkirakan mortalitas. Pada fase inflamasi terjadi peningkatan produksi platelet akibat cedera endotel disertai dengan peningkatan rekrutmen limfosit ke ginjal sehingga dapat tergambar pada nilai PLR. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan PLR dengan mortalitas pada pasien S-AKI di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah case-control secara retrospektif dengan menggunakan rekam medis 136 pasien S-AKI di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin pada tahun 2021–2022 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dan dibagi menjadi kelompok bertahan hidup 68 orang dan kelompok mortal 68 orang. Penelitian dilakukan mulai dari Maret 2022 sampai Februari 2023. Pengambilan sampel dilakukan secara vkonsekutif, kemudian dilakukan analisis statistik chi-square untuk melihat hubungan nilai PLR dengan status mortalitas h-28. Didapatkan rasio odd pada PLR sebesar 165 dan nilai cut-off PLR penelitian ini adalah 120. Terdapat hubungan antara nilai PLR dan mortalitas h-28 pada pasien S-AKI. Pasien dengan nilai PLR≥120 memiliki risiko mortalitas h-28 lebih tinggi. Peningkatan nilai rasio platelet dan limfosit pada pasien cedera ginjal akut akibat sepsis yang mortal terjadi karena peningkatan penggunaan leukosit ke ginjal dan peningkatan produksi platelet akibat inflamasi yang berat.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3626</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3626</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 56-63</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 56-63</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3626/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3626/4476</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3626/4479</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3626/4515</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4457</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Capaian Kedalaman Anestesi dengan Konduksi Ketamin dan Fentanil pada Anestesi Umum di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Capaian Kedalaman Anestesi dengan Konduksi Ketamin dan Fentanyl pada Anestesi Umum di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh</dc:title>
	<dc:creator>Burhanuddin, Burhanuddin</dc:creator>
	<dc:creator>Jasa, Zafrullah Khany</dc:creator>
	<dc:creator>Jasa, Zafrullah Khany</dc:creator>
	<dc:creator>Rahmi, Rahmi</dc:creator>
	<dc:creator>Rahmi, Rahmi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bispectral index score; fentanil; hemodinamik; kedalaman anestesi; ketamin</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Perioperative; General Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ketamin, Fentanyl; BIS; kedalaman anestesi; hemodinamik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kedalaman anestesi yang memadai untuk mencegah komplikasi intraoperatif, termasuk intraoperative awareness. Ketamin dan merupakan obat koinduksi yang umum digunakan, namun keduanya memiliki profil hemodinamik dan efek terhadap kedalaman anestesi yang berbeda. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek koinduksi ketamin dan fentanil terhadap kedalaman anestesi dan stabilitas hemodinamik menggunakan bispectral index score (BIS). Penelitian merupakan uji klinis acak tersamar tunggal terhadap 44 pasien yang menjalani anestesi umum di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh periode April–Mei 2025. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ketamin 0,5kg/BB (n=22) dan fentanil 2 μg/kgBB (n=22). Parameter BIS, tekanan darah diastol, sistol laju jantung, laju napas dan SpO2 diukur pada menit ke-0, 5, 10, 15, dan 20 pascainduksi. Hasil menunjukkan bahwa ketamin menurunkan BIS lebih cepat dan lebih dalam, dengan perbedaan bermakna signifikan pada menit ke-5 (p=0,002), 15 dan 20 (p&lt;0,001). Ketamin juga mempertahankan tekanan darah lebih stabil, sedangkan fentanil meningkatkan laju jantung lebih tinggi pada menit ke-10 (p=0,032). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada laju napas dan SpO2.  Ketamin lebih unggul dalam mencapai kedalaman anestesi yang cepat dan stabil secara hemodinamik, dibanding dengan fentanil.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Anestesi umum diperlukan untuk memastikan pasien tidak sadar selama operasi, dengan kedalaman anestesi yang memadai untuk mencegah komplikasi seperti kesadaran intraoperatif. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek koinduksi Ketamin dan Fentanyl terhadap kedalaman anestesi dan stabilitas hemodinamik menggunakan Bispectral Index Score (BIS). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental acak tersamar tunggal pada 44 pasien di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, dibagi menjadi kelompok Ketamin (n=22) dan Fentanyl (n=22). Parameter yang dinilai meliputi nilai BIS, tekanan darah (TDS/TDD), heart rate (HR), respiratory rate (RR), dan saturasi oksigen (SpO₂) pada menit ke-0, 5, 10, 15, dan 20 pasca-induksi. Hasil menunjukkan bahwa Ketamin menghasilkan penurunan nilai BIS lebih cepat dan dalam, dengan perbedaan signifikan pada menit ke-5 (p=0,002), 15, dan 20 (p&lt;0,001). Ketamin juga mempertahankan tekanan darah lebih stabil, terutama pada menit ke-5 (TDS p=0,005; TDD p=0,013). Sementara itu, Fentanyl menyebabkan peningkatan HR lebih tinggi pada menit ke-10 (p=0,032). Tidak ada perbedaan signifikan pada RR dan SpO₂, meskipun Ketamin cenderung menjaga SpO₂ lebih konsisten. Ketamin lebih unggul dalam mencapai kedalaman anestesi yang cepat dan stabil secara hemodinamik, terutama pada fase awal induksi, dibandingkan Fentanyl. Temuan ini mendukung penggunaan Ketamin sebagai alternatif koinduksi yang efektif, khususnya pada pasien dengan risiko hipotensi atau kebutuhan sedasi mendalam.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4457</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4457</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 88-95</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 88-95</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4457/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4457/5733</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4457/5734</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4457/5735</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4457/5736</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4457/5737</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4457/5742</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2402</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:23Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Indeks Massa Tubuh Tenaga Kesehatan dengan Kedalaman Kompresi Jantung Luar pada Manekin</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">perbandingan indeks massa tubuh tenaga kesehatan terhadap kedalaman kompresi jantung luar pada manekin</dc:title>
	<dc:creator>Permana, Mahathir Harry</dc:creator>
	<dc:creator>Sitanggang, Ruli Herman</dc:creator>
	<dc:creator>Prihartono, M. Andy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Indeks massa tubuh; kompresi dinding dada; resusitasi jantung paru   </dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Resusitasi jantung paru (RJP) merupakan intervensi utama dalam kegawatdaruratan henti jantung. Respons dan kualitas RJP secara signifikan memengaruhi keberhasilan penanganan pasien dengan henti jantung dan merupakan prosedur yang bersifat life-saving. Kualitas kompresi dinding dada pada RJP ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kedalaman kompresi dinding dada. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan kedalaman dinding dada pada manekin berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) penolong. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juli–September 2020. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional) komparatif yang dilakukan secara prospektif mengenai hubungan IMT dengan kualitas kompresi jantung luar pada manekin. Subjek penelitian dikelompokkan berdasarkan IMT underweight, normal, dan overweight. Kedalaman kompresi dinding dada saat melakukan RJP dicatat dan dianalisis sesuai dengan kategori kelompok IMT. Data dianalisis menggunakan uji one way ANOVA bila berdistribusi normal dan Uji Kruskal Wallis bila berdistribusi tidak normal, nilai p&lt;0,05 dianggap bermakna. Hasil penelitian menunjukan peningkatan angka kedalaman kompresi dada yang berbanding lurus dengan IMT dilihat dari rerata kedalaman kompresi sebesar 4,83±0,428 cm pada kelompok IMT underweight, 5,64±0,301 cm pada kelompok IMT normal, dan 6,39±0,327 cm pada kelompok IMT overweight (p&lt;0,05). Dapat disimpulkan bahwa penolong dengan kategori IMT normal adalah kelompok yang paling sesuai dengan rekomendasi BLS &amp; ACLS oleh AHA. Comparison of Healthcare Worker's Body Mass Index with External Chest Compression Depth on MannequinsCardiopulmonary resuscitation (CPR) is the primary intervention in cardiac arrest. The response and quality of CPR significantly contribute to the successful management of patients with cardiac arrest and are life-saving procedures. Several factors determine the quality of chest compression in CPR, one of which is the depth of chest wall compression. This study aimed to compare the chest compression depth on the mannequin based on the helper's body mass index (BMI). This study was conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from July to September 2020. This study used an analytical observational method with a comparative cross-sectional study design that was carried out prospectively regarding the relationship of BMI to the quality of external cardiac compression on mannequins. Research subjects were grouped based on BMI underweight, normal, and overweight. The depth of chest wall compressions during CPR was recorded and analyzed by the BMI group category. Data analysis using a one-way ANOVA test if the distribution was normal and a Kruskal Wallis test if the distribution was not normal, p-value &lt;0.05 was considered significant. The results showed an increase in chest compression depth, which was directly proportional to BMI as seen from the mean compression depth of 4.83 ± 0.428 cm in the underweight group, 5.64 ± 0.301 cm in the normal group, and 6.39 ± 0.327 cm in the overweight group (p &lt; 0.05). In conclusion, rescuers with the normal BMI category are the most suitable group according to the BLS &amp; ACLS recommendations by the AHA.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan intervensi utama dalam kegawat daruratan henti jantung. Respon dan kualitas RJP secara signifikan memengaruhi keberhasilan penanganan pasien dengan henti jantung dan merupakan prosedur yang bersifat life-saving. Kualitas kompresi dinding dada pada RJP ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kedalaman kompresi dinding dada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kedalaman dinding dada pada manekin berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) penolong. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Juli – September 2020. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian potong lintang (cross sectional) komparatif yang dilakukan secara prospektif mengenai hubungan IMT terhadap kualitas kompresi jantung luar pada manekin. Subjek penelitian dikelompokan berdasarkan IMT underweight, normal, dan overweight. Kedalaman kompresi dinding dada saat melakukan RJP dicatat dan dianalisis sesuai dengan kategori kelompok IMT. Data dianalisis menggunakan uji One Way Anova bila berdistribusi normal dan uji Kruskal Wallis bila berdistribusi tidak normal, nilai p&lt;0,05 dianggap bermakna. Hasil penelitian menunjukan peningkatan angka kedalaman kompresi dada yang berbanding lurus dengan IMT dilihat dari rata-rata kedalaman kompresi sebesar 4,83±0,428 cm pada kelompok IMT underweight, 5,64±0,301 cm pada kelompok IMT normal dan 6,39±0,327 cm pada kelompok IMT overweight (p&lt;0,05). Dapat disimpulkan bahwa penolong dengan kategori IMT normal adalah kelompok yang paling sesuai dengan rekomendasi BLS &amp; ACLS oleh AHA.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2402</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2402</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 115–120</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 115–120</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2402/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2402/2531</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2402/2532</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2402/2533</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2402/2534</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3372</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Karakteristik Pasien dengan Trakeostomi di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021–Desember 2022</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Karakteristik Pasien Yang Dilakukan Trakeostomi Di Ruang Rawat Intensif Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Desember 2022</dc:title>
	<dc:creator>Ramadani, Dewi</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Trakeostomi dilatasi per kutan; trakeostomi dini; trakeostomi lanjut; trakeostomi; surgikal, VAP</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">trakeostomi dilatasi perkutan, trakeostomi dini, trakeostomi lanjut, trakeostomi surgikal, VAP</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Cedera laring dan pita suara karena ventilasi mekanik jangka panjang menjadi salah satu alasan dilakukannya trakeostomi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif untuk mengetahui karakteristik pasien trakeostomi di ruang rawat intensif RSHS Bandung pada Januari 2021–Desember 2022 Karakterisitk pasien dengan skor APACHE II &lt;25 (87%), 54% memiliki komorbid, indikasi terbanyak masalah otak (48,9%), 62,2% trakeostomi dini, 53,3% trakeostomi surgikal. Rerata lama hari rawat ruang intensif antara trakeostomi dini vs trakeostomi lanjut adalah 21,2 vs 31,1 dan 25 vs 36,8, rerata durasi ventilasi mekanik trakeostomi dini 12,2 hari. Pasien hidup 13,3%, seluruhnya dewasa, laki-laki, skor APACHE &lt;25, 50% tanpa komorbid, seluruhnya trakeostomi dini; teknik surgikal dan dilatasi per kutan sama banyak. Mortalitas 86,7%; kelompok dewasa 86,1%; kelompok geriatri 88,9%; skor APACHE II &lt;25 84,6%; skor APACHE II ≥25 seluruhnya meninggal, 26,2% &gt;satu komorbid, 56% trakeostomi dini; 54% trakeostomi surgikal. Angka kejadian VAP 13,3% semuanya meninggal. Simpulan: Kelompok pasien hidup menjalani trakeostomi dini, skor APACHE II &lt;25. Lama hari rawat ruang intensif dan rumah sakit trakeostomi dini lebih singkat dibandingkan trakeostomi lanjut, durasi ventilasi mekanik tidak dapat dibanding dengan karena semua pasien trakeostomi lanjut meninggal. Semua pasien VAP meninggal. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Cedera laring dan pita suara karena ventilasi mekanik jangka panjang menjadi salah satu penyebab trakeostomi. Prediktor klinis, prognosis, evaluasi berdasarkan pengalaman intensivis, kondisi individual pasien, dan pertimbangan manfaat praktis menjadi dasar keputusan waktu trakeostomi.  Penelitian deskriptif retrospektif untuk mengetahui karakteristik pasien trakeostomi di ruang rawat intensif RSHS Bandung Januari 2021 – Desember 2022 mengambil data 45 rekam medik lengkap pasien sakit kritis ≥18 tahun yang menerima tindakan trakeostomi. Karakterisitk umum adalah dewasa (80%), laki-laki (62%), skor APACHE II &lt;25 (87%), 54% memiliki komorbid, indikasi terbanyak masalah otak (48,9%), 62,2% trakeostomi dini, 53,3% trakeostomi surgikal. Rerata lama hari rawat ruang intensif dan rumah sakit trakeostomi dini VS trakeostomi lanjut adalah 21,2 VS 31,1 dan 25 VS 36,8, rerata durasi ventilasi mekanik trakeostomi dini 12,2 hari. Pasien hidup 13,3%, seluruhnya dewasa, laki-laki, skor APACHE &lt;25, 50% tanpa komorbid, seluruhnya trakeostomi dini, teknik surgikal dan dilatasi perkutan sama banyak. Mortalitas 86,7%, kelompok dewasa 86,1%, kelompok geriatri 88,9%, skor APACHE II &lt;25 84,6%, skor APACHE II ≥25 seluruhnya meninggal, 26,2% &gt;satu komorbid, 56% trakeostomi dini, 54% trakeostomi surgikal. Angka kejadian VAP 13,3 %, semuanya meninggal. Simpulan, Kelompok pasien hidup menjalani trakeostomi dini, skor APACHE II &lt;25. Lama hari rawat ruang intensif dan rumah sakit trakeostomi dini lebih singkat dibandingkan trakeostomi lanjut, durasi ventilasi mekanik tidak dapat dibandingkan karena semua pasien trakeostomi lanjut meninggal. Semua pasien VAP meninggal.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3372</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3372</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 163-174</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 163-174</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3372/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3372/4144</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3372/4145</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3860</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:39Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Penggunaan Fenilefrin Secara Bolus dan Infus Kontinu sebagai Pencegahan Hipotensi Akibat Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Penggunaan Phenylephrine Secara Bolus Dan Infus Kontinu Sebagai Preventif Terhadap Kejadian Spinal Anesthesia-Induced Hypotension</dc:title>
	<dc:creator>Hendri, Jul</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Nadeak, Rommy Fransicus</dc:creator>
	<dc:creator>Wahyuni, Arlinda Sari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bradikardi; fenilefrin bolus; fenilefrin infus; SAIH</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesiologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Phenylephrine bolus; Phenylephrine infus; SAIH; Bradikardi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Hipotensi merupakan efek samping kardiovaskular yang umum terjadi akibat anestesi spinal, disebabkan oleh blokade simpatis yang memicu vasodilatasi, penurunan tahanan vaskular perifer, dan penurunan tekanan darah. Fenilefrin, agen simpatomimetik yang bekerja langsung sebagai agonis α-1 adrenergik, merupakan pilihan utama dalam pencegahan spinal anesthesia-induced hypotension (SAIH) karena kemampuannya menginduksi vasokonstriksi secara langsung. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas fenilefrin dalam bentuk bolus dan infus kontinu untuk mencegah SAIH. Penelitian dilakukan dengan desain uji klinis acak terhadap 38 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal di RSUP Haji Adam Malik, Medan. Intervensi meliputi pemberian Fenilefrin secara infus kontinu 20 mcg/menit dan bolus 50 mcg sebelum induksi anestesi spinal. Hasil menunjukkan rerata tekanan darah sistol pada kelompok bolus sebesar 113,78±20,86 mmHg dan pada kelompok infus 112,63±8,17 mmHg (p=0,823), menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara kedua metode. Variabel denyut jantung juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Simpulan, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemberian fenilefrin secara bolus maupun infus kontinu dalam pencegahan SAIH.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan Hipotensi merupakan efek samping kardiovaskular dari anestesi spinal. Blok simpatis yang menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah meyebabkan tahan vascular perifer menurun yang mengakitbatkan turunnya tekanan darah dan terjadinya hipotensi. Phenylephrine adalah obat simpatomimetik yang bekerja langsung sebagai α-1 agonis adrenergik yang bekerja langsung pada pembuluh darah untuk mengaktivasi vasokonstriksi. Sehingga menjadi obat pilihan dalam preventif SAIH. Pemberian phenylephrine dapat diberikan secara bolus dan infus kontinu. Metode Penelitian ini membandingakn efek phenylephrine bolus dan infus dengan jumlah sampel 38 dan dibagi 2 kelompok, dengan desain uji klinis dengan randomisasi, yang dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan pada pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan phenylephrine infus kontinu 20 mcg/menit dan bolus 50 mcg sebelum dilakukan anestesi spinal. Hasil didapatkan hasil rerata tekanan darah sistol pada kelompok phenylephrine bolus 113,78±20,86 dan pada phenylephrine infus 112,63±8,17 dengan nilai perbandingan 0,823 yang menandakan tidak ada perbedaan yang signifikan. Pada variable heart rate tidak didapatkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Kesimpulan Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemberian phenylephrine bolus dan phenylephrine infus dalam preventif terhadap SAIH</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3860</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3860</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 25-32</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 25-32</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3860/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3860/4880</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2495</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Respons Hemodinamik antara Penggunaan Levobupivakain dan Penambahan Klonidin 1 dan 2 Mcg/kgBB pada Scalp Block</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Respons Hemodinamik antara Penggunaan Levobupivakain dan Penambahan Klonidin 1 dan 2 Mcg/kgBB pada Scalp Block</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Santosa, Sugeng Budi</dc:creator>
	<dc:creator>Afif, Syarif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Klonidin; kraniotomi; levobupivakain; scalp block</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Klonidin, kraniotomi, levobupivakain, scalp block</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penambahan adjuvan pada levobupivakain dapat memperkuat dan memperpanjang efek analgesia pada blok saraf tepi. Klonidin memiliki aksi yang sinergis dengan agen lokal anestesi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penambahan klonidin 1 mcg/kgBB dan 2 mcg/kgBB pada scalp block sebagai analgetik kraniotomi. Penelitian dilakukan pada 30 pasien yang menjalani kraniotomi di RS Dr. Moewardi Surakarta selama periode bulan Mei–Agustus 2020 Desain penelitian yang digunakan adalah uji klinis tersamar acak ganda dengan analisis statistik menggunakan uji one-way ANOVA atau Kruskal Wallis. Subjek dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok I: scalp block dengan levobupivakain 0,25%, kelompok II: scalp block ditambah klonidin 1 mcg/kgBB, kelompok III: scalp block ditambah klonidin 2 mcg/kgBB. Penilaian terhadap tekanan darah, MAP, laju nadi dilakukan sebelum intubasi, pemasangan pin, insisi kulit, dan insisi duramater. Hasil penlitian didapatkan perbedaan signifikan penambahan klonidin pada levobupivakain 0,25% dengan kelompok kontrol terutama pada laju nadi dan diastole. Klonidin 2 mcg/kgBB pada beberapa waktu menunjukkan perbedaan signifikan dibanding dengan penambahan dosis klonidin 1 mcg/kgBB. Simpulan, penambahan klonidin pada scalp block levobupivakain efektif menurunkan respons hemodinamik terutama laju nadi dan tekanan darah diastole Differences in Hemodynamic Response to 1 and 2 mcg/kgBW Clonidine Addition to Scalp BlockAdding adjuvants to levobupivacaine can enhance and prolong the analgesic effect of peripheral nerve blocks. Clonidine has a synergistic action with local anesthetic agents. This study aimed to determine the effectiveness of adding clonidine 1 mcg/kgBW and 2 mcg/kgBW on scalp blocks as craniotomy analgesics. The study included 30 patients who underwent a craniotomy at Dr. Moewardi Hospital Surakarta in May-August 2020. The study design was a double-blind, randomized clinical trial with statistical analysis using one-way ANOVA or Kruskal Wallis trials. Subjects were divided into three groups: group I, scalp block with 0.25% levobupivacaine; group II, scalp block plus clonidine 1 mcg/kgBW; and group III, scalp block plus clonidine 2 mcg/kgBW. Assessment of blood pressure, MAP, and pulse rate was performed before intubation, pin placement, skin incision, and dura mater incision. The study results showed a significant difference in adding clonidine to 0.25% levobupivacaine with the control group, especially in the pulse rate and diastole. Clonidine 2 mcg/kgBW several times showed a significant difference compared to adding a dose of 1 mcg/kgBW clonidine. In conclusion, adding clonidine to levobupivacaine scalp block effectively reduces hemodynamic responses, especially pulse rate and diastolic blood pressure.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penambahan adjuvan pada levobupivakain dapat memperkuat dan memperpanjang efek analgesia pada blok saraf tepi. Klonidin memiliki aksi yang sinergis dengan agen lokal anestesi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas penambahan klonidin 1 mcg/kgBB dan 2 mcg/kgBB pada scalp block sebagai analgetik kraniotomi. Penelitian dilakukan pada 30 pasien yang menjalani kraniotomi di RS Dr. Moewardi Surakarta selama periode bulan Mei–Agustus 2020 Desain penelitian yang digunakan adalah uji klinis tersamar acak ganda dengan analisis statistik menggunakan uji one-way ANOVA atau Kruskal Wallis. Subjek dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok I: scalp block dengan levobupivakain 0,25%, kelompok II: scalp block ditambah klonidin 1 mcg/kgBB, kelompok III: scalp block ditambah klonidin 2 mcg/kgBB. Penilaian terhadap tekanan darah, MAP, laju nadi dilakukan sebelum intubasi, pemasangan pin, insisi kulit, dan insisi duramater. Hasil penlitian didapatkan perbedaan signifikan penambahan klonidin pada levobupivakain 0,25% dengan kelompok kontrol terutama pada laju nadi dan diastole. Klonidin 2 mcg/kgBB pada beberapa waktu menunjukkan perbedaan signifikan dibanding dengan penambahan dosis klonidin 1 mcg/kgBB. Simpulan penambahan klonidin pada scalp block levobupivakain efektif menurunkan respons hemodinamik terutama laju nadi dan tekanan darah diastole.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2495</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2495</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 17-28</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 17-28</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2495/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2495/2698</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3395</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:05Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Morfin Dosis 0,05 mg dengan 0,1 mg sebagai Adjuvan Bupivakain 0,5% 10 mg Intratekal terhadap Intensitas Nyeri dan Durasi  Analgesia Pascaseksio Sesarea</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Morfin Dosis 0,05 Mg dengan 0,1 Mg Sebagai Adjuvan Bupivakain 0,5% 10 Mg Intratekal Terhadap Skala Nyeri dan Durasi Analgesia Pascaseksio Sesarea</dc:title>
	<dc:creator>Barliana, Putri Citra</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:creator>Sitanggang, Ruli Herman</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Durasi analgesia; intensitas nyeri; seksio sesarea</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Masalah pascaoperasi yang paling dikeluhkan oleh pasien yang menjalani seksio sesarea adalah nyeri akut pascaoperasi. Salah satu metode yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) untuk mencegah nyeri akut pascaoperasi adalah penggunaan opioid long-acting intratekal dengan morfin intratekal sebagai baku standar. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin selama bulan Juli–Oktober 2022 Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan intensitas nyeri dan durasi analgesia antara pemberian morfin 0,05 mg dan 0,1 mg sebagai adjuvan bupivakain 0,5% 10 mg intratekal pada pasien yang menjalani prosedur seksio sesarea. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial. Penilaian intensitas nyeri dan durasi analgesia pada pasien dihitung setiap 1 jam sejak operasi selesai (T0) hingga jam ke-24 (T24) pascaoperasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik data kategorik menggunakan uji chi-square dan alternatif uji Eksak Fisher. Intensitas nyeri NRS jam ke-2, -3, -4, -5, - 6, dan -7 pada kelompok morfin 0,1 mg lebih rendah dibanding dengan kelompok morfin 0,05 mg dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p&lt;0,05). Simpulan. durasi analgesia pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih lama dibanding dengan dosis 0,05 mg. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Masalah pascaoperasi yang paling dikeluhkan dan ditakuti oleh pasien yang menjalani seksio sesarea adalah nyeri akut pascaoperasi. Salah satu metode yang direkomendasikan dalam protokol Enhanced Recovery After Cesarean Section (ERACS) untuk mencegah nyeri akut pascaoperasi adalah penggunaan opioid long-acting intratekal, dengan morfin intratekal sebagai baku standar. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbandingan skala nyeri dan durasi analgesia antara pemberian morfin dosis 0,05 mg dengan 0,1 mg sebagai adjuvan bupivakain 0,5% 10 mg intratekal pada pasien yang menjalani prosedur seksio sesarea. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial terhadap kedua kelompok penelitian. Penilaian skala nyeri dan durasi analgesia pada pasien dihitung setiap 1 jam sejak operasi selesai (T0) hingga jam ke-24 (T24) pascaoperasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi-Square dan alternatif Uji Exact Fisher. Terdapat perbedaan skala nyeri NRS jam ke-2, 3, 4, 5, 6, dan 7 yang bermakna secara statistik (p&lt;0,05), dan perbedaan durasi analgesia yang bermakna (p&lt;0,05) pada kedua kelompok. Skala nyeri pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih rendah dibandingkan dengan dosis 0,05 mg. Durasi analgesia pascaseksio sesarea pada pemberian morfin secara intratekal dosis 0,1 mg lebih lama dibandingkan dengan dosis 0,05 mg.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3395</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3395</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 97-108</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 97-108</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3395/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3628</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:18:10Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Fluoksetin 20 Mg dengan Amitriptilin 12,5 Mg sebagai Adjuvan Kombinasi Parasetamol dan Morfin dalam Mengurangi Nyeri pada Pasien Kanker</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN FLUOKSETIN 20 MG DENGAN AMITRIPTILIN 12,5 MG SEBAGAI ADJUVAN KOMBINASI PARASETAMOL DAN MORFIN DALAM MENGURANGI NYERI PADA PASIEN  NYERI KANKER</dc:title>
	<dc:creator>Ramud, Samawi Husein</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Bangun, Chrismas Gideon</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Amitriptyline; fluoksetin; numeric rating scale; PainDETECT, WHO</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Amitriptyline, Fluoxetine, NRS, PainDETECT, WHO</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Data WHO menunjukkan bahwa 30–40% pasien kanker mengalami nyeri sedang atau berat. Empat kelas obat antidepresan dapat dipakai dalam pengobatan nyeri neuropatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fluoksetin 20 mg dengan amitriptilin 12,5 mg sebagai adjuvant kombinasi parasetamol 1000 mg dalam mengurangi gejala nyeri pada pasien nyeri kanker. Penelitian dilaksanakan sejak Juli–September 2023 di klinik nyeri Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar. Sebanyak 40 subjek dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (n=20) mendapat fluoksetin, morfin dan parasetamol, sedangkan kelompok B (n=20) mendapat amitriptilin, morfin dan parasetamol. Skor nyeri pada subjek diukur dengan menggunakan PainDETECT. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi-Square, T-Test Independent, T-Test Paired dan Mann-Whitney. Terdapat penurunan skor numeric rating scale dan PainDETECT yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian fluoksetin maupun amitriptilin dengan nilai p&lt;0,05. Kelompok fluoksetin maupun amitriptilin dapat menurunkan skor numeric rating scale dan PainDETECT secara statistik, akan tetapi tidak bermakna secara klinis.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Latar Belakang: Nyeri kanker sering ditemukan pada pasien dengan kanker, yaitu 30-50% dan meningkat 70%-90%. Insiden nyeri kanker meningkat seiring dengan progresifitas penyakit. Menurut WHO, kira kira 30%-40 % pasien kanker mengalami nyeri sedang atau berat. Empat kelas obat antidepresan telah dipelajari dapat dipakai dalam pengobatan nyeri neuropatik, yaitu antidepresan trisiklik (TCA), inhibitor reuptake serotonin dan norepinefrin selektif (SNRI), inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI), dan inhibitor monoamine oksidase (MAOI).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan fluoksetin 20 mg per 24 jam oral dengan amitriptilin 12,5 mg per 24 jam oral sebagai adjuvant kombinasi parasetamol 1000 mg per 8 jam oral dan morfin 10 mg per 12 jam oral dalam mengurangi gejala nyeri pada pasien nyeri kanker di klinik nyeri RSUP Haji Adam Malik Medan.Metode: Penelitian ini uji klinis acak tersamar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-September 2023. Sebanyak 40 subjek penelitian yang menjalani endoskopi gastrointestinal dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok A (n=20) diberikan fluoksetin, morfin dan parasetamol, sedangkan kelompok B (n=20) diberikan amitriptilin, morfin dan parasetamol. Skor nyeri pada subjek diukur dengan menggunakan PainDETECT. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Data bivariat dianalisis dengan uji Chi-Square, T-Test Independent, T-Test Paired dan Mann-Whitney.Hasil: Terdapat penurunan skor NRS maupun PainDETECT yang signifikan antara sebelum dan setelah pemberian fluoksetin maupun amitriptilin dengan nilai p&lt;0,05.Kesimpulan: Kelompok fluoksetin maupun amitriptilin sama-sama dapat menurunkan skor NRS dan PainDETECT secara statistik, akan tetapi tidak bermakna secara klinis karena target penurunan skor yaitu kurang dari 4 pada skala 0-10 atau penurunan 50% nyeri.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3628</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3628</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 169-176</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 169-176</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3628/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3628/4481</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3628/4482</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3628/4483</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3628/4484</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4054</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:35Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analgesia Effect of 2.64% Alkalinized Lidocaine in 70% Alcohol Topically Before Phlebotomy</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efek Analgesia Pemberian Lidokain 2,64% Teralkalinisasi dalam Alkohol 70% Secara Topikal Sebelum Flebotomi</dc:title>
	<dc:creator>Huka, Joel Apriyanto Fejacreyo</dc:creator>
	<dc:creator>Angkejaya, Ony Wibriyono</dc:creator>
	<dc:creator>Tuahuns, Achmad</dc:creator>
	<dc:creator>Devi, Cokorda Istri Arintha</dc:creator>
	<dc:creator>Hataul, Is Ikhsan</dc:creator>
	<dc:creator>Lilihata, Jilientasia</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alkalinized lidocaine; NRS Score; pain; phlebotomy; topical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Medical; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Flebotomi; Nyeri; Lidokain 2,64% teralkalinisasi; Topikal; Skor NRS</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Phlebotomy is an essential procedure in healthcare, but it often causes pain due to its invasive nature. Although lidocaine is effective as a local anesthetic, the injectable formulation and low pH may induce pain before the anesthetic effect begins. Therefore, alkalinized lidocaine administered topically is considered a potential alternative to reduce pain and accelerate anesthetic onset. This study is essential to evaluate the effectiveness of this approach. This research aimed to assess the effect of 2.64% alkalinized lidocaine in 70% alcohol, applied topically, on phlebotomy pain levels, measured using the Numeric Rating Scale (NRS).Methods: This study employed a single-masked randomized controlled trial (RCT) with a posttest-only control group design. Samples were obtained via simple random sampling, yielding 20 paired samples from 135 eligible participants. On the first day, participants underwent phlebotomy after the application of alkalinized lidocaine, and on the tenth day, phlebotomy was repeated using 70% alcohol as the control. Pain was measured using the NRS and analyzed using the Wilcoxon test.Results: NRS scores in the control group were significantly higher than those in the experimental group, with a p-value of 0.001.Discussion: Alkalinized lidocaine effectively reduced phlebotomy pain, likely due to an increased non-ionic fraction that enhances tissue penetration and accelerates anesthetic onset. These findings align with existing literature, although generalization remains limited by the small sample size and single-masked design.Conclusion: Topically applied 2.64% alkalinized lidocaine in 70% alcohol is effective in reducing pain associated with phlebotomy.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Flebotomi merupakan tindakan penting dalam dunia kesehatan, tetapi prosedurnya yang invasif selalu menimbulkan nyeri dan memengaruhi kualitas hidup pasien. Lidokain hadir sebagai solusi untuk mengatasi nyeri tersebut, tetapi pemberiannya yang invasif dan pH yang rendah justru menimbulkan nyeri sebelum menimbulkan efek anestesi sehingga diperlukan alkalinisasi dan pemberian secara topikal untuk mengurangi nyeri yang ditimbulkan, serta dapat meningkatkan onset dari lidokain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian lidokain 2,64% teralkalinisasi dalam alkohol 70% secara topikal sebelum flebotomi terhadap perubahan Numeric Rating Scale (NRS). Penelitian ini menggunakan metode Randomized Control Trial (RCT) dengan pendekatan posttest only control group design dan jenis studi single-blind. Pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling mendapatkan 20 sampel berpasangan yang diacak dari 135 populasi yang telah memenuhi kriteria. Pada hari pertama, sampel diberikan tindakan flebotomi yang sebelumnya diberikan lidokain 2,64% teralkalinisasi dalam alkohol 70% secara topikal sebagai larutan eksperimen dan dilanjutkan tindakan flebotomi pada hari ke-10 yang sebelumnya hanya diberikan alkohol 70% secara topikal sebagai larutan kontrol. Skala nyeri kemudian diukur menggunakan NRS dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan NRS flebotomi yang sebelumnya diberikan larutan kontrol ditemukan lebih tinggi dibandingkan larutan eksperimen. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh pemberian lidokain 2,64% teralkalinisasi dalam alkohol 70% secara topikal sebelum flebotomi yang signifikan (p=0,001). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemberian lidokain 2,64% teralkalinisasi dalam alkohol 70% secara topikal sebelum flebotomi dapat mengurangi nyeri akibat flebotomi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4054</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4054</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 155-162</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 155-162</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4054/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4054/5131</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4054/5132</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2464</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efektivitas antara Ketamin Kumur dan Lidokain Spray untuk Mengurangi Nyeri Tenggorok, Batuk, dan Serak Pascaekstubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Efektivitas antara Ketamin Kumur dengan Lidokain Spray untuk Mengurangi Nyeri Tenggorok Paska Ekstubasi</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Thamrin, Muhammad Husni</dc:creator>
	<dc:creator>Hananto, Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Batuk, ketamin, lidokain, nyeri tenggorok, suara serak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ketamin, Lidokain, Nyeri tenggorok</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri tenggorok adalah komplikasi yang sering dikeluhkan pasien setelah penggunaan pipa endotrakeal pada tindakan anestesi umum. Kejadian nyeri tenggorok dapat dikurangi dengan pemberian agen analgetik. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan efektivitas antara ketamin kumur dan lidokain spray untuk mengurangi nyeri tenggorok pascaekstubasi. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Pusat dan kamar rawat inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dimulai pada bulan Februari–Maret 2018. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan double blind randomized control trial pada pasien yang dilakukan anestesi umum dan dipasang pipa endotrakea. Uji Mann Whitney U digunakan untuk mengolah data. Kelompok penelitian dibagi menjadi dua, yaitu kelompok ketamin kumur (I) dan lidokain spray (II). Ketamin kumur lebih efektif mengurangi nyeri tenggorokan, batuk, dan suara serak dibanding dengan lidokain spray mulai 1 jam pascaoperasi dan 6 jam pascaoperasi (p&lt;0,05), sedangkan pada 24 jam pascaoperasi lidokain spray memiliki efektivitas yang hampir sama dengan ketamin kumur.A Comparative Study on Effectiveness of Ketamine Gargle and Lidocaine Spray for Reducing Sore Throat, Cough, and Hoarseness Post-ExtubationShore throat is a common complication of endotracheal tube placement under general anesthesia. Administering analgesic agents can reduce the incidence of shore throat. The study aimed to determine the difference in effectiveness between ketamine gargle and lidocaine spray to reduce post-extubation sore throat. The study was conducted at the Central Surgical Installation and Inpatient wards of Dr. Moewardi General Hospital Surakarta in February–March 2018. This experimental study used a double-blind, randomized control trial in patients undergoing general anesthesia with endotracheal tube placement. The Mann-Whitney U test was used to process the data. The research group was divided into ketamine gargle (I) and lidocaine spray (II). Ketamine gargle was more effective in reducing sore throat, cough, and hoarseness than lidocaine spray starting 1 hour postoperatively and 6 hours postoperatively (p&lt;0.05). In contrast, at 24 hours, postoperative lidocaine spray was nearly as effective as ketamine gargle.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri tenggorok adalah komplikasi yang sering dikeluhkan pasien setelah penggunaan pipa endotrakeal pada tindakan anestesi umum. Kejadian nyeri tenggorok dapat dikurangi dengan pemberian agen analgetik. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan efektivitas ketamine kumur dengan lidokain spray untuk mengurangi nyeri tenggorok paska ekstubasi. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Pusat dan kamar rawat inap RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dimulai pada bulan Februari-Maret 2018. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan double blind randomized control trial pada pasien yang dilakukan anestesi umum dan dipasang pipa endotrakea. Uji Mann Whitney U digunakan untuk mengolah data. Kelompok penelitian dibagi menjadi dua yaitu kelompok Ketamin kumur (I), dan Lidokain spray (II). Didapatkan perbedaan efektivitas penggunaaan ketamine kumur dan lidokain spray untuk mengurangi nyeri tenggorokan, kejadian batuk, dan suara serak pada 1 jam, 6 jam dan 24 jam paska anestesi umum dengan intubasi endotrakea (p&lt;0,05). Terdapat perbedaan efektivitas ketamine kumur dengan lidokain spray dalam mengurangi nyeri tenggorokan, batuk, dan suara serak mulai pada satu jam sampai 24 jam setelah intubasi endotrakea pada anestesi umum.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2464</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2464</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 150–159</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 150–159</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2464/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2955</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Penggunaan Delta C-Reaktif Protein dan SOFA Score sebagai Prediktor Kematian Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Penggunaan Delta C-Reactive Protein dan SOFA Score Sebagai Prediktor Kematian Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Maryani, Nova</dc:creator>
	<dc:creator>Jufan, Akhmad Yun</dc:creator>
	<dc:creator>Uyun, Yusmein</dc:creator>
	<dc:creator>Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno</dc:creator>
	<dc:creator>Widodo, Untung</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">C-reactive protein; prognosis; sepsis; unit perawatan intensif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">C-Reactive Protein, Intensive care units, Prognosis, Sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penelitian ini berfokus pada penggunaan skor DELTA CRP dan SOFA dalam memprediksi prognosis pada pasien ICU. Penelitian observasional kohort digunakan sebagai desain. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Sardjito periode Februari–Juli 2019. Sampel dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel berturut-turut. Para peneliti mengumpulkan 32 responden dengan sepsis dan syok sepsis yang dirawat di ICU berdasarkan kondisi ini. Skor area under curve (AUC) delta CRP menunjukkan &gt;0,7 (0,780;CI 95%: 0,58–0,97) dengan cut-off 3 (sensitivitas=53,8%, spesifisitas=91%), menyiratkan bahwa CRP delta dapat menunjukkan keadaan pasien sepsis dan syok septik yang memburuk, tetapi kurang sensitif untuk memprediksi kematian. Sementara itu, skor AUC of SOFA &gt;0,7 (0,787; 95% CI: 0,58–0,98) pada hari ke-0 dengan cut-off 8,5 (sensitivitas=76,9%, spesifisitas=81,8%), dan 0,836 (CI 95%: 0,67–0,99) pada hari ke-2 dengan cut-off 6 (sensitivitas=84,6%, spesifisitas=72,7%). Hal ini menunjukkan bahwa skor SOFA dapat memprediksi tingkat kematian prognostik pada pasien yang didiagnosis sepsis dan syok septik di ICU. Baik skor delta CRP dan SOFA memiliki nilai AUC lebih besar dari 0,7, tetapi hanya delta CRP yang memiliki sensitivitas rendah sebagai prognostik kematian.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penelitian ini berfokus pada penggunaan skor DELTA CRP dan SOFA dalam memprediksi prognosis pada pasien ICU. Penelitian observasional kohort digunakan sebagai desain. Sampel dipilih menggunakan teknik pengambilan sampel berturut-turut. Para peneliti mengumpulkan 32 responden dengan sepsis dan syok septik yang dirawat di ICU berdasarkan kondisi ini. Skor AUC delta CRP menunjukkan &gt; 0,7 (0,780) (CI 95%: 0,58-0,97) dengan cut off 3 (sensitivitas= 53,8%, spesifisitas= 91%), menyiratkan bahwa CRP delta dapat menunjukkan keadaan pasien sepsis dan syok septik yang memburuk, tetapi kurang sensitif untuk memprediksi kematian. Sementara itu, skor AUC of SOFA &gt; 0,7 (0,787) (95% CI: 0,58-0,98) pada hari ke-0 dengan cut off 8,5 (sensitivitas=76,9%, spesifisitas= 81,8%), dan 0,836 (CI 95%: 0,67-0,99) pada hari ke-2 dengan cut off 6 (sensitivity=84,6%, spesifisitas=72,7%). Hal ini menunjukkan bahwa skor SOFA dapat memprediksi tingkat kematian prognostik pada pasien yang didiagnosis sepsis dan syok septik di ICU. Baik skor delta CRP dan SOFA memiliki nilai AUC lebih besar dari 0,7, tetapi hanya delta CRP yang memiliki sensitivitas rendah sebagai prognostik kematian. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">None</dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2955</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2955</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 13–21</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 13–21</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2955/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2955/3561</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2955/3562</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3934</identifier>
				<datestamp>2024-09-02T02:13:54Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Retrograde Autologous Priming dalam Menurunkan Volume Kebutuhan Transfusi Sel Darah Merah Selama Operasi pada Bedah Jantung Koroner dengan Mesin Pintas Jantung Paru: A Randomized Controlled Trial</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektivitas Retrograde Autologous Priming dalam Menurunkan Volume Kebutuhan Transfusi Sel Darah Merah Selama Operasi pada Bedah Jantung Koroner dengan Mesin Pintas Jantung Paru: A Randomized Controlled Trial</dc:title>
	<dc:creator>Boom, Cindy Elfira</dc:creator>
	<dc:creator>Kesumarini, Dian</dc:creator>
	<dc:creator>Cintyandy, Riza</dc:creator>
	<dc:creator>Sanjaya, Lisa</dc:creator>
	<dc:creator>Andria, Krisna</dc:creator>
	<dc:creator>Zareva, Hilda</dc:creator>
	<dc:creator>Rudiana, Cahya</dc:creator>
	<dc:creator>Parmana, I Made Adi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bedah jantung koroner; pintas jantung paru; retrograde autologous priming; transfusi sel darah merah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Bedah jantung koroner; pintas jantung paru; retrograde autologous priming;  transfusi sel darah merah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemakaian mesin pintas jantung paru (PJP) dalam operasi coronary artery bypass graft (CABG) dapat meningkatkan kebutuhan transfusi darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas retrograde autologous priming (RAP) dalam menurunkan volume transfusi sel darah merah/packed red cell (PRC) pada pasien bedah jantung koroner dengan mesin PJP. Penelitian ini melibatkan 52 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi coronary artery bypass graft (CABG). RAP dimulai selama bypass dalam satu kelompok dengan mengalirkan larutan kristaloid dari jalur arteri dan vena ke dalam kantong penampung dengan volume penarikan RAP yang dimaksudkan dan disesuaikan untuk setiap pasien. Non-RAP menggunakan teknik konvensional PJP. 52 pasien (RAP = 26; kontrol = 26) dilibatkan dalam analisis. Pasien dalam kelompok RAP menerima volume transfusi PRC intraoperatif yang jauh lebih rendah dibanding dengan pasien pada kelompok non-RAP (median, 0 mL vs 205 mL, p=0,014). Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa prosedur RAP mempengaruhi secara signifikan (p&lt;0,05) volume PRC yang dibutuhkan dalam transfusi intraoperatif. RAP selama operasi bedah jantung koroner dengan mesin PJP adalah prosedur yang aman dan efektif yang secara signifikan mengurangi kebutuhan transfusi volume PRC. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemakaian mesin pintas jantung paru (PJP) dalam operasi coronary artery bypass graft (CABG) dapat meningkatkan kebutuhan transfusi darah.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas retrograde autologous priming (RAP) dalam menurunkan volume transfusi sel darah merah/packed red cell (PRC) pada pasien bedah jantung koroner dengan mesin PJP. Penelitian ini melibatkan 52 pasien yang dijadwalkan menjalani operasi coronary artery bypass graft (CABG). RAP dimulai selama bypass dalam satu kelompok dengan mengalirkan larutan kristaloid dari jalur arteri dan vena ke dalam kantong penampung dengan volume penarikan RAP yang dimaksudkan dan disesuaikan untuk setiap pasien. Non-RAP menggunakan teknik konvensional PJP. 52 pasien (RAP = 26; kontrol = 26) dilibatkan dalam analisis. Pasien dalam kelompok RAP menerima volume transfusi PRC intraoperatif yang jauh lebih rendah dibandingkan pasien pada kelompok non-RAP (median, 0 mL vs 205 mL, p=0,014). Analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa prosedur RAP mempengaruhi secara signifikan (p &lt;0,05) volume PRC yang dibutuhkan dalam transfusi intraoperatif.RAP selama operasi bedah jantung koroner dengan mesin PJP adalah prosedur yang aman dan efektif yang secara signifikan mengurangi kebutuhan transfusi volume PRC.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita</dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita</dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3934</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3934</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 89-96</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 89-96</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3934/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3934/4927</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3934/4928</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4451</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:21Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Severe Hypokalemia in the Intensive Care Unit: Case Series on Potassium Correction Strategies and Clinical Outcomes</dc:title>
	<dc:creator>Daniswara, Daniswara</dc:creator>
	<dc:creator>Prasamya, Erlangga</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hypokalemia; intensive care unit; life threatening; potassium correction; prognosis sever</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Hypokalemia is one of the electrolyte disorders that often occurs in intensive care units (ICUs), defined as a serum potassium concentration below 3.5 mmol/L. Its severity is classified as mild (3.0–3.4 mmol/L), moderate (2.5–3.0 mmol/L), and severe (&lt;2.5 mmol/L). Hypokalemia occurs when the body loses too much potassium due to several factors such as vomiting, excessive diarrhea, kidney disease, hormonal disorders, or taking diuretic drugs. Symptoms of hypokalemia generally appear when serum potassium is less than 3.0 mmol/L, ranging from mild weakness to life-threatening cardiac arrhythmias. In critically ill patients, untreated severe hypokalemia can lead to cardiac arrhythmias, respiratory arrest, and renal dysfunction, with a higher risk of complications and mortality in patients with hypotension, diabetes, or chronic kidney disease. This case series involved six ICU patients with severe hypokalemia (K⁺ ≤1.8 mmol/L) who underwent rapid potassium correction at a rate of 10–40 mEq/hour adjusted to the patient's clinical severity. In patients with ventricular arrhythmias, initial correction of 2 mEq/minute was followed by 10 mEq over 5–10 minutes. Most patients showed clinical improvement, while worse outcomes were observed in patients with hyperthyroidism and after return of spontaneous circulation (ROSC). This case series highlights the importance of individualized potassium replacement strategies, immediate intervention, and careful monitoring to prevent life-threatening complications and improve outcomes in patients with severe hypokalemia in the ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4451</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4451</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 127-132</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 127-132</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4451/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4451/5817</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2486</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:48Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Pemberian Ekstrak Ikan Gabus terhadap Kreatinin dan Albumin Serum pada Pasien Radioterapi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Pemberian Ekstrak Ikan Gabus Terhadap Kreatinin Serum Dan Albumin Serum Pada Pasien Radioterapi</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Thamrin, Muhammad Husni</dc:creator>
	<dc:creator>Rusman, Rio</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Albumin, ekstrak ikan gabus, kreatinin, radioterapi, ureum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sebagian besar pasien keganasan yang dilakukan radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi disertai dengan hipoalbuminemia dan kerusakan ginjal, terutama keganasan regio pelvis. Human albumin telah dikenal memiliki efek nefroprotektif. Ekstrak ikan gabus, salah satu sumber albumin preparat oral dapat menjadi alternatif yang efektif dan lebih murah untuk mengurangi risiko kerusakan ginjal pada keganasan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian ekstrak ikan gabus terhadap kreatinin dan albumin serum pada pasien radioterapi. Penelitian ini dilakukan pada pasien yang menjalani radioterapi yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol diberikan plasebo dan kelompok perlakuan diberikan ekstrak ikan gabus. Penelitian dilakukan bulan Juli 2019 di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Moewardi. Kadar albumin, ureum, dan kreatinin serum diperiksa sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian pada kedua kelompok terjadi penurunan kadar albumin serum, walaupun penurunan pada kelompok perlakuan lebih banyak, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Kadar ureum dan kreatinin serum pada kelompok perlakuan terjadi penurunan, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Kesimpulan, tidak terdapat pengaruh penggunaan ekstrak ikan gabus terhadap kadar albumin, ureum, dan kreatinin serum pada pasien yang menjalani radioterapi.Effect of Snakehead Fish Extract on Creatinine and Albumin Serum levels in Radiotherapy PatientsMost malignancy patients who undergo radiotherapy with or without chemotherapy are accompanied by hypoalbuminemia and kidney injury, especially malignancy of the pelvic region. Human albumin has been known to have nephroprotective effects. Snakehead fish extract, one of the oral albumin sources, can be an effective and cheaper alternative to reduce the risk of kidney injury in malignancies. This study aimed to analyze snakehead fish extract's effect on creatinine and albumin serum level in radiotherapy patients. This study was conducted on patients who underwent radiotherapy and were divided into two groups, the control group was given a placebo, and the experimental group was given snakehead fish extract. Albumin, urea, and creatinine serum levels were checked before and after treatment. Study results showed a decrease in serum albumin levels in both groups. However, the decrease in the treatment group was more than in the control group; this difference was insignificant. Urea and creatinine serum levels decreased in the experimental group, whereas in the control group, there was an increase, but this difference was not statistically significant. In conclusion, the administration of snakehead fish extract has no significant effect on albumin, urea, and creatinine serum level in patients undergoing radiotherapy.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Sebagian besar pasien keganasan yang dilakukan radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi disertai dengan hipoalbuminemia dan kerusakan ginjal, terutama keganasan regio pelvis. Human albumin telah dikenal memiliki efek nefroprotektif. Ekstrak ikan gabus, salah satu sumber albumin preparat oral, dapat menjadi alternatif yang efektif dan lebih murah untuk mengurangi resiko kerusakan ginjal pada keganasan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian ekstrak ikan gabus terhadap kreatinin serum dan albumin serum pada pasien radioterapi. Penelitian ini dilakukan pada pasien yang menjalani radioterapi, yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol diberikan placebo dan kelompok perlakuan diberikan ekstrak ikan gabus. Kadar albumin, ureum dan kreatinin serum diperiksa sebelum dan sesudah perlakuan. Hasil penelitian pada kedua kelompok terjadi penurunan albumin serum, walaupun penurunan pada kelompok perlakuan lebih banyak, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Kadar ureum dan kreatinin serum pada kelompok perlakuan terjadi penurunan, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan, tetapi perbedaan ini tidak bermakna. Kesimpulan tidak terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan ekstrak ikan gabus pada kadar albumin serum, ureum serum, dan kreatinin serum pada pasien yang menjalani radioterapi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2486</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2486</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 141–148</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 141–148</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2486/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2486/2687</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3390</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T03:25:34Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Nilai Regional Oxygen Saturation (rSO2) Pre dan Pascabedah Kraniotomi Tumor Removal di RSUP Haji Adam Malik, Medan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Nilai rSO2 Pra dan Pasca Pembedahan Bedah Kraniotomi Tumor Removal Di RSUP Haji Adam Malik Medan</dc:title>
	<dc:creator>Simamora, Veronica</dc:creator>
	<dc:creator>Irina, Rr. Sinta</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kraniotomi; nilai rSO2; tumor removal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">: nilai rSO2, kraniotomi, tumor removal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pengukuran regional oxygen saturation (rSO2) menggunakan near- infrared spectroscopy (NIRS) berkorelasi dengan saturasi vena sentral. Oksigen serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Penelitian ini bertujuan melihat perbandingan nilai rSO2 pre dengan pascabedah kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cohort prospective. Penelitian ini dilakukan pada 12 pasien yang menjalani prosedur pembedahan kraniotomi tumor removal selama 14 April–19 Mei 2023 Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji t berpasangan. Sebanyak 12 pasien diteliti rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 64,50±2,98 pada kanan dan kiri didapatkan rerata sebesar 62,58±3,17. Pada rSO2 setelah operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 71,58±2,31 pada kanan dan kiri didapatkan rerata sebesar 70,25±3,52. Pada rSO2 kanan rerata sebesar 64,50±1,90 dan rSO2 kanan sesudah penelitian ini didapatkan rerata sebesar 71,58±1,71 dengan nilai p&lt;0,05 secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara rSO2 kanan sebelum dan sesudah operasi. Simpulan, terdapat perbedaan antara rSO2 sebelum dan sesudah pembedahan kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik, Medan. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">AbstrakLatar Belakang : Pengukuran rSO2 menggunakan NIRS berkorelasi dengan saturasi vena sentral. Oksigen serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan oksigen bisa bertambah maupun berkurang.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbandingan nilai rSO2 pra dan pasca pembedahan Kraniotomi Tumor Removal di RSUP Haji Adam Malik Medan.Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian cohort prospective. Penelitian ini dilakukan pada 12 pasien yang menjalani prosedur pembedahan Kraniotomi Tumor removal. Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisa data menggunakan uji T Berpasangan.Hasil: Sebanyak 12 pasien diteliti rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 64,50 ± 2,98 pada kanan dan kiri didapati rerata sebesar 62,58 ± 3.17. Pada rSO2 sebelum operasi kraniotomi didapatkan rerata sebesar 71,58 ± 2.31 pada kanan dan kiri didapati rerata sebesar 70,25 ± 3.52. Pada rSO2 kanan rerata sebesar 64,50 ± 1,90 dan rSo2 kanan sesudah penelitian ini didapati rerata sebesar 71,58 ± 1.71 didapatkan nilai &lt; 0,05, secara statistik terdapat perbedaan bermakna antara rSO2 kanan sebelum dan sesudah operasi.Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara rSO2 sebelum dan sesudah pembedahan bedah kraniotomi tumor removal di RSUP Haji Adam Malik MedanKata Kunci: nilai rSO2, kraniotomi, tumor removal </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3390</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3390</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 6-13</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 6-13</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3390/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3390/4171</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3390/4875</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3251</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:41Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Anestesi pada Hipertiroid Mola Hidatidosa dengan Spinal Anestesi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">MANAJEMEN HIPERTIROID MOLA HIDATIDOSA PADA KURETASE DENGAN ANESTESI BLOK SUBARACHNOID REGIONAL</dc:title>
	<dc:creator>Widagdo, Banu</dc:creator>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hipertiroid; laporan kasus; manajemen; mola hidatidosa; regional anestesi subarachnoid block</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Mola hidatidosa yang disertai hipertiroidisme merupakan kondisi berisiko tinggi karena potensi terjadinya krisis tiroid yang mengancam jiwa. Hipertiroid dapat menjadi komplikasi penyakit trofoblast gestasional, termasuk pada mola hidatidosa dan koriokarsinoma. Laporan ini memaparkan manajemen anestesi pada pasien perempuan usia 39 tahun dengan diagnosis mola hidatidosa dan hipertiroid. Pasien datang dalam keadaan sadar, dengan tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 102 kali/menit, laju napas 20 kali/menit, dan saturasi oksigen 98% dalam udara bebas. Skor indeks Wayne adalah 19, dengan peningkatan kadar T4 dan penurunan kadar TSH. Sebelum tindakan kuretase, pasien diberikan propiltiourasil (PTU) 3×100 mg dan propranolol 3×20 mg. Prosedur kuretase dilakukan dengan anestesi spinal menggunakan levobupivakain 15 mg dan adjuvan fentanil 25 µg. Selama dan setelah prosedur, kondisi hemodinamik pasien tetap stabil. Spinal anestesi dipilih karena dianggap lebih aman dan memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah dibanding dengan anestesi umum, khususnya pada pasien dengan risiko kardiovaskular tinggi akibat hipertiroidisme. Diagnosis dan tata laksana hipertiroid perlu dilakukan secara cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi serius, terutama pada pasien dengan gejala berat seperti perdarahan aktif atau ancaman krisis tiroid. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Mola hidatidosa dengan hipertiroid meliputi dua macam penyakit yang dapat membahayakan hidup dengan timbulnya krisis tiroid. Hipertiroid dikenal dapat menjadi penyulit pada penyakit trofoblast gestasional, baik pada khoriokarsinoma maupun pada mola hidatidosa. Kami melaporkan seorang perempuan usia 39 tahun yang merupakan pasien mola hidatidosa dengan hipertiroid. Pemeriksaan fisik didapatkan GCS E4V5M6, tekanan darah 120/80 mmHg, detak jantung 102x/mnt, respirasi 20x/mnt, SpO2 98% dalam posisi supine dengan udara ruang. Indeks Wayne pasien 19 dan terdapat peningkatan T4 dan penurunan TSH yang menunjukan hipertiroid klinis pada pasien. Satu hari sebelum tindakan, pasien diberikan PTU 3x100 mg, dan propranolol 3x20 mg. Pasien selanjutnya dilakukan prosedur  kuretase dengan menggunakan anestesi blok subarachnoid regional menggunakan levobupivacain 15 mg ditambahkan adjuvan fentanyl 25 mcg. Kondisi pasien stabil setelah kuretase. Manajemen anestesi pada kasus hipertiroid dan mola hidatidosa dengan tindakan kuretase dapat dilakukan dengan metode RASAB karena lebih aman dan minimal risiko dibandingkan dengan anestesi umum. Diagnosis dan manajemen hipertiroid harus dilakukan secara cepat dan tepat, terutama pada mola hidatidosa yang disertai dengan tanda kegawatan, baik dari perdarahan mola, maupun ancaman krisis tiroid. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3251</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3251</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 67-70</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 67-70</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3251/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2492</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Waktu Pulih Sadar Anestesi Umum Sevofluran dengan Premedikasi Midazolam dan tanpa Premedikasi Midazolam</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Waktu Pulih Sadar Anestesi Umum Sevofluran dengan Premedikasi Midazolam dan tanpa Premedikasi Midazolam</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Nugroho, Djoko Tjahyo</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Midazolam, premedikasi, sevofluran, waktu pulih sadar</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Midazolam, premedikasi, sevofluran, waktu pulih sadar</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemberian premedikasi midazolam memberikan efek sedasi yang panjang sehingga menimbulkan pulih sadar yang lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan waktu pulih sadar anestesi umum sevofluran dengan dan tanpa premedikasi midazolam. Penelitian ini merupakan double blind randomized control trial pada 36 sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dan dilakukan di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan September–Oktober 2017. Sampel dilakukan operasi dengan anestesi umum inhalasi sevofluran. Sampel dibagi menjadi kelompok yang mendapatkan premedikasi midazolam 0,05 mg/kgBB i.v (kelompok A) dan tanpa premedikasi midazolam (kelompok B). Setelah selesai operasi, waktu pulih sadar dicatat menggunakan score Aldrete. Analisis statistik dilakukan menggunakan independent t-test (α=0,05 dan p&lt;0,05). Waktu pulih sadar pada kelompok midazolam rerata 1381,00+237,80 detik, sedangkan pada kelompok kontrol rerata 597,89+179,89 detik (=0,000). Perbedaan rerata waktu pulih sadar antara kelompok premedikasi midazolam dan kontrol adalah 783,11 (640,28–925,94) detik. Waktu pulih sadar pada kelompok midazolam rerata 1381,00+237,80 detik,  sedangkan pada kelompok kontrol rerata 597,89+179,89 detik. Perbedaan selisih rerata waktu pulih sadar antara midazolam dan kontrol adalah 783,11 (640,28–925,94) detik. Terdapat perbedaan bermakna waktu pulih sadar antara kelompok midazolam dan kelompok kontrol. Simpulan, premedikasi midazolam pada anestesi umum sevofluran efektif dalam memperpanjang waktu pulih sadar.Recovery Time Differences in Sevoflurane General Anesthesia with Midazolam and without Midazolam PremedicationMidazolam premedication reduces anxiety, and anterograde partial amnesia provides anesthesia induction and reduces unwanted changes in postoperative behavior. Midazolam has a prolonged sedative effect leading to a longer recovery time. The researcher was interested in investigating recovery time differences between sevoflurane general anesthetic with midazolam and without midazolam premedication. This study was a double-blind, randomized controlled trial on 36 samples that met the inclusion criteria and was conducted at the Central Surgical Unit of RSUD Dr. Moewardi Surakarta. The sample was planned to undergo surgery under the general anesthetic sevoflurane inhalation. The sample was divided into two groups: one group received midazolam premedication 0.05 mg/kg i.v. (group A) and a control group without midazolam premedication (group B). After surgery, recovery time was recorded using the Aldrete score. The statistical analysis used an independent t-test (α=0.05 and p&lt;0.05). The mean recovery time in the group premedicated with midazolam was 1381.00+237.80 seconds, while in the control group, it was 597.89+179.89 seconds, p=0.000 (p&lt;0.05). The difference in the mean recovery time between the midazolam premedication group and the control group was 783.11 (640.28–925.94) seconds. There was a significant difference in recovery time between groups with midazolam and without midazolam premedication. This study showed that midazolam premedication to sevoflurane general anesthetic was effective in prolonging recovery time (p=0.000).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemberian premedikasi midazolam memberikan efek sedasi yang panjang sehingga menimbulkan pulih sadar yang lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan waktu pulih sadar anestesi umum sevofluran dengan dan tanpa premedikasi midazolam. Penelitian ini merupakan double blind randomized control trial pada 36 sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dan dilakukan di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan September–Oktober 2017. Sampel dilakukan operasi dengan anestesi umum inhalasi sevofluran. Sampel dibagi menjadi kelompok yang mendapatkan premedikasi midazolam 0,05 mg/kgBB i.v (kelompok A) dan tanpa premedikasi midazolam (kelompok B). Setelah selesai operasi, waktu pulih sadar dicatat menggunakan score Aldrete. Analisis statistik dilakukan menggunakan independent t-test (α=0,05 dan p&lt;0,05). Waktu pulih sadar pada kelompok midazolam rerata 1381,00+237,80 detik, sedangkan pada kelompok kontrol rerata 597,89+179,89 detik (=0,000). Perbedaan rerata waktu pulih sadar antara kelompok premedikasi midazolam dan kontrol adalah 783,11 (640,28–925,94) detik. Waktu pulih sadar pada kelompok midazolam rerata 1381,00+237,80 detik,  sedangkan pada kelompok kontrol rerata 597,89+179,89 detik. Perbedaan selisih rerata waktu pulih sadar antara midazolam dan kontrol adalah 783,11 (640,28–925,94) detik. Terdapat perbedaan bermakna waktu pulih sadar antara kelompok midazolam dan kelompok kontrol. Simpulan, premedikasi midazolam pada anestesi umum sevofluran efektif dalam memperpanjang waktu pulih sadar.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2492</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2492</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 71–77</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 71–77</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2492/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2492/2695</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3408</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Kecemasan Praoperasi dan Karakteristik Individu dengan Intensitas Nyeri Pascaoperasi Pasien Bedah Non Emergensi dengan Teknik Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Hubungan Kecemasan Pra-Operasi dan Karakteristik Individu terhadap Intensitas Nyeri Pasca-Operasi Pasien Bedah Non Emergensi dengan Teknik Anestesi Spinal  di Soerojo Hospital</dc:title>
	<dc:creator>Wandana, Adam Kurnia</dc:creator>
	<dc:creator>Wibowo, Catur Prasetyo</dc:creator>
	<dc:creator>Handayani, Sri</dc:creator>
	<dc:creator>Cahyono, Adi</dc:creator>
	<dc:creator>Astuti, Ani</dc:creator>
	<dc:creator>Ariyati, Tini</dc:creator>
	<dc:creator>Sevriana, Ery Surya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi spinal; bedah non emergensi; kecemasan; nyeri pascaoperasi; teknik anestesi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Nursing</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">kecemasan; nyeri pasca operasi; bedah non emergensi; teknik anestesi; anestesi spinal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pascaoperasi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, mengganggu proses penyembuhan luka, pemulihan yang buruk, dan durasi perawatan lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan kecemasan praoperasi dan karakteristik individu dengan intensitas nyeri pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 40 pasien bedah non emergensi dengan teknik anestesi spinal. Penelitian dilakukan di Soerojo Hospital Magelang periode September 2022–Februari 2023. Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kecemasan praoperasi dan intensitas nyeri pascaoperasi (ρ=0,000) dengan arah hubungan positif. Usia (ρ=0,003) dan jenis kelamin (ρ=0,017) juga memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas nyeri pascaoperasi, meskipun arah hubungannya negatif, sedangkan tingkat pendidikan (ρ=0,845) dan pengalaman operasi sebelumnya (ρ=0,069) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pascaoperasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan sebelum operasi, semakin tinggi intensitas nyeri setelah operasi; perempuan dan usia muda cenderung mengalami respons nyeri yang berat setelah operasi dibanding dengan laki-laki dan orang dewasa. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Angka kejadian nyeri pasca operasi dan intensitas nyeri yang cukup tinggi dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas, gangguan proses penyembuhan luka, pemulihan yang buruk, dan durasi perawatan yang lebih lama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kecemasan pra-operasi dan karakteristik individu terhadap intensitas nyeri pasca-operasi. Penelitian ini merupakan studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 40 pasien bedah non emergensi dengan teknik anestesi spinal di Soerojo Hospital. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi ditentukan menggunakan metode total sampling periode September 2022 - Februari 2023. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner APAIS dan skala NRS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara  kecemasan pra-operasi dengan intensitas nyeri pasca-operasi (ρ=0,000), dengan arah hubungan positif. Usia (ρ=0,003) dan jenis kelamin  (ρ=0,017) juga memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pasca operasi dengan arah hubungan negatif. Sedangkan, tingkat pendidikan (ρ=0,845) dan pengalaman operasi sebelumnya (ρ=0,069) tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap intensitas nyeri pasca operasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecemasan sebelum operasi, semakin tinggi intensitas nyeri setelah operasi; perempuan dan usia muda cenderung mengalami respon nyeri yang berat setelah operasi dibandingkan laki-laki dan orang dewasa.   </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Soerojo Hospital</dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3408</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3408</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 131-138</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 131-138</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3408/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3408/4182</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3408/4183</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3962</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:14:22Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Nebulisasi Preoperasi Lidokain dengan Kombinasi Lidokain dan Budesonid terhadap Skala Nyeri Tenggorok Pascaoperasi Akibat Intubasi Endotrakea</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN NEBULISASI PREOPERASI LIDOKAIN DENGAN KOMBINASI LIDOKAIN DAN BUDESONID TERHADAP SKALA NYERI TENGGOROK PASCAOPERASI AKIBAT INTUBASI ENDOTRAKEAL PADA PASIEN YANG DILAKUKAN ANESTESI UMUM</dc:title>
	<dc:creator>Arifin, Ilman Hakim</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Intubasi; lidokain; nebulisasi; nyeri tenggorokan; POST; steroid</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intubasi; Lidokain; Nebulisasi; Nyeri tenggorokan; POST; Steroid</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Komplikasi intubasi dengan pipa endotrakeal (ETT) yang paling sering adalah nyeri tenggorok pascaoperasi/postoperative sore throat (POST). Insidensi POST berkisar 14,4%−50%. Penggunaan metode farmakologi terbukti menurunkan angka kejadian POST melalui efek analgesia dan anti-inflamasi. Salah satu obat yang sering digunakan untuk pencegahan POST adalah nebulisasi lidokain. Nebulisasi steroid juga efektif karena dapat mengurangi inflamasi, edema, transudasi cairan, dan juga derajat nyeri. Penelitian ini membandingkan antara nebulisasi preoperasi dengan lidokain dan nebulisasi preoperasi dengan lidokain dengan budesonide. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung antara bulan Oktober–Desember 2023 yang menggunakan analitik komparatif eksperimental, dengan rancangan double blind randomized controlled trial terhadap dua kelompok penelitian. pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara consecutive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dan normalitas data menggunakan Uji Shapiro wilk. Hasil penelitian karakteristik umum subjek penelitian didapatkan data terdistribusi normal. Pada Jam ke-1, 2, 4 didapatkan skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p&gt;0,05 atau tidak signifikan, pada jam ke-6, 12, 24 skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p&lt;0,05 atau signifikan. Simpulan yang didapatkan adalah skala nyeri tenggorok pascaoperasi pada pemberian nebulisasi lidokain dan budesonid preoperasi lebih kecil dibanding dengan nebulisasi lidokain saja.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Komplikasi tindakan intubasi endotrakeal dengan pipa endotrakeal (ETT) yang paling sering dikeluhkan saat pascaoperasi adalah nyeri tenggorok pascaoperasi (POST).Insidensi POST berkisar 14,4% - 50% pada pasien pascaintubasi trakea. Penggunaan metode farmakologi terbukti menurunkan angka kejadian POST melalui efek analgesia dan atau antiinflamasi dari obat yang diberikan. Salah satu obat yang sering digunakan untuk pencegahan POST adalah nebulisasi lidokain. Nebulisasi steroid juga diduga efektif untuk mencegah terjadinya POST karena dapat mengurangi inflamasi, edema, transudasi cairan, dan juga derajat nyeri. Penelitian ini membandingkan antara nebulisasi preoperasi dengan lidokain dan nebulisasi preoperasi dengan lidokain dengan budesonide. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik komparatif eksperimental, dengan rancangandouble blind randomized controlled trialterhadap dua kelompok penelitian. pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara consecutive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Mann Whitney dan normalitas data menggunakan uji Shapiro wilk. Hasil penelitian karakteristik umum subjek penelitian usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, IMT, ukuran ETT didapatkan p&gt;0,05 data terdistribusi normal. Pada Jam ke 1, 2, 4 didapatkan skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p&gt;0,05 atau tidak signifikan, pada jam ke 6, 12, 24 skala nyeri tenggorokan antara kelompok lidokain dan lidokain+budesonide p&lt;0,05 atau signifikan. Kesimpulan yang didapatkan adalah skala nyeri tenggorok pascaoperasi pada pemberian nebulisasi lidokain dan budesonid preoperasi lebih kecil dibandingkan dengan nebulisasi lidokain saja.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3962</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3962</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 209-215</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 209-215</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3962/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3962/4969</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3962/4970</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2589</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:29Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Blokade Peribulbar pada Geriatri dengan Hipertensi Tidak Terkontrol yang Mengalami Cedera Bola Mata Terbuka</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Blokade Peribulbar pada Geriatri dengan Hipertensi Tidak Terkontrol yang Mengalami Cedera Bola Mata Terbuka</dc:title>
	<dc:creator>Saputra, Kirby</dc:creator>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Adli, Muhamad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar, geriatri, hipertensi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Regional Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Blokade, anestesi, anestesi regional, peribulbar, cedera bola mata terbuka, hipertensi,geriatri</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Cedera bola mata terbuka merupakan kegawatdaruratan pada bedah mata dan memerlukan intervensi segera. Faktor risiko pasien geriatri dengan hipertensi tidak terkontrol pada kasus trauma terbuka bola mata dengan ancaman kebutaan menjadikan tantangan tersendiri dalam penatalaksanaan anestesi. Seorang laki-laki berusia 71 tahun dengan komorbid hipertensi yang tidak terkontrol datang ke IGD Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo dengan cedera bola mata terbuka akibat terkena serpihan kerikil. Pasien dilakukan pembedahan eksplorasi mata emergensi, memakai teknik anestesi blokade peribulbar dengan sedasi ringan. Penyuntikan peribulbar dilakukan pada inferotemporal dan kantus medius dengan campuran levobupivakain 0,5% dan lidokain 2%. Hemodinamik intraoperatif stabil dan skala nyeri pascaoperatif skala nyeri yang minimal. Anestesi blokade peribulbar dengan sedasi dapat menjadi pilihan untuk prosedur trauma mata terbuka pada pasien geriatri dengan penyakit penyerta hipertensi.Peribulbar Blockade in Geriatrics with Uncontrolled Hypertension with Open Eyeball Injury An open eye injury is an emergency in ophthalmic surgery and requires immediate intervention. In cases of open eye trauma with the threat of blindness, risk factors for geriatric patients with uncontrolled hypertension make it a challenge in managing anesthesia. A 71-year-old man with comorbid uncontrolled hypertension came to the ER at the National Eye Center of Cicendo Eye Hospital with an open eye injury due to being hit by gravel debris. The patient underwent emergency eye exploratory surgery with peribulbar block anesthesia technique with light sedation. Peribulbar block injection approach is inferotemporal and medial canthus using a 50:50 mixture of 0.5% levobupivacaine and 2% lidocaine. Intraoperative hemodynamics were stable and with a minimal postoperative pain scale. Peribulbar block anesthesia with sedation may be an option for open eye trauma procedures in geriatric patients with comorbid hypertension. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Cedera bola mata terbuka merupakan kegawatdaruratan pada bedah mata dan memerlukan intervensi segera. Faktor risiko pasien geriatri dengan hipertensi tidak terkontrol pada kasus trauma terbuka bola mata dengan ancaman kebutaan menjadikan tantangan tersendiri dalam penatalaksanaan anestesi. Seorang laki-laki berusia 71 tahun dengan komorbid hipertensi yang tidak terkontrol datang ke IGD Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo dengan cedera bola mata terbuka akibat terkena serpihan kerikil . Pasien dilakukan pembedahan eksplorasi mata emergensi, dengan teknik anestesi blokade peribulbar dengan sedasi ringan. Penyuntikan peribulbar dilakukan pada inferotemporal dan kantus medius dengan campuran levobupivakain 0,5% dan lidokain 2%. Hemodinamik intraoperatif stabil dan skala nyeri pascaoperatif skala nyeri yang minimal. Anestesi blokade peribulbar dengan sedasi dapat menjadi pilihan untuk prosedur trauma mata terbuka pada pasien geriatri dengan penyakit penyerta hipertensi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2589</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2589</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 192–198</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 192–198</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2589/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2589/2837</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2589/2838</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2589/2839</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2589/2840</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3140</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:56Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Intubasi Fiber Optic pada Pasien Anak dengan Syngnathia dan Pseudoankilosis Sendi Temporomandibular: Laporan Kasus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Intubasi Fiber Optic pada Pasien Anak dengan Syngnathia dan Pseudoankylosis Sendi Temporomandibular : Laporan Kasus</dc:title>
	<dc:creator>Mahmud, Hafizh Budhiman</dc:creator>
	<dc:creator>Giwangkancana, Gezy Weita</dc:creator>
	<dc:creator>Lestari, Ayu Puji</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Fiber optic; intubasi; laporan kasus; pediatrik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiologi; Airway Management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Fiber Optik; Intubasi; Laporan Kasus; Pediatric</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Manajemen jalan napas pada pasien anak dengan malformasi kraniofasial merupakan tantangan karena sulit dilakukan. Laporan kasus ini bertujuan menjelaskan manajemen anestesi pada pasien anak dengan syngnathia anterior dan pseudoankilosis temporomandibular. Seorang anak perempuan berusia 2 tahun dengan diagnosis syngnathia segmen anterior dan pseudoankilosis temporomandibular dijadwalkan untuk operasi elektif. Intubasi fiber optic dilakukan pada pernapasan spontan (spontaneous breathing) melalui insuflasi menggunakan perangkat jalan napas nasofaring yang dimodifikasi. Dilakukan teknik “spray-as-you-go” dengan lidokain yang diencerkan dan intubasi nasal menggunakan fiber optic dari saluran hidung kontralateral menggunakan tabung endotrakeal uncuffed ukuran 4,5. Metode intubasi fiber optic dapat berhasil digunakan pada anak dengan malformasi kraniofasial.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Manajemen jalan napas pada pasien anak dengan malformasi kraniofasial merupakan tantangan karena sulit dilakukan. Laporan kasus ini bertujuan untuk menjelaskan manajemen anestesi pada pasien anak dengan syngnathia anterior dan pseudoankylosis temporomandibular. Seorang anak perempuan berusia 2 tahun dengan diagnosis syngnathia segmen anterior dan pseudoankylosis temporomandibular dijadwalkan untuk operasi elektif. Intubasi fiber optik dilakukan pada pernapasan spontan (spontaneous breathing) melalui insuflasi menggunakan perangkat jalan napas nasofaring yang dimodifikasi. Dilakukan teknik “spray-as-you-go” dengan lidokain yang diencerkan dan intubasi nasal menggunakan fiber optik dari saluran hidung kontralateral menggunakan tabung endotrakeal uncuffed ukuran 4,5. Metode intubasi fiber optik dapat berhasil digunakan pada anak dengan malformasi kraniofasial.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3140</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.3140</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 56–60</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 56–60</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3140/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3140/3796</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3746</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Blokade Pektoralis dan Blokade Erektor Spinae Menggunakan Bupivakain 0,25% terhadap Durasi Analgesia dan Kebutuhan Morfin Pada Operasi Simple Mastectomy</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Blokade Pektoralis dan Blokade Erektor Spinae Menggunakan Bupivakain 0,25% terhadap Durasi Analgesia dan Kebutuhan Morfin Pada Operasi Simple Mastectomy</dc:title>
	<dc:creator>Prihartono, Muhammad Andy</dc:creator>
	<dc:creator>Anugrah, Elfira Teresa</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Analgetik pascaoperasi; blokade PECS; blokade ESP; morfin, operasi mastektomi sederhana satu sisi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pain Manajement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">analgetik pascaoperasi, blokade PECS, blokade ESP, morfin, operasi unilateral simple mastectomy</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sekitar 60% pasien mastektomi mengalami nyeri akut. Beberapa metode yang dilakukan untuk mengurangi nyeri pascaoperasi mastektomi adalah blokade PECS dan ESP. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan durasi analgesia dan total kebutuhan morfin dalam 24 jam pascaoperasi pada pasien yang dilakukan blokade PECS dengan ESP. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Penilaian yang dilakukan yaitu durasi blokade, yang dinilai dari pemberian blokade sampai pasien menekan PCA/patient controlled analgesia pertama kali, selain itu dinilai juga total kebutuhan morfin yang diperlukan setelah operasi dengan menggunakan PCA. Penelitian dilakukan terhadap 32 subjek di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–September 2023 yang menjalani operasi mastektomi sederhana satu sisi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi kelompok PECS memiliki rerata sebesar 6,06±0,69 jam dan ESP sebesar 5,17±0,40 jam sehingga kelompok PECS lebih lama 0,89±0,29 jam dibanding dengan ESP, sementara total konsumsi morfin dalam 24 jam pada kelompok PECS sebesar 2,06±0,772 mg dan ESP sebesar 2,88±0,62 mg sehingga total kebutuhan morfin antara kelompok PECS lebih rendah 0,21±0,41 mg dibanding dengan ESP (p&lt;0,05). Simpulan dari penelitian ini blokade PECS mempunyai durasi analgesia yang lebih lama dan mengurangi kebutuhan morfin pascaoperasi dibanding dengan ESP.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Sekitar 60% pasien mastektomi mengalami nyeri akut. Beberapa metode yang dilakukan untuk mengurangi nyeri pascaoperasi mastektomi termasuk blokade PECS dan ESP. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan durasi analgesia dan total kebutuhan morfin dalam 24 jam pascaoperasi pada pasien yang dilakukan blokade PECS dengan ESP. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial. Penilaian yang dilakukan yaitu durasi blokade, yang dinilai dari pemberian blokade sampai pasien menekan patient controlled analgesia (PCA) pertama kali, selain itu dinilai juga total kebutuhan morfin yang diperlukan setelah operasi dengan menggunakan PCA. Sebanyak 32 subjek di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni sampai September 2023 yang menjalani operasi unilateral simple mastectomy yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk dalam kriteria ekslusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi kelompok PECS memiliki rerata sebesar 6,06±0,69 jam dan ESP sebesar 5,17±0,40 jam sehingga kelompok PECS lebih lama 0,89±0,29 jam dibandingkan ESP, sementara total konsumsi morfin dalam 24 jam pada kelompok PECS sebesar 2,06±0,772 mg dan ESP sebesar 2,88±0,62 mg sehingga total kebutuhan morfin antara kelompok PECS lebih rendah 0,21±0,41 mg dibanding dengan ESP (p&lt;0,05). Simpulan blokade PECS mempunyai durasi analgesia yang lebih lama dan mengurangi kebutuhan morfin pascaoperasi disbanding dengan ESP.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3746</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3746</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 136-143</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 136-143</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3746/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3746/4639</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3746/4640</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3746/5188</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4638</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:37Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Red Cell Distribution Width to Albumin Ratio (RAR) versus Red Cell Distribution Width to Platelet Ratio (RPR) as Predictors of 28-Day Mortality in Sepsis Patients</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Red Cell Distribution Width to Albumin Ratio versus Red Cell Distribution Width to Platelet Ratio as Predictors of 28-Day Mortality in Sepsis Patients Admitted to the Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:creator>Ningsih, Diana Fitria</dc:creator>
	<dc:creator>Pison, Osmond Muftilov</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni T.</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Aditya, Ricky</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anaesthesiology; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ICU; mortality; red cell distribution width to albumin ratio ; red cell distribution width to platelet ratio; sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Sepsis, Mortality, RAR, RPR, Intensive Care Unit</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Sepsis is a leading cause of mortality in the Intensive Care Unit (ICU). Early identification of high-risk patients requires simple and accessible prognostic biomarkers. The Red Cell Distribution Width to Albumin Ratio (RAR) and Red Cell Distribution Width to Platelet Ratio (RPR) have been proposed as potential biomarkers.Methods: This prospective cohort study was conducted in the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from July to September 2025, involving 71 subjects who met the Sepsis-3 criteria. RAR and RPR values were calculated from blood tests within the first 24 hours of ICU admission. The primary outcome was 28-day mortality. Statistical analysis used the Receiver Operating Characteristic (ROC) curve to determine the cut-off value, sensitivity, specificity, and Area Under the Curve (AUC). The AUC comparison between RAR and RPR was analyzed using the DeLong test.Results: A total of 41 patients (57.7%) experienced 28-day mortality. The optimal cut-off value for RAR was 5.7404 (Sensitivity 85.4%; Specificity 73.3%) with an AUC of 89.3% (95% CI: 79.8–95.4%). The optimal cut-off value for RPR was 0.0627 (Sensitivity 75.6%; Specificity 76.7%) with an AUC of 74.7% (95% CI: 63.0–84.3%). RAR had a significantly better discriminatory value than RPR (p=0.026).Discussion: The RAR value is a better predictor of 28-day mortality than the RPR value in septic patients treated in the ICU.Conclusion: RAR can be considered a simple and effective prognostic tool for the early risk stratification of septic patients.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Background: Sepsis is a leading cause of mortality in the Intensive Care Unit (ICU). Early identification of high-risk patients requires simple and accessible prognostic biomarkers. The Red Cell Distribution Width to Albumin Ratio (RAR) and Red Cell Distribution Width to Platelet Ratio (RPR) have been proposed as potential biomarkers.Methods: This prospective cohort study was conducted in the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from July to August 2025 involving 71 subjects who met the Sepsis-3 criteria. RAR and RPR values were calculated from blood tests within the first 24 hours of ICU admission. The primary outcome was 28-day mortality. Statistical analysis used the Receiver Operating Characteristic (ROC) curve to determine the cut-off value, sensitivity, specificity, and Area Under the Curve (AUC). The comparison of AUC between RAR and RPR was analyzed using the DeLong test.Results: A total of 41 patients (57.7%) experienced 28-day mortality. The optimal cut-off value for RAR was 5.7404 (Sensitivity 85.4%; Specificity 73.3%) with an AUC of 89.3% (95% CI: 79.8–95.4%). The optimal cut-off value for RPR was 0.0627 (Sensitivity 75.6%; Specificity 76.7%) with an AUC of 74.7% (95% CI: 63.0–84.3%). RAR had a significantly better discriminatory value than RPR (p=0.026).Discussion: The RAR value is a better predictor of 28-day mortality than the RPR value in septic patients treated in the ICU.Conclusion: RAR can be considered a simple and effective prognostic tool for the early risk stratification of septic patients.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Prof. Dr. Suwarman, dr., Sp.An-TI, Subsp.T.I. (K), Subsp.M.N.(K), M.Kes (pembimbing utama), Osmond Muftilov Pison, dr., Sp.An-TI, Subsp.T.I (K), M.Kes (pembimbing 2), Dr. Tinni T Maskoen, dr., Sp.An-TI, Subsp.T.I (K), Subsp.M.N (K), FIPM, FCCM (penguji),</dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4638</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4638</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 163-173</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 163-173</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4638/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4638/5987</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2856</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:50Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efek Pemberian Positive End Expiratory Pressure 5 cmH2O terhadap Perubahan Nilai Forced Expiratory Volume in 1 Second dan Forced Vital Capacity pada Pasien Pascaoperasi Ortopedi</dc:title>
	<dc:creator>Dwikane, Mohamad Rizki</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">FEV1, FVC, lung protective ventilation, PEEP, spirometri</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Prinsip lung protective ventilation merupakan strategi ventilasi intraoperasi yang direkomendasikan untuk mencegah komplikasi paru pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pemberian PEEP 5 cmH2O terhadap nilai FEV1 dan FVC pada pasien pascaoperasi ortopedi. Penelitian dilakukan terhadap 54 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok PEEP 5 dan kelompok kontrol (PEEP 0). Penelitian eksperimental ini menggunakan desain single-blind randomized controlled trial dan melibatkan 54 pasien yang dilakukan operasi ortopedi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Oktober 2021–Januari 2022. Analisis statistik menggunakan uji T tidak berpasangan dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kelompok PEEP 5 terjadi penurunan nilai FEV1 lebih rendah dengan rerata –0,17±0,123 dibanding dengan kelompok kontrol (PEEP 0) sebesar -0,49±0,237. Pada kelompok PEEP 5 terjadi penurunan nilai FVC yang lebih rendah dengan rerata -0,20±0,132 dibanding dengan kelompok kontrol (PEEP 0) sebesar -0,60±0,23. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok PEEP 5 dan PEEP 0 (p&lt;0,05). Simpulan penelitian ini adalah perubahan penurunan nilai FEV1 dan FVC pada pasien pascaoperasi ortopedi dengan pemberian PEEP 5 cmH2O lebih rendah dibanding dengan kelompok kontrol (PEEP 0). Effects of Positive End Expiratory Pressure cmH2O on Changes in Forced Expiratory Volume in 1 Second and Forced Vital Capacity Values in Post Orthopedic Surgery PatientsThe principle of protective lung ventilation is the recommended ventilation strategy to prevent postoperative pulmonary complications. This study aimed to determine the effect of Positive End Expiratory Pressure (PEEP) 5 cmH2O on Forced Expiratory Volume in 1 second (FEV1) and Forced Vital Capacity (FVC) post orthopedic surgery patients. The study was conducted on 54 patients divided into two groups: the PEEP 5 group and the control group (PEEP 0). This experimental study used a single-blind randomized controlled trial design involving 54 patients undergoing orthopedic surgery at dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between October 2021–January 2022. Statistical analysis was performed using the unpaired T-test and Mann-Whitney test. Study results revealed that in the PEEP 5 group, there was a smaller decrease of FEV1 values, with an average of -0.17±0.12 compared to the control group (PEEP 0) of -0.49±0.23. In the PEEP 5 group, there was a smaller decrease in the FVC value with an average of -0.20 ± 0.13 compared to the control group (PEEP 0) of -0.60±0.23. There was a statistically significant difference between the PEEP 5 and PEEP 0 groups with (p&lt;0.05). This study concludes that the decrease in FEV1 and FVC values in post orthopedic surgery patients with PEEP 5 cmH2O is lower than the control group (PEEP 0).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2856</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2856</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 191–197</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 191–197</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2856/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2856/3449</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2856/3450</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2856/3451</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2856/3452</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2856/3453</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2856/3454</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3491</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T06:38:11Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Tata Laksana Pasien Syok Sepsis dengan Peritonitis Difusa ec. Abses Hepar Pascalaparotomi Eksplorasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Tatalaksana Pasien Syok Sepsis dengan Peritonitis Diffusa ec.  Abses Hepar Post Laparatomi Eksplorasi</dc:title>
	<dc:creator>Rachman, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni T.</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Abses hepar; peritonitis; terapi pascalaparotomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Abses hepar; peritonitis; syok sepsis; terapi intra operatif; terapi post operatif; terapi syok sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Abses hepar didefinisikan sebagai benjolan yang berisi pus pada hepar yang dapat berkembang dari cedera pada hepar atau infeksi intra-abdominal yang menyebar dari sirkulasi portal. Tingkat kejadian tahunan abses hepar adalah sekitar 2,3 kasus per 100.000 orang. Abses hepar dapat pecah yang menyebar sehingga menyebabkan peritonitis dan syok. Komplikasi penularan ke organ lain termasuk endoftalmitis atau emboli septik sistem saraf pusat yang berakibat fatal pada pasien yang dapat menyebabkan kematian. Laporan kasus ini menjelaskan pasien laki-laki 18 tahun dengan syok sepsis dan abses hepar. Prinsip tata laksana pasien abses hepar adalah insisi dan debridement. Pada kasus ini pasien sudah mengalami syok septik tata laksananya meliputi resusitasi cairan, optimalisasi penggunaan vasopresor-inotropik, pengendalian sumber infeksi (source control), dan pemberian antibiotik intravena dini, sebaiknya dalam waktu satu jam setelah diagnosis sepsis dan syok septik ditegakkan. Selain itu, perawatan pasien kritis di ICU juga merupakan tantangan tersendiri terutama pasien dengan syok septik. Manajemen cairan, nutrisi, serta pemberian analgesia dan sedasi sesuai dengan kebutuhan. Penatalaksanaan tepat pasien dengan syok sepsis karena abses hepar, luaran pasien yang baik dengan length of stay (LOS) yang singkat di ruangan ICU merupakan target dokter anestesi dan intensivis. Penatalaksanaan yang tepat akan memberikan prognosis pasien yang lebih baik; pada kasus ini pasien ditatalaksana dengan baik sehingga pasien mendapatkan perbaikan keadaan umum dan kesadaran pasien kompos mentis setelah diterapi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Abses hepar didefinisikan sebagai benjolan yang berisi pus pada hepar yang dapat berkembang dari cedera pada hepar atau infeksi intra abdominal yang menyebar dari sirkulasi portal. Tingkat kejadian tahunan abses hepar adalah sekitar 2,3 kasus per 100.000 orang. Abses hepar dapat pecah yang menyebar sehingga menyebabkan peritonitis dan syok. Komplikasi penularan ke organ lain termasuk endoftalmitis atau emboli septik sistem saraf pusat yang berakibat fatal pada pasien yang dapat menyebabkan kematian. Laporan kasus ini menjelaskan pasien laki-laki 18 tahun dengan syok sepsis dengan Abses Hepar. Penatalaksanaan tepat pasien dengan syok sepsis karena abses hepar, luaran pasien yang baik dengan Length Of Stay (LOS) yang singkat di ruangan ICU merupakan target dokter anestesi dan intensivis. Penatalaksanaan yang tepat akan memberikan prognosis yang lebih baik terhadap pasien.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3491</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3491</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 64–69</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 64–69</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3491/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3491/4286</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4036</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Pola Kuman, Resistensi, Faktor Risiko, dan Tingkat Mortalitas pada Pasien Ventilator Associated Pneumonia di General Intensif Care RSUP Hasan Sadikin Bandung</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">GAMBARAN POLA KUMAN, RESISTENSI, FAKTOR RISIKO, DAN TINGKAT MORTALITAS PADA PASIEN VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA DI GENERAL INTENSIF CARE RSUP HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI 2022 - DESEMBER 2022</dc:title>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:creator>Putra, Rifki Dwi Anugrah</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">General intensive care unit; mortalitas; multidrug-resistant; ventilator-associated pneumonia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">General Intensive Care Unit, mortalitas, Multidrug Resistant, Ventilator associated pneumonia</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan infeksi paru yang terjadi 48–72 jam setelah tindakan intubasi endotrakeal dan menjadi salah satu infeksi nosokomial paling sering di Intensive Care Unit (ICU), dengan prevalensi mencapai 70-80% dari seluruh kasus pneumonia di rumah sakit. Di Indonesia, insiden VAP tergolong tinggi, terutama disebabkan oleh Acinetobacter baumannii yang bersifat resisten terhadap berbagai antibiotik dan berkontribusi terhadap peningkatan angka mortalitas. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif berdasarkan data rekam medis pasien VAP di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Desember 2022. Dari 33 pasien yang diteliti, ditemukan 70 hasil kultur kuman, dengan 55 di antaranya tergolong Multidrug Resistant (MDR). Kuman yang paling dominan adalah Acinetobacter baumannii (85,7% MDR), diikuti Klebsiella pneumoniae (94,4% MDR) dan Pseudomonas aeruginosa (87,5% MDR). Angka mortalitas mencapai 60,6%, dengan tingkat kematian lebih tinggi pada pasien dengan kultur MDR. Faktor risiko yang sering ditemukan ialah hipertensi, penyakit serebrovaskular, dan gagal ginjal kronik. Pola resistensi tinggi teridentifikasi pada Acinetobacter baumannii terhadap cefazolin (95,7%) dan ampicillin-sulbactam (91,3%), Klebsiella pneumoniae terhadap cefazolin (97,0%) dan ceftriaxone (96,8%), serta Pseudomonas aeruginosa terhadap imipenem (94,7%) dan cefazolin (91,7%). Hasil ini menunjukkan perlunya peningkatan program penanganan VAP di RSUP Dr. Hasan Sadikin.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan infeksi paru yang terjadi pada 48-72 jam setelah intubasi endotrakeal, menempati sebagian besar infeksi nosokomial di ruang Intensive Care Unit (ICU). Prevalensi VAP di ICU mencapai 70-80% dari seluruh kasus pneumonia di rumah sakit. Di Indonesia, insiden VAP lebih tinggi dibandingkan negara maju, dengan Acinetobacter baumannii sebagai penyebab utama yang meningkatkan mortalitas karena resistensi antibiotik.Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif retrospektif dengan sumber data dari rekam medis seluruh pasien yang didiagnosis VAP di ruang perawatan General intensive care unit RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari – Desember 2022.Total terdapat 33 pasien dengan 70 temuan kultur kuman, di mana 55 di antaranya merupakan kuman Multidrug Resistant (MDR). Acinetobacter baumannii merupakan kuman dominan pada pasien VAP dengan proporsi 21 kuman dan 18 (85,7%) di antaranya merupakan MDR. Diikuti oleh Klebsiella pneumoniae 18 kuman dengan 17 kuman (94,4%) MDR dan Pseudomonas aeruginosa 16 kuman dengan 14 kuman (87,5%) MDR. Tingkat mortalitas pasien VAP mencapai 60,6%, dengan mortalitas yang lebih tinggi terjadi pada pasien dengan kultur kuman yang menunjukkan MDR. Faktor risiko komorbiditas tersering yang berkontribusi terhadap mortalitas terdiri dari hipertensi, penyakit serebrovaskular, dan gagal ginjal kronis. Resistensi antibiotik menunjukkan Acinetobacter baumannii dengan resistensi tinggi terhadap cefazolin (95,7%) dan ampicillin-sulbactam (91,3%), Klebsiella pneumoniae terhadap cefazolin (97,0%) dan ceftriaxone (96,8%) serta Pseudomonas aeruginosa terhadap imipenem (94,7%) dan cefazolin (91,7%).Pola VAP di General intensive care unit RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari – Desember 2022 masih diperlukan perbaikan program penanganan terhadap infeksi ini untuk mencapai pelayanan yang baik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Padjajaran</dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4036</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851//jap.v13n2.4036</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 96-104</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 96-104</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4036/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4036/5107</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4036/5108</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2620</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:LR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Tinjauan Pustaka: Alkalosis Respiratorik pada COVID-19: Sleeping with the &quot;Silent Devil.&quot;</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Tinjauan Literatur: Alkalosis Respiratorik pada COVID-19: Sleeping with the “Silent Devil”</dc:title>
	<dc:creator>Dewi, Made Yudha Asrithari</dc:creator>
	<dc:creator>Panji, Putu Agus Surya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alkalosis respiratorik; analisis gas darah; COVID-19; gangguan asam basa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19, gangguan asam basa, alkalosis respiratorik, analisa gas darah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Dewasa ini krisis pertumbuhan penyakit coronavirus disease (COVID-19) telah menekan sistem kesehatan secara global bahkan lebih dari sebelumnya, menyebabkan kebutuhan peningkatan kapasitas unit perawatan intensif dalam menangani jumlah pasien kritis yang meningkat secara tajam. Gagal napas pada COVID-19 diperburuk oleh keadaan hipoksemia dan dapat memburuk menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang segera membutuhkan terapi suplementasi oksigen. Menilai kebutuhan memulai terapi oksigen dapat dilakukan salah satunya dengan analisis gas darah untuk mengevaluasi gangguan asam basa terutama pada perjalanan awal COVID-19 simtomatis berat. Silent hypoxemia sebagai gejala COVID-19 yang mematikan merupakan sebuah tantangan dalam kegawatdaruratan COVID-19. Hipoksemia berat akibat hiperventilasi tanpa gangguan pernapasan akan menunjukkan gambaran hasil analisis gas darah berupa alkalosis respiratorik sebagai upaya kompensasi penurunan kadar PaCO2 untuk meningkatkan saturasi. Pergeseran kurva disosiasi ke kiri menyebabkan peningkatan afinitas Hb-O2 untuk memfasilitasi kebutuhan oksigen. Maka dari itu, tenaga kesehatan harus memperhatikan bukan hanya keadaan umum pasien melainkan juga laju pernapasan dan melihat tanda hiperventilasi untuk mengetahui gangguan asam basa melalui analisis gas darah agar dapat mencegah komplikasi alkalosis respiratorik. Literature Review: Respiratory Alkalosis in COVID-19: Sleeping with the Silent DemonToday the growing crisis of coronavirus disease (COVID-19) has urged the health system globally even more than ever before, leading to the need to increase the capacity of intensive care units in dealing with the sharply increasing number of critically ill patients. Respiratory failure in COVID-19, exacerbated by hypoxemia, can worsen into acute respiratory distress syndrome (ARDS), requiring immediate oxygen supplementation therapy. The need to start oxygen therapy can be assessed by examining blood gas analysis to evaluate the presence of acid-base disorders, especially in the early progress of severe symptoms of COVID-19. Silent hypoxemia, a deadly symptom of COVID-19, is a challenge in the emergency of COVID-19. Severe hypoxemia due to hyperventilation in the absence of respiratory disorders will show a picture of the results of blood gas analysis in the form of respiratory alkalosis to compensate for decreased PaCO2 levels to increase saturation. The left shift of the dissociation curve leads to an increase in Hb-O2 affinity to facilitate oxygen needs. Hence, healthcare workers should pay attention to the patient's general condition and breathing rate. Besides, looking for the signs of hyperventilation to find the presence of acid-base disorders through analysis of blood gases to prevent respiratory alkalosis complications.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Dewasa ini krisis pertumbuhan penyakit coronavirus disease (COVID-19) telah menekan sistem kesehatan secara global bahkan lebih dari sebelumnya, menyebabkan kebutuhan peningkatan kapasitas unit perawatan intensif dalam menangani jumlah pasien kritis yang meningkat secara tajam. Gagal napas pada COVID-19 diperburuk oleh keadaan hipoksemia, dapat memburuk menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang segera membutuhkan terapi suplementasi oksigen. Menilai kebutuhan memulai terapi oksigen dapat dilakukan salah satunya dengan pemeriksaan analisis gas darah untuk mengevaluasi adanya gangguan asam basa terutama pada perjalanan awal COVID-19 simtomatis berat. Silent hypoxemia sebagai gejala COVID-19 yang mematikan merupakan sebuah tantangan dalam kegawatdaruratan COVID-19. Hipoksemia berat akibat hiperventilasi tanpa adanya gangguan pernapasan akan menunjukkan gambaran hasil analisis gas darah berupa alkalosis respiratorik sebagai usaha kompensasi menurunnya kadar PaCO2 untuk meningkatkan saturasi. Pergeseran kurva disosiasi ke kiri menyebabkan peningkatan afinitas Hb-O2 untuk memfasilitasi kebutuhan oksigen. Maka dari itu, tenaga kesehatan harus memperhatikan bukan hanya dari keadaan umum pasien melainkan juga laju pernapasan dan melihat tanda hiperventilasi untuk mengetahui adanya gangguan asam basa melalui analisis gas darah agar dapat mencegah terjadinya komplikasi alkalosis respiratorik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2620</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2620</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 126–132</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 126–132</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2620/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2620/3085</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3629</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Pemberian Deksmedetomidin 0,5 µg/kgBB Intravena dengan Fentanil 2 µg/kgBB Intravena terhadap Respons Perubahan Tekanan Darah dan Laju Nadi Selama Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">¬¬Perbandingan Efek Pemberian Deksmedetomidin  0,5 µg/kgBB Intravena dengan Fentanil 2 µg/kgBB Intravena Terhadap Respons Perubahan Tekanan Darah dan Laju Nadi Selama Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal</dc:title>
	<dc:creator>Astriana, Tia</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Deksmedetomidin; fentanil; intubasi; laringoskopi; respons hemodinamik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiology; Medical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Dexmedetomidine; Fentanyl; Intubation; Laryngoscopy; Hemodynamic Response</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat menyebabkan hipertensi dan takikardia yang berbahaya bagi penderita dengan faktor risiko kelainan serebrovaskular, kardiovaskular, dan tirotoksikosis. Tujuan penelitian ini membandingkan efektivitas dosis bolus deksmedetomidin dan fentanil dalam melemahkan hemodinamik respons stres setelah laringoskopi dan intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) sejak tanggal 1 April 2023 hingga 31 Mei 2023. Penelitian ini melibatkan 42 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok D menerima 0,5 µg/kgBB deksmedetomidin dan kelompok F menerima fentanil 2 µg/kgBB sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Pengamatan dilakukan pada tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, mean arterial pressure, dan laju nadi sesaat setelah tindakan intubasi dilanjutkan tiap menit hingga 5 menit setelah tindakan intubasi. Hasil menunjukkan bahwa perubahan tekanan darah sistole, diastole, MAP, dan laju nadi antara kelompol deksmedetomidin dan kelompok fentanil tidak terdapat perbedaan bermakna (p&lt;0,05). Simpulan, pemberian deksmedetomidin menghasilkan respons perubahan tekanan darah dan laju nadi yang sebanding dengan pemberian fentanil.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat menyebabkan hipertensi dan takikardia akibat peningkatan aktivitas simpatis yang berbahaya bagi penderita dengan faktor risiko kelainan serebrovaskular, kardiovaskular, dan tirotoksikosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas antara pemberian deksmedetomidin 0,5 µg/kgBB dan fentanil 2 µg/kgBB  intravena terhadap respons hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial. Penelitian ini melibatkan 42 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok D menerima deksmedetomidin dan kelompok F menerima fentanil. Pengamatan  tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, mean arterial pressure dan laju nadi dilakukan sesaat setelah tindakan intubasi dilanjutkan tiap menit hingga 5 menit setelah tindakan intubasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta Uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, MAP dan laju nadi antara kelompok deksmedetomidin dan kelompok fentanil tidak terdapat perbedaan bermakna dalam mencegah peningkatan tekanan darah dan laju nadi (p&lt;0,05). Simpulan penelitian ini bahwa pemberian deksmedetomdin menghasilkan respons perubahan tekanan darah dan laju nadi yang sebanding dengan pemberian fentanil.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3629</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3629</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 175-184</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 175-184</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3629/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3629/4488</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3884</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Infus Kontinu Lidokain dan Morfin terhadap Skor Visual Analog Scale serta Kadar Neutrofil-Limfosit Ratio Pascalaparotomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Antara Pemberian Infus Kontinu Lidokain dan Morfin Terhadap Skor Visual Analog Scale dan Kadar Neutrophil-Lymphocyte Ratio Pasca Laparotomi</dc:title>
	<dc:creator>Kurniawan, Adi</dc:creator>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Nugroho, Andy</dc:creator>
	<dc:creator>Hapsari, Paramita Putri</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Laparotomi; lidokain; morfin; NLR; VAS</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Intensive Care; Anaesthesiology; Pain Management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Laparotomi; Lidokain; Morfin; NLR; VAS</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Morfin sebagai analgetik pada laparotomi memiliki efek samping yang merugikan dan potensi menyebabkan kecanduan. Infus lidokain intravena (IVLI) merupakan alternatif analgetik perioperatif yang di nilai lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas pemberian IVLI dan morfin terhadap nyeri serta kadar Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) pascalaparotomi. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang melibatkan 46 pasien laparotomi di RSUD Dr. Moewardi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemberian IVLI bolus 1,5 mg/kg saat induksi dilanjutkan infus 1 mg/kgBB/jam dibanding dengan morfin bolus 15 mcg/kg dilanjutkan infus kontinu 10 mcg/kg/jam. Hasil menunjukkan penurunan skor nyeri VAS pada jam ke-4, 8, dan 24 lebih baik pada kelompok lidokain, meskipun tidak signifikan secara statistik (p=0,128; p=0,097; p=0,100). Penurunan NLR juga lebih baik pada kelompok lidokain namun tidak signifikan (p=0,941). Simpulan, IVLI memberikan efek analgetik yang lebih baik dibanding dengan morfin berdasarkan penurunan skor VAS dan kadar NLR, namun tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Morfin sebagai analgetik pada laparotomi memiliki efek samping yang merugikan dan adanya potensi terjadi kecanduan. Infus lidokain intravena (IVLI) menjadi terobosan analgetik pada tindakan operasi karena diyakini lebih aman dan lebih efektif dalam mengatasi nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pemberian IVLI dan morfin terhadap nyeri dan kadar Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) pasca laparotomi. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang dilakukan pada 46 pasien yang menjalani tindakan laparotomi di RSUD Dr. Moewardi yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi. Pemberian IVLI dosis 1,5 mg/kg bolus pada saat induksi dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam memberikan efek anti nyeri lebih baik dibandingkan morfin bolus 15 mcg/kg dilanjutkan infus kontinu 10 mcg/kg/jam dengan penilaian skor VAS jam ke 4,8,24 namun tidak signifikan secara statistik (p = 0.128, p = 0.097, p = 0.100), selain itu juga mampu menurunkan NLR lebih baik tetapi tidak signifikan secara statistik (p = 0.941). Lidokain intravena dosis 1,5 mg/kg bolus saat induksi dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam memberikan efek anti nyeri lebih baik dibandingkan morfin bolus 15 mcg/kg dilanjutkan infus kontinus 10 mcg/kg/jam, tetapi tidak signifikan pada keduanya yakni indikator penurunan NLR dan skor VAS jam ke 4, 8, dan 24.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3884</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3884</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 1-9</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 1-9</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3884/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3884/4840</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3884/4842</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4159</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:39Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Peritonsillar Block as a Treatment For Post-Tonsillectomy Pain In Pediatric Patient</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Peritonsillar Block as a Treatment for Post-Tonsillectomy Pain in Pediatric Patients with a History of OSA</dc:title>
	<dc:creator>Merry, Merry</dc:creator>
	<dc:creator>Adi, Made Septyana Parama</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Dexamethasone; pain measurement; peritonsillar block; ropivacaine</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiology; Pediatric Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Dexamethasone, obstructive sleep apnea, peritonsillar block, ropivacaine.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Postoperative pain remains one of the most common and distressing complaints following tonsillectomy in children. Among the various strategies explored, regional anesthesia techniques have gained attention for their ability to provide targeted analgesia with minimal systemic side effects. Our objective is to evaluate the effectiveness of ropivacaine and dexamethasone in controlling postoperative pain in children undergoing tonsillectomy, with a focus on its potential to improve recovery outcomes and patient satisfaction.Case: This case involved an 8-year-old male patient who exhibited classic symptoms of OSA, who underwent tonsillectomy procedure. In the anesthetic management, the patient received premedication with midazolam, ondansetron, and intravenous paracetamol. Induction was achieved using propofol, fentanyl, and atracurium, while anesthesia maintenance was provided with Sevoflurane. Prior to extubation, bilateral injections of ropivacaine and dexamethasone were administered in the peritonsillar fossae. Postoperative pain assessments indicated mild pain, with no occurrence of nausea or vomiting. The patient was discharged one day after surgery with manageable pain.Discussion: This case highlights the potential benefit of pre-extubation peritonsillar infiltration with 0.2% ropivacaine (3 mL) and dexamethasone for postoperative pain control. This multimodal, opioid-sparing approach may reduce central sensitization, minimize opioid-related adverse effects, and improve postoperative recovery. Although recent evidence suggests ropivacaine provides superior analgesia at 24 hours compared with bupivacaine, variability in pain timing underscores the need for further research on optimal administration strategies.Conclusion: This case highlights the effectiveness of ropivacaine and dexamethasone in controlling postoperative pain in children.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Obstructive sleep apnea (OSA) is a significant health issue in the pediatricpopulation, with a prevalence of approximately 1% to 4% among children. This case involves an 8-year-old male patient exhibiting classic symptoms of OSA, such as snoring and daytime sleepiness, who underwent a tonsillectomy procedure. In the anesthetic management, the patient received premedication with midazolam, ondansetron, and intravenous paracetamol. Induction was achievedusing propofol, fentanyl, and atracurium, while anesthesia maintenance wasprovided with Sevoflurane. Prior to extubation, bilateral injections of ropivacaine and dexamethasone were administered in the peritonsillar fossae. Postoperative pain assessments indicated mild pain, with no occurrence of nausea or vomiting. The patient was discharged one day after surgery with manageable pain. This case highlights the importance of personalized anesthetic approaches to enhance postoperative recovery in pediatric patients with OSA. Further research is needed to explore the efficacy and safety of peritonsillar block injection using ropivacaine and dexamethasone in larger populations.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4159</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4159</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 198-202</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 198-202</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4159/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4159/5282</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2559</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Angka Kejadian serta Karakteristik Mortalitas dan Morbiditas pada Pengelolaan Anestesi Perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017–2019</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Angka Kejadian dan Karakteristik Mortalitas dan Morbiditas Pada Pengelolaan Anestesi Perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017-2019</dc:title>
	<dc:creator>Aliya Indrina, Jannatin</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi; karakteristik; morbiditas; mortalitas; perioperatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pengelolaan anestesi perioperatif merupakan tanggungjawab dokter anestesi yang mencerminkan mutu pelayanan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini mengetahui angka kejadian serta karakteristik mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2017–2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas, perioperatif. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian mortalitas dan morbiditas tahun 2017–2019 sebesar 2 kasus per 1.000 tindakan anestesi. Karakteristik pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas yaitu pasien usia produktif, jenis kelamin wanita, IMT normal, komorbid penyakit jantung, dan status fisik ASA 3. Karakteristik pembedahan, mortalitas ditemukan lebih banyak pada operasi digestif, waktu operasi pukul 07.00–16.00, dan lama operasi ≤3 jam, sedangkan pada morbiditas ditemukan lebih banyak pada operasi obstetri-ginekologi, waktu operasi pukul 07.00–16.00, dan lama operasi ≤3 jam. Karakteristik anestesiologi, mortalitas dan morbiditas lebih banyak terjadi pada anestesi umum, lama anestesi &gt;3 jam, dan kegagalan penanganan jalan napas. Simpulan penelitian ini adalah kejadian mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga penilaian, penatalaksanaan, dan koordinasi yang baik dari berbagai bidang dapat memberikan luaran yang baik pada pasien.Incidence Rate and Characteristics of Mortality and Morbidity in Perioperative Anesthesia Management at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung 2017–2019 The anesthesiologist is responsible for managing perioperative anesthesia, which reflects the quality of care in the hospital. This study aimed to determine the incidence and characteristics of cases of mortality and morbidity in the perioperative anesthesia management at Dr. Hasan Sadikin Bandung Year 2017–2019. This study was a retrospective descriptive observational study on the medical records of perioperative morbidity and mortality patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung Year 2017–2019. The results showed that the mortality and morbidity cases in 2017–2019 were 2 cases per 1,000 anesthetic procedures. Characteristics of patients who experienced mortality and morbidity were productive age, female gender, normal BMI, comorbid heart disease, and ASA physical status 3. The characteristics of surgery in mortality cases were digestive surgery, which was performed between 07.00–16.00 and with a duration of 3 hours. The characteristics of surgery in morbidity cases were obstetric-gynecological surgery performed between 07.00–16.00 and with a duration of 3 hours of surgery. The anesthesiological characteristics in cases of mortality and morbidity were in patients with general anesthesia, duration of anesthesia &gt;3 hours, and failure of airway management. Various factors can influence the incidence of mortality and morbidity in perioperative anesthesia management. Appropriate assessment, management, and coordination of various fields can provide good patient outcomes.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pengelolaan anestesi perioperatif merupakan tanggungjawab dokter anestesi yang mencerminkan mutu pelayanan di rumah sakit. Faktor pasien, pembedahan, dan anestesi mempengaruhi luaran pada saat pengelolaan anestesi perioperatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian dan karakteristik mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017–2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017–2019. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian mortalitas dan morbiditas pada tahun 2017-2019 sebesar 2 kasus per 1.000 tindakan anestesi. Karakteristik pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas pada usia produktif, jenis kelamin wanita, IMT normal, komorbid penyakit jantung, dan status fisik ASA 3. Karakteristik pembedahan pada mortalitas yaitu pada operasi digestif, waktu operasi pukul 07.00-16.00, dan lama operasi ≤3 jam. Karakteristik pembedahan pada morbiditas yaitu pada operasi obstetri-ginekologi, waktu operasi pukul 07.00-16.00, dan lama operasi ≤ 3 jam. Karakteristik anestesiologi pada mortalitas dan morbiditas yaitu dengan anestesi umum, lama anestesi &gt;3 jam, dan kegagalan penanganan jalan napas. Simpulannya adalah kejadian mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga penilaian, penatalaksanaan, dan koordinasi yang baik dari berbagai bidang dapat memberikan luaran yang baik pada pasien.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2559</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2559</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 35-49</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 35-49</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2559/pdf_1</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2794</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2795</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2796</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2797</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3440</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:05Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi antara Penempatan Kedalaman Tabung Endotrakeal dan Tinggi Badan pada Pasien Dewasa yang Menjalani Operasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi antara Ketepatan Penempatan Kedalaman Tabung Endotrakeal dan Tinggi Badan pada Pasien Dewasa yang Menjalani Operasi.</dc:title>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Sobarna, Renaldy Faizal</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi; kedalaman tabung endotrakea; korelasi kedalaman ET dan tinggi; jalan napas dewasa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">intubasi; tabung ndotrakea</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Intubasi endotrakea adalah prosedur kritis yang umum dilakukan oleh dokter anestesi dan dokter gawat darurat/perawatan intensif. Salah penempatan tabung endotrakeal (ET) dapat menyebabkan komplikasi seperti desaturasi, hiperinflasi, ateletasis, dan trauma saluran napas. Tinggi badan telah ditemukan berkorelasi dengan kedalaman ET, ini tidak berlaku di Indonesia yang rerata tinggi badan lebih rendah dibanding dengan negara lain. Studi ini bertujuan meneliti akurasi kedalaman ET dan korelasinya dengan tinggi pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung, Indonesia periode Oktober 2022 . Penelitian ini adalah studi analitik deskriptif dengan melakukan studi potong lintang dengan mengumpulkan data dari pasien. Subjek penelitian ini adalah pasien dewasa yang menjalani operasi elektif atau darurat di bawah anestesi umum dan memerlukan intubasi endotrakeal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menunjukkan korelasi antara kedalaman tabung endotrakeal oral dan tinggi badan pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dengan rerata kedalaman 19,7 cm pada pria dan 18,4 cm pada wanita. Studi ini juga menemukan bahwa pada pria, setiap peningkatan tinggi badan 10 cm maka kedalaman ET meningkat sebesar 0,88 cm, sedangkan pada wanita meningkat sebesar 1,00 cm. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kedalaman tabung endotrakeal dan tinggi badan pasien. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Intubasi endotrakea adalah prosedur kritis yang umum dilakukan oleh dokter anestesi dan dokter gawat darurat/ perawatan intensif. Salah penempatan tabung endotrakeal (ET) dapat menyebabkan komplikasi seperti desaturasi, hiperinflasi, ateletasis, dan trauma saluran napas. Tinggi badan telah ditemukan berkorelasi dengan kedalaman ET, ini tidak berlaku di Indonesia yang rerata tinggi badan lebih rendah dibanding dengan negara lain. Studi ini bertujuan meneliti akurasi kedalaman ET dan korelasinya dengan tinggi pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung, Indonesia. Penelitian ini adalah studi analitik deskriptif dengan melakukan studi potong lintang dengan mengumpulkan data dari pasien. Subjek penelitian ini adalah pasien dewasa yang menjalani operasi elektif atau darurat di bawah anestesi umum dan memerlukan intubasi endotrakeal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara akurasi kedalaman tabung endotrakeal oral dan tinggi badan pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dengan rerata kedalaman 19,7 cm pada pria dan 18,4 cm pada wanita. Studi ini juga menemukan bahwa pada pria, setiap peningkatan tinggi badan 10 cm, kedalaman ET meningkat sebesar 0,88 cm, dan pada wanita meningkat sebesar 1,00 cm. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara akurasi kedalaman tabung endotrakeal dengan tinggi badan pasien.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3440</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3440</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 109-115</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 109-115</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3440/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3440/4201</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4010</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:20:15Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Derajat Batuk Pasien Bronkoskopi dengan Sedasi yang Mendapatkan Nebulasi Lidokain 2% dibanding dengan Spray Lidokain 10% di RSUP Haji Adam Malik</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN NEBULISASI LIDOKAIN 2% DAN SPRAY LIDOKAIN 10% DALAM MENCEGAH REFLEKS BATUK PADA PASIEN BRONKOSKOPI DENGAN SEDASI DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN</dc:title>
	<dc:creator>Pohan, Alfindy Maulana</dc:creator>
	<dc:creator>Tanjung, Qadri Fauzi</dc:creator>
	<dc:creator>Silaen, Ester Lantika Ronauli</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bronkoskopi; lidokain; refleks batu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Bronkoskopi, Lidokain, Refleks Batuk</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Keluhan batuk sering muncul pada pasien yang menjalani bronkoskopi akibat adanya trauma mekanik pada dinding saluran napas. Lidokain digunakan pada bronkoskopi untuk menekan refleks batuk. Penelitian ini bertujuan menilai efek lidokain yang diberikan secara nebulisasi dan spray terhadap refleks batuk pada pasien bronkoskopi. Desain penelitian randomized control trial dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik bulan Agustus sampai dengan September 2023 pada pasien bronkoskopi dengan sedasi. Sampel yang diperoleh 36 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat spray Lidokain 10% dan kelompok yang mendapatkan nebulisasi lidokain 2%. Variabel yang diteliti adalah derajat batuk. Analisis statistik yang digunakan adalah mann whitney. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan derajat batuk yang bermakna pada pada menit ke-15, menit ke-30 dan postperlakuan (p&lt;0,05). Pada kelompok nebulisasi Lidokain 2% derajat batuk lebih rendah dibanding dengan pada kelompok spray Lidokain 10%. Simpulan: Pemberian nebulisasi lidokain 2% lebih efektif menekan derajat batuk dibanding dengan spray lidokain 10% pada tindakan bronkoskopi dengan sedasi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Bronkoskopi adalah tindakan medis secara visual terhadap saluran pernapasan. Batuk yang muncul pada bronkoskopi akibat adanya trauma mekanik pada dinding saluran napas. Lidokain merupakan obat anestesi lokal yang digunakan pada bronkoskopi untuk menekan refleks batuk. Penelitian ini bertujuan menilai efek lidokain yang diberikan secara nebulisasi dan spray terhadap refleks batuk pada pasien bronkoskopi.Penelitian ini menggunakan metode desain Randomized Control Trial dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik Medan bulan Agustus dan September 2023. Subjek pasien Bronkoskopi dengan sedasi. Penelitian  dengan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat Spray Lidokain 10% dan Nebulisasi Lidokain 2%. Analisis statistik menggunakan SPSS.Penelitian terdiri dari 18 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan refleks batuk yang bermakna pada pada menit ke-15, menit ke-30 dan Post perlakuan (p&lt;0,05). Dimana refleks batuk pada kelompok Nebulisasi Lidokain 2% lebih rendah dibandingkan pada kelompok Spray Lidokain 10%.Terdapat perbedaan refleks batuk yang signifikan pada pemberian Spray Lidokain 10% dan Nebulisasi Lidokain 2%. Nebulisasi Lidokain 2% lebih efektif menekan refleks batuk dibandingkan Spray Lidokain 10%.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">University of North Sumatera</dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4010</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.4010</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 177-182</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 177-182</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4010/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5056</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5057</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5058</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5059</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5060</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5121</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5122</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2494</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:28Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efektivitas Iodine Povidone 1% dengan Listerine® sebagai Preparat Perawatan Mulut terhadap Pencegahan Ventilator Associated Pneumonia</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efektivitas Iodine Povidone 1% dan Listerine® sebagai Preparat Perawatan Mulut terhadap Pencegahan Ventilator Associated Pneumonia</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Chuandy, Indra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Iodine povidone 1%, kebersihan mulut, listerine®, VAP</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Perawatan mulut merupakan salah satu cara mencegah ventilator associated pneumonia (VAP) pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi VAP dan efektivitas preparat antiseptik pada perawatan mulut pasien terintubasi terhadap pencegahan VAP. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 36 pasien dengan ventilasi mekanik pasien yang dirawat di ICU RS Dr. Moewardi bulan Februari–Mei 2017. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok iodine povidone 1% dan Listerine®. Awalnya dilakukan penilaian kebersihan mulut dengan simplified oral hygiene index. Setelahnya, dilakukan perawatan mulut menggunakan salah satu preparat. Setelah 48 jam, dilakukan penilaian ulang kebersihan mulut dan skor clinical pulmonary indicator score (CPIS). Timbul VAP bila skor CPIS ≥6. Data dianalisis dengan uji Mann Whitney dan independetn t-test. Kelompok iodine povidone 1% memiliki perubahan skor kebersihan mulut dengan selisih yang lebih kecil (0,195) dibanding dengan Listerine® (0,3605). Hal ini menunjukkan bahwa Listerine® lebih efektif menjaga kebersihan mulut (p=0,024). Listerine® secara signifikan lebih efektif dalam mencegah VAP bila dibanding dengan iodine povidone 1% (p=0,001). Tidak ada perbedaan signifikan pada subjek yang meninggal akibat VAP positif dengan negatif (p=0,280). l Simpulan listerine® memiliki efektivitas lebih tinggi mencegah VAP dibanding dengan iodine povidone 1%.Differences in Effectiveness of Iodine Povidone 1% and Listerine® as Oral Care Preparations in Preventing Ventilator-Associated PneumoniaOral care is one way to prevent VAP in patients using mechanical ventilation. x This study aimed to determine the prevalence of VAP and the effectiveness of antiseptic preparations in the oral care of intubated patients to prevent ventilator associated pneumonia (VAP). The study used a randomized, single-blind clinical trial in 36 mechanically ventilated patients admitted to the ICU of Dr. Moewardi in February –May 2017. The samples were divided into two groups, namely the 1% povidone-iodine group and Listerine®. Initially, oral hygiene was assessed using the simplified oral hygiene index. After that, oral care was performed using one of the preparations. After 48 hours, oral hygiene and clinical pulmonaryindicator score (CPIS) scores were reassessed. VAP occurred when the CPIS score was 6. The Mann-Whitney test and independent t-test analyzed the data. The 1% povidone-iodine group changed oral hygiene scores with a minor difference (0.195) than Listerine® (0.3605). It indicated that Listerine® was more effective in maintaining oral hygiene (p=0.024). Listerine® was significantly more effective in preventing VAP when compared with 1% iodine povidone (p=0.001). There was no significant difference in mortality of VAP positive or negative subjects (p=0.280). In conclusion, the use of Listerine® as an oral care preparation is significantly more effective in preventing VAP compared to 1% iodine povidone.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">VAP merupakan jenis pneumonia yang muncul dalam waktu 48 – 72 jam setelah intubasi. Insidennya mencapai 9 – 27 % dengan tingkat mortalitas yang lebih dari 50 %. Perawatan mulut merupakan salah satu cara mencegah VAP pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi VAP dan efektivitas preparat antiseptik pada perawatan mulut pasien terintubasi terhadap pencegahan VAP. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 36 pasien dengan ventilasi mekanik. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok iodine povidone 1% dan Listerine®. Awalnya dilakukan penilaian kebersihan mulut dengan Simplified Oral Hygiene Index. Setelahnya, dilakukan perawatan mulut menggunakan salah satu preparat. Setelah 48 jam, dilakukan penilaian ulang kebersihan mulut dan skor CPIS. Timbul VAP bila skor CPIS ≥ 6. Kelompok iodine povidone 1% memiliki perubahan skor kebersihan mulut dengan selisih yang lebih kecil (0,195) dibandingkan Listerine® (0,3605). Hal ini menunjukkan bahwa Listerine® lebih efektif dalam menjaga kebersihan mulut (p = 0,024). Listerine® secara signifikan lebih efektif dalam mencegah VAP bila dibandingkan dengan iodine povidone 1% (p = 0,001). Tidak ada perbedaan signifikan pada subjek yang meninggal akibat VAP positif maupun negatif (p = 0,280). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa listerine® memiliki efektivitas lebih tinggi dalam mencegah VAP dibandingkan dengan iodine povidone 1%.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2494</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2434</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 160–167</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 160–167</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2494/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2494/2697</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2792</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:53Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Profil Morbiditas dan Mortalitas Layanan Anestesi dan Pembedahan Pasien Geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari–April Tahun 2021</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Profil Morbiditas dan Mortalitas Layanan Anestesi dan Pembedahan Pasien Geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari sampai April Tahun 2021</dc:title>
	<dc:creator>Soefviana, Stefi Berlian</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi; geriatri; morbiditas; mortalitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anestesi; geriatri; morbiditas; mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien geriatri dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas saat mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Februari–April tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari–April tahun 2021. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rerata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2%, dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%. Simpulan, angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada wanita, 18,5–24,9 kg/m2 komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥3, dan anestesi umum. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peningkatan angka keberhasilan kesehatan ditandai dengan adanya peningkatan presentasi populasi geriatri. Konsekuensinya peningkatan angka ini akan diikuti oleh peningkatan angka operasi dan tindakan anestesi. Pasien geriatri diketahui dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas dengan mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Kombinasi beberapa faktor yaitu status kesehatan, status nutrisi, komorbiditas, tipe pembedahan, status fisik ASA dan tipe anetesi akan berpengaruh. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Februari sampai April Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari sampai April tahun 2021. Data berdasarkan kondisi pasien, tindakan operasi, status ASA, tindakan anestesi, kejadian intraoperasi, komplikasi di ruang pemulihan dan ruang rawat biasa serta ruang semiintensif/intensif serta mortalitas, data tersebut dicatat dan diolah. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rata-rata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2% dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%.  Simpulan pada penelitian ini angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada golongan jenis kelamin wanita, IMT 25,0 – 29,9, komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥ 3 dan anestesi umum.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2792</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2792</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 22–34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 22–34</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2792/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3392</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3393</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3394</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3395</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3739</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Vasopressin dan Norephinephrine sebagai Vasopressor pada Pasien Syok Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Edward Gultom, Andrio Farel</dc:creator>
	<dc:creator>Nadeak, Rommy F.</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">MAP; norepinephrine; sepsis; tekanan darahsistole; tekanan darah diastole; vasopressin</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis menyebabkan kematian terbesar, tingkat mortalitas sepsis tinggi dan dapat mencapai 50% pada syok sepsis. Tatalaksana resusitasi pada syok sepsis menggunakan vasopresor. norepinephrine saat ini adalah rekomendasi utama pada syok sepsis, vasopressin digunakan sebagai obat lini kedua untuk mengurangi efek samping yang disebabkan oleh obat seperti norephinephrine, dan juga membantu pada keadaan syok resisten-katekolamin. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis dengan metode acak tersamar ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan vasopressin dan norephinephrine sebagai vasopresor pada pasien syok sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pencatatan hasil dilakukan setelah diberikan intervensi (T0), 6 jam (T1), dan 24 jam (T2). Sampel yang diperoleh pada penelitian ini berjumlah 36 pasien dengan 13 pasien dalam kelompok vasopressin dan 13 pasien dalam kelompok norepinephrine. Rerata TDS, TDD dan Mean Arterial Pressure (MAP) T0, T1, dan T2 kelompok norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. pH pada kelompok norepinephrine lebih rendah bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. Simpulan, terdapat perbedaan yang signifikan antara norepinephrine dengan vasopressin sebagai vasopressor, dimana MAP dan kadar laktat, pada kelompok Norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan vasopressin. Sedangkan pH didapatkan lebih rendah pada kelompok norepinpehrine pada jam ke-24 dibanding dengan kelompok vasopressin.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3739</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3739</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 97-108</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 97-108</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3739/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3739/5182</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3739/5183</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4062</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Early Warning Score Dengan Kejadian In Hospital Cardiac Arrest</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">ANALISIS HUBUNGAN EARLY WARNING SCORE (EWS) DENGAN KEJADIAN IN HOSPITAL CARDIAC ARREST (IHCA) : STUDI RETROSPEKTIF DI RS PENDIDIKAN UTAMA</dc:title>
	<dc:creator>Listiarini, Dian Ayu</dc:creator>
	<dc:creator>Yulianti, Suryani</dc:creator>
	<dc:creator>Alfaruq, Ahmad Umar</dc:creator>
	<dc:creator>Safira, Alya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Early warning score; henti jantung; monitor; tanda vital</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">early warning sign; henti jantung; monitor; tanda vital</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Henti jantung saat masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Kejadian in-hospital cardiac arrest (IHCA) perlu dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan agar dapat segera dilakukan penaganan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pasien ialah early warning sign (EWS). Nilai EWS yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara EWS dan kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei–Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diperoleh melalui metode non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman untuk menilai hubungan dan keeratan antar variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan EWS risiko tinggi (skor&gt;7) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian IHCA (p&lt;0,001) dengan keeratan sedang (r=0,638). Temuan ini menunjukan bahwa pasien dengan skor EWS&gt;7 berisiko tinggi mengalami IHCA. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Henti jantung saat ini masih menjadi penyebab nomer satu kematian di dunia. Kejadian henti jantung yang terjadi di rumah sakit (IHCA) harus dapat dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan di rumah sakit sehingga dapat memberikan penanganan sesegera mungkin. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pada pasien ialah early warning sign (EWS). Skor EWS yang semakin tinggi dikaitkan dengan peningkatan kejadian IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara EWS terhadap kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei – Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diambil menggunakan non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji spearman untuk mengetahui hubungan serta keeratan antar variable. Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien dengan EWS resiko tinggi (skor &gt; 7) secara signifikan berhubungan terhadap kejadian IHCA (p &lt;0,001) dan memiliki keeratan sedang (r = 0,638). Oleh karena itu, pasien dengan skor EWS &gt; 7 beresiko tinggi mengalami IHCA. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4062</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4062</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 77-82</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 77-82</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4062/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4062/5142</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4062/5850</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2489</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:48Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efek Tramadol Infus Kontinu dengan Bolus Intermiten terhadap Numeric Rating Scale (NRS) Pasien Pascamultipel Odontektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efek Tramadol Infus Kontinyu dan Bolus Intermiten terhadap Numeric Rating Scale (NRS) Pasien Pasca Multipel Odontektomi</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana</dc:creator>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Afandi, Nugraha</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bolus intermiten, infus kontinu, multipel odontektomi, tramadol</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">tramadol, infus kontinyu, bolus intermiten, multipel odontektomi.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penggunaan tramadol bolus berulang secara teratur atau sesuai dengan permintaan adalah bentuk administrasi analgesia dalam terapi nyeri pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek tramadol infus kontinu dengan bolus intermiten terhadap numeric rating scale pascamultipel odontektomi. Penelitian ini dilaksanakan RSUD Dr. Moewardi, Surakarta dan RSUD KET Setjonegoro, Wonosobo mulai bulan September–November 2018 menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan multipel odontektomi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I tramadol bolus awal 100 mg selanjutnya infus kontinu 0,25 mg/kg/jam ditambah parasetamol 500 mg/8 jam bolus dan kelompok II tramadol bolus awal 100 mg, selanjutnya 50 mg/8 jam bolus ditambah parasetamol 500 mg/8 jam. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai dengan standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri jam ke-2, 6, 12, 24 pascaoperasi. Selain itu juga dinilai efek mual muntah pascaoperasi. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,240 (p&gt;0,05) jam ke-2, p=0,007 (p&lt;0,05) jam ke-6, p=0,658 (p&gt;0,05) jam ke-12, p=0,219 (p&gt;0,05) jam ke-24 yang berarti terdapat perbedaan signifikan NRS pada jam ke-6 pascaoperasi antara kelompok I dan II. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,743 (p&gt;0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan efek samping mual-muntah pascamultipel odontektomi pada kedua kelompok. Simpulan, terdapat perbedaan efektivitas analgetik yang diukur dengan NRS pascamultipel odontektomi dengan diberikan tramadol infus kontinu dibanding dengan tramadol bolus intermiten pada 6 jam pascaoperasi. Differences of Continuous Infusion and Intermittent Tramadol Effect on Numeric Rating Scale in Post Multiple Odontectomy PatientsThe use of regular or on-demand repeated bolus tramadol is a form of analgesia administration in the treatment of postoperative pain. This study aimed to find better ways of analgesic administration after multiple odontectomy. This research was conducted in Dr. Moewardi General Hospital, Surakarta, and KET Setjonegoro General Hospital, Wonosobo, from September to November 2018, using a single-blind randomized clinical trial in 36 patients who had multiple odontectomy and met the inclusion criteria. Samples were divided into two groups. Group I received: an initial bolus of tramadol 100 mg, then a continuous infusion of 0.25 mg/kg/hour plus paracetamol 500 mg/8 hours bolus, and group II received initial bolus tramadol 100 mg, then 50 mg/8 hours bolus plus paracetamol 500 mg/8 hours. All patients received standard general anesthetic treatment and then postoperative pain assessment at 2, 6, 12, and 24 hours. Besides, the effects of postoperative nausea were also assessed. Statistical test results p = 0.240 (p&gt;0.05) at the second hour, p = 0.007 (p&lt;0.05) at the 6th hour, p=0.658 (p&gt;0.05) at the 12th hour, p = 0.219 (p&gt;0.05) at the 24th hour, meaning there was a difference in NRS at the 6th hour postoperatively between groups I and II. Statistical test results were p = 0.743 (p&gt; 0.05), meaning there were no differences in the side effects of nausea post multiple odontectomy in the two groups. In conclusion, there is a significant difference in analgesic efficacy as measured by NRS post multiple odontectomy with continuous tramadol infusion compared with intermittent tramadol boluses at the 6th hour postoperatively.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri adalah salah satu gejala peradangan akut yang biasanya terjadi setelah odontektomi, dengan derajat nyeri sedang menurut Numeric Rating Scale (NRS). Penggunaan tramadol bolus berulang secara teratur atau sesuai permintaan adalah bentuk administrasi analgesia yang paling sering dalam terapi nyeri pasca operasi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara pemberian analgesik yang lebih baik pasca multipel odontektomi. Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan multipel odontektomi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I tramadol bolus awal 100 mg selanjutnya infus kontinyu 0,25 mg/kg/jam ditambah paracetamol 500 mg / 8 jam bolus dan kelompok II tramadol bolus awal 100 mg selanjutnya 50 mg / 8 jam bolus ditambah paracetamol 500 mg / 8 jam. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri jam ke 2, 6 , 12, 24 pasca operasi. Selain itu juga dinilai efek mual-muntah pasca operasi. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,240 (p&gt;0,05) jam ke 2, p=0,007 (p&lt;0,05) jam ke 6, p=0,658 (p&gt;0,05) jam ke 12, p=0,219 (p&gt;0,05) jam ke 24, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan NRS pada jam ke 6 pasca operasi antara kelompok I dan II. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,743 (p&gt;0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan efek samping mual-muntah pasca multiple odontektomi pada kedua kelompok. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan efektivitas analgetik yang diukur dengan NRS pasca multipel odontektomi dengan diberikan tramadol infus kontinyu dibandingkan dengan tramadol bolus intermiten pada 6 jam pasca operasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2489</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2489</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 149–156</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 149–156</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2489/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2489/2690</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3411</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T07:29:21Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanjangan Lama Rawat Intensif Pasien Atresia Bilier Pediatrik yang Menjalani Operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanjangan Lama Rawat Intensif Pasien Atresia Bilier Pediatrik yang Menjalani Operasi Kasai di RSUP Dr Sardjito</dc:title>
	<dc:creator>Ristianto, Muhammad Brian</dc:creator>
	<dc:creator>Widyastuti, Yunita</dc:creator>
	<dc:creator>Sari, Djayanti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Atresia bilier; faktor-faktor yang berpengaruh; lama perawatan; operasi Kasai</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Pediatric Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Atresia bilier; operasi Kasai; lama perawatan; faktor-faktor yang berpengaruh</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatus yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat pascaoperasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Terdapat 33 dari 52 sampel (64%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Uji statistik dilakukan dengan uji regresi logistik univariat dan uji regresi logistik multivariat bagi parameter yang signifikan pada uji sebelumnya (p&lt;0,25). Didapatkan sepsis (OR=39,2) dan malnutrisi (OR=7,55) signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Simpulan, Sepsis dan malnutrisi signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatal yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat paska operasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Pengujian statistik dilakukan dengan Chi-square dan Fischer exact test, dilanjutkan dengan uji regresi logistik multivariabel. Didapatkan 33 dari 52 sampel (63,46%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Dari hasil uji multivariabel, didapatkan sepsis (OR = 39,2) dan malnutrisi (OR = 7,55) signifikan mempengaruhi pemanjangan lama rawat intensif paska operasi Kasai. Sepsis dan malnutrisi signifikan mempengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3411</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3411</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 14-25</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 14-25</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3411/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3411/4187</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3411/4235</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4260</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:40Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Akurasi dan Presisi Perhitungan Resting Energy Expenditure (REE) Menggunakan Rule of Thumb, Modifikasi Harris–Benedict, dan Penn State terhadap Kalorimetri Indirek pada Pasien ICU</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN AKURASI DAN PRESISI PERHITUNGAN RESTING ENERGY EXPENDITURE (REE) RULE OF THUMB,  MODIFIKASI HARRIS – BENEDICT, DAN PENN STATE TERHADAP KALORIMETRI INDIREK PADA PASIEN ICU</dc:title>
	<dc:creator>Giovanni, Cindy</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni T</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kalorimetri indirek; pasien kritis; pengeluaran energi saat istirahat; rumus prediktif; unit perawatan intensif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Medical;Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">akurasi, Harris-Benedict, kalorimetri indirek, rumus prediktif, presisi, Rule of Thumb, Penn State</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penentuan kebutuhan energi pada pasien kritis sangat penting untuk mencegah underfeeding maupun overfeeding yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi dan presisi tiga rumus prediktif-Harris-Benedict modifikasi (HBE × 1,25), Penn State (PSU), dan Rule of Thumb (ROT)-dengan kalorimetri indirek (IC) sebagai gold standard pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik. Desain penelitian ini adalah observasional analitik terhadap 30 pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan RSUD Sumedang yang memenuhi kriteria inklusi. REE dihitung menggunakan ketiga rumus prediktif dan dibanding dengan hasil IC. Akurasi tertinggi diperoleh dari PSU (63,33%), diikuti ROT (46,67%) dan HBE×1,25 (30,00%) (p&lt;0,05). Presisi tertinggi juga ditemukan pada PSU (ICC=0,713), diikuti HBE × 1,25 (0,592) dan ROT (0,462). Analisis Bland–Altman menunjukkan bias terkecil pada PSU (-81,56 kkal), dibandingkan HBE × 1,25 (-60,41 kkal) dan ROT (123,72 kkal). Simpulan, rumus PSU memiliki akurasi dan presisi terbaik dalam memperkirakan REE pada pasien kritis. Namun, pemantauan individual tetap diperlukan karena potensi bias. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penghitungan kalori yang optimal merupakan faktor penting yang berhubungan denganpemberian nutrisi pada pasien kritis. Kalorimetri indirek menjadi gold standardpenghitungan kebutuhan nutrisi pada pasien kritis, namun terbatas pada penggunaannya. Beberapa rumus prediktif digunakan untuk menghitung kebutuhan kalori pada pasien kritis,seperti Rule of Thumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State dengan Tingkat akurasiyang berbeda. Penelitian ini membandingkan akurasi dan presisi penghitungan RestingEnergy Expenditure (REE) pada pasien kritis antara rumus Rule of Thumb, modifikasiHarris-Benedict, dan Penn State terhadap kalorimetri indirek. Penelitian ini bersifatmerupakan prospektif observasional. Subjek penelitian ini adalah 30 pasien ICU RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung dan RSUD Kabupaten Sumedang yang dirawat dari bulan Juli -November 2024 yang menggunakan ventilator. Nilai akurasi ditentukan berdasarkanproporsi kesalahan estimasi 10%. Nilai presisi ditentukan melalui penghitungan Inter ClassCorrelation (ICC) dan analisis Bland Altman. Pada penelitian ini didapatkan akurasi rumusRule of Thumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State sebesar 46,67%, 30%, dan63,33% secara berturutan. Akurasi yang dihitung berdasarkan ICC pada rumus Rule ofThumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State yaitu 0,462 (moderate agreement);0,592 (moderate agreement); dan 0,713 (good agreement). Berdasarkan hasil penelitian inidapat disimpulkan bahwa rumus Penn State memiliki akurasi dan presisi yang lebih tinggidibandingkan rumus Rule of Thumb dan modifikasi Harris-Benedict. Hasil peneltian inidiharapkan dapat membantu dalam meningkatkan manajemen pemberian nutrisi di ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4260</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.4260</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 41-49</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 41-49</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4260/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4260/5420</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4260/5421</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2468</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:24Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efektivitas Analgetik antara Kombinasi Ketoprofen Supositoria-Parasetamol Oral dan Meperidin Intravena Pascaoperasi Laparaskopi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efektifitas Analgetik Kombinasi Ketoprofen Suppositoria-Paracetamol Oral Dan Meperidin Intravena Pasca Operasi Laparaskopi</dc:title>
	<dc:creator>Santosa, Sugeng Budi</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Utomo, Rofiq Mardiko</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kombinasi ketoprofen-parasetamol, laparaskopi, meperidin, PONV</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">kombinasi ketoprofen-paracetamol, laparaskopi, meperidine, PONV</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri akut pascaoperasi didefinisikan sebagai rasa nyeri yang muncul setelah prosedur pembedahan.  Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efek kombinasi ketoprofen supositoria+parasetamol oral dengan meperidin intravena sebagai analgetik pascaoperasi laparaskopi. Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan operasi laparaskopi dan memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta sejak Februari hingga Juli 2019. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kombinasi ketoprofen supositoria+parasetamol oral (K) dan meperidin intravena (P). Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai dengan standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri berkala pascaoperasi. Skala nyeri pascaoperasi mulai jam ke-2 sampai ke-24 pada kelompok K (nyeri ringan 80–90%) dan P (nyeri ringan 100%). Data yang didapatkan diuji menggunakan Uji Mann-Whitney. Perbandingan skala nyeri kelompok K dengan P menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jam ke-6. Skor PONV pada kelompok K (mual ringan 50%, mual sedang 5%) dan P (muntah 16% dan mual berat 40–45%). Simpulan, terdapat perbedaan skala nyeri antara kombinasi ketoprofen supositoria-parasetamol oral (K) dan meperidin intravena (P) pascaoperasi laparaskopi terutama jam ke-6 pascaoperasi. Meperidine intravena dapat digunakan sebagai analgetik yang efektif untuk nyeri pascaoperasi laparaskopi dengan efek samping PONV lebih besar.Differences in Analgesic Effectiveness between Ketoprofen Suppository-Oral Paracetamol Combination and Intravenous Meperidine Post Laparoscopic SurgeryPostoperative acute pain is defined as pain that occurs in a patient after a surgical procedure. This study used a single-blind randomized clinical trial in 36 patients who underwent laparoscopic surgery and met the inclusion criteria. The samples were divided into two groups: oral ketoprofen suppository-paracetamol combination (K) and intravenous meperidine (P). All patients received standard general anesthetic treatment for the periodic postoperative assessment, and the periodic postoperative pain scale was assessed. The postoperative pain scale started at 2 to 24 hours in groups K (80–90% mild pain) and P (100% mild pain). A comparison of pain scales in groups K and P showed a significant difference at 6 hours. PONV scores in groups K (50% mild nausea, 5% moderate nausea) and P (16% vomiting and 40–45% severe nausea). In conclusion, there is a significant difference in pain scale between oral suppository-paracetamol (K) ketoprofen and intravenous meperidine (P) combination after laparoscopic surgery, especially at 6 hours postoperatively. Intravenous meperidine can be an effective analgesic for postoperative laparoscopic pain with more significant PONV side effects.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri akut pasca operasi didefinisikan sebagai rasa nyeri yang muncul pada pasien setelah prosedur pembedahan. Nyeri pasca operasi laparaskopi merupakan nyeri akut dengan intensitas sedang (skala nyeri 4-6). Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan operasi laparaskopi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kombinasi ketoprofen suppositoria-paracetamol oral (K) dan meperidine intravena (P). Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri berkala pasca operasi. Selain itu juga dinilai efek mual-muntah pasca operasi, dan efek samping obat analgetik. Skala nyeri pasca operasi mulai jam ke-2 sampai ke-24 pada kelompok K (nyeri ringan 80-90%) dan P (nyeri ringan 100%). Perbandingan skala nyeri kelompok K dan P menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jam ke-6. Skor PONV pada kelompok K (mual ringan 50%, mual sedang 5%) dan P (muntah 16% dan mual berat 40-45%). Tidak ada komplikasi yang terjadi terkait pemberian analgetik opioid ataupun non opioid. Simpulan, terdapat perbedaan skala nyeri yang bermakna antara kombinasi ketoprofen suppositoria-paracetamol oral (K) dan meperidine intravena (P) pasca operasi laparaskopi terutama jam ke-6 pasca operasi. Meperidine intravena dapat digunakan sebagai analgetik yang efektif untuk nyeri pasca operasi laparaskopi dengan efek samping PONV lebih besar.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2468</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2468</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 78–85</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 78–85</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2468/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3554</identifier>
				<datestamp>2024-03-18T05:49:33Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic antara Posisi Head Up 15° dan Head Up 30°  pada Pasien yang Dirawat di Ruang Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic Terhadap Posisi Head Up 15° Dan Head Up 30° Pada Pasien Yang Dirawat Di Ruang Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:creator>Hutabarat, Syahrir Supratman</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Head up 15°; Head up 30°; NIRS; Oksigenasi serebral</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Oksigenasi serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan serebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan meneliti perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) dengan posisi head up 15o dan 30o. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Agustus sampai Oktober 2022. Desain penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Analisis statistik variabel numerik menggunakan uji T-independen pada data berdistribusi normal dan uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik dengan uji chi-square atau uji Fisher Exact. Rerata nilai NIRS baik kanan maupun kiri pada kelompok Head Up 15o lebih rendah dibanding dengan kelompok Head Up 30o dengan perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Kesimpulan, nilai rerata near-infrared spectroscopy (NIRS) pada posisi Head Up 15° lebih rendah dibanding dengan posisi head up 30°.Kata kunci:  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Oksigenasi cerebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen bisa bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan cerebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) terhadap posisi head up 15o dan 30o pada pasien yang di rawat di ICU RSUP H Adam Malik Medan. Desain penelitian analitik dengan desain eksperimental untuk mengetahui perbedaan nilai NIRS pada berbagai posisi head up pada pasien dirawat di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pada penelitian ini didapatkan usia rerata sampel sebesar 53,45 ± 14,44 tahun dan rerata indeks massa tubuh sampel sebesar 23,92 ± 2,18 kg/m2. Tekanan darah sistolik dan diastolik sampel penelitian didapati sebesar 122,68 ± 17,76 dan 73,50 ± 10,25secara berurutan. nilai NIRS Head Up 15° dan 30° kiri didapatkan rerata nilai NIRS 56,27 ± 13,32 dan 65,45 ± 15,14 didapatkan nilai P sebesar 0,01 &lt; 0,05, maka didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara Head Up 15° dan 30°. Terdapat perbedaan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) antara Head Up 15° dan 30°.pada pasien yang dirawat di ruang ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3554</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3554</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 139-145</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 139-145</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3554/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3554/4369</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3554/4370</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3869</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:15:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Anestesi Seksio Sesarea pada Wanita Usia 30 Tahun dengan Preeklampsia Berat dengan Hipertensi Pulmonal Probabilitas Tinggi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Laporan Kasus: Manajemen Anestesi Operasi Caesar pada Wanita Usia 30 Tahun dengan Preeklampsia Berat dengan Hipertensi Pulmonal Probabilitas Tinggi</dc:title>
	<dc:creator>Hermawan, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniawan, Adi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hipertensi pulmonal; kehamilan; preeklampsi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Pregnancy; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kehamilan, Hipertensi Pulmonal, Preeklampsia</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal (HP) memiliki peningkatan risiko yang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilan hemodinamik, gagal jantung, sepsis pascaoperasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakan kehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baik dan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensi pulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk mencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia berat dan kemungkinan besar menderita HP. Teknik yang digunakan dengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 m. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukan intubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami serangan jantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masuk ICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasien hipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pascaoperasi untuk memantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal memiliki peningkatan risikoyang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilanhemodinamik, gagal jantung, sepsis pasca operasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakankehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baikdan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensipulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untukmencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus inimenggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia beratdan kemungkinan besar menderita PH. Teknik yang digunakandengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 cc. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukanintubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami seranganjantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masukICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasienhipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pasca operasi untukmemantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3869</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n.23869</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 216-222</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 216-222</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3869/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3869/4826</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3869/4839</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2461</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Asam Traneksamat, Etamsylate dan Kombinasi dengan Profil Waktu Perdarahan pada Operasi Sedang</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Efek Asam Traneksamat, Etamsylate dan Kombinasi dengan Profil Waktu Perdarahan pada Operasi Sedang</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Thamrin, Husni</dc:creator>
	<dc:creator>Rachmad, Yuniar</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Asam traneksamat; etamsylate; hemostasis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Asam traneksamat; etamsylate; hemostasis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemilihan agen hemostatis yang baik diharapkan dapat memfasilitasi hemostasis intraoperatif dan selanjutnya akan dapat memperbaiki hasil akhir pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan agen hemostatik antara asam traneksamat dan etamsylate atau dengan kombinasi terhadap efek hemostatik pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh operasi sedang. Penelitian ini merupakan uji klinis eksperimental dengan rancangan penelitian pre dan post tindakan yang terdiri dari 33 subjek yang menjalani operasi sedang. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Solo selama Agustus–Oktober 2017. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pemeriksaan bleeding time sebelum dan sesudah tindakan yang telah diberi perlakuan 30 menit sebelum tindakan. Penelitian ini menggunakan tes analitik komparatif numerik dengan skala ordinal dilanjutkan dengan uji statistik mengunakan non parametrik Kruskal-Wallis. Selisih waktu perdarahan sebelum dengan sesudah perlakuan pada kelompok asam traneksamat mengalami penurunan rerata -0,05±0,57 menit, kelompok etamsylate mengalami penurunan rerata -0,73±1,95 menit, dan kelompok kombinasi etamsylate dan asam traneksamat mengalami penurunan rerata -1,14±2,20 menit dengan perbedaan tidak signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, tidak didapatkan perbedaan pemberian asam traneksamat, estamsylate dan kombinas keduanya dengan waktu perdarahan.Effects of Tranexamic Acid, Etamsylate, and Combination with Bleeding Time Profile in Moderate SurgeryThe selection of an excellent hemostatic agent is expected to facilitate intraoperative hemostasis and further improve patient outcomes. This study aimed to determine the difference between hemostatic agents, tranexamic acid and etamsylate, or a combination of hemostatic effects in bleeding caused by moderate surgery. This study was an experimental clinical trial with a pre-and post-action research design consisting of 33 subjects undergoing moderate surgery. The study was conducted at Dr. Moewardi Hospital Surakarta from August to October 2017. After randomization, the bleeding time was checked before and after treatment, 30 minutes before the procedure. This study used a comparative numerical, analytical test with an ordinal scale followed by statistical tests using nonparametric Kruskal-Wallis. The difference in bleeding time before and after treatment with the tranexamic acid group decreased with a mean of -0.05 ±0.57 minutes, the etamsylate group decreased with a mean of -0.73±1.95 minutes, and the etamsylate + tranexamic combination group decreased with a mean of -1.14±2.20 minutes, p-value=0.501 (p&gt;0.05). In conclusion, there is no difference in the hemostatic effect between tranexamic acid, etamsylate, and the combination of tranexamic acid and etamsylate.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemilihan agen hemostatis yang baik diharapkan dapat memfasilitasi hemostasis intraoperatif dan selanjutnya akan dapat memperbaiki hasil akhir pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan agen hemostatik antara asam traneksamat dan etamsylate atau dengan kombinasi terhadap efek hemostatik pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh operasi sedang. Penelitian ini merupakan uji klinis eksperimental dengan rancangan penelitian pre dan post tindakan yang terdiri dari 33 subjek yang menjalani operasi sedang. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Solo selama Agustus–Oktober 2017. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pemeriksaan bleeding time sebelum dan sesudah tindakan yang telah diberi perlakuan 30 menit sebelum tindakan. Penelitian ini menggunakan tes analitik komparatif numerik dengan skala ordinal dilanjutkan dengan uji statistik mengunakan non parametrik Kruskal-Wallis. Selisih waktu perdarahan sebelum dengan sesudah perlakuan pada kelompok asam traneksamat mengalami penurunan rerata -0,05±0,57 menit, kelompok etamsylate mengalami penurunan rerata -0,73±1,95 menit, dan kelompok kombinasi etamsylate dan asam traneksamat mengalami penurunan rerata -1,14±2,20 menit dengan perbedaan tidak signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, tidak didapatkan perbedaan pemberian asam traneksamat, estamsylate dan kombinas keduanya dengan waktu perdarahan. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2461</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2461</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 10-16</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 10-16</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2461/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3000</identifier>
				<datestamp>2024-02-01T08:33:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Derajat Nyeri Setelah Pemberian Gabapentin dengan Amitriptilin sebagai Adjuvan Analgetik Pasien Nyeri Kanker</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan derajat nyeri setelah pemberian Gabapentin dan Amitriptilin sebagai adjuvan analgetik pasien nyeri kanker</dc:title>
	<dc:creator>Subeki, Farlin</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Bangun, Chrismas Gideon</dc:creator>
	<dc:creator>Amelia, Rina</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Amitriptilin; gabapentin; nyeri kanker</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penggunaan opioid tunggal pada nyeri kanker kurang efektif sehingga perlu dikombinasikan dengan analgetik non opioid. Tujuan penelitian adalah membandingkan derajat nyeri pada pemberian gabapentin dengan amitriptilin sebagai adjuvan analgetik pasien nyeri kanker. Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda, subjek penelitian adalah pasien poli nyeri RSUP H. Adam Malik dengan derajat nyeri berat yang dibagi 3, yaitu kelompok gabapentin, amitriptilin, dan plasebo sebagai adjuvan. Penelitian dilakukan selama periode April–Juni 2022. Sampel dievaluasi derajat nyeri, pain DETECT dan efek samping hari 1 (T1), hari 3 (T2), dan hari 7 (T3). Derajat nyeri berat pengukuran T1 pada grup gabapentin didapatkan 1,8%, amitriptilin 10,5% dan plasebo 7%. Pada T2, T3 tidak didapatkan derajat berat pada semua kelompok. Pemeriksaan pain DETECT dijumpai rerata 29,4±5,3. Pada T1 dan T2 tidak terdapat perbedaan bermakna. Pada T3 terdapat perbedaan bermakna dengan nilai p 0,003 antara penggunaan gabapentin dan plasebo. Pada penelitian ini didapatkan penurunan NRS secara klinis pada penggunaan adjuvan analgetik dibanding dengan plasebo, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Pada pain DETECT ditemukan perbedaan bermakna setelah pemberian adjuvan gabapentin setelah hari ke-7 dibanding dengan plasebo. Simpulan penelitian ini terdapat penurunan derajat nyeri secara klinis penggunaan adjuvan analgetik dibanding dengan plasebo, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang membantu untuk memberikan tanda bahwa sedang terjadi kerusakan jaringan atau akan terjadi kerusakan jaringan. Pada keganasan nyeri yang ditimbulkan oleh gangguan pada sistem saraf disebut nyeri neuropatik, tatalaksana nyeri kanker bisa dengan analgetik dan adjuvan, salah satunya Gabapentin dan Amitriptilin. Desain penelitian  ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda, sampel yang digunakan adalah pasien poli nyeri dengan diagnosis keganasan dengan derajat nyeri NRS berat dengan pemberian MST dan Parasetamol sampel di bagi 3 kelompok yaitu kelompok yang diberikan Gabapentin, Aamitriptilin dan placebo sebagai adjuvan. Kemudian sampel akan di evaluasi derajat nyeri,  hari 1 (T1), hari 3 (T2) dan hari 7 (T3). Didapatkan hasil NRS pada grup Gabapentin  pada T1 derajat berat menjadi  1 orang (1.8%), grup Amitriptilin 3 orang (10,5%) dan plasebo 4 orang (7%). Pada T2 tidak di dapatkan NRS derajat berat pada semua kelompok. Pada grup Gabapentin  pada T2 derajat sedang menjadi 15 orang (26,3%), grup Amitriptilin 15 orang (26,3%) dan plasebo 14 orang (24,6%). Pada T3 tidak di dapatkan NRS derajat berat pada semua kelompok. Pada grup Gabapentin  pada T3 derajat sedang menjadi 14 orang (26,3%), grup Amitriptilin 12 orang (21,1%) dan plasebo 15 orang (26,3%).Pada penelitian ini secara klinis didapatkan penurunan NRS secara klinis pada penggunaan adjuvan analgetik dibandingkan Plasebo tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Pada penilaian nyeri neuropatik dengan Pain DETECT ditemukan perbedaan bermakna setelah pemberian adjuvan Gabapentin setelah hari ke-7 dibandingkan dengan Plasebo. Efek samping setelah pemberian obat pada penelitian tidak terdapat perbedaan bermakna.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3000</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3000</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 61-69</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 61-69</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3000/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3354</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Perioperatif Pasien Atrial Septal Defect (ASD)   dengan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani  Operasi Tutup Defek</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Manajemen Perioperatif Pasien Atrial Septal Defect (ASD) dengan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani Operasi Tutup Defek</dc:title>
	<dc:creator>Nur, Rifdhani Fakhrudin</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniawaty, Juni</dc:creator>
	<dc:creator>Pratomo, Bhirowo Yudo</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Atrial Septal Defect; hipertensi pulmonal; manajemen perioperatif; operasi tutup defek</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesiology; cardiac anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Atrial Septal Defect; hipertensi pulmonal; manajemen perioperatif; operasi tutup defek</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Atrial septal defect (ASD) kompleks yang tidak didiagnosis dan dikoreksi hingga usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif operasi penutupan defek pasien ASD dewasa dengan hipertensi pulmonal memberikan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan ekokardiografi praoperasi menunjukkan ASD sekundum right-to-left shunt dengan diameter 25–30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan rerata tekanan arteri pulmonal 58 mmHg dan pulmonary vascular resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan balanced opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil, dan periode penyapihan cardiopulmonary bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran yang baik pada pasien ini.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Atrial septal defect (ASD) jenis berat yang tidak didiagnosis dan dikoreksi sampai usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif pada pasien ASD dengan hipertensi pulmonal merupakan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan echocardiography praoperasi menunjukkan ASD sekundum right to left shunt diameter 25-30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan tekanan rerata arteri pulmonal 58 mmHg dan Pulmonary Vascular Resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan teknik balans opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil dan periode penyapihan Cardiopulmonary Bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Pasien dipindah ke bangsal biasa pada hari ke-3 pascaoperasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran pasien yang baik pada pasien ini.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3354</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3354</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 144-152</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 144-152</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3354/4115</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3986</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Optical Nerve Sheath Diameter Correlates with ICU Length of Stay After Craniotomy</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">KORELASI NILAI OPTICAL NERVE SHEATH DIAMETER DENGAN LENGTH OF STAY ICU PADA PASIEN PASCABEDAH OTAK DI RSUP HASAN SADIKIN BANDUNG</dc:title>
	<dc:creator>Wardana, Artha Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Aditya, Ricky</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Intracranial pressure, length of stay intensive care unit, optic nerve sheath diameter</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Length of Stay Intensive Care Unit, Optic Nerve Sheat Diameter,  Tekanan intrakranial</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Elevated intracranial pressure (ICP) is a common complication after craniotomy, often causing decreased consciousness, ventilator dependence, and prolonged ICU stay. Invasive ICP monitoring carries risks, while non-invasive methods such as optic nerve sheath diameter (ONSD) measurement via ultrasonography offer a promising alternative. This study aimed to examine the correlation between ONSD and ICU length of stay (LOS) in post-craniotomy patients.Methods: A prospective observational study was conducted at the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from February to April 2024. Post-craniotomy patients admitted to the ICU were included. ONSD was measured 12–24 hours after ICU admission. Data collected included ONSD, demographics, preoperative clinical status, and ICU records. The relationship between ONSD and ICU LOS was analyzed using Pearson correlation and multivariable analysis.Results: Thirty-three patients were included (mean age 48.2 years; 60.6% male). Median preoperative GCS was 10.8, and 54.5% were ASA III/IV. ONSD correlated positively with ICU LOS (r = 0.636, p &lt; 0.001). Multivariable analysis showed that ONSD ≥ 5.0 mm was independently associated with prolonged ICU stay (≥7 days) after adjusting for GCS and postoperative complications.Discussion: A larger ONSD, reflecting higher ICP, was moderately associated with longer ICU stay, suggesting that non-invasive ONSD measurement can serve as a useful marker for resource utilization. However, further studies with larger cohorts are needed to validate its predictive role.Conclusion: ONSD measurement is a reliable non-invasive parameter that shows a significant correlation with ICU length of stay in post-craniotomy patients.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">AbstrakPeningkatan TIK   merupakan masalah yang sering  terjadi pada pasien pascabedah otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran pada pasien sehingga sulit untuk lepas dari bantuan ventilasi sehingga memperpanjang lama perawatan di ICU. Pemantauan TIK dengan metode invasif tidak rutin dilakukan dan memiliki berbagai resiko dan komplikasi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi seperti ONSD dapat menjadi alternatif untuk mengevaluasi  peningkatan TIK pada otak. Riset ini ini merupakan penelitian prospektif observasional untuk mengetahui korelasi ONSD dengan length of stay ICU pada pasien pasca operasi bedah otak. Subjek penelitian adalah pasien pascabedah otak yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2024. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan ONSD pada pasien pascabedah otak 12-24 jam setelah  admisi di ICU. Pada penelitian ini didapatkan jumlah pasien yang disertakan sebanyak 33 pasien. Data yang diambil meliputi hasil pengukuran ONSD, berkas penilaian prabedah, penilaian praanestesi, rekam medis anestesi dan rekam medis ICU. Dari uji Pearson product moment antara ONSD dengan LOS ICU didapatkan koefisien korelasi r = 0,636 dan koefisien determinasi r2 = 0,404 (p &lt; 0,001). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ONSD dan LOS ICU memiliki korelasi positif berkekuatan medium / sedang pada pasien pascabedah otak.  Kata kunci : Length of Stay Intensive Care Unit, Optic Nerve Sheat Diameter,  Tekanan intrakranial</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3986</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.3986</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 182-190</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 182-190</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3986/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3986/5001</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3986/5002</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/117</identifier>
				<datestamp>2025-08-22T04:53:11Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efektivitas Anestesi Spinal Menggunakan Bupivakain Isobarik dengan Bupivakain Hiperbarik pada Pasien yang Menjalani Operasi Abdomen Bagian Bawah</dc:title>
	<dc:creator>Longdong, Jeffry F.</dc:creator>
	<dc:creator>Redjeki, Ike Sri</dc:creator>
	<dc:creator>Wargahadibrata, A. Himendra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penyebaran obat anestesi lokal pada anestesi spinal sangat ditentukan oleh barisitas obat anestesi lokal dan posisi pasien. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan anestesi spinal menggunakan bupivakain 0,5% isobarik hiperbarik terhadap lama kerja blokade sensoris dan tinggi blokade sensoris pada operasi abdomen bagian bawah. Penelitian eksperimental secara randomized control trial (RCT) pada 40 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 17–60 tahun yang menjalani operasi abdomen bagian bawah di ruang operasi bedah sentral Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari sampai April 2011. Pasien dibagi dalam kelompok isobarik dan kelompok hiperbarik. Tinggi blokade sensoris, lama kerja blokade sensoris dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test, chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan lama kerja blokade sensoris pada kelompok isobarik lebih panjang dibandingkan dengan kelompok hiperbarik (242,4 menit SB 28,04 vs 132,95 menit SB 11,33) dengan perbedaan yang bermakna (p&lt;0,001). Tinggi blokade sensoris pada kelompok isobarik lebih rendah dibandingkan dengan bupivakain kelompok hiperbarik. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bupivakain isobarik mempunyai penyebaran lebih rendah dan lama kerja lebih panjang. Kata kunci: Abdomen bagian bawah, analgesia spinal, barisitas ,bupivakain, obat anestesi lokal, teknik anestesiEffectivity of Spinal Anaesthesia Using Isobaric Bupivacaine and Hyperbaric Bupivacaine on Patients Undergoing Lower Abdominal SurgeryDistribution of local anesthetics in spinal anesthesia is most determined by baricity and position. The study was conducted to explore the comparison of effect between spinal anesthesia technique using 0.5% isobaric bupivacaine with 0.5% hyperbaric bupivacaine on duration and level of sensory blocking action in lower abdominal surgery. This experimental study was conducted using randomized control trial (RCT)in 40 patients with physical ASA I–II status, aged 17–60 years, who underwent lower abdominal surgery in central operating theatre Dr. Hasan Sadikin Hospital-Bandung within January to April 2011. The patients were divided into two groups, the hyperbaric group and the isobaric group. The recording included sensory blocking level, sensory blocking duration, and statistical analysis using Student t-test and chi-square test. . Sensory blocking levels in isobaric group were lower than those in hyperbaric group. The conlusion of the study indicates that isobaric bupivacaine has lesser distribution and longer duration of action.Key words: Anesthesia technique, baricity, bupivacaine, local anesthetics, lower abdomen, spinal analgesia  DOI: 10.15851/jap.v1n2.117</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2013-08-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/117</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 1, No 2 (2013); 69-77</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 1, No 2 (2013); 69-77</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/117/109</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/117/remote</dc:relation>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3048</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:51Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hiperkapnia sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID-19</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Hiperkapnia Sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID-19 di Ruang Rawat Intensif</dc:title>
	<dc:creator>Wijaya, Indra</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Erlangga, M. Erias</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19, hiperkapnia, mortalitas, PaCO2</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19; Terapi Intensif; Hiperkapnia; Mortalitas; PaCO2</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Proses aktivasi trombosis intravaskular pada COVID-19 menyebabkan komplikasi trombosis mikrovaskular dan makrovaskular sehingga terjadi peningkatan ruang mati paru dan meningkatkan kadar PaCO2. Hiperkapnia menyebabkan banyak perubahan fisiologis dalam tubuh meliputi sirkulasi paru dan sistemik dan meningkatkan risiko mortalitas pasien ARDS. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas pasien COVID-19. Penelitian dilakukan berdasarkan data pasien pada periode Maret 2020–Desember 2021. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Data PaCO2 pasien diambil saat hari pertama pasien dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin dan status mortalitas pasien di hari rawat ke-7 dan 28 hari. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis bivariabel simple regression logistic. Hasil analisis statistik diperoleh nilai p&lt; 0,05 dengan OR = 7,07 (CI 2,519–19,850) pada mortalitas hari ke-7, dan nilai p&lt; 0,05 OR 44,33 (CI 9,182–214,062) pada mortalitas hari ke-28. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas hari ke-7 dan ke-28 perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat di ruang rawat intensif isolasi.Hypercapnia as Mortality Predictor in COVID-19 PatientsThe SARS-CoV-2 virus causes COVID-19, an acute respiratory illness that caused a global pandemic. The activation of intravascular thrombosis in COVID-19 results in microvascular and macrovascular thrombosis complications, which increase lung dead space and PaCO2 levels. The hypercapnia condition causes many physiological changes in the body, including pulmonary and systemic circulation. It is known to increase the mortality risk in ARDS patients admitted to the Intensive Care Unit (ICU). This study aimed to determine if hypercapnia was a mortality predictor in COVID-19 patients treated in the isolation intensive care unit at Hasan Sadikin Hospital in Bandung. This observational analytic study used an observational analytic design with a retrospective cohort. The patient's PaCO2 data was collected on the first day of hospitalization in the ICU, and the patient's mortality status was collected on the 7th and 28th days of hospitalization. According to the statistical analysis, hypercapnia was associated with higher mortality, OR 7.07 (CI 2.519–19.850) on the 7th-day mortality and 44.33 (CI 9.182–214.062) on the 28th-day mortality, P value &lt; 0.05. In conclusion, hypercapnia is a mortality predictor on the 7th and 28th days of treatment in COVID-19 patients treated in the isolation intensive care unit. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Proses aktivasi trombosis intravascular pada COVID-19 menyebabkan komplikasi trombosis mikrovaskular dan makrovaskular sehingga terjadi peningkatan ruang mati paru dan meningkatkan kadar PaCO2. Hiperkapnia menyebabkan banyak banyak perubahan fisiologis dalam tubuh, meliputi sirkulasi paru dan sistemik dan diketahui meningkatkan resiko mortalitas pasien ARDS yang di rawat di ICU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hiperkapnia sebagai prediktor mortalitas pasien COVID-19 yang dirawat diruang rawat intensif isolasi RSUP Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan berdasarkan data pasien pada periode Maret 2020 – Desember 2021. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Data PaCO2 pasien diambil saat hari pertama pasien dirawat di ICU dan status mortalitas pasien di hari rawat ke-7 dan 28 hari. Dari hasil analisis statistik diperoleh nilai P &lt; 0,05 dengan OR = 7,07 (CI 2,519 – 19,850) pada mortalitas hari ke-7, dan nilai P &lt; 0,05 OR 44,33 (CI 9,182 – 214,062) pada mortalitas hari ke-28. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan kondisi hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas hari ke-7 dan ke-28 perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat di ruang rawat intensif isolasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3048</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.3048</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 198–204</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 198–204</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3048/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3669</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3761</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3762</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3763</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3631</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T07:01:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Terapi Substitusi Ginjal pada Sindrom Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelets (HELLP) dan Cedera Ginjal Akut</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Terapi Substitusi Ginjal pada Sindrom HELLP ( Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelets) dan Cedera Ginjal Akut</dc:title>
	<dc:creator>Tanto, Dedi</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">AKI; CRRT; HELLP; PEB; RRT</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anaesthesiology, intensive care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">PEB, sindrom HELLP, AKI, RRT, CRRT</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Renal replacement therapy (RRT)/terapi substitusi ginjal untuk pasien cedera ginjal akut di unit perawatan intensif menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre-eklamsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dL. Pasien hamil dengan pre-eklamsia berat (PEB) dan sindrom hemolysis, elevated liver enzymes levels and low platelet levels (HELLP) merupakan salah satu faktor risiko cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresivitas terjadi strok iskemik Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan pascaoperasi sectio caesaria dengan indikasi gawat janin pada pre-eklamsia berat disertai cerebrovascular disease infarct, acute kidney injury dd/acute on chronic kidney disease, asidosis metabolik, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Pascaoperasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan kadar kreatinin dan terjadi hiperkalemia refrakter maka pada pasien dilakukan continuous renal replacement therapy. (CRRT). Tujuan CRRT pada pasien ini adalah menekan progresivitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika, serta menghindari progresivitas cerebrovascular disease (CVD) iskemik.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Terapi substitusi ginjal (RRT) untuk pasien cedera ginjal akut (AKI) di unit perawatan intensif (ICU) menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre eklampsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dl. Pasien hamil dengan preeklampsia dan sindroma HELLP merupakan salah satu faktor resiko untuk terjadinya cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresifitas terjadinya stroke iskemik 1,2,3Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan post operasi SC dengan indikasi gawat janin pada pre eclampsia berat disertai CVD infarct, AKI dd/ acute on CKD, asidosis metabolic, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSU. Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Paska operasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan nilai creatinine dan terjadinya hiperkalemia refrakter, maka pada pasien dilakukan CRRT. Tujuan dilakukan CRRT pada pasien ini adalah untuk menekan progresifitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika serta menghindari progresifitas CVD iskemik.Penggunaan modalitas terapi substitusi ginjal pada pasien preeklampsia dengan cedera ginjal akut, pneumonia dan CVD iskemik berguna untuk menekan progresifitas penurunan fungsi ginjal dan evolusi CVD iskemik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3631</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3631</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 70-80</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 70-80</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3631/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3631/4493</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3631/4494</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4413</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik dan Analgetik pada Vitrektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik  dan Analgetik pada Vitrektomi</dc:title>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Nadya, Siti Fairuz</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:creator>Tavianto, Doddy</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar; fentanil; ropivakain; stabilitas hemodinamik; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Regional Anesthesia; Eye block</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Blokade peribulbar; fentanil; ropivakain; stabilitas hemodinamik; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Studi ini merupakan penelitian pertama yang membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Desain penelitian ini adalah single blind randomized controlled trial yang melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/ml. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan, Mann Whitney dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, dan MAP antara kedua kelompok (p&gt;0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/ml memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Penelitian dilaksanakan di Netra Klinik Spesialis Mata 2 Bandung sejak Juni–Agustus 2024 yang menggunakan single blind randomized controlled trial dengan melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri atas 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji-t tidak berpasangan, Mann Whitney dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastol, dan MAP antara kedua kelompok (p&gt;0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/mL memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">No supporting agent</dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4413</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4413</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 105-113</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 105-113</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4413/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5658</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5660</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5674</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5919</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2617</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Respons Peserta PPDS Anestesi FK Unpad terhadap Pernyataan Seputar COVID-19 dan Tata laksana Jalan Napas Pasien COVID-19</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Respons Peserta PPDS Anestesi FK Unpad Terhadap Pernyataan Seputar COVID-19 dan Tatalaksana Jalan Napas Pasien COVID-19</dc:title>
	<dc:creator>Herman, Hansen Wangsa</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19, peserta PPDS anestesi, tata laksana jalan napas COVID-19</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesiologi; Manajemen Perioperatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19, Peserta PPDS Anestesi, Tatalaksana Jalan Napas COVID-19</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi adalah salah satu tenaga kesehatan yang rentan terinfeksi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh paparan droplet dan aerosol saat mereka mengerjakan prosedur tata laksana jalan napas pasien. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bagaimana respons peserta PPDS anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) terhadap pernyataan seputar COVID-19 dan tata laksana jalan napas pada pasien COVID-19. Penelitian ini adalah sebuah studi deskriptif dengan desain potong lintang.  Pengambilan data secara survei daring yang dilakukan kepada sebanyak 98 peserta PPDS Anestesi bulan Oktober 2021. Data penelitian terdiri atas karakteristik partisipan, respons terhadap pernyataan seputar COVID-19, dan tata laksana jalan napas pasien COVID-19. Data kemudian dianalisis dengan metode statistika deskriptif dengan aplikasi SPSS versi 26. Hasil penelitian ini adalah mayoritas peserta PPDS anestesi FK Unpad menunjukkan respons yang sesuai dengan referensi yang ada kecuali respons terhadap pernyataan mengenai periode inkubasi, lokasi pemeriksaan praoperatif, karantina setelah intubasi, dan masker laring sebagai pilihan pertama pembukaan jalan napas, dan pemberiaan pra-medikasi bagi pasien COVID-19 yang akan dianestesi. Simpulan penelitian ini adalah walaupun mayoritas peserta PPDS Anestesi FK Unpad sudah memberikan respons yang sesuai, namun masih diperlukan peningkatan literasi mengenai COVID-19, dan tata laksana jalan napas pasien COVID-19 agar mereka semakin aman dalam pekerjaannya. Responses of Universitas Padjadjaran Anesthesiology Residents to COVID-19 and Airway Handling for COVID-19 PatientsAnesthesiologists are healthcare workers vulnerable to COVID-19 infection as they are exposed to droplets and aerosols when working with patients' airways. This study aimed to describe how anesthesiology residents of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran responded to statements about COVID-19 and airway management in COVID-19 patients. This research was a descriptive study with a cross-sectional design. Data were collected through an online survey of 98 anesthesiology resident participants in October 2021. The data collected consisted of participant characteristics, responses to statements about COVID-19, and airway management of COVID-19 patients. Data analysis used descriptive statistical methods using the SPSS version 26 application. Study results were: most of the participants showed an appropriate response according to existing references except for responses to statements regarding the incubation period, preoperative examination location, quarantine after intubation, and laryngeal mask as the first choice to establish an airway, and providing premedication for COVID-19 patients who would be anesthetized. This study concludes that although most participants have responded appropriately, they must increase literacy about COVID-19 and the airway management of COVID-19 patients to remain secure at work. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi adalah salah satu tenaga kesehatan yang rentan terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh paparan droplet dan aerosol saat mereka mengerjakan prosedur tatalaksana jalan napas pasien. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bagaimana respons peserta PPDS anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK UNPAD) terhadap pernyataan seputar COVID-19 dan tatalaksana jalan napas pada pasien COVID-19. Penelitian ini adalah sebuah studi deskriptif dengan desain potong lintang.  Pengambilan data secara survei daring yang dilakukan kepada sebanyak 98 peserta PPDS Anestesi bulan Oktober 2021. Data penelitian terdiri atas karakteristik partisipan, respons terhadap pernyataan seputar COVID-19 dan tatalaksana jalan napas pasien COVID-19. Data kemudian dianalisis dengan metode statistika deskriptif dengan aplikasi SPSS versi 26. Hasil penelitian ini adalah mayoritas peserta PPDS anestesi FK UNPAD menunjukkan respons yang sesuai dengan referensi yang ada kecuali respons terhadap pernyataan mengenai periode inkubasi, lokasi pemeriksaan pra-operatif, karantina setelah intubasi, dan masker laring sebagai pilihan pertama pembukaan jalan napas, dan pemberiaan pra-medikasi bagi pasien COVID-19 yang akan dianestesi. Simpulan penelitian ini adalah walaupun mayoritas peserta PPDS Anestesi FK UNPAD sudah memberikan respons yang sesuai namun masih diperlukan peningkatan literasi mengenai COVID-19 dan tatalaksana jalan napas pasien COVID-19 agar mereka semakin aman dalam pekerjaannya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2617</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2631</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 95–106</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 95–106</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2617/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3042</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3044</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3045</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3047</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3048</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3480</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner</dc:title>
	<dc:creator>Swari, Rani Pradnya</dc:creator>
	<dc:creator>Sanjaya, Dewa Ngakan Gde Dwija</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Awake Intubation; kekakuan leher; manajemen jalan napas sulit; sendi temporomandibular tidak teraba</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia, Anesthesiology, Perioperative</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Awake Intubation, Difficult airway</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Laporan kasus ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan napas yang sulit di daerah pedesaan dengan kekurangan fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kekurangan obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Abstrak: Laporan kasus ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan nafas yang sulit di daerah pedesaan dengan kurangnya fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kurangnya obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.Kata Kunci: Awake Intubation, sendi temporomandibular tidak teraba, kekakuan leher, manajemen jalan napas sulit.Abstract:  This case report aims to raise awareness about risk challenging and management difficult airway problem in the rural area with lack of facilities on operating room. We report a case of 31-years-old man with large squamous cell carcinoma on the left side of neck who sent for tumor excision and drainage. Patient was assessed with ASA III physical status due to predictive difficult airway and septic suspected. We experienced difficulties to palpable temporomandibular joint and neck stiffness. Patient proceeding with fully awake intubation with some difficulties due to lack of drugs and devices in our hospital. The patient was awake extubated safely after surgery process and transported to the ICU.Keywords: Awake Intubation, unpalpable temporomandibular joint, neck stiffness, difficult airway management</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">dr. Dewa Ngakan Gde Dwija Sanjaya, Sp.An, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, RSUD Bangli</dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3480</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3480</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 185-191</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 185-191</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3480/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4266</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4267</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4268</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4269</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3761</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:40Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Pemberian Profilaksis Fenilefrin dan Efedrin terhadap Hemodinamik Ibu dan Bayi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN PEMBERIAN PROFILAKSIS ANTARA PHENYLEPHRINE DAN EFEDRIN TERHADAP HEMODINAMIK MATERNAL DAN EFEKNYA PADA AGDA DAN APGAR SKOR BAYI</dc:title>
	<dc:creator>Siregar, Ahmad Solihin</dc:creator>
	<dc:creator>Tanjung, Qadri Fauzi</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">AGDA; APGAR; efedrin; fenilefrin; hemodinamik maternal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">AGDA, APGAR, efedrin, hemodinamik maternal, phenylephrine</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Anestesi spinal pada ibu hamil sering menyebabkan hipotensi yang dapat memengaruhi kondisi ibu dan bayi. Fenilefrin saat ini menjadi pilihan utama karena dianggap lebih aman terhadap janin dibanding dengan efedrin. Kedua agen vasopresor ini diketahui memengaruhi parameter penting seperti tekanan darah maternal, pH darah umbilikal, skor APGAR, dan analisis gas darah, namun efektivitasnya masih menjadi perdebatan, terutama pada kondisi gawat janin. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas fenilefrin dan efedrin sebagai profilaksis dalam mempertahankan hemodinamik maternal serta pengaruhnya terhadap analisis gas darah arteri (AGDA) dan skor APGAR pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 38 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah sistol dan MAP (p&gt;0,05), namun terdapat perbedaan signifikan pada tekanan diastol dan denyut jantung (p&lt;0,05). Skor APGAR pada menit ke-0 dan ke-5 juga menunjukkan perbedaan signifikan (p&lt;0,05), sedangkan AGDA tidak berbeda secara signifikan.Simpulan, kedua obat efektif dalam mempertahankan hemodinamik maternal, namun fenilefrin menunjukkan hasil yang lebih baik pada skor APGAR dan AGDA.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan: Phenylephrine adalah pilihan untuk mengatasi hipotensi pada anestesi spinal pada pasien yang menjalani seksio sesarea, karena tidak memengaruhi janin. Penggunaan efedrin atau phenylephrine dapat memengaruhi parameter seperti pH darah umbilikal, nilai APGAR, dan analisa gas darah, dengan bukti yang mengarah pada manfaat phenylephrine. Namun, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami pengaruh kedua vasopresor ini, terutama dalam kasus gawat janin akut.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa perbandingan phenylephrine dan efedrin sebagai profilaksis dalam mempertahankan hemodinamik maternal dan pengaruh terhadap Analisa gas darah arteri dan skor APGAR bayi setelah seksio sesarea dengan spinal anestesi.Metode: Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda dengan membandingkan 2 kelompok, yaitu 19 orang di kelompok yang mendapatkan obat efedrin dan 19 orang mendapatkan obat phenylephrine.Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara efek obat efedrin dan phenylephrine terhadap TD sistolik dan MAP pada kelompok pasien yang diberikan obat tersebut (p&gt;0,05). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada TD diastolik dan denyut jantung antara kedua kelompok (p&lt;0,05). Selain itu, nilai APGAR skor pada menit ke-0 dan menit ke-5 pada kelompok phenylephrine maupun efedrin masing-masing berbeda secara bermakna (p&lt;0,05), yang berarti terdapat perubahan nilai APGAR skor yang bermakna pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada AGDA pada kelompok phenilephrine bila dibandingkan dengan kelompok efedrin (p&gt;0,05).Kesimpulan: Phenylephrine dan efedrin sama baiknya dalam mempertahankan hemodinamik maternal, tetapi lebih baik dalam nilai APGAR dan AGDA bila dibandingkan dengan efedrin. Kata Kunci : AGDA, APGAR, efedrin, hemodinamik maternal, phenylephrine</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3761</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3761</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 33-40</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 33-40</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3761/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3761/5861</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2561</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Spray Lidokain pada Pipa Endotrakea terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaoperasi yang Dihubungkan dengan Lama Anestesi/Intubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektivitas Spray Lidokain pada Pipa Endotrakea terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaoperasi yang Dihubungkan dengan Lama Anestesi/Intubasi</dc:title>
	<dc:creator>Salsabila, Novie</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lama anestesi/intubasi; lidokain; nyeri tenggorok pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiologu; Medical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">lama anestesi/intubasi; lidokain; nyeri tenggorok pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Postoperative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi anestesi yang mengurangi kenyamanan pasien dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Lidokain merupakan salah satu medika mentosa yang dapat digunakan untuk mencegah POST. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas spray lidokain pada endotracheal tube (ETT) yang dihubungkan dengan lama anestesi/intubasi pada periode Desember 2020–Februari 2021 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji klinis dilakukan terhadap 113 subjek yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu dengan lama operasi &lt;1 jam (kelompok 1), 1–2 jam (kelompok 2), dan &gt;2 jam (kelompok 3). Penilaian dilakukan pada jam ke-0, 1, 6, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis post-hoc menggunakan uji Mann Whitney. Terdapat perbedaan POST yang signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 3, serta kelompok 2 dengan 3 (p&lt;0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 2 (p&gt;0,05). Pemberian lidokain pada ETT untuk mencegah POST efektif pada lama anestesi/intubasi kurang dari 2 jam. Diperlukan modalitas lain untuk mencegah POST pada operasi dengan durasi lebih dari 2 jam.Effectiveness of Lidocaine Spray for Preventing Postoperative Sore Throat in Several Durations of AnesthesiaPostoperative sore throat (POST) is a common postoperative complaint after general anesthesia, which can cause dissatisfaction and discomfort after surgery. Lidocaine is one of the drugs used to reduce or prevent POST. This study aimed to determine the effectiveness of lidocaine in preventing POST at various durations of anesthesia/intubation. The study was conducted from December 2020 to February 2021 at Dr. Hospital. Hasan Sadikin Bandung. This study enrolled 113 subjects who were divided into three groups, namely the group with a duration of anesthesia/intubation of less than 1 hour (group 1), between 1–2 hours (group 2), and the group with a duration of more than 2 hours (group 3). The postoperative sore throat was assessed immediately after the patient was extubated, 1, 6, and 24 hours post-extubation. Nonparametric statistical analysis was performed with the Kruskal Wallis test. The results showed that the severity of POST was statistically different between the groups (p&lt;0.05). Post-hoc analysis using the Mann-Whitney test showed significant differences between groups 1 and 3 and between groups 2 and 3 (p&lt;0.05). The difference was not statistically significant in group 1 compared to group 2 (p&gt;0.05). Administration of a lidocaine spray for preventing POST is effective in an anesthetic duration of fewer than 2 hours. Other modalities may be required for an anesthesia duration of more than 2 hours. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Postoperative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi anestesi yang mengurangi kenyamanan pasien dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Lidokain merupakan salah satu medika mentosa yang dapat digunakan untuk mencegah POST. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas spray lidokain pada endotracheal tube (ETT) yang dihubungkan dengan lama anestesi/intubasi pada periode Desember 2020–Februari 2021 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji klinis dilakukan terhadap 113 subjek yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu dengan lama operasi &lt;1 jam (kelompok 1), 1–2 jam (kelompok 2), dan &gt;2 jam (kelompok 3). Penilaian dilakukan pada jam ke-0, 1, 6, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis post-hoc menggunakan uji Mann Whitney. Terdapat perbedaan POST yang signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 3, serta kelompok 2 dengan 3 (p&lt;0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 2 (p&gt;0,05). Pemberian lidokain pada ETT untuk mencegah POST efektif pada lama anestesi/intubasi kurang dari 2 jam. Diperlukan modalitas lain untuk mencegah POST pada operasi dengan durasi lebih dari 2 jam.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2561</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2561</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 58-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 58-64</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2561/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2561/2815</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2561/2816</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3295</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:04Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Anestesi Dosis Rendah pada Pasien Asma dan Suspek Hipertiroid yang  Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Anestesi Dosis Rendah pada Pasien Asma dan Suspek Hipertiroid yang Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus</dc:title>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Ridharakhim, Hernanda</dc:creator>
	<dc:creator>Hartani, Hartani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Asma; hipertiroid; ketuban pecah dini; seksio sesarea</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia, Anestesi Obstetri</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Asma, hipertiroid, ketuban pecah dini, seksio sesarea</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kehamilan dengan penyakit sistemik merupakan kasus yang menjadi perhatian khusus. Asma sebagai penyakit penyerta berisiko tinggi pada jalan napas ibu, sedangkan hipertiroid merupakan salah satu penyakit sistemik pada kehamilan yang dapat menimbulkan kegawatan pada ibu dan janin. Terdapat beberapa laporan kasus terkait manajemen anestesi pada ibu hamil dengan asma maupun hipertiroid, namun masih jarang yang membahas keduanya secara bersamaan. Kami melaporkan wanita 25 tahun dengan G2P1A0 yang menjalani seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dini, hipertiroid, asma intermiten, dan riwayat seksio sesarea. Tekanan darah 143/93 mmHg, laju nadi 111 kali per menit, saturasi 98–100% udara ruang. Pemeriksaan preoperasi didapatkan eksoftalmus, tremor, dan benjolan di leher. Pemeriksaan jantung didapatkan bunyi jantung I–II reguler tanpa murmur, suara paru vesikular dengan mengi minimal di kedua lapang paru. Pemeriksaan leopold didapatkan janin tunggal dengan presentasi kepala, denyut jantung janin 141 kali per menit. Pasien stabil selama operasi dengan anestesi spinal menggunakan bupivakain 7,5 mg adjuvan fentanil 25 mcg. Manajemen anestesi dengan multikomorbid memerlukan tata laksana yang cermat untuk memperoleh luaran yang baik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kehamilan dengan penyakit sistemik merupakan kasus yang menjadi perhatian khusus. Asma sebagai penyakit penyerta berisiko tinggi pada jalan napas ibu. Sedangkan hipertiroid merupakan salah satu penyakit sistemik pada kehamilan yang dapat menimbulkan kegawatan pada ibu dan janin. Terdapat beberapa laporan kasus terkait manajemen anestesi pada ibu hamil dengan asma maupun hipertiroid, namun masih jarang yang membahas keduanya secara bersamaan. Kami melaporkan wanita 25 tahun dengan G2P1A0 yang menjalani seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dini, hipertiroid, asma intermiten, dan riwayat seksio sesarea. Tekanan darah 143/93 mmHg, laju nadi 111 kali per menit, saturasi 98-100% udara ruang. Pemeriksaan preoperasi didapatkan eksoftalmus, tremor, dan benjolan di leher. Pemeriksaan jantung didapatkan bunyi jantung I-II reguler tanpa murmur, suara paru vesikuler dengan mengi minimal di kedua lapang paru. Pemeriksaan leopold didapatkan janin tunggal dengan presentasi kepala, denyut jantung janin 141 kali per menit. Pasien stabil selama operasi dengan anestesi spinal menggunakan bupivacaine 7,5 mg ajuvan fentanil 25 mcg. Manajemen anestesi dengan multikomorbid memerlukan tatalaksana yang cermat untuk memperoleh luaran yang baik</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3295</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3295</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 116-124</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 116-124</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3295/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3295/4028</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3779</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:17:32Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi antara Doppler-Based Renal Resistive Index dan Nilai Kreatinin pada Pasien Sakit Kritis</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">KORELASI ANTARA DOPPLER-BASED RENAL RESISTIVE INDEX DAN NILAI KREATININ PADA PASIEN SAKIT KRITIS</dc:title>
	<dc:creator>Tanto, Dedi</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Erlangga, Erias</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kreatinin serum; RRI; sakit kritis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">kreatinin serum, RRI, sakit kritiskreatinin serum, RRI, sakit kritis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Indeks resistriksi renal/renal resistive index (RRI) merupakan pemeriksaan ultrasonografi non invasif untuk menilai renovascular dan dapat dilakukan dengan prinsip point-of-care testing (POCT) RRI merefleksikan perubahan aliran darah arteri intrarenalis, yang dapat terganggu pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yang tercermin dalam peningkatan nilai kreatinin serum. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara RRI dan nilai kreatinin serum pada pasien sakit kritis di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, dari Mei hingga Agustus 2023. Sebanyak 51 pasien berusia 18–65 tahun menjalani pemeriksaan RRI dan kreatinin serum pada 24 jam pertama dan kedua setelah masuk ICU. Analisis korelasi menunjukkan nilai R sebesar 0,538, koefisien determinasi (r²) sebesar 0,298, dan nilai p&lt;0,001. Hasil ini menunjukkan korelasi positif moderat antara RRI dan nilai kreatinin serum.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemeriksaan indeks resistriksi renal / Renal Resistive Index (RRI) merupakan bagian dari pemeriksaan ultrasonografi non invasif terhadap renovaskular serta dapat dilakukan dengan prinsip POCT ( Point-of-Care Testing ) , dan RRI merefleksikan perubahan profil aliran darah arteri arkuata intrarenalis atau arteri interlobaris renalis. Gangguan fungsi ginjal akan mengakibatkan peningkatan nilai kreatinin serum. Perubahan profil aliran darah pembuluh arteri intra renal juga ditemukan pada gangguan fungsi ginjal. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dan  analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara nilai parameter RRI dengan peningkatan nilai kreatinin serum yang diakibatkan oleh kerusakan sel ginjal yang terjadi pada pasien sakit kritis yang dirawat dalam kurun waktu Mei hingga Agustus 2023 di ICU RSUP. dr. Hasan Sadikin, Bandung. 51 pasien dengan rentang usia 18 – 65 tahun dilakukan pemeriksaan RRI dan nilai kreatinin serum dalam kurun waktu 24 jam pertama dan 24 jam kedua sejak pasien diterima rawat di ICU.Nilai R untuk nilai korelasi RRI dengan nilai kreatinin serum sebesar 0.538 ; koefisien determinasi r2 = 0,298 ; nilai p &lt; 0.001. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa RRI memiliki korelasi positif dengan nilai kreatinin serum dengan kekuatan korelasi moderate. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3779</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3779</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 183-192</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 183-192</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3779/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3779/5300</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3779/5301</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2484</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:27Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Pemberian EMLA 5% Dibanding dengan Spray Etil Klorida Spray untuk Mengurangi Nyeri pada Suntikan Jarum Epidural</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektifitas Pemberian EMLA 5 % Dibandingkan dengan Etil Klorida Spray untuk Mengurangi Nyeri pada Suntikan Jarum Epidural</dc:title>
	<dc:creator>Purnomo, Heri Dwi</dc:creator>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Citra, Ariffandy Dwi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi, epidural,  Nyeri (VAS) spray etil klorida</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi ; EMLA 5 %; Epidural; Ethil Klorida Spray; Nyeri (VAS)</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pada saat penyuntikan jarum epidural menjadi kekurangan terhadap aplikasi tindakan epidural. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektivitas pemberian EMLA 5% dibanding dengan etil klorida spray untuk mengurangi nyeri pada suntikan jarum epidural dengan skor visual analoge scale (VAS). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan pendekatan uji klinis dengan teknik single blind. Terdapat 30 subjek penelitian menjalani tindakan epidural di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan status fisik ASA I dan II berusia  20–65 tahun. Sampel meliputi 10 subjek dengan pemberian EMLA 5%, 10 subjek etil klorida spray dan 10 subjek lidokain 2%. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pengukuran intensitas nyeri dengan skor VAS pada kedalaman jarum epidural 0,5–1 cm dan 1–4 cm. Hasil pemberian EMLA 5% memberikan hasil yang lebih baik terhadap nilai VAS saat penyuntikan jarum epidural dibanding dengan etil klorida spray, perbedaan tingkat nyeri ditunjukkan pada kedalaman jarum epidural 0,5–1 cm (p=0,006) dan 1–4 cm p=0,000 (p&lt;0,05). Simpulan, pemberian EMLA 5% efektif mengurangi rasa nyeri pada suntikan epidural.Effectiveness of EMLA 5% Administration Compared to Ethyl Chloride Spray to Reduce Pain in Epidural Needle InjectionsPain at the time of injection of the epidural needle becomes a drawback to applying epidural action. This study aimed to determine the difference in the effectiveness of administrating EMLA 5% compared to ethyl chloride spray to reduce pain on epidural needle injections with a visual analog scale (VAS) score. This study was experimental research with a clinical trial approach with a single-blind technique. There were 30 research subjects undergoing an epidural at Dr. Moewardi Hospital Surakarta with the physical status of ASA I and II, aged between 20–65 years. The samples included ten subjects with 5% EMLA administration, ten subjects with ethyl chloride spray, and ten with 2% lidocaine. After randomization, pain intensity was measured with a VAS score at an epidural needle depth of 0.5–1 cm and 1–4 cm. The administration of EMLA 5% gave better results on the VAS value when injecting the epidural needle compared to ethyl chloride spray; the difference in pain level was shown at the epidural needle depth of 0.5–1 cm (p=0.006) and 1–4 cm p=0.000. In conclusion, administration of 5% EMLA is effective in reducing pain on epidural injections.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri pada saat penyuntikan jarum epidural menjadi kekurangan terhadap aplikasi tindakan epidural. Berkembangnya ilmu pengetahuan dibidang anestesia, khususnya penanganan nyeri, dikembangkan konsep penanganan nyeri yang dilakukan sebelum nyeri muncul. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui perbedaan efektifitas pemberian EMLA 5 % dibanding dengan Ethil klorida Spray untuk mengurangi nyeri pada suntikan jarum epidural dengan skor VAS (Visual Analoge Scale). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan pendekatan uji klinis dengan teknik single blind. Terdapat 30 subjek penelitian menjalani tindakan epidural di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan status fisik ASA I dan II berumur antara 20-65 tahun. Sampel meliputi 10 subyek dengan pemberian EMLA 5 %, 10 subyek Ethil Klorida Spray dan 10 subyek Lidokain 2%. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pengukuran intensitas nyeri dengan skor VAS pada kedalaman jarum epidural 0,5-1cm dan 1-4 cm. Hasil Pemberian EMLA 5 % memberikan hasil yang lebih baik terhadap nilai VAS (Visual Analoge Scale) saat penyuntikan jarum epidural dibandingkan Ethil klorida spray, perbedaan tingkat nyeri ditunjukkan pada kedalaman jarum epidural 0,5-1 cm p=0,006 (p&lt;0,05) dan 1-4 cm p=0,000 (p&lt;0,05). Sehingga dapat disimpulkan pemberian EMLA 5% efektif mengurangi rasa nyeri pada suntikan epidural.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2484</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2484</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 168–173</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 168–173</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2484/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2484/2685</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2793</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:54Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio pada Pasien COVID-19 Derajat Berat</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio Pada Pasien Covid-19 Derajat Berat</dc:title>
	<dc:creator>Bustomi, Yazid</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19; Limfosit; P/F rasio</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19, Limfosit,  P/F rasio</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek dirawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125; R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit &lt;1.000 uL dan P/F rasio &lt;150 mmHg (p&lt;0,05). Simpulan, tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada COVID-19 derajat berat, walaupun pada sebagian besar kasus COVID-19 derajat berat didapatkan penurunan limfosit dan P/F rasio. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat sebagai prediktor terjadinya kerusakan paru atau ARDS. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek di rawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125 dan R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit &lt;1000 uL dan P/F rasio &lt;150 mmHg  (p&lt;0,05).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2793</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2793</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 35–42</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 35–42</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2793/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3407</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3408</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3409</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3410</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3411</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3740</identifier>
				<datestamp>2024-09-04T01:27:59Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28) dan Biaya Perawatan Pasien di ICU</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28)  dan Biaya Perawatan Pasien di ICU</dc:title>
	<dc:creator>Nur, Muhammad Ikhwan</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Pison, Osmond Muftilov</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Biaya perawatan ICU; keparahan penyakit; skor APACHE II; skor TISS-28; utilisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">keparahan penyakit; skor APACHE II; skor TISS-28; utilisasi; biaya perawatan ICU</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret–Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor APACHE II, sementara utilisasi sumber daya ICU dinilai dengan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28  harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp6.657.925,00. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r=0,538; r2=0,289; p ≤0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r=0,502;r2=0,253; p≤0,001. Derajat keparahan berdasarkan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret-Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai menggunakan skor APACHE II. Utilisasi sumber daya ICU dinilai menggunakan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28 harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp 6.657.925,-. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r = 0,538; r2 = 0,289; p ≤ 0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r = 0,502 ; r2 = 0,253 ; p ≤ 0,001. Derajat keparahan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan arah korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3740</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3740</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 109-118</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 109-118</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3740/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3740/4631</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3740/4632</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3830</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:32Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Comparative Analysis of Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) and Conventional Spinal Anesthesia on Maternal and Neonatal Outcomes: A Retrospective Study</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Penggunaan Metode ERACS terhadap Kualitas Hidup Ibu dan Anak di Rumah Sakit Bina Sehat</dc:title>
	<dc:creator>Efendi, Erfan</dc:creator>
	<dc:creator>Sisdayani, Alfina Galuh Hannie</dc:creator>
	<dc:creator>Safitri, Athiyah Naura</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APGAR score; caesarean section; early ambulation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ERACS, operasi sesar, mobilisasi dini, durasi rawat inap, apgar score</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: The Caesarean section (CS) rate has increased every year. However, this increase is not entirely due to medical indication. This phenomenon may put bot mothers and newborns at risk of short- and long-term complications associated with CS. Enhanced recovery after caesarean surgery (ERACS) is CS approach that incorporates preoperative, intraoperative, and postoperative. This study compared maternal and neonatal outcomes between ERACS and conventional caesarean delivery.Methods: A retrospective cohort study was conducted using medical records of caesarean deliveries at Bina Sehat Hospital, Jember (Sep tember2022–Aug 2023). Fifty ERACS and fifty conventional cases were included. Outcomes were early ambulation (≤12 h), length of stay (≤2 days), and good APGAR score (7–10) at 1 and 5 minutes. Data were analyzed using chi-square test.Results: Early ambulation (≤12 h) occurred in 38/50 ERACS VS 18/50 conventional cases. Leng of stay ≤2 days occurred in 40/50 ERACS vs 15/50 conventional cases. Good APGAR score in first minute 38/50 ERACS vs 37/50 conventional cases and in fifth minute 48/50 ERACS vs 49/50 conventional cases. The relationship between postoperative ambulation and length of stay is significant.Discussion: Preoperative, intraoperative, and postoperative modifications can accelerate patient mobilization after caesarean section. In addition, early ambulation improves various body functions related to metabolism. Theses factor has direct impact on postoperative ambulation and shorter length of stay.Conclusion: ERACS was associated with higher rate of early postoperative mobilization and shorter hospital length of stay compared with conventional caesarean delivery.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode SC yang menggunakan pendekatan khusus untuk mengoptimalkan kesehatan ibu pre operasi, intraoperasi, dan pasca operasi sesar yang memiliki keunggulan mempercepat waktu pemulihan pasien dan durasi rawat inap pasien. Pada ERACS anestesi yang diberikan dengan dosis rendah dan diberi kombinasi yang dapat berpengaruh pada Apgar score. Analisis observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan September – November 2023 di RS Bina Sehat Jember. Jumlah sampel penelitian sebanyak 100 sampel, dengan rincian 50 ibu dan bayinya yang dilahirkan dengan metode SC ERACS dan 50 ibu dan bayinya yang dilahirkan dengan metode SC konvensional. Data dianalisis menggunakan chi-square untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang bermakna mengenai waktu mobilisasi, durasi rawat inap, dan Apgar bayi score antara metode SC konvensional dengan metode ERACS SC.  Hasil penelitian menunjukkan 56 ibu dapat mobilisasi jalan ≤12 jam pasca operasi dan 44 ibu dapat mobilisasi jalan &gt;12 jam pasca operasi serta 55 ibu dengan durasi rawat inap ≤2 hari dan 35 ibu dengan durasi rawat inap &gt;2 hari. Selain itu pada menit pertama 75 bayi dengan Apgar score baik, 25 bayi dengan Apgar score sedang, serta pada menit kelima terdapat 97 bayi dengan apgar score baik dan 3 bayi dengan apgar score sedang. Terdapat perbedaan signifikan antara metode sectio caesarea yang digunakan dengan kecepatan mobilisasi jalan dan durasi rawat inap pasca operasi pasien, tetapi tidak terdapat perbedaan pada Apgar score pada bayi yang lahir menggunakan sectio caesarea metode konvensional dengan bayi yang lahir menggunakan sectio caesarea.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Jember University</dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3830</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.3830</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 133-138</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 133-138</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3830/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3830/4756</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3830/4759</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2975</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:50Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Delirium Pascaoperasi sebagai Prediktor Mortalitas pada Geriatri yang Menjalani Operasi Non-Kardiak</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Delirium Pasca Operasi sebagai Prediktor Mortalitas pada Geriatri yang Menjalani Operasi Non-Kardiak: Tinjauan Sistematis</dc:title>
	<dc:creator>Tantri, Aida Rosita</dc:creator>
	<dc:creator>Andreas, Muncieto</dc:creator>
	<dc:creator>Talitaputri, Clarissa Emiko</dc:creator>
	<dc:creator>Johannes, Saur Maruli Evan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi, delirium pascaoperasi, geriatri, mortalitas, operasi non-kardiak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia, Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">delirium postoperatif; mortalitas; geriatri, anestesi; operasi non-kardiak</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Delirium postoperatif merupakan suatu bentuk delirium yang sering tidak disadari serta dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan masih terdapat konflik terkait hubungan delirium pascaoperasi sebagai prediktor mortalitas, terutama pada pasien geriatri. Oleh karena itu, tinjauan sistematis ini bertujuan mengetahui hubungan delirium pascaoperasi sebagai prediktor mortalitas pada pasien geriatri yang menjalani anestesi pada pembedahan non-kardiak. Penelusuran dilakukan melalui database online seperti Medline®, ClinicalKey®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, dan Cochrane®. Telaah kritis terhadap artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dilakukan berdasarkan Center of Evidence-Based Medicine, University of Oxford for prognosis study.Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh tiga studi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Hasil telaah kitis terhadap ketiga studi tersebut menunjukkan tidak terdapat cukup bukti kuat yang mendukung delirium pascaoperasi merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pada pasien geriatri. Delirium pascaoperasi bukan merupakan prediktor independen, namun meningkatkan risiko mortalitas bersama faktor lain seperti frailty, usia, jenis operasi, urgensi operasi, dan komorbid, hingga terdapat studi yang cukup kuat untuk mendukung delirium pascaoperasi bukan sebagai prediktor mortalitas. Klinisi tetap harus berupaya mencegah kondisi delirium pascaoperasi agar tidak menjadi mediator yang meningkatkan risiko mortalitas. Postoperative Delirium as Mortality Predictor in Geriatrics Undergoing Non-Cardiac Surgery: A Systematic ReviewPostoperative delirium is a form of delirium that often goes unrecognized and can increase morbidity and mortality. However, there are still conflicts in previous studies regarding the relationship between postoperative delirium as a predictor of mortality, especially in geriatric patients. Therefore, this systematic review aimed to determine the relationship to postoperative delirium as a predictor of mortality in geriatric patients undergoing anesthesia for non-cardiac surgery. Searches were conducted through online databases such as Medline®, Clinical Key®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, and Cochrane®. A critical review of scientific articles that met the inclusion and exclusion criteria was carried out by the Center for Evidence-Based Medicine, University of Oxford, for prognostic studies. The search resulted in three studies that met the inclusion criteria. A clinical review of these three studies has shown insufficient evidence to support that postoperative delirium is an independent predictor of death in geriatric patients. Postoperative delirium is not an independent predictor but increases the risk of death and other factors such as frailty, age, type of surgery, urgency of surgery, and co-morbidities. Until there are sufficiently robust studies to support postoperative delirium rather than as a predictor of mortality, clinicians should continue to strive to prevent postoperative delirium from becoming a mediator that increases the risk of death.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Latar belakang: Delirium postoperatif merupakan suatu bentuk delirium yang sering tidak disadari serta dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan masih terdapat konflik terkait hubungan delirium postoperatif sebagai prediktor mortalitas, terutama pada pasien geriatri. Oleh karena itu, tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan delirium postoperatif sebagai prediktor mortalitas pada pasien geriatri yang menjalani anestesi pada pembedahan non-kardiak.Metode: Penelusuran dilakukan melalui database online seperti Medline®, ClinicalKey®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, dan Cochrane®. Telaah kritis terhadap artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan berdasarkan Center of Evidence-Based Medicine, University of Oxford for prognosis study.Hasil: Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh tiga studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil telaah kitis terhadap ketiga studi tersebut menunjukkan tidak terdapat cukup bukti yang kuat yang mendukung delirium postoperatif merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pada pasien geriatri.Kesimpulan: Delirium postoperatif bukan merupakan prediktor independen, namun meningkatkan risiko mortalitas bersama faktor lain seperti frailty, usia, jenis operasi, urgensi operasi, dan komorbid. Hingga terdapat studi yang cukup kuat untuk mendukung delirium postoperatif bukan sebagai prediktor mortalitas, klinisi tetap harus berupaya mencegah kondisi delirium postoperatif agar tidak menjadi mediator yang meningkatkan risiko mortalitas.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2975</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2975</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 157–166</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 157–166</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2975/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2975/3570</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3676</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T04:19:50Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Skor Apache II, SOFA, dan NEWS dengan Kejadian Prolonged   Mechanical Ventilator di ICU RSUP H. Adam Malik, Medan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">HUBUNGAN ANTARA SKOR APACHE II, SOFA, EWS  TERHADAP KEJADIAN PROLONGED MECHANICAL VENTILATOR DI ICU RSUP H. ADAM MALIK MEDAN</dc:title>
	<dc:creator>Johan, T. Abdurrahman</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Irina, Rr. Sinta</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APACHE II; NEWS; PMV; SOFA</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">APACHE II, SOFA, NEWS, PMV</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien yang dirawat di ICU sekitar 30−60% membutuhkan ventilasi mekanik. Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa 3−7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan prolonged mechanical ventilator (PMV). Prevalensi individu yang membutuhkan ventilator assisted individuals (VAI) berkisar 6,6 hingga 23 per 100.000 pasien. Individu dengan VAI meningkat mengindikasikan peningkatan kebutuhan ventilasi mekanik yang lama/prolonged mechanical ventilation (PMV) dan prognosis yang lebih buruk. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis apakah penilaian skor APACHE II, SOFA, dan NEWS memiliki hubungan dengan penggunaan ventilator mekanik yang memanjang selama Januari–Desember 2022 di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Desain penelitian ini menggunakan uji analitik retrospektif dengan rancangan cohort. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dipilih dengan metode total sampling. Jumlah sampel 96 pasien yang dinilai skor APACHE, SOFA, NEWS, dan apakah pasien mengalami PMV. Hasil penelitian ini pasien dengan PMV didapatkan skor APACHE dengan nilai median 18, pada skor SOFA 7 dan pada skor NEWS 12, dengan nilai p=0,001 pada ketiga penilaian ditemukan hubungan yang signifikan. Simpulan penelitian ini didapatkan hubungan skor APACHE II, SOFA, dan NEWS dengan kejadian PMV.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Di  antara pasien yang dirawat di ICU, 30 - 60% membutuhkan Ventilasi Mekanik.  Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa  3-7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan PMV (Prolonged Mechanical Ventilator). Prevalensi individu yang membutuhkan  ventilator (ventilator assisted individuals/ VAI) berkisar  antara  6,6  hingga 23 per 100.000  pasien. Meningkatnya individu dengan VAI mengindikasikan  peningkatkan kebutuhan  ventilasi mekanis yang lama (prolonged mechanical  ventilation/  PMV) dan  prognosis yang lebih buruk.  Desain  penelitian  ini menggunakan  uji  analitik  retrospektif dengan rancangan cohort.  Subjek  yang  memenuhi  kriteria  inklusi  dan  eksklusi dipilih dengan  metode total sampling. Dengan total   sampel 96, yang  dinilai skor APACHE,  SOFA,  NEWS, dan  apakah pasien  mengalami  PMV. Dari hasil penelitian ini, pasien  dengan   PMV   didapatkan  skor APACHE   dengan  nilai  median 18, pada skor  SOFA 7,  dan pada skor  NEWS 12, dengan nilai P pada ketiga penilaian 0,001 yang ditemukan  adanya  hubungan yang  signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan hubungan  yang  signifikan  pada  skor APACHE II, SOFA, dan  NEWS  dengan  kejadian  PMV.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3676</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3676</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 26-32</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 26-32</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3676/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3676/4550</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3676/4614</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4426</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Faktor Komorbiditas sebagai Prediktor Mortalitas Sepsis  di Unit Perawatan Intensif</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Faktor Risiko Komorbid pada Mortalitas Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Pramono, Ardi</dc:creator>
	<dc:creator>Maryani, Nova</dc:creator>
	<dc:creator>Wardhani, Ufita Dauma Ummi Nusuka</dc:creator>
	<dc:creator>Ramadhan, Muhammad Tahfiz</dc:creator>
	<dc:creator>Afaki, Sajida Fihrisa</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Gangguan paru; komorbid; mortalitas; sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">sepsis; komorbid; mortalitas; gangguan paru</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh respons berlebihan tubuh terhadap infeksi dan dapat mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun dengan tingkat moralitas 26,7%. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi luaran pasien adalah komorbiditas. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan untuk menilai faktor risiko komorbid yang berhubungan dengan kematian pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pada tahun 2022–2023. Berdasarkan data rekam medik diperoleh 55 subjek dengan sepsis, baik yang meninggal maupun hidup, dengan komorbid meliputi gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, dua faktor berhubungan signifikan dengan mortalitas, yaitu gangguan paru dan gangguan ginjal (p&lt;0,05).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Sepsis adalah kondisi disfungsi organ yang disebabkan oleh reaksi berlebihan tubuh terhadap infeksi dan mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun, dengan tingkat kematian 26,7%. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi akhir pasien sepsis adalah komorbiditas. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan untuk mengetahui faktor risiko komorbid terkait kematian pasien sepsis di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dari data rekam medik diperoleh 55 subjek sepsis meninggal maupun hidup dengan beberapa komorbid yaitu: gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Hasil analisis data menggunakan regresi bivariat chi square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, terdapat dua faktor yang secara signifikan terkait dengan mortalitas pasien sepsis, yaitu gangguan paru, dan gangguan ginjal (p&lt; 0,05).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4426</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4426</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 71-76</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 71-76</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4426/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4426/5689</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4426/5690</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4426/5762</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2431</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:24Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Penambahan Natrium Bikarbonat 1 mEq pada Lidokain 2% dalam Balon ETT untuk Pencegahan Nyeri Tenggorokan Pascaintubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektivitas Penambahan Sodium Bikarbonat 1 mEq pada Lidokain 2% dalam Balon ETT untuk Pencegahan Nyeri Tenggorokan Paska Intubasi</dc:title>
	<dc:creator>Ihsaniar, Aura</dc:creator>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Balon ETT, intubasi, lidokain, nyeri tenggorokan, natrium bikarbonat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Balon ETT, Intubasi, Lidokain, Nyeri tenggorokan, Sodium bikarbonat</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemberian lidokain dalam balon selang endotrakeal dapat berdifusi menyebar menembus dinding membran semipermeabel selang endotrakeal dan merangsang efek anestesi pada trakea. Alkalinisasi lidokain menggunakan natrium bikarbonat (NaHCO3) diprediksi dapat meningkatkan presentasi fraksi obat tidak terionisasi sehingga diharapkan dapat lebih efektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penambahan natrium bikarbonat 1 mEq pada lidokain 2% dalam balon ETT untuk pencegahan nyeri tenggorokan pascaintubasi. Penelitian ini menggunakan metode double-blind randomized controlled trial dari Juli–September 2020 di Rumah Sakit Moewardi Surakarta. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan non-probability sampling dengan metode consecutive sampling yang berjumlah 36 pasien ASA I–II. Sesaat setelah intubasi, balon selang endotrakeal dikembangkan dengan lidokain 2% dan lidokain 2% ditambah NaHCO3 1 mEq pada tiap-tiap kelompok hingga tekanan 20–30 cmH2O. Pasien yang telah menjalani operasi dinilai skala nyeri tenggorokan pascaoperasi dan dievaluasi komplikasi yang terjadi selama 24 jam. Data demografik dan durasi anestesi pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Skor nyeri tenggorokan pada waktu 30–60 menit, 6–8 jam, dan 24 jam pascaoperasi, kelompok lidokain 2% ditambah NaHCO3 1 mEq (LN) lebih rendah dibanding dengan kelompok lidokain 2% murni (L). Berbeda bermakna secara statistik (p&lt;0,05) pada waktu 30–60 menit dan 6–8 jam, tetapi tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05) pada jam ke-24. Tidak didapatkan komplikasi berkaitan dengan overdosis. Simpulan, pada grup LN lebih efektif dibanding dengan grup L untuk pencegahan nyeri tenggorokan pascaintubasi.  Sodium Bicarbonate Efficacy to Lidocaine in Prevention of Sore Throat Post ETT Balloon Intubation When lidocaine is injected into the ETT cuff, it spreads through the semi-permeable membrane wall and induces anesthesia in the trachea. Alkalinization of lidocaine with sodium bicarbonate (NaHCO3) to increase the non-ionized lidocaine is expected to be more effective. This study aimed to determine the effectiveness of adding one mEq NaHCO3 to lidocaine into the ETT cuff to prevent sore throat post-intubation. This study used a double-blind, randomized controlled trial from July to September 2020 at the Moewardi Regional General Hospital Surakarta. The method used was non-probability sampling with consecutive sampling, totaling 36 ASA I-II patients. Shortly after intubation, the ETT cuff was inflated with 2% lidocaine and 2% lidocaine plus one mEq NaHCO3 in each group. Patients who had undergone surgery were assessed on the postoperative sore throat scale and observed for complications for 24 hours. Both groups' demographic data and anesthesia duration were not statistically significant (p&gt;0.05). Sore throat scores at 30-60 minutes, 6-8 hours, and 24 hours after surgery were lower in the 2% lidocaine plus one mEq NaHCO3 (LN) group than in the 2% lidocaine (L) group. It was statistically significant (p&lt;0.05) at 30-60 minutes and 6-8 hours but not significant (p&gt;0.05) at 24 hours. No complications were associated with lidocaine overdose, systemic toxicity, or ETT balloon rupture. In conclusion, the LN group is more effective than the L group in reducing the incidence of postoperative sore throat.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri tenggorokan paska operasi sering terjadi setelah anestesi umum menggunakan intubasi endotrakeal. Pemberian lidokain dalam balon selang endotrakeal dapat berdifusi menyebar menembus dinding membran semipermeabel selang endotrakeal dan merangsang terjadinya efek anestesi pada trakea. Hanya bentuk obat basa tidak terionisasi yang dapat berdifusi melintasi dinding klorida polivinil hidrofobik dari manset selang endotrakeal. Dengan alkalinisasi lidokain menggunakan sodium bikarbonat (NaHCO3) diprediksi dapat meningkatkan presentasi fraksi obat tidak terionisasi sehingga diharapkan dapat lebih efektif mencegah nyeri tenggorokan paska operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan sodium bikarbonat 1 mEq pada lidokain 2% dalam balon ETT untuk pencegahan nyeri tenggorokan paska intubasi. Penelitian ini menggunakan metode double-blind randomized controlled trial dari Juli hingga September 2020 di Rumah Sakit Moewardi Surakarta. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan non-probability sampling dengan metode consecutive sampling yang berjumlah 36 pasien ASA I-II. Sesaat setelah intubasi, balon selang endotrakeal dikembangkan dengan lidokain 2% dan lidokain 2% ditambah sodium bikarbonat 1 mEq pada masing-masing kelompok hingga tekanan 20-30 cmH2O. Pasien yang telah menjalani operasi dinilai skala nyeri tenggorokan paska operasi (skor 0-3) dan dievaluasi komplikasi yang terjadi selama 24 jam. Data demografik dan durasi anestesi pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Skor nyeri tenggorokan pada waktu 30-60 menit, 6-8 jam, dan 24 jam paska operasi, kelompok lidokain 2% ditambah sodium bikarbonat 1 mEq (LN) lebih rendah dibanding kelompok lidokain 2% murni (L). Berbeda bermakna secara statistik (p&lt;0,05) pada waktu 30-60 menit dan 6-8 jam, tetapi tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05) pada jam ke-24. Tidak didapatkan komplikasi berkaitan dengan overdosis. Penambahan sodium bikarbonat 1 mEq pada lidokain 2% dalam balon ETT lebih efektif dibandingkan lidokain 2% untuk pencegahan nyeri tenggorokan paska intubasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2431</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2431</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 86–94</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 86–94</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2431/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2431/2598</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<resumptionToken expirationDate="2026-04-16T19:19:44Z"
			completeListSize="113"
			cursor="0">52b077de071fcf191e78727eba71b18b</resumptionToken>
	</ListRecords>
</OAI-PMH>
