<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="https://journal.fk.unpad.ac.id/lib/pkp/xml/oai2.xsl" ?>
<OAI-PMH xmlns="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/
		http://www.openarchives.org/OAI/2.0/OAI-PMH.xsd">
	<responseDate>2026-04-04T02:37:57Z</responseDate>
	<request from="2020-11-25" metadataPrefix="oai_dc" verb="ListRecords">https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/oai</request>
	<ListRecords>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2757</identifier>
				<datestamp>2022-03-21T03:53:24Z</datestamp>
				<setSpec>mkb:FBM</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2774</identifier>
				<datestamp>2022-04-08T04:00:10Z</datestamp>
				<setSpec>mkb:FBM</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header status="deleted">
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3237</identifier>
				<datestamp>2023-02-15T02:10:29Z</datestamp>
				<setSpec>amj:fbma</setSpec>
			</header>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3884</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Infus Kontinu Lidokain dan Morfin terhadap Skor Visual Analog Scale serta Kadar Neutrofil-Limfosit Ratio Pascalaparotomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Antara Pemberian Infus Kontinu Lidokain dan Morfin Terhadap Skor Visual Analog Scale dan Kadar Neutrophil-Lymphocyte Ratio Pasca Laparotomi</dc:title>
	<dc:creator>Kurniawan, Adi</dc:creator>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Nugroho, Andy</dc:creator>
	<dc:creator>Hapsari, Paramita Putri</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Laparotomi; lidokain; morfin; NLR; VAS</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Intensive Care; Anaesthesiology; Pain Management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Laparotomi; Lidokain; Morfin; NLR; VAS</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Morfin sebagai analgetik pada laparotomi memiliki efek samping yang merugikan dan potensi menyebabkan kecanduan. Infus lidokain intravena (IVLI) merupakan alternatif analgetik perioperatif yang di nilai lebih aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas pemberian IVLI dan morfin terhadap nyeri serta kadar Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) pascalaparotomi. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang melibatkan 46 pasien laparotomi di RSUD Dr. Moewardi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemberian IVLI bolus 1,5 mg/kg saat induksi dilanjutkan infus 1 mg/kgBB/jam dibanding dengan morfin bolus 15 mcg/kg dilanjutkan infus kontinu 10 mcg/kg/jam. Hasil menunjukkan penurunan skor nyeri VAS pada jam ke-4, 8, dan 24 lebih baik pada kelompok lidokain, meskipun tidak signifikan secara statistik (p=0,128; p=0,097; p=0,100). Penurunan NLR juga lebih baik pada kelompok lidokain namun tidak signifikan (p=0,941). Simpulan, IVLI memberikan efek analgetik yang lebih baik dibanding dengan morfin berdasarkan penurunan skor VAS dan kadar NLR, namun tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Morfin sebagai analgetik pada laparotomi memiliki efek samping yang merugikan dan adanya potensi terjadi kecanduan. Infus lidokain intravena (IVLI) menjadi terobosan analgetik pada tindakan operasi karena diyakini lebih aman dan lebih efektif dalam mengatasi nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas pemberian IVLI dan morfin terhadap nyeri dan kadar Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) pasca laparotomi. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang dilakukan pada 46 pasien yang menjalani tindakan laparotomi di RSUD Dr. Moewardi yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi. Pemberian IVLI dosis 1,5 mg/kg bolus pada saat induksi dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam memberikan efek anti nyeri lebih baik dibandingkan morfin bolus 15 mcg/kg dilanjutkan infus kontinu 10 mcg/kg/jam dengan penilaian skor VAS jam ke 4,8,24 namun tidak signifikan secara statistik (p = 0.128, p = 0.097, p = 0.100), selain itu juga mampu menurunkan NLR lebih baik tetapi tidak signifikan secara statistik (p = 0.941). Lidokain intravena dosis 1,5 mg/kg bolus saat induksi dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam memberikan efek anti nyeri lebih baik dibandingkan morfin bolus 15 mcg/kg dilanjutkan infus kontinus 10 mcg/kg/jam, tetapi tidak signifikan pada keduanya yakni indikator penurunan NLR dan skor VAS jam ke 4, 8, dan 24.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3884</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3884</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 1-9</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 1-9</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3884/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3884/4840</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3884/4842</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2387</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Penggunaan Masker Anestesi Berpewangi dengan Masker Anestesi Tidak Berpewangi terhadap Tingkat Kecemasan Anak pada Induksi Inhalasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Penggunaan Masker Anestesi Berpewangi dengan Masker Anestesi Tidak Berpewangi terhadap Tingkat Kecemasan Anak pada Induksi Inhalasi</dc:title>
	<dc:creator>Nugraha, Deni</dc:creator>
	<dc:creator>Bisri, Dewi Yulianti</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi pediatrik, induksi anestesi, induksi inhalasi, masker anestesi, masker berpewangi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi pediatrik; induksi anestesi; induksi inhalasi; masker anestesi; masker berpewangi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Induksi inhalasi dapat memberikan pengalaman emosi yang traumatis terhadap anak seperti perasaan terkekang atau tercekik selama bernapas melalui masker dan bau yang tajam dari gas anestesi. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah menggunakan masker beraroma buah-buahan sebelum induksi. Modifikasi sederhana dengan mengoleskan lip balm dengan wangi buah pada permukaan dalam masker anestesi merupakan salah satu pendekatan yang efektif dan murah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan pengaruh penggunaan masker anestesi berpewangi dibanding dengan masker anestesi tidak berpewangi terhadap tingkat kecemasan anak pada induksi inhalasi. Penelitian dilakukan menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal secara prospektif terhadap 38 anak berusia 4–12 tahun yang menjalani anestesi umum dengan status fisik american society of anesthesiologist (ASA) I–II di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat masker berpewangi dan kelompok yang mendapat masker tidak berpewangi. Tingkat kecemasan anak di ruang persiapan dan kamar operasi dinilai menggunakan skala modified yale preoperative anxiety scale (MYPAS). Skala MYPAS adalah baku emas untuk evaluasi kecemasan anak yang terdiri atas 22 penilaian dalam 5 kategori dengan realibilitas dan validitas tinggi. Analisis statistik dengan Uji Mann-Whitney. Tingkat kecemasan anak pada kelompok masker berpewangi secara bermakna lebih rendah dibanding dengan kelompok masker tidak berpewangi (p=0,000), namun penilaian di ruang persiapan tidak menunjukkan hasil yang bermakna (p=0,07). Kesimpulan penelitian adalah penggunaan masker anestesi berpewangi pada induksi inhalasi menghasilkan tingkat kecemasan anak yang lebih rendah dibanding dengan penggunaan masker anestesi tidak berpewangi.Comparison of between the Use of Scented Anesthetic Mask and Unscented Anesthetic Mask on Anxiety Level in Children during Inhalation InductionInhalation induction may be a traumatic emotional experience in children as they may feel restricted or suffocated while breathing through the mask and inhaling the sharp smell of the anesthetic gas. A non-pharmacological approach that may be applied include the use of fruit scented masks before induction. This simple modification is done by smearing fruit scented lip balm on the anesthetic mask surface, which is an effective and inexpensive approach. This study aimed to compare the effects of scented anesthetic masks and non-scented masks on child anxiety level during inhalation induction. This was a single blind prospective randomized controlled trial on 38 children aged 4–12 years old underwent general anesthesia with a physical American Society of Anesthesiologist (ASA) status I–II in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Subjects were divided into two groups: scented mask group and unscented mask group. The anxiety levels in the preparation room and the operating room were measured using the Modified Yale Preoperative Anxiety Scale (MYPAS). MYPAS is the gold standard for evaluating anxiety in children, made up of 22 ratings in 5 categories with high reliability and validity. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test. The anxiety level in the scented mask group were found to be significantly lower when compared to the unscented group (p=0.000) but the evaluation in the preparation room did not show statistically significant results (p=0.07). This study concludes that the use of scented anesthetic masks in inhaled induction results in lower anxiety levels in children.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Induksi inhalasi dapat memberikan pengalaman emosi yang traumatis terhadap anak seperti perasaan terkekang atau tercekik selama bernapas melalui masker dan bau yang tajam dari gas anestesi. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang dapat dilakukan adalah menggunakan masker beraroma buah-buahan sebelum induksi. Modifikasi sederhana dengan mengoleskan lip balm dengan wangi buah pada permukaan dalam masker anestesi merupakan salah satu pendekatan yang efektif dan murah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan pengaruh penggunaan masker anestesi berpewangi dibanding dengan masker anestesi tidak berpewangi terhadap tingkat kecemasan anak pada induksi inhalasi. Penelitian dilakukan menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal secara prospektif terhadap 38 anak berusia 4–12 tahun yang menjalani anestesi umum dengan status fisik american society of anesthesiologist (ASA) I–II di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat masker berpewangi dan kelompok yang mendapat masker tidak berpewangi. Tingkat kecemasan anak di ruang persiapan dan kamar operasi dinilai menggunakan skala modified yale preoperative anxiety scale (MYPAS). Skala MYPAS adalah baku emas untuk evaluasi kecemasan anak yang terdiri atas 22 penilaian dalam 5 kategori dengan realibilitas dan validitas tinggi. Analisis statistik dengan Uji Mann-Whitney. Tingkat kecemasan anak pada kelompok masker berpewangi secara bermakna lebih rendah dibanding dengan kelompok masker tidak berpewangi (p=0,000), namun penilaian di ruang persiapan tidak menunjukkan hasil yang bermakna (p=0,07). Kesimpulan penelitian adalah penggunaan masker anestesi berpewangi pada induksi inhalasi menghasilkan tingkat kecemasan anak yang lebih rendah dibanding dengan penggunaan masker anestesi tidak berpewangi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-04-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2387</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n1.2387</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 44-49</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 44-49</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2387/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2387/2490</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2387/2491</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2387/2492</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2387/2495</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2620</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:LR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Tinjauan Pustaka: Alkalosis Respiratorik pada COVID-19: Sleeping with the &quot;Silent Devil.&quot;</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Tinjauan Literatur: Alkalosis Respiratorik pada COVID-19: Sleeping with the “Silent Devil”</dc:title>
	<dc:creator>Dewi, Made Yudha Asrithari</dc:creator>
	<dc:creator>Panji, Putu Agus Surya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alkalosis respiratorik; analisis gas darah; COVID-19; gangguan asam basa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19, gangguan asam basa, alkalosis respiratorik, analisa gas darah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Dewasa ini krisis pertumbuhan penyakit coronavirus disease (COVID-19) telah menekan sistem kesehatan secara global bahkan lebih dari sebelumnya, menyebabkan kebutuhan peningkatan kapasitas unit perawatan intensif dalam menangani jumlah pasien kritis yang meningkat secara tajam. Gagal napas pada COVID-19 diperburuk oleh keadaan hipoksemia dan dapat memburuk menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang segera membutuhkan terapi suplementasi oksigen. Menilai kebutuhan memulai terapi oksigen dapat dilakukan salah satunya dengan analisis gas darah untuk mengevaluasi gangguan asam basa terutama pada perjalanan awal COVID-19 simtomatis berat. Silent hypoxemia sebagai gejala COVID-19 yang mematikan merupakan sebuah tantangan dalam kegawatdaruratan COVID-19. Hipoksemia berat akibat hiperventilasi tanpa gangguan pernapasan akan menunjukkan gambaran hasil analisis gas darah berupa alkalosis respiratorik sebagai upaya kompensasi penurunan kadar PaCO2 untuk meningkatkan saturasi. Pergeseran kurva disosiasi ke kiri menyebabkan peningkatan afinitas Hb-O2 untuk memfasilitasi kebutuhan oksigen. Maka dari itu, tenaga kesehatan harus memperhatikan bukan hanya keadaan umum pasien melainkan juga laju pernapasan dan melihat tanda hiperventilasi untuk mengetahui gangguan asam basa melalui analisis gas darah agar dapat mencegah komplikasi alkalosis respiratorik. Literature Review: Respiratory Alkalosis in COVID-19: Sleeping with the Silent DemonToday the growing crisis of coronavirus disease (COVID-19) has urged the health system globally even more than ever before, leading to the need to increase the capacity of intensive care units in dealing with the sharply increasing number of critically ill patients. Respiratory failure in COVID-19, exacerbated by hypoxemia, can worsen into acute respiratory distress syndrome (ARDS), requiring immediate oxygen supplementation therapy. The need to start oxygen therapy can be assessed by examining blood gas analysis to evaluate the presence of acid-base disorders, especially in the early progress of severe symptoms of COVID-19. Silent hypoxemia, a deadly symptom of COVID-19, is a challenge in the emergency of COVID-19. Severe hypoxemia due to hyperventilation in the absence of respiratory disorders will show a picture of the results of blood gas analysis in the form of respiratory alkalosis to compensate for decreased PaCO2 levels to increase saturation. The left shift of the dissociation curve leads to an increase in Hb-O2 affinity to facilitate oxygen needs. Hence, healthcare workers should pay attention to the patient's general condition and breathing rate. Besides, looking for the signs of hyperventilation to find the presence of acid-base disorders through analysis of blood gases to prevent respiratory alkalosis complications.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Dewasa ini krisis pertumbuhan penyakit coronavirus disease (COVID-19) telah menekan sistem kesehatan secara global bahkan lebih dari sebelumnya, menyebabkan kebutuhan peningkatan kapasitas unit perawatan intensif dalam menangani jumlah pasien kritis yang meningkat secara tajam. Gagal napas pada COVID-19 diperburuk oleh keadaan hipoksemia, dapat memburuk menjadi acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang segera membutuhkan terapi suplementasi oksigen. Menilai kebutuhan memulai terapi oksigen dapat dilakukan salah satunya dengan pemeriksaan analisis gas darah untuk mengevaluasi adanya gangguan asam basa terutama pada perjalanan awal COVID-19 simtomatis berat. Silent hypoxemia sebagai gejala COVID-19 yang mematikan merupakan sebuah tantangan dalam kegawatdaruratan COVID-19. Hipoksemia berat akibat hiperventilasi tanpa adanya gangguan pernapasan akan menunjukkan gambaran hasil analisis gas darah berupa alkalosis respiratorik sebagai usaha kompensasi menurunnya kadar PaCO2 untuk meningkatkan saturasi. Pergeseran kurva disosiasi ke kiri menyebabkan peningkatan afinitas Hb-O2 untuk memfasilitasi kebutuhan oksigen. Maka dari itu, tenaga kesehatan harus memperhatikan bukan hanya dari keadaan umum pasien melainkan juga laju pernapasan dan melihat tanda hiperventilasi untuk mengetahui adanya gangguan asam basa melalui analisis gas darah agar dapat mencegah terjadinya komplikasi alkalosis respiratorik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2620</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2620</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 126–132</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 126–132</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2620/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2620/3085</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3629</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Pemberian Deksmedetomidin 0,5 µg/kgBB Intravena dengan Fentanil 2 µg/kgBB Intravena terhadap Respons Perubahan Tekanan Darah dan Laju Nadi Selama Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">¬¬Perbandingan Efek Pemberian Deksmedetomidin  0,5 µg/kgBB Intravena dengan Fentanil 2 µg/kgBB Intravena Terhadap Respons Perubahan Tekanan Darah dan Laju Nadi Selama Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal</dc:title>
	<dc:creator>Astriana, Tia</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Deksmedetomidin; fentanil; intubasi; laringoskopi; respons hemodinamik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiology; Medical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Dexmedetomidine; Fentanyl; Intubation; Laryngoscopy; Hemodynamic Response</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat menyebabkan hipertensi dan takikardia yang berbahaya bagi penderita dengan faktor risiko kelainan serebrovaskular, kardiovaskular, dan tirotoksikosis. Tujuan penelitian ini membandingkan efektivitas dosis bolus deksmedetomidin dan fentanil dalam melemahkan hemodinamik respons stres setelah laringoskopi dan intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial yang dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) sejak tanggal 1 April 2023 hingga 31 Mei 2023. Penelitian ini melibatkan 42 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok D menerima 0,5 µg/kgBB deksmedetomidin dan kelompok F menerima fentanil 2 µg/kgBB sebelum tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Pengamatan dilakukan pada tekanan darah sistole, tekanan darah diastole, mean arterial pressure, dan laju nadi sesaat setelah tindakan intubasi dilanjutkan tiap menit hingga 5 menit setelah tindakan intubasi. Hasil menunjukkan bahwa perubahan tekanan darah sistole, diastole, MAP, dan laju nadi antara kelompol deksmedetomidin dan kelompok fentanil tidak terdapat perbedaan bermakna (p&lt;0,05). Simpulan, pemberian deksmedetomidin menghasilkan respons perubahan tekanan darah dan laju nadi yang sebanding dengan pemberian fentanil.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal dapat menyebabkan hipertensi dan takikardia akibat peningkatan aktivitas simpatis yang berbahaya bagi penderita dengan faktor risiko kelainan serebrovaskular, kardiovaskular, dan tirotoksikosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas antara pemberian deksmedetomidin 0,5 µg/kgBB dan fentanil 2 µg/kgBB  intravena terhadap respons hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan double blind randomized controlled trial. Penelitian ini melibatkan 42 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok D menerima deksmedetomidin dan kelompok F menerima fentanil. Pengamatan  tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, mean arterial pressure dan laju nadi dilakukan sesaat setelah tindakan intubasi dilanjutkan tiap menit hingga 5 menit setelah tindakan intubasi. Analisis statistik data numerik menggunakan uji t tidak berpasangan pada data berdistribusi normal serta Uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, MAP dan laju nadi antara kelompok deksmedetomidin dan kelompok fentanil tidak terdapat perbedaan bermakna dalam mencegah peningkatan tekanan darah dan laju nadi (p&lt;0,05). Simpulan penelitian ini bahwa pemberian deksmedetomdin menghasilkan respons perubahan tekanan darah dan laju nadi yang sebanding dengan pemberian fentanil.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3629</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3629</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 175-184</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 175-184</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3629/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3629/4488</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4010</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:20:15Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Derajat Batuk Pasien Bronkoskopi dengan Sedasi yang Mendapatkan Nebulasi Lidokain 2% dibanding dengan Spray Lidokain 10% di RSUP Haji Adam Malik</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN NEBULISASI LIDOKAIN 2% DAN SPRAY LIDOKAIN 10% DALAM MENCEGAH REFLEKS BATUK PADA PASIEN BRONKOSKOPI DENGAN SEDASI DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN</dc:title>
	<dc:creator>Pohan, Alfindy Maulana</dc:creator>
	<dc:creator>Tanjung, Qadri Fauzi</dc:creator>
	<dc:creator>Silaen, Ester Lantika Ronauli</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bronkoskopi; lidokain; refleks batu</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Bronkoskopi, Lidokain, Refleks Batuk</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Keluhan batuk sering muncul pada pasien yang menjalani bronkoskopi akibat adanya trauma mekanik pada dinding saluran napas. Lidokain digunakan pada bronkoskopi untuk menekan refleks batuk. Penelitian ini bertujuan menilai efek lidokain yang diberikan secara nebulisasi dan spray terhadap refleks batuk pada pasien bronkoskopi. Desain penelitian randomized control trial dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik bulan Agustus sampai dengan September 2023 pada pasien bronkoskopi dengan sedasi. Sampel yang diperoleh 36 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat spray Lidokain 10% dan kelompok yang mendapatkan nebulisasi lidokain 2%. Variabel yang diteliti adalah derajat batuk. Analisis statistik yang digunakan adalah mann whitney. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan derajat batuk yang bermakna pada pada menit ke-15, menit ke-30 dan postperlakuan (p&lt;0,05). Pada kelompok nebulisasi Lidokain 2% derajat batuk lebih rendah dibanding dengan pada kelompok spray Lidokain 10%. Simpulan: Pemberian nebulisasi lidokain 2% lebih efektif menekan derajat batuk dibanding dengan spray lidokain 10% pada tindakan bronkoskopi dengan sedasi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Bronkoskopi adalah tindakan medis secara visual terhadap saluran pernapasan. Batuk yang muncul pada bronkoskopi akibat adanya trauma mekanik pada dinding saluran napas. Lidokain merupakan obat anestesi lokal yang digunakan pada bronkoskopi untuk menekan refleks batuk. Penelitian ini bertujuan menilai efek lidokain yang diberikan secara nebulisasi dan spray terhadap refleks batuk pada pasien bronkoskopi.Penelitian ini menggunakan metode desain Randomized Control Trial dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik Medan bulan Agustus dan September 2023. Subjek pasien Bronkoskopi dengan sedasi. Penelitian  dengan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok yang mendapat Spray Lidokain 10% dan Nebulisasi Lidokain 2%. Analisis statistik menggunakan SPSS.Penelitian terdiri dari 18 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan refleks batuk yang bermakna pada pada menit ke-15, menit ke-30 dan Post perlakuan (p&lt;0,05). Dimana refleks batuk pada kelompok Nebulisasi Lidokain 2% lebih rendah dibandingkan pada kelompok Spray Lidokain 10%.Terdapat perbedaan refleks batuk yang signifikan pada pemberian Spray Lidokain 10% dan Nebulisasi Lidokain 2%. Nebulisasi Lidokain 2% lebih efektif menekan refleks batuk dibandingkan Spray Lidokain 10%.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">University of North Sumatera</dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4010</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.4010</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 177-182</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 177-182</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4010/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5056</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5057</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5058</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5059</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5060</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5121</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4010/5122</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2207</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:12Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas dan Efisiensi Pencatatan efek Opioid pada Pasien Pascaoperasi di RSUP Dr. Sardjito, Indonesia</dc:title>
	<dc:creator>Mahmud, Mahmud</dc:creator>
	<dc:creator>Rahardjo, Sri</dc:creator>
	<dc:creator>Mahendra, Rama Iqbal</dc:creator>
	<dc:creator>Juwitasari, Titania</dc:creator>
	<dc:creator>Khamdiyah, Siti</dc:creator>
	<dc:creator>Koeswandari, Retno</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Length of stay, nyeri, numeric rating scale, opioid</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri dapat terjadi saat preoperasi, durante, dan pascaoperasi. Pada umumnya, manajemen nyeri intra dan pascaoperasi menggunakan opioid. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas dan efisiensi pencatatan evaluasi penggunaan opioid intraoperatif dan pascaoperasi dan dilaksanakan pada Maret–Oktober 2019 di RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif untuk melihat efektivitas dan efisiensi pemberian opioid intraoperatif terhadap efek analgesia pascaoperasi dengan mengukur skala NRS, prevalensi kejadian efek samping opioid post-operative nausea and vomiting (PONV), recovery room length of stay (LOS), serta penggunaan obat analgetik pascaoperasi. Pencatatan rekam medis yang kurang lengkap sehingga tidak dapat menilai efektivitas penggunaan opioid intraoperative yang baik. Penggunaan opioid pascaoperasi memiliki hubungan yang bermakna dengan skor NRS 12 jam pascaoperasi dan kejadian komplikasi (p=0,025;p=0,028). Penggunaan opioid intraoperatif maupun pascaoperasi terhadap skor NRS, kejadian komplikasi, maupun lamanya waktu rawat di recovery room tidak terdapat hubungan yang bermakna. Simpulan, pencatatan evaluasi penggunaan opioid intraoperative dan pascaoperasi di rekam medis masih belum lengkap. Penggunaan opioid intraoperatif tidak bermakna dalam menurunkan skor NRS, menurunkan kejadian komplikasi pascaoperasi, memperpendek lama rawat di recovery room, namun apabila opioid dilanjutkan pemberian pascabedah menurunkan NRS, tetapi efek  samping opioid lebih tinggi. Effectiveness and Efficiency of Opioid Effects Recording in Postoperative Patients at Sardjito General Hospital, IndonesiaPain is “an unpleasant sensory and emotional experience associated with actual or potential tissue damage. Postoperative pain is a pain felt by patients after a series of operations. In general, intraoperative and postoperative pains are treated with an opioid. This study aimed to determine the effectiveness and efficiency of recording evaluation of intraoperative and postoperative opioid use in patients. This study used a retrospective cohort design to identify the effectiveness and efficiency of intraoperative opioid administration on the postoperative analgesia effect by measuring the NRS scale, the prevalence of side effects of postoperative nausea and vomiting (PONV), Recovery Room length of stay (LOS), and the administration of postoperative analgesics. Due to incomplete medical records, it cannot assess the effectiveness of a good intraoperative opioid. Postoperative opioid use has a significant correlation with NRS score 12 hours postoperatively and the complication incidence (p=0.025, p=0.028). There was no significant relationship between either intraoperative or postoperative opioids to NRS score, adverse events, and length of stay in the Recovery Room. In conclusion, the recording of pain management in intraoperative and postoperative opioid use in the medical record is still incomplete. The intraoperative opioids use does not significantly reduce the NRS score, decrease the postoperative complications, and shorten the length of stay in the Recovery Room. If opioids are continued, postoperative administration significantly lower NRS; however, the side effects of opioids are higher.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">Sardjito General Hospital, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Indonesia)</dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2207</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2207</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 176–186</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 176–186</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2207/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2207/2142</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2207/2143</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2207/2144</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2207/2145</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4159</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:39Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Peritonsillar Block as a Treatment For Post-Tonsillectomy Pain In Pediatric Patient</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Peritonsillar Block as a Treatment for Post-Tonsillectomy Pain in Pediatric Patients with a History of OSA</dc:title>
	<dc:creator>Merry, Merry</dc:creator>
	<dc:creator>Adi, Made Septyana Parama</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Dexamethasone; pain measurement; peritonsillar block; ropivacaine</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiology; Pediatric Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Dexamethasone, obstructive sleep apnea, peritonsillar block, ropivacaine.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Postoperative pain remains one of the most common and distressing complaints following tonsillectomy in children. Among the various strategies explored, regional anesthesia techniques have gained attention for their ability to provide targeted analgesia with minimal systemic side effects. Our objective is to evaluate the effectiveness of ropivacaine and dexamethasone in controlling postoperative pain in children undergoing tonsillectomy, with a focus on its potential to improve recovery outcomes and patient satisfaction.Case: This case involved an 8-year-old male patient who exhibited classic symptoms of OSA, who underwent tonsillectomy procedure. In the anesthetic management, the patient received premedication with midazolam, ondansetron, and intravenous paracetamol. Induction was achieved using propofol, fentanyl, and atracurium, while anesthesia maintenance was provided with Sevoflurane. Prior to extubation, bilateral injections of ropivacaine and dexamethasone were administered in the peritonsillar fossae. Postoperative pain assessments indicated mild pain, with no occurrence of nausea or vomiting. The patient was discharged one day after surgery with manageable pain.Discussion: This case highlights the potential benefit of pre-extubation peritonsillar infiltration with 0.2% ropivacaine (3 mL) and dexamethasone for postoperative pain control. This multimodal, opioid-sparing approach may reduce central sensitization, minimize opioid-related adverse effects, and improve postoperative recovery. Although recent evidence suggests ropivacaine provides superior analgesia at 24 hours compared with bupivacaine, variability in pain timing underscores the need for further research on optimal administration strategies.Conclusion: This case highlights the effectiveness of ropivacaine and dexamethasone in controlling postoperative pain in children.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Obstructive sleep apnea (OSA) is a significant health issue in the pediatricpopulation, with a prevalence of approximately 1% to 4% among children. This case involves an 8-year-old male patient exhibiting classic symptoms of OSA, such as snoring and daytime sleepiness, who underwent a tonsillectomy procedure. In the anesthetic management, the patient received premedication with midazolam, ondansetron, and intravenous paracetamol. Induction was achievedusing propofol, fentanyl, and atracurium, while anesthesia maintenance wasprovided with Sevoflurane. Prior to extubation, bilateral injections of ropivacaine and dexamethasone were administered in the peritonsillar fossae. Postoperative pain assessments indicated mild pain, with no occurrence of nausea or vomiting. The patient was discharged one day after surgery with manageable pain. This case highlights the importance of personalized anesthetic approaches to enhance postoperative recovery in pediatric patients with OSA. Further research is needed to explore the efficacy and safety of peritonsillar block injection using ropivacaine and dexamethasone in larger populations.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4159</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4159</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 198-202</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 198-202</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4159/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4159/5282</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2559</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Angka Kejadian serta Karakteristik Mortalitas dan Morbiditas pada Pengelolaan Anestesi Perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017–2019</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Angka Kejadian dan Karakteristik Mortalitas dan Morbiditas Pada Pengelolaan Anestesi Perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2017-2019</dc:title>
	<dc:creator>Aliya Indrina, Jannatin</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi; karakteristik; morbiditas; mortalitas; perioperatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pengelolaan anestesi perioperatif merupakan tanggungjawab dokter anestesi yang mencerminkan mutu pelayanan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini mengetahui angka kejadian serta karakteristik mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2017–2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas, perioperatif. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian mortalitas dan morbiditas tahun 2017–2019 sebesar 2 kasus per 1.000 tindakan anestesi. Karakteristik pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas yaitu pasien usia produktif, jenis kelamin wanita, IMT normal, komorbid penyakit jantung, dan status fisik ASA 3. Karakteristik pembedahan, mortalitas ditemukan lebih banyak pada operasi digestif, waktu operasi pukul 07.00–16.00, dan lama operasi ≤3 jam, sedangkan pada morbiditas ditemukan lebih banyak pada operasi obstetri-ginekologi, waktu operasi pukul 07.00–16.00, dan lama operasi ≤3 jam. Karakteristik anestesiologi, mortalitas dan morbiditas lebih banyak terjadi pada anestesi umum, lama anestesi &gt;3 jam, dan kegagalan penanganan jalan napas. Simpulan penelitian ini adalah kejadian mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga penilaian, penatalaksanaan, dan koordinasi yang baik dari berbagai bidang dapat memberikan luaran yang baik pada pasien.Incidence Rate and Characteristics of Mortality and Morbidity in Perioperative Anesthesia Management at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung 2017–2019 The anesthesiologist is responsible for managing perioperative anesthesia, which reflects the quality of care in the hospital. This study aimed to determine the incidence and characteristics of cases of mortality and morbidity in the perioperative anesthesia management at Dr. Hasan Sadikin Bandung Year 2017–2019. This study was a retrospective descriptive observational study on the medical records of perioperative morbidity and mortality patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung Year 2017–2019. The results showed that the mortality and morbidity cases in 2017–2019 were 2 cases per 1,000 anesthetic procedures. Characteristics of patients who experienced mortality and morbidity were productive age, female gender, normal BMI, comorbid heart disease, and ASA physical status 3. The characteristics of surgery in mortality cases were digestive surgery, which was performed between 07.00–16.00 and with a duration of 3 hours. The characteristics of surgery in morbidity cases were obstetric-gynecological surgery performed between 07.00–16.00 and with a duration of 3 hours of surgery. The anesthesiological characteristics in cases of mortality and morbidity were in patients with general anesthesia, duration of anesthesia &gt;3 hours, and failure of airway management. Various factors can influence the incidence of mortality and morbidity in perioperative anesthesia management. Appropriate assessment, management, and coordination of various fields can provide good patient outcomes.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pengelolaan anestesi perioperatif merupakan tanggungjawab dokter anestesi yang mencerminkan mutu pelayanan di rumah sakit. Faktor pasien, pembedahan, dan anestesi mempengaruhi luaran pada saat pengelolaan anestesi perioperatif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui angka kejadian dan karakteristik mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017–2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas perioperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017–2019. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian mortalitas dan morbiditas pada tahun 2017-2019 sebesar 2 kasus per 1.000 tindakan anestesi. Karakteristik pasien yang mengalami mortalitas dan morbiditas pada usia produktif, jenis kelamin wanita, IMT normal, komorbid penyakit jantung, dan status fisik ASA 3. Karakteristik pembedahan pada mortalitas yaitu pada operasi digestif, waktu operasi pukul 07.00-16.00, dan lama operasi ≤3 jam. Karakteristik pembedahan pada morbiditas yaitu pada operasi obstetri-ginekologi, waktu operasi pukul 07.00-16.00, dan lama operasi ≤ 3 jam. Karakteristik anestesiologi pada mortalitas dan morbiditas yaitu dengan anestesi umum, lama anestesi &gt;3 jam, dan kegagalan penanganan jalan napas. Simpulannya adalah kejadian mortalitas dan morbiditas pada pengelolaan anestesi perioperatif dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga penilaian, penatalaksanaan, dan koordinasi yang baik dari berbagai bidang dapat memberikan luaran yang baik pada pasien.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2559</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2559</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 35-49</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 35-49</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2559/pdf_1</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2794</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2795</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2796</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2559/2797</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3440</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:05Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi antara Penempatan Kedalaman Tabung Endotrakeal dan Tinggi Badan pada Pasien Dewasa yang Menjalani Operasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi antara Ketepatan Penempatan Kedalaman Tabung Endotrakeal dan Tinggi Badan pada Pasien Dewasa yang Menjalani Operasi.</dc:title>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Sobarna, Renaldy Faizal</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi; kedalaman tabung endotrakea; korelasi kedalaman ET dan tinggi; jalan napas dewasa</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">intubasi; tabung ndotrakea</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Intubasi endotrakea adalah prosedur kritis yang umum dilakukan oleh dokter anestesi dan dokter gawat darurat/perawatan intensif. Salah penempatan tabung endotrakeal (ET) dapat menyebabkan komplikasi seperti desaturasi, hiperinflasi, ateletasis, dan trauma saluran napas. Tinggi badan telah ditemukan berkorelasi dengan kedalaman ET, ini tidak berlaku di Indonesia yang rerata tinggi badan lebih rendah dibanding dengan negara lain. Studi ini bertujuan meneliti akurasi kedalaman ET dan korelasinya dengan tinggi pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung, Indonesia periode Oktober 2022 . Penelitian ini adalah studi analitik deskriptif dengan melakukan studi potong lintang dengan mengumpulkan data dari pasien. Subjek penelitian ini adalah pasien dewasa yang menjalani operasi elektif atau darurat di bawah anestesi umum dan memerlukan intubasi endotrakeal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menunjukkan korelasi antara kedalaman tabung endotrakeal oral dan tinggi badan pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dengan rerata kedalaman 19,7 cm pada pria dan 18,4 cm pada wanita. Studi ini juga menemukan bahwa pada pria, setiap peningkatan tinggi badan 10 cm maka kedalaman ET meningkat sebesar 0,88 cm, sedangkan pada wanita meningkat sebesar 1,00 cm. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kedalaman tabung endotrakeal dan tinggi badan pasien. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Intubasi endotrakea adalah prosedur kritis yang umum dilakukan oleh dokter anestesi dan dokter gawat darurat/ perawatan intensif. Salah penempatan tabung endotrakeal (ET) dapat menyebabkan komplikasi seperti desaturasi, hiperinflasi, ateletasis, dan trauma saluran napas. Tinggi badan telah ditemukan berkorelasi dengan kedalaman ET, ini tidak berlaku di Indonesia yang rerata tinggi badan lebih rendah dibanding dengan negara lain. Studi ini bertujuan meneliti akurasi kedalaman ET dan korelasinya dengan tinggi pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin di Bandung, Indonesia. Penelitian ini adalah studi analitik deskriptif dengan melakukan studi potong lintang dengan mengumpulkan data dari pasien. Subjek penelitian ini adalah pasien dewasa yang menjalani operasi elektif atau darurat di bawah anestesi umum dan memerlukan intubasi endotrakeal di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi antara akurasi kedalaman tabung endotrakeal oral dan tinggi badan pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, dengan rerata kedalaman 19,7 cm pada pria dan 18,4 cm pada wanita. Studi ini juga menemukan bahwa pada pria, setiap peningkatan tinggi badan 10 cm, kedalaman ET meningkat sebesar 0,88 cm, dan pada wanita meningkat sebesar 1,00 cm. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara akurasi kedalaman tabung endotrakeal dengan tinggi badan pasien.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3440</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3440</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 109-115</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 109-115</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3440/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3440/4201</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3739</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Vasopressin dan Norephinephrine sebagai Vasopressor pada Pasien Syok Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Edward Gultom, Andrio Farel</dc:creator>
	<dc:creator>Nadeak, Rommy F.</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">MAP; norepinephrine; sepsis; tekanan darahsistole; tekanan darah diastole; vasopressin</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis menyebabkan kematian terbesar, tingkat mortalitas sepsis tinggi dan dapat mencapai 50% pada syok sepsis. Tatalaksana resusitasi pada syok sepsis menggunakan vasopresor. norepinephrine saat ini adalah rekomendasi utama pada syok sepsis, vasopressin digunakan sebagai obat lini kedua untuk mengurangi efek samping yang disebabkan oleh obat seperti norephinephrine, dan juga membantu pada keadaan syok resisten-katekolamin. Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis dengan metode acak tersamar ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan vasopressin dan norephinephrine sebagai vasopresor pada pasien syok sepsis di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pencatatan hasil dilakukan setelah diberikan intervensi (T0), 6 jam (T1), dan 24 jam (T2). Sampel yang diperoleh pada penelitian ini berjumlah 36 pasien dengan 13 pasien dalam kelompok vasopressin dan 13 pasien dalam kelompok norepinephrine. Rerata TDS, TDD dan Mean Arterial Pressure (MAP) T0, T1, dan T2 kelompok norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. pH pada kelompok norepinephrine lebih rendah bila dibanding dengan dengan kelompok vasopressin. Simpulan, terdapat perbedaan yang signifikan antara norepinephrine dengan vasopressin sebagai vasopressor, dimana MAP dan kadar laktat, pada kelompok Norepinephrine lebih tinggi bila dibanding dengan dengan vasopressin. Sedangkan pH didapatkan lebih rendah pada kelompok norepinpehrine pada jam ke-24 dibanding dengan kelompok vasopressin.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3739</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3739</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 97-108</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 97-108</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3739/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3739/5182</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3739/5183</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4062</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Early Warning Score Dengan Kejadian In Hospital Cardiac Arrest</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">ANALISIS HUBUNGAN EARLY WARNING SCORE (EWS) DENGAN KEJADIAN IN HOSPITAL CARDIAC ARREST (IHCA) : STUDI RETROSPEKTIF DI RS PENDIDIKAN UTAMA</dc:title>
	<dc:creator>Listiarini, Dian Ayu</dc:creator>
	<dc:creator>Yulianti, Suryani</dc:creator>
	<dc:creator>Alfaruq, Ahmad Umar</dc:creator>
	<dc:creator>Safira, Alya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Early warning score; henti jantung; monitor; tanda vital</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">early warning sign; henti jantung; monitor; tanda vital</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Henti jantung saat masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Kejadian in-hospital cardiac arrest (IHCA) perlu dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan agar dapat segera dilakukan penaganan. Salah satu instrumen yang digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pasien ialah early warning sign (EWS). Nilai EWS yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara EWS dan kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan studi retrospektif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei–Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diperoleh melalui metode non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji spearman untuk menilai hubungan dan keeratan antar variabel. Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien dengan EWS risiko tinggi (skor&gt;7) memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian IHCA (p&lt;0,001) dengan keeratan sedang (r=0,638). Temuan ini menunjukan bahwa pasien dengan skor EWS&gt;7 berisiko tinggi mengalami IHCA. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Henti jantung saat ini masih menjadi penyebab nomer satu kematian di dunia. Kejadian henti jantung yang terjadi di rumah sakit (IHCA) harus dapat dideteksi sedini mungkin oleh tenaga kesehatan di rumah sakit sehingga dapat memberikan penanganan sesegera mungkin. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan klinis pada pasien ialah early warning sign (EWS). Skor EWS yang semakin tinggi dikaitkan dengan peningkatan kejadian IHCA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara EWS terhadap kejadian IHCA di RS Islam Sultan Agung Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan desain cross sectional. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien di RS Islam Sultan Agung Semarang periode Mei – Juli 2023. Sebanyak 110 subjek pada penelitian ini diambil menggunakan non probability sampling dengan teknik consecutive sampling. Data penelitian ini dianalisis menggunakan uji spearman untuk mengetahui hubungan serta keeratan antar variable. Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien dengan EWS resiko tinggi (skor &gt; 7) secara signifikan berhubungan terhadap kejadian IHCA (p &lt;0,001) dan memiliki keeratan sedang (r = 0,638). Oleh karena itu, pasien dengan skor EWS &gt; 7 beresiko tinggi mengalami IHCA. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4062</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4062</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 77-82</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 77-82</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4062/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4062/5142</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4062/5850</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2494</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:28Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efektivitas Iodine Povidone 1% dengan Listerine® sebagai Preparat Perawatan Mulut terhadap Pencegahan Ventilator Associated Pneumonia</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efektivitas Iodine Povidone 1% dan Listerine® sebagai Preparat Perawatan Mulut terhadap Pencegahan Ventilator Associated Pneumonia</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Chuandy, Indra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Iodine povidone 1%, kebersihan mulut, listerine®, VAP</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Perawatan mulut merupakan salah satu cara mencegah ventilator associated pneumonia (VAP) pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi VAP dan efektivitas preparat antiseptik pada perawatan mulut pasien terintubasi terhadap pencegahan VAP. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 36 pasien dengan ventilasi mekanik pasien yang dirawat di ICU RS Dr. Moewardi bulan Februari–Mei 2017. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok iodine povidone 1% dan Listerine®. Awalnya dilakukan penilaian kebersihan mulut dengan simplified oral hygiene index. Setelahnya, dilakukan perawatan mulut menggunakan salah satu preparat. Setelah 48 jam, dilakukan penilaian ulang kebersihan mulut dan skor clinical pulmonary indicator score (CPIS). Timbul VAP bila skor CPIS ≥6. Data dianalisis dengan uji Mann Whitney dan independetn t-test. Kelompok iodine povidone 1% memiliki perubahan skor kebersihan mulut dengan selisih yang lebih kecil (0,195) dibanding dengan Listerine® (0,3605). Hal ini menunjukkan bahwa Listerine® lebih efektif menjaga kebersihan mulut (p=0,024). Listerine® secara signifikan lebih efektif dalam mencegah VAP bila dibanding dengan iodine povidone 1% (p=0,001). Tidak ada perbedaan signifikan pada subjek yang meninggal akibat VAP positif dengan negatif (p=0,280). l Simpulan listerine® memiliki efektivitas lebih tinggi mencegah VAP dibanding dengan iodine povidone 1%.Differences in Effectiveness of Iodine Povidone 1% and Listerine® as Oral Care Preparations in Preventing Ventilator-Associated PneumoniaOral care is one way to prevent VAP in patients using mechanical ventilation. x This study aimed to determine the prevalence of VAP and the effectiveness of antiseptic preparations in the oral care of intubated patients to prevent ventilator associated pneumonia (VAP). The study used a randomized, single-blind clinical trial in 36 mechanically ventilated patients admitted to the ICU of Dr. Moewardi in February –May 2017. The samples were divided into two groups, namely the 1% povidone-iodine group and Listerine®. Initially, oral hygiene was assessed using the simplified oral hygiene index. After that, oral care was performed using one of the preparations. After 48 hours, oral hygiene and clinical pulmonaryindicator score (CPIS) scores were reassessed. VAP occurred when the CPIS score was 6. The Mann-Whitney test and independent t-test analyzed the data. The 1% povidone-iodine group changed oral hygiene scores with a minor difference (0.195) than Listerine® (0.3605). It indicated that Listerine® was more effective in maintaining oral hygiene (p=0.024). Listerine® was significantly more effective in preventing VAP when compared with 1% iodine povidone (p=0.001). There was no significant difference in mortality of VAP positive or negative subjects (p=0.280). In conclusion, the use of Listerine® as an oral care preparation is significantly more effective in preventing VAP compared to 1% iodine povidone.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">VAP merupakan jenis pneumonia yang muncul dalam waktu 48 – 72 jam setelah intubasi. Insidennya mencapai 9 – 27 % dengan tingkat mortalitas yang lebih dari 50 %. Perawatan mulut merupakan salah satu cara mencegah VAP pada pasien yang menggunakan ventilasi mekanik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi VAP dan efektivitas preparat antiseptik pada perawatan mulut pasien terintubasi terhadap pencegahan VAP. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 36 pasien dengan ventilasi mekanik. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok iodine povidone 1% dan Listerine®. Awalnya dilakukan penilaian kebersihan mulut dengan Simplified Oral Hygiene Index. Setelahnya, dilakukan perawatan mulut menggunakan salah satu preparat. Setelah 48 jam, dilakukan penilaian ulang kebersihan mulut dan skor CPIS. Timbul VAP bila skor CPIS ≥ 6. Kelompok iodine povidone 1% memiliki perubahan skor kebersihan mulut dengan selisih yang lebih kecil (0,195) dibandingkan Listerine® (0,3605). Hal ini menunjukkan bahwa Listerine® lebih efektif dalam menjaga kebersihan mulut (p = 0,024). Listerine® secara signifikan lebih efektif dalam mencegah VAP bila dibandingkan dengan iodine povidone 1% (p = 0,001). Tidak ada perbedaan signifikan pada subjek yang meninggal akibat VAP positif maupun negatif (p = 0,280). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa listerine® memiliki efektivitas lebih tinggi dalam mencegah VAP dibandingkan dengan iodine povidone 1%.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2494</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2434</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 160–167</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 160–167</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2494/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2494/2697</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2792</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:53Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Profil Morbiditas dan Mortalitas Layanan Anestesi dan Pembedahan Pasien Geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari–April Tahun 2021</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Profil Morbiditas dan Mortalitas Layanan Anestesi dan Pembedahan Pasien Geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Februari sampai April Tahun 2021</dc:title>
	<dc:creator>Soefviana, Stefi Berlian</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi; geriatri; morbiditas; mortalitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anestesi; geriatri; morbiditas; mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien geriatri dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas saat mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode Februari–April tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari–April tahun 2021. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rerata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2%, dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%. Simpulan, angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada wanita, 18,5–24,9 kg/m2 komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥3, dan anestesi umum. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peningkatan angka keberhasilan kesehatan ditandai dengan adanya peningkatan presentasi populasi geriatri. Konsekuensinya peningkatan angka ini akan diikuti oleh peningkatan angka operasi dan tindakan anestesi. Pasien geriatri diketahui dapat meningkatkan angka kejadian morbiditas dan mortalitas dengan mendapat tindakan anestesi dan pembedahan. Kombinasi beberapa faktor yaitu status kesehatan, status nutrisi, komorbiditas, tipe pembedahan, status fisik ASA dan tipe anetesi akan berpengaruh. Tujuan penelitian adalah mengetahui profil morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Februari sampai April Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional secara retrospektif terhadap rekam medis pasien yang mendapat tindakan anestesi di kamar operasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari sampai April tahun 2021. Data berdasarkan kondisi pasien, tindakan operasi, status ASA, tindakan anestesi, kejadian intraoperasi, komplikasi di ruang pemulihan dan ruang rawat biasa serta ruang semiintensif/intensif serta mortalitas, data tersebut dicatat dan diolah. Hasil penelitian didapatkan karakteristik pasien dengan rata-rata usia 66 tahun, jenis kelamin laki-laki 51,0 %, IMT normal sebanyak 51,7%, status non covid 100%, komorbiditas hipertensi 30,2%, operasi elektif sebanyak 86,5%. Jenis tindakan operasi terbanyak dari bagian bedah digestif sebanyak 28,9%, status ASA 2 sebanyak 79,2% dan tindakan anestesi umum sebanyak 69,8%.  Simpulan pada penelitian ini angka kejadian morbiditas dan mortalitas layanan anestesi dan pembedahan pasien geriatri di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Februari sampai April 2021 didapatkan morbiditas sebanyak 105 pasien (70,4%) dan mortalitas sebanyak 10 pasien (6,7%). Morbiditas dan mortalitas terbanyak ditemukan pada golongan jenis kelamin wanita, IMT 25,0 – 29,9, komorbid hipertensi, operasi emergensi, ASA ≥ 3 dan anestesi umum.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2792</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2792</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 22–34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 22–34</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2792/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3392</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3393</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3394</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2792/3395</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4260</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:40Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Akurasi dan Presisi Perhitungan Resting Energy Expenditure (REE) Menggunakan Rule of Thumb, Modifikasi Harris–Benedict, dan Penn State terhadap Kalorimetri Indirek pada Pasien ICU</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN AKURASI DAN PRESISI PERHITUNGAN RESTING ENERGY EXPENDITURE (REE) RULE OF THUMB,  MODIFIKASI HARRIS – BENEDICT, DAN PENN STATE TERHADAP KALORIMETRI INDIREK PADA PASIEN ICU</dc:title>
	<dc:creator>Giovanni, Cindy</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni T</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kalorimetri indirek; pasien kritis; pengeluaran energi saat istirahat; rumus prediktif; unit perawatan intensif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Medical;Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">akurasi, Harris-Benedict, kalorimetri indirek, rumus prediktif, presisi, Rule of Thumb, Penn State</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penentuan kebutuhan energi pada pasien kritis sangat penting untuk mencegah underfeeding maupun overfeeding yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi dan presisi tiga rumus prediktif-Harris-Benedict modifikasi (HBE × 1,25), Penn State (PSU), dan Rule of Thumb (ROT)-dengan kalorimetri indirek (IC) sebagai gold standard pada pasien ICU dengan ventilasi mekanik. Desain penelitian ini adalah observasional analitik terhadap 30 pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin dan RSUD Sumedang yang memenuhi kriteria inklusi. REE dihitung menggunakan ketiga rumus prediktif dan dibanding dengan hasil IC. Akurasi tertinggi diperoleh dari PSU (63,33%), diikuti ROT (46,67%) dan HBE×1,25 (30,00%) (p&lt;0,05). Presisi tertinggi juga ditemukan pada PSU (ICC=0,713), diikuti HBE × 1,25 (0,592) dan ROT (0,462). Analisis Bland–Altman menunjukkan bias terkecil pada PSU (-81,56 kkal), dibandingkan HBE × 1,25 (-60,41 kkal) dan ROT (123,72 kkal). Simpulan, rumus PSU memiliki akurasi dan presisi terbaik dalam memperkirakan REE pada pasien kritis. Namun, pemantauan individual tetap diperlukan karena potensi bias. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penghitungan kalori yang optimal merupakan faktor penting yang berhubungan denganpemberian nutrisi pada pasien kritis. Kalorimetri indirek menjadi gold standardpenghitungan kebutuhan nutrisi pada pasien kritis, namun terbatas pada penggunaannya. Beberapa rumus prediktif digunakan untuk menghitung kebutuhan kalori pada pasien kritis,seperti Rule of Thumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State dengan Tingkat akurasiyang berbeda. Penelitian ini membandingkan akurasi dan presisi penghitungan RestingEnergy Expenditure (REE) pada pasien kritis antara rumus Rule of Thumb, modifikasiHarris-Benedict, dan Penn State terhadap kalorimetri indirek. Penelitian ini bersifatmerupakan prospektif observasional. Subjek penelitian ini adalah 30 pasien ICU RSUP Dr.Hasan Sadikin Bandung dan RSUD Kabupaten Sumedang yang dirawat dari bulan Juli -November 2024 yang menggunakan ventilator. Nilai akurasi ditentukan berdasarkanproporsi kesalahan estimasi 10%. Nilai presisi ditentukan melalui penghitungan Inter ClassCorrelation (ICC) dan analisis Bland Altman. Pada penelitian ini didapatkan akurasi rumusRule of Thumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State sebesar 46,67%, 30%, dan63,33% secara berturutan. Akurasi yang dihitung berdasarkan ICC pada rumus Rule ofThumb, modifikasi Harris-Benedict, dan Penn State yaitu 0,462 (moderate agreement);0,592 (moderate agreement); dan 0,713 (good agreement). Berdasarkan hasil penelitian inidapat disimpulkan bahwa rumus Penn State memiliki akurasi dan presisi yang lebih tinggidibandingkan rumus Rule of Thumb dan modifikasi Harris-Benedict. Hasil peneltian inidiharapkan dapat membantu dalam meningkatkan manajemen pemberian nutrisi di ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4260</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.4260</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 41-49</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 41-49</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4260/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4260/5420</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4260/5421</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2391</identifier>
				<datestamp>2021-09-28T01:36:15Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Excessive Daytime Sleepiness dengan Normal Daytime Sleepiness terhadap Fungsi Kognitif serta Waktu Reaksi Peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">perbandingan excessive daytime sleepiness dengan normal daytime sleepiness terhadap fungsi kognitif serta waktu reaksi peserta ppds anestesiologi dan terapi intensif</dc:title>
	<dc:creator>Anwary, Army Zaka</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Excessive daytime sleepiness, fungsi kognitif, waktu reaksi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">excessive daytime sleepiness, fungsi kognitif, waktu reaksi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Excessive daytime sleepiness (EDS) adalah ketidakmampuan untuk tetap terjaga pada siang hari yang menghasilkan rasa kantuk berlebih dan tertidur pada waktu yang tidak tepat. Prevalensi EDS yang tinggi ditemukan pada tenaga medis seperti peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif. Kondisi EDS dapat memengaruhi fungsi kognitif dan waktu reaksi. Tujuan penelitian ini adalah  membandingkan EDS dengan normal daytime sleepiness (NDS) terhadap fungsi kognitif serta waktu reaksi peserta PPDS Anestesiologi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif numerik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan pada peserta PPDS Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di bulan November 2020. Seluruh PPDS Anestesiologi mengisi kuisioner Epworth Sleepiness Scale (ESS) agar terbagi menjadi dua kelompok, kelompok EDS (n=23) dan kelompok NDS (n=23). Fungsi kognitif diukur menggunakan tes Montreal Cognitive Assessment versi Bahasa Indonesia dan waktu reaksi menggunakan perangkat lunak Personal Computer-Psychomotor Vigilance Task. Hasil penelitian menunjukkan fungsi kognitif lebih rendah pada kelompok EDS (26,74±1,096) dibanding dengan kelompok NDS (28,65±1,191) dan waktu reaksi lebih lambat pada kelompok EDS (337,38±62,021) dibanding dengan kelompok NDS (298,81±34,225). Simpulan penelitian adalah peserta PPDS Anestesiologi kelompok EDS memiliki fungsi kognitif lebih rendah dan waktu reaksi lebih lambat dibanding dengan peserta PPDS Anestesiologi kelompok NDS. Comparison between Excessive Daytime Sleepiness and Normal Daytime Sleepiness on Cognitive Function and Reaction Time of Anesthesiology and Intensive Care Residents Excessive daytime sleepiness (EDS) is the inability to stay alert during the day due to sleepiness during daytime, often associated with the tendency of falling asleep during inappropriate times. High prevalence of EDS was found among medical workers, such as anesthesiology residents. The condition is associated with increased secretion of cathecholamines, cortisol, and inflammatory mediators that may affect the prefrontal cortex, area of the brain that acts as a center for cognitive function and reaction time. The study aimed to compare EDS with normal daytime sleepiness (NDS) on cognitive function and reaction time of anesthesiology residents. The research was a numerical comparative analytic study with a cross-sectional design performed on anesthesiology residents of Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran in November 2020. All residents in the department were instructed to complete the Epworth Sleepiness Scale (ESS) questionnaire. After completion, the respondents were randomized using simple random sampling into two groups: the EDS group (n=23) and NDS group (n=23). Each group was assessed for cognitive function using the Indonesian version of the Montreal Cognitive Assessment and reaction time using the Personal Computer-Psychomotor Vigilance Task software. Lower cognitive function scores were found in EDS group (26.74±1.096) compared to NDS group (28.65±1.191); slower reaction time were found in EDS group (337.38±62.021) compared to NDS group (298,81±34.225). Both variables had shown significant differences between both groups  (p&lt;0.05). The study had concluded that anesthesiology residents with EDS have lower cognitive scores and slower reaction time compared to anesthesiology residents with NDS.     </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Excessive Daytime Sleepiness (EDS) adalah ketidakmampuan untuk tetap terjaga pada siang hari yang menghasilkan rasa kantuk berlebih dan tertidur pada waktu yang tidak tepat. Kondisi EDS memiliki tingkat prevalensi tinggi pada tenaga medis seperti peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif. Kondisi EDS dapat memengaruhi fungsi kognitif dan waktu reaksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan EDS dengan normal daytime sleepiness (NDS) terhadap fungsi kognitif serta PPDS Anestesiologi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif numerik dengan rancangan crosssectional yang dilakukan pada peserta PPDS Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di bulan November 2020. Seluruh PPDS Anestesiologi diminta untuk mengisi kuisioner Epworth Sleepiness Scale (ESS). Berdasarkan nilai ESS, subjek penelitian dipilih menggunakan simple random sampling menjadi dua kelompok, kelompok EDS (n=23) dan kelompok NDS (n=23). Setiap kelompok dilakukan pemeriksaan fungsi kognitif menggunakan tes Montreal Cognitive Assessment versi Bahasa Indonesia dan waktu reaksi menggunakan perangkat lunak Personal Computer-Psychomotor Vigilance Task (PC-PVT). Hasil penelitian didapatkan fungsi kognitif lebih rendah pada kelompok EDS (26,74±1,096) dibandingkan dengan kelompok NDS (28,65±1,191) dan waktu reaksi lebih lambat pada kelompok EDS (337,38±62,021) dibandingkan dengan kelompok NDS (298,81±34,225). Kedua variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p&lt;0,05. Kesimpulan penelitian adalah peserta PPDS Anestesiologi kelompok EDS memiliki fungsi kognitif lebih rendah dan waktu reaksi lebih lambat dibandingkan dengan peserta PPDS Anestesiologi kelompok NDS.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">tidak ada</dc:contributor>
	<dc:date>2021-08-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2391</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n2.2391</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 85–92</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 85–92</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2391/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2391/2503</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2391/2504</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2391/2505</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2391/2506</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2391/2507</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2489</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:48Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efek Tramadol Infus Kontinu dengan Bolus Intermiten terhadap Numeric Rating Scale (NRS) Pasien Pascamultipel Odontektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efek Tramadol Infus Kontinyu dan Bolus Intermiten terhadap Numeric Rating Scale (NRS) Pasien Pasca Multipel Odontektomi</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana</dc:creator>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Afandi, Nugraha</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bolus intermiten, infus kontinu, multipel odontektomi, tramadol</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">tramadol, infus kontinyu, bolus intermiten, multipel odontektomi.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penggunaan tramadol bolus berulang secara teratur atau sesuai dengan permintaan adalah bentuk administrasi analgesia dalam terapi nyeri pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek tramadol infus kontinu dengan bolus intermiten terhadap numeric rating scale pascamultipel odontektomi. Penelitian ini dilaksanakan RSUD Dr. Moewardi, Surakarta dan RSUD KET Setjonegoro, Wonosobo mulai bulan September–November 2018 menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan multipel odontektomi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok I tramadol bolus awal 100 mg selanjutnya infus kontinu 0,25 mg/kg/jam ditambah parasetamol 500 mg/8 jam bolus dan kelompok II tramadol bolus awal 100 mg, selanjutnya 50 mg/8 jam bolus ditambah parasetamol 500 mg/8 jam. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai dengan standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri jam ke-2, 6, 12, 24 pascaoperasi. Selain itu juga dinilai efek mual muntah pascaoperasi. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,240 (p&gt;0,05) jam ke-2, p=0,007 (p&lt;0,05) jam ke-6, p=0,658 (p&gt;0,05) jam ke-12, p=0,219 (p&gt;0,05) jam ke-24 yang berarti terdapat perbedaan signifikan NRS pada jam ke-6 pascaoperasi antara kelompok I dan II. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,743 (p&gt;0,05) yang berarti tidak terdapat perbedaan efek samping mual-muntah pascamultipel odontektomi pada kedua kelompok. Simpulan, terdapat perbedaan efektivitas analgetik yang diukur dengan NRS pascamultipel odontektomi dengan diberikan tramadol infus kontinu dibanding dengan tramadol bolus intermiten pada 6 jam pascaoperasi. Differences of Continuous Infusion and Intermittent Tramadol Effect on Numeric Rating Scale in Post Multiple Odontectomy PatientsThe use of regular or on-demand repeated bolus tramadol is a form of analgesia administration in the treatment of postoperative pain. This study aimed to find better ways of analgesic administration after multiple odontectomy. This research was conducted in Dr. Moewardi General Hospital, Surakarta, and KET Setjonegoro General Hospital, Wonosobo, from September to November 2018, using a single-blind randomized clinical trial in 36 patients who had multiple odontectomy and met the inclusion criteria. Samples were divided into two groups. Group I received: an initial bolus of tramadol 100 mg, then a continuous infusion of 0.25 mg/kg/hour plus paracetamol 500 mg/8 hours bolus, and group II received initial bolus tramadol 100 mg, then 50 mg/8 hours bolus plus paracetamol 500 mg/8 hours. All patients received standard general anesthetic treatment and then postoperative pain assessment at 2, 6, 12, and 24 hours. Besides, the effects of postoperative nausea were also assessed. Statistical test results p = 0.240 (p&gt;0.05) at the second hour, p = 0.007 (p&lt;0.05) at the 6th hour, p=0.658 (p&gt;0.05) at the 12th hour, p = 0.219 (p&gt;0.05) at the 24th hour, meaning there was a difference in NRS at the 6th hour postoperatively between groups I and II. Statistical test results were p = 0.743 (p&gt; 0.05), meaning there were no differences in the side effects of nausea post multiple odontectomy in the two groups. In conclusion, there is a significant difference in analgesic efficacy as measured by NRS post multiple odontectomy with continuous tramadol infusion compared with intermittent tramadol boluses at the 6th hour postoperatively.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri adalah salah satu gejala peradangan akut yang biasanya terjadi setelah odontektomi, dengan derajat nyeri sedang menurut Numeric Rating Scale (NRS). Penggunaan tramadol bolus berulang secara teratur atau sesuai permintaan adalah bentuk administrasi analgesia yang paling sering dalam terapi nyeri pasca operasi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara pemberian analgesik yang lebih baik pasca multipel odontektomi. Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan multipel odontektomi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I tramadol bolus awal 100 mg selanjutnya infus kontinyu 0,25 mg/kg/jam ditambah paracetamol 500 mg / 8 jam bolus dan kelompok II tramadol bolus awal 100 mg selanjutnya 50 mg / 8 jam bolus ditambah paracetamol 500 mg / 8 jam. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri jam ke 2, 6 , 12, 24 pasca operasi. Selain itu juga dinilai efek mual-muntah pasca operasi. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,240 (p&gt;0,05) jam ke 2, p=0,007 (p&lt;0,05) jam ke 6, p=0,658 (p&gt;0,05) jam ke 12, p=0,219 (p&gt;0,05) jam ke 24, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan NRS pada jam ke 6 pasca operasi antara kelompok I dan II. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,743 (p&gt;0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan efek samping mual-muntah pasca multiple odontektomi pada kedua kelompok. Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan efektivitas analgetik yang diukur dengan NRS pasca multipel odontektomi dengan diberikan tramadol infus kontinyu dibandingkan dengan tramadol bolus intermiten pada 6 jam pasca operasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2489</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2489</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 149–156</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 149–156</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2489/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2489/2690</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3411</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T07:29:21Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Faktor-faktor yang Memengaruhi Pemanjangan Lama Rawat Intensif Pasien Atresia Bilier Pediatrik yang Menjalani Operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemanjangan Lama Rawat Intensif Pasien Atresia Bilier Pediatrik yang Menjalani Operasi Kasai di RSUP Dr Sardjito</dc:title>
	<dc:creator>Ristianto, Muhammad Brian</dc:creator>
	<dc:creator>Widyastuti, Yunita</dc:creator>
	<dc:creator>Sari, Djayanti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Atresia bilier; faktor-faktor yang berpengaruh; lama perawatan; operasi Kasai</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Pediatric Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Atresia bilier; operasi Kasai; lama perawatan; faktor-faktor yang berpengaruh</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatus yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat pascaoperasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan menemukan faktor-faktor yang memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Terdapat 33 dari 52 sampel (64%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Uji statistik dilakukan dengan uji regresi logistik univariat dan uji regresi logistik multivariat bagi parameter yang signifikan pada uji sebelumnya (p&lt;0,25). Didapatkan sepsis (OR=39,2) dan malnutrisi (OR=7,55) signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pascaoperasi Kasai. Simpulan, Sepsis dan malnutrisi signifikan memengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Atresia bilier merupakan kelainan pada neonatal yang menyebabkan gagal hepar progresif dan kematian bila tidak ditangani. Operasi Kasai merupakan penanganan atresia bilier melalui pembuatan anastomosis untuk drainase empedu. Pemanjangan lama rawat paska operasi Kasai meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini merupakan studi observasional kohort retrospektif pada pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai di RSUP Dr. Sardjito dari 1 Januari 2017 hingga 31 Desember 2021. Pengujian statistik dilakukan dengan Chi-square dan Fischer exact test, dilanjutkan dengan uji regresi logistik multivariabel. Didapatkan 33 dari 52 sampel (63,46%) mengalami pemanjangan lama rawat intensif. Dari hasil uji multivariabel, didapatkan sepsis (OR = 39,2) dan malnutrisi (OR = 7,55) signifikan mempengaruhi pemanjangan lama rawat intensif paska operasi Kasai. Sepsis dan malnutrisi signifikan mempengaruhi pemanjangan lama rawat intensif pasien atresia bilier pediatrik yang menjalani operasi Kasai masing-masing sebanyak 39 dan 7,5 kali. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3411</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3411</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 14-25</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 14-25</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3411/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3411/4187</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3411/4235</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3869</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:15:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Anestesi Seksio Sesarea pada Wanita Usia 30 Tahun dengan Preeklampsia Berat dengan Hipertensi Pulmonal Probabilitas Tinggi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Laporan Kasus: Manajemen Anestesi Operasi Caesar pada Wanita Usia 30 Tahun dengan Preeklampsia Berat dengan Hipertensi Pulmonal Probabilitas Tinggi</dc:title>
	<dc:creator>Hermawan, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniawan, Adi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Hipertensi pulmonal; kehamilan; preeklampsi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Pregnancy; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kehamilan, Hipertensi Pulmonal, Preeklampsia</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal (HP) memiliki peningkatan risiko yang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilan hemodinamik, gagal jantung, sepsis pascaoperasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakan kehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baik dan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensi pulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untuk mencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia berat dan kemungkinan besar menderita HP. Teknik yang digunakan dengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 m. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukan intubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami serangan jantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masuk ICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasien hipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pascaoperasi untuk memantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ibu hamil dengan hipertensi pulmonal memiliki peningkatan risikoyang signifikan untuk dapat mengalami ketidakstabilanhemodinamik, gagal jantung, sepsis pasca operasi, dan gagal napas. Kehamilan pada ibu dengan hipertensi pulmonal merupakankehamilan risiko tinggi sehingga diperlukan perencanaan yang baikdan pendekatan tim multidisiplin. Kehamilan dengan hipertensipulmonal memerlukan manajemen anestesi yang tepat untukmencapai hasil klinis ibu dan janin yang optimal. Laporan kasus inimenggambarkan manajemen anestesi yang telah dilakukan pada wanita multigravida berusia 30 tahun dengan preeklampsia beratdan kemungkinan besar menderita PH. Teknik yang digunakandengan anestesi epidural total. Operasi berlangsung selama 2 jam dan pendarahan sebanyak 250 cc. Setelah operasi, pasien dirawat di ICU. Di ICU, keadaan pasien memburuk sehingga dilakukanintubasi dan ventilasi terkontrol. Pasien mengalami seranganjantung dan diresusitasi. Pasien meninggal 3 jam setelah masukICU. Hal yang perlu diwaspadai dalam penanganan pasienhipertensi pulmonal adalah pemantauan intensif pasca operasi untukmemantau dan mengantisipasi terjadinya krisis hipertensi pulmonal yang dapat menyebabkan kematian.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3869</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n.23869</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 216-222</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 216-222</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3869/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3869/4826</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3869/4839</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2352</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:45Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Pengaruh Balanced dan Unbalanced Crystalloids sebagai Terapi Cairan pada Sepsis dan Syok Sepsis: a Systematic Review</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Pengaruh Balanced dan Unbalanced Crystalloids sebagai Terapi Cairan pada Sepsis dan Syok Sepsis: A Systematic Review</dc:title>
	<dc:creator>Mahendra, Dimas Adjie Yuda</dc:creator>
	<dc:creator>Cahyo, Febrian Dwi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Balanced crystalloids, sepsis, syok sepsis, terapi cairan, unbalanced crystalloids</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Balanced crystalloids; sepsis; syok sepsis; terapi cairan; unbalanced crystalloids</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Mortalitas sepsis dan syok sepsis hampir 20% per tahun dari semua kematian global. Sepsis dan syok sepsis merupakan penyebab 50% pasien dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Kristaloid menjadi terapi cairan yang tepat menurut “The Surviving Sepsis Campaign Bundle: 2018 (SSC 2018)”. Kristaloid terbagi menjadi dua jenis, yaitu balanced dan unbalanced crystalloids. Perbedaan kandungan elektrolit keduanya dapat memengaruhi outcome pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan pengaruh balanced dan unbalanced crystalloids pada sepsis dan syok sepsis dalam aspek mortalitas, kejadian hiperkloremia, dan lama tinggal di rumah sakit (RS). Metode yang digunakan adalah systematic review. Tempat penelitian berupa pencarian artikel penelitian pada online database dengan waktu penelitian, yaitu artikel dari tahun 2017 hingga 2021. Seleksi studi menggunakan PRISMA, kirteria restriksi dan PICO. Telaah artikel didapatkan 6 dari 249 artikel yang memenuhi syarat. Hasil analisis adalah mortalitas lebih rendah pada grup balanced crystalloids, kejadian hiperkloremia lebih tinggi pada unbalanced crystalloids, namun lama tinggal di RS di kedua grup tidak ada perbedaan signifikan. Simpulan penelitian adalah balanced crystalloids lebih efektif daripada unbalanced crystalloids dalam aspek menurunkan mortalitas dan kejadian hiperkloremia, namun tidak mengenai lama tinggal.Differences in the Effect of Balanced and Unbalanced Crystalloids as Fluid Therapy in Sepsis and Septic Shock: A Systematic ReviewSepsis and septic shock contribute to almost 20% per year to the global total deaths. Sepsis and septic shock are also the the leading causes for patients to be treated in the Intensive Care Unit (ICU), with 50% of the patients treated in this unit due to sepsis and septic shock. Crystalloid is the appropriate thereapy for these conditions according to “The Surviving Sepsis Campaign Bundle: 2018 (SSC 2018)”. Crystalloids are divided into two types: balanced and unbalanced crystalloids. This study aimed to determine the difference between the effects of balanced and unbalanced crystalloids in sepsis and septic shock in terms of mortality, incidence of hyperchloremia, and length of stay in hospital. This was a systematic review on articles from the last five years using PRISMA, restriction criteria, and PICO. The review resulted in 6 out of 249 eligible articles. The results of the analysis demonstrated a lower mortality rate in the balanced crystalloids group while the incidence of hyperchloremia was higher in the unbalanced crystalloids group. No significant difference was found in the length of stay in hospital in both groups. Therefore, balanced crystalloids is more effective than unbalanced crystalloids in the aspect of reducing mortality and the incidence of hiperchloremia, with no significant difference in the length of stay in hospital.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Mortalitas sepsis dan syok sepsis hampir 20% per tahun dari semua kematian global sekaligus penyebab 50% pasien masuk Intensive Care Unit (ICU). Kristaloid menjadi terapi cairan yang tepat menurut “The Surviving Sepsis Campaign Bundle: 2018 (SSC 2018)”. Kristaloid terbagi menjadi dua jenis yaitu balanced dan unbalanced crystalloids. Perbedaan kandungan elektrolit keduanya dapat mempengaruhi outcome pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh balanced dan unbalanced crystalloids pada sepsis dan syok sepsis dalam aspek mortalitas, kejadian hiperkloremia, dan lama tinggal di rumah sakit (RS). Metode yang digunakan adalah systematic review. Pencarian artikel penelitian pada online database dengan seleksi studi menggunakan PRISMA, kirteria restriksi dan PICO. Telaah artikel didapatkan 6 dari 249 artikel yang memenuhi syarat. Hasil analisis adalah mortalitas lebih rendah pada grup balanced crystalloids, kejadian hiperkloremia lebih tinggi pada unbalanced crystalloids, namun lama tinggal di RS di kedua grup tidak ada perbedaan signifikan. Simpulan penelitian adalah balanced crystalloids lebih efektif daripada unbalanced crystalloids dalam aspek menurunkan mortalitas dan kejadian hiperkloremia, namun tidak signifikan dalam lama tinggal di RS.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-05-01</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2352</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n1.2352</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 27-34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 27-34</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2352/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2352/2411</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2352/2412</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2468</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:24Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efektivitas Analgetik antara Kombinasi Ketoprofen Supositoria-Parasetamol Oral dan Meperidin Intravena Pascaoperasi Laparaskopi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efektifitas Analgetik Kombinasi Ketoprofen Suppositoria-Paracetamol Oral Dan Meperidin Intravena Pasca Operasi Laparaskopi</dc:title>
	<dc:creator>Santosa, Sugeng Budi</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Utomo, Rofiq Mardiko</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kombinasi ketoprofen-parasetamol, laparaskopi, meperidin, PONV</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">kombinasi ketoprofen-paracetamol, laparaskopi, meperidine, PONV</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri akut pascaoperasi didefinisikan sebagai rasa nyeri yang muncul setelah prosedur pembedahan.  Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efek kombinasi ketoprofen supositoria+parasetamol oral dengan meperidin intravena sebagai analgetik pascaoperasi laparaskopi. Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan operasi laparaskopi dan memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta sejak Februari hingga Juli 2019. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kombinasi ketoprofen supositoria+parasetamol oral (K) dan meperidin intravena (P). Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai dengan standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri berkala pascaoperasi. Skala nyeri pascaoperasi mulai jam ke-2 sampai ke-24 pada kelompok K (nyeri ringan 80–90%) dan P (nyeri ringan 100%). Data yang didapatkan diuji menggunakan Uji Mann-Whitney. Perbandingan skala nyeri kelompok K dengan P menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jam ke-6. Skor PONV pada kelompok K (mual ringan 50%, mual sedang 5%) dan P (muntah 16% dan mual berat 40–45%). Simpulan, terdapat perbedaan skala nyeri antara kombinasi ketoprofen supositoria-parasetamol oral (K) dan meperidin intravena (P) pascaoperasi laparaskopi terutama jam ke-6 pascaoperasi. Meperidine intravena dapat digunakan sebagai analgetik yang efektif untuk nyeri pascaoperasi laparaskopi dengan efek samping PONV lebih besar.Differences in Analgesic Effectiveness between Ketoprofen Suppository-Oral Paracetamol Combination and Intravenous Meperidine Post Laparoscopic SurgeryPostoperative acute pain is defined as pain that occurs in a patient after a surgical procedure. This study used a single-blind randomized clinical trial in 36 patients who underwent laparoscopic surgery and met the inclusion criteria. The samples were divided into two groups: oral ketoprofen suppository-paracetamol combination (K) and intravenous meperidine (P). All patients received standard general anesthetic treatment for the periodic postoperative assessment, and the periodic postoperative pain scale was assessed. The postoperative pain scale started at 2 to 24 hours in groups K (80–90% mild pain) and P (100% mild pain). A comparison of pain scales in groups K and P showed a significant difference at 6 hours. PONV scores in groups K (50% mild nausea, 5% moderate nausea) and P (16% vomiting and 40–45% severe nausea). In conclusion, there is a significant difference in pain scale between oral suppository-paracetamol (K) ketoprofen and intravenous meperidine (P) combination after laparoscopic surgery, especially at 6 hours postoperatively. Intravenous meperidine can be an effective analgesic for postoperative laparoscopic pain with more significant PONV side effects.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri akut pasca operasi didefinisikan sebagai rasa nyeri yang muncul pada pasien setelah prosedur pembedahan. Nyeri pasca operasi laparaskopi merupakan nyeri akut dengan intensitas sedang (skala nyeri 4-6). Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal pada 36 pasien yang dilakukan operasi laparaskopi dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kombinasi ketoprofen suppositoria-paracetamol oral (K) dan meperidine intravena (P). Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan kemudian dilakukan penilaian skala nyeri berkala pasca operasi. Selain itu juga dinilai efek mual-muntah pasca operasi, dan efek samping obat analgetik. Skala nyeri pasca operasi mulai jam ke-2 sampai ke-24 pada kelompok K (nyeri ringan 80-90%) dan P (nyeri ringan 100%). Perbandingan skala nyeri kelompok K dan P menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jam ke-6. Skor PONV pada kelompok K (mual ringan 50%, mual sedang 5%) dan P (muntah 16% dan mual berat 40-45%). Tidak ada komplikasi yang terjadi terkait pemberian analgetik opioid ataupun non opioid. Simpulan, terdapat perbedaan skala nyeri yang bermakna antara kombinasi ketoprofen suppositoria-paracetamol oral (K) dan meperidine intravena (P) pasca operasi laparaskopi terutama jam ke-6 pasca operasi. Meperidine intravena dapat digunakan sebagai analgetik yang efektif untuk nyeri pasca operasi laparaskopi dengan efek samping PONV lebih besar.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2468</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2468</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 78–85</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 78–85</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2468/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3554</identifier>
				<datestamp>2024-03-18T05:49:33Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic antara Posisi Head Up 15° dan Head Up 30°  pada Pasien yang Dirawat di Ruang Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Nilai Near Infrared Spectroscopic Terhadap Posisi Head Up 15° Dan Head Up 30° Pada Pasien Yang Dirawat Di Ruang Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:creator>Hutabarat, Syahrir Supratman</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Head up 15°; Head up 30°; NIRS; Oksigenasi serebral</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Oksigenasi serebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen dapat bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan serebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan meneliti perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) dengan posisi head up 15o dan 30o. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUP H. Adam Malik Medan mulai bulan Agustus sampai Oktober 2022. Desain penelitian eksperimental dengan rancangan single blind randomized controlled trial. Analisis statistik variabel numerik menggunakan uji T-independen pada data berdistribusi normal dan uji Mann Whitney pada data tidak berdistribusi normal. Analisis statistik untuk data kategorik dengan uji chi-square atau uji Fisher Exact. Rerata nilai NIRS baik kanan maupun kiri pada kelompok Head Up 15o lebih rendah dibanding dengan kelompok Head Up 30o dengan perbedaan yang signifikan (p&lt;0,05). Kesimpulan, nilai rerata near-infrared spectroscopy (NIRS) pada posisi Head Up 15° lebih rendah dibanding dengan posisi head up 30°.Kata kunci:  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Oksigenasi cerebral sangat dipengaruhi oleh autoregulasi serebri yang dapat mengatur aliran darah ke otak sehingga menyebabkan masuknya oksigen bisa bertambah maupun berkurang. Perubahan postur selama anestesi memiliki efek kompleks pada sirkulasi sistemik dan cerebral yang berpotensi menurunkan aliran darah otak dan oksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang perbandingan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) terhadap posisi head up 15o dan 30o pada pasien yang di rawat di ICU RSUP H Adam Malik Medan. Desain penelitian analitik dengan desain eksperimental untuk mengetahui perbedaan nilai NIRS pada berbagai posisi head up pada pasien dirawat di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Pada penelitian ini didapatkan usia rerata sampel sebesar 53,45 ± 14,44 tahun dan rerata indeks massa tubuh sampel sebesar 23,92 ± 2,18 kg/m2. Tekanan darah sistolik dan diastolik sampel penelitian didapati sebesar 122,68 ± 17,76 dan 73,50 ± 10,25secara berurutan. nilai NIRS Head Up 15° dan 30° kiri didapatkan rerata nilai NIRS 56,27 ± 13,32 dan 65,45 ± 15,14 didapatkan nilai P sebesar 0,01 &lt; 0,05, maka didapatkan adanya perbedaan yang signifikan antara Head Up 15° dan 30°. Terdapat perbedaan nilai near-infrared spectroscopy (NIRS) antara Head Up 15° dan 30°.pada pasien yang dirawat di ruang ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3554</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3554</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 139-145</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 139-145</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3554/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3554/4369</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3554/4370</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3354</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Perioperatif Pasien Atrial Septal Defect (ASD)   dengan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani  Operasi Tutup Defek</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Manajemen Perioperatif Pasien Atrial Septal Defect (ASD) dengan Hipertensi Pulmonal yang Menjalani Operasi Tutup Defek</dc:title>
	<dc:creator>Nur, Rifdhani Fakhrudin</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniawaty, Juni</dc:creator>
	<dc:creator>Pratomo, Bhirowo Yudo</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Atrial Septal Defect; hipertensi pulmonal; manajemen perioperatif; operasi tutup defek</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesiology; cardiac anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Atrial Septal Defect; hipertensi pulmonal; manajemen perioperatif; operasi tutup defek</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Atrial septal defect (ASD) kompleks yang tidak didiagnosis dan dikoreksi hingga usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif operasi penutupan defek pasien ASD dewasa dengan hipertensi pulmonal memberikan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan ekokardiografi praoperasi menunjukkan ASD sekundum right-to-left shunt dengan diameter 25–30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan rerata tekanan arteri pulmonal 58 mmHg dan pulmonary vascular resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan balanced opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil, dan periode penyapihan cardiopulmonary bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran yang baik pada pasien ini.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Atrial septal defect (ASD) jenis berat yang tidak didiagnosis dan dikoreksi sampai usia dewasa dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Manajemen perioperatif pada pasien ASD dengan hipertensi pulmonal merupakan tantangan tersendiri karena dikaitkan dengan tingginya komplikasi perioperatif serta peningkatan morbiditas dan mortalitas. Kami melaporkan seorang wanita berusia 23 tahun dengan ASD dan hipertensi pulmonal yang menjalani operasi tutup defek. Pemeriksaan echocardiography praoperasi menunjukkan ASD sekundum right to left shunt diameter 25-30 mm dan kateterisasi jantung kanan yang menunjukkan tekanan rerata arteri pulmonal 58 mmHg dan Pulmonary Vascular Resistance 8,1 WU. Induksi anestesi dilakukan dengan teknik balans opioid, dosis kecil agen induksi, dan pelumpuh otot. Hemodinamik selama operasi stabil dan periode penyapihan Cardiopulmonary Bypass berjalan lancar dengan topangan dobutamin dan norepinefrin. Pascaoperasi, pasien dirawat di Intensive Care Unit dengan keadaan umum baik, hemodinamik stabil, nyeri pascaoperasi terkontrol dan tanpa kejadian komplikasi. Pasien dipindah ke bangsal biasa pada hari ke-3 pascaoperasi. Penilaian praoperatif yang tepat, manajemen intraoperatif yang berhasil menjaga stabilitas hemodinamik, dan manajemen pascaoperatif yang dapat mencegah dan mengatasi komplikasi pascaoperasi dapat menghasilkan luaran pasien yang baik pada pasien ini.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3354</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3354</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 144-152</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 144-152</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>id</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3354/4115</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2126</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:10Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Studi Komparatif Ukuran Pipa Endotrakeal tanpa Cuff pada Pasien Pediatri berdasar atas Diameter Subglotis dengan Metode Konvensional</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Studi Komparatif Ukuran Pipa Nafas Tanpa Cuff Pada  Pasien Pediatri Berdasar Diameter Subglotis Dengan Metode Konvensional</dc:title>
	<dc:creator>Firdaus, Khildan Miftahul</dc:creator>
	<dc:creator>Hanindito, Elizeus</dc:creator>
	<dc:creator>Semedi, Bambang Pujo</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">berat badan aktual, berat badan ideal; Prediksi pipa endotrakeal pediatri, pipa endotrakeal tanpa cuff, diameter subglotis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi ; anestesi pediatri ; emergency department</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Pipa nafas; ETT ; pediatri ; diameter subplots ; USG</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">tersendiri. Pipa endotrakeal (ETT) yang terlalu kecil/besar meningkatkan risiko komplikasi. Prediksi ukuran ETT berdasar atas usia merupakan metode yang paling sering digunakan namun ternyata tidak selalu tepat pada aplikasinya. Parameter lain seperti diameter subglotis atau diameter kelingking tangan dapat menjadi alternatif untuk memprediksi ukuran ETT pediatri. Tujuan penelitian ini menganalisis dan membandingkan akurasi prediksi ukuran ETT tanpa cuff berdasar berbagai variabel pada pasien pediatri di RSUD Dr Soetomo Surabaya mulai Februari hingga April 2020. Subjek penelitian ini pasien usia 2–9 tahun, PS ASA 1–2 yang akan dilakukan operasi elektif. Saat preoperatif, usia, berat, dan panjang badan dicatat. Saat intraoperatif, diameter kelingking tangan dan diameter subglotis menggunakan USG diukur dan dicatat. ETT yang digunakan adalah ETT tanpa cuff berdasar atas diameter subglotis. ETT dianggap tepat apabila memberikan audible air leak pada tekanan 10–25 cmH2O. Bila ETT terlalu kecil/besar maka dilakukan reintubasi. Tiap-tiap parameter dilakukan uji korelasi, agreement test, serta predictive performance menggunakan MAPE, dan RMSE. Dari 48 pasien, didapatkan hasil bahwa prediksi ukuran ETT tanpa cuff berdasar atas diameter subglotis memiliki akurasi yang paling baik hingga 91,67% (r=0,973, koefisien kappa 0,892; p&lt;0,001, MAPE 0,803%, dan RMSE 0,144). Simpulan, prediksi berdasar atas diameter subglotis merupakan metode yang akurat untuk memprediksi ukuran ETT tanpa cuff pediatri. Subglottic Diameter Ultrasonographic Assessment for Estimating Pediatric Uncuffed Endotracheal Tubes Compared to Conventional MethodsAnatomical differences in pediatric airways could be quite a challenge. Choosing endotracheal tube (ETT) optimum size is essential as a larger or smaller tube may cause undesirable complications. ETT size prediction based on age formula is most commonly used, but is not always successful. The little finger diameter and subglottic diameter are alternative parameters to predict pediatric uncuffed ETT optimum size. This study analyzed and compared the multiple variable-based formulas’ accuracy to predict the pediatric uncuffed ETT optimum size. The ETT prediction used subglottic diameter-based formulas. Clinically fit ETT has an audible air leak within the pressure of 10–25 cmH2O. If the ETT predicted was relatively too small/big than clinically fit ETT, it was changed to one size smaller/ bigger. Each variable was then analyzed by correlation test, regressed against clinically fit ETT to test the agreement rates, and predictive performance was assessed using mean absolute percentage error (MAPE), and root mean square error (RMSE). From 48 patients it found that subglottic diameter formulas offered the best result in predicting optimum size uncuffed ETT in pediatrics with an agreement rate up to 44 of 48 patients got the right clinically fit uncuffed ETT (91.67%, r=0.973, kappa 0.892, p-value&lt;0.001, MAPE 0.803%, and RMSE 0.144). In conclusion, the prediction based on subglottic diameter using USG is the best method to predict the optimum size of uncuffed ETT in pediatrics.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">ABSTRAK. Perbedaan anatomi jalan nafas pada pasien pediatri menyebabkan pemilihan ukuran pipa nafas  pediatri menjadi tantangan tersendiri bagi seorang ahli anestesi. Pemilihan ukuran pipa nafas yang terlalu kecil atau terlalu besar dapat meningkatkan resiko komplikasi secara langsung (seperti aspirasi, kebocoran gas anestesi, trauma jalan nafas) maupun tidak langsung akibat resiko yang disebabkan saat reintubasi ( seperti spasme, bradikardia). Prediksi ukuran pipa nafas berdasar usia merupakan salah satu teknik estimasi yang paling lama dikenal dan paling sering digunakan hingga saat ini namun ternyata teknik ini tidak selalu tepat pada aplikasinya. Parameter lain seperti diameter sublotis menggunakan ultrasonografi, atau diameter jari kelingking tangan dapat menjadi modalitas alternatif untuk memprediksi ukuran pipa nafas pasien pediatri. Tujuan : Menganalisis dan membandingkan akurasi prediksi ukuran pipa nafas tanpa cuff berdasar berbagai variabel pada pasien pediatri di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode : Subjek penelitian ini adalah pasien pediatri usia 2-9 tahun, PS ASA 1-2, yang akan dilakukan operasi elektif dengan manajemen jalan nafas intubasi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan tekhnik pengambilan sampel consecutive sampling. Pada periode preoperatif, usia, berat badan dan panjang badan dicatat sebagai data demografi. Pada periode intraoperatif, diameter jari kelingking tangan dan diameter subglotis menggunakan USG diukur dan dicatat. Pipa nafas yang digunakan adalah pipa nafas tanpa cuff berdasar rumus regresi dari diameter subglotis. Pipa nafas dianggap tepat sesuai klinis apabila memberika audible air leak pada tekanan 10-25 cmH2O. Bila pipa nafas terlalu kecil/besar, maka dilakukan reintubasi sesuai dengan ukuran yang tepat. Masing-masing parameter lalu dilakukan uji korelasi, agreement test, serta predictive performance menggunakan mean absolute percentage error (MAPE), dan root mean square error (RMSE). Hasil : Dari 48 pasien pediatri yang disertakan pada penelitian ini, didapatkan hasil bahwa prediksi ukuran pipa nafas tanpa cuff berdasar diameter subglotis menggunakan USG memiliki akurasi yang paling baik hingga 91,67% (r = 0.973, koefisien kappa 0.892, p &lt; 0.001, MAPE 0.803% dan RMSE 0,144). Kesimpulan : Prediksi berdasar diameter subglotis menggunakan USG merupakan metode yang akurat untuk memprediksi ukuran pipa nafas tanpa cuff pada pasien pediatri di RSUD Dr Soetomo Surabaya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2126</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2126</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 141–148</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 141–148</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2126/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2126/2014</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2126/2015</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2126/2016</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2126/2017</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3986</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Optical Nerve Sheath Diameter Correlates with ICU Length of Stay After Craniotomy</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">KORELASI NILAI OPTICAL NERVE SHEATH DIAMETER DENGAN LENGTH OF STAY ICU PADA PASIEN PASCABEDAH OTAK DI RSUP HASAN SADIKIN BANDUNG</dc:title>
	<dc:creator>Wardana, Artha Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Aditya, Ricky</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Intracranial pressure, length of stay intensive care unit, optic nerve sheath diameter</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Length of Stay Intensive Care Unit, Optic Nerve Sheat Diameter,  Tekanan intrakranial</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Elevated intracranial pressure (ICP) is a common complication after craniotomy, often causing decreased consciousness, ventilator dependence, and prolonged ICU stay. Invasive ICP monitoring carries risks, while non-invasive methods such as optic nerve sheath diameter (ONSD) measurement via ultrasonography offer a promising alternative. This study aimed to examine the correlation between ONSD and ICU length of stay (LOS) in post-craniotomy patients.Methods: A prospective observational study was conducted at the ICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from February to April 2024. Post-craniotomy patients admitted to the ICU were included. ONSD was measured 12–24 hours after ICU admission. Data collected included ONSD, demographics, preoperative clinical status, and ICU records. The relationship between ONSD and ICU LOS was analyzed using Pearson correlation and multivariable analysis.Results: Thirty-three patients were included (mean age 48.2 years; 60.6% male). Median preoperative GCS was 10.8, and 54.5% were ASA III/IV. ONSD correlated positively with ICU LOS (r = 0.636, p &lt; 0.001). Multivariable analysis showed that ONSD ≥ 5.0 mm was independently associated with prolonged ICU stay (≥7 days) after adjusting for GCS and postoperative complications.Discussion: A larger ONSD, reflecting higher ICP, was moderately associated with longer ICU stay, suggesting that non-invasive ONSD measurement can serve as a useful marker for resource utilization. However, further studies with larger cohorts are needed to validate its predictive role.Conclusion: ONSD measurement is a reliable non-invasive parameter that shows a significant correlation with ICU length of stay in post-craniotomy patients.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">AbstrakPeningkatan TIK   merupakan masalah yang sering  terjadi pada pasien pascabedah otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran pada pasien sehingga sulit untuk lepas dari bantuan ventilasi sehingga memperpanjang lama perawatan di ICU. Pemantauan TIK dengan metode invasif tidak rutin dilakukan dan memiliki berbagai resiko dan komplikasi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi seperti ONSD dapat menjadi alternatif untuk mengevaluasi  peningkatan TIK pada otak. Riset ini ini merupakan penelitian prospektif observasional untuk mengetahui korelasi ONSD dengan length of stay ICU pada pasien pasca operasi bedah otak. Subjek penelitian adalah pasien pascabedah otak yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2024. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemeriksaan ONSD pada pasien pascabedah otak 12-24 jam setelah  admisi di ICU. Pada penelitian ini didapatkan jumlah pasien yang disertakan sebanyak 33 pasien. Data yang diambil meliputi hasil pengukuran ONSD, berkas penilaian prabedah, penilaian praanestesi, rekam medis anestesi dan rekam medis ICU. Dari uji Pearson product moment antara ONSD dengan LOS ICU didapatkan koefisien korelasi r = 0,636 dan koefisien determinasi r2 = 0,404 (p &lt; 0,001). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ONSD dan LOS ICU memiliki korelasi positif berkekuatan medium / sedang pada pasien pascabedah otak.  Kata kunci : Length of Stay Intensive Care Unit, Optic Nerve Sheat Diameter,  Tekanan intrakranial</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3986</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.3986</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 182-190</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 182-190</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3986/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3986/5001</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3986/5002</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2461</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Asam Traneksamat, Etamsylate dan Kombinasi dengan Profil Waktu Perdarahan pada Operasi Sedang</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Efek Asam Traneksamat, Etamsylate dan Kombinasi dengan Profil Waktu Perdarahan pada Operasi Sedang</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Thamrin, Husni</dc:creator>
	<dc:creator>Rachmad, Yuniar</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Asam traneksamat; etamsylate; hemostasis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Asam traneksamat; etamsylate; hemostasis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemilihan agen hemostatis yang baik diharapkan dapat memfasilitasi hemostasis intraoperatif dan selanjutnya akan dapat memperbaiki hasil akhir pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan agen hemostatik antara asam traneksamat dan etamsylate atau dengan kombinasi terhadap efek hemostatik pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh operasi sedang. Penelitian ini merupakan uji klinis eksperimental dengan rancangan penelitian pre dan post tindakan yang terdiri dari 33 subjek yang menjalani operasi sedang. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Solo selama Agustus–Oktober 2017. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pemeriksaan bleeding time sebelum dan sesudah tindakan yang telah diberi perlakuan 30 menit sebelum tindakan. Penelitian ini menggunakan tes analitik komparatif numerik dengan skala ordinal dilanjutkan dengan uji statistik mengunakan non parametrik Kruskal-Wallis. Selisih waktu perdarahan sebelum dengan sesudah perlakuan pada kelompok asam traneksamat mengalami penurunan rerata -0,05±0,57 menit, kelompok etamsylate mengalami penurunan rerata -0,73±1,95 menit, dan kelompok kombinasi etamsylate dan asam traneksamat mengalami penurunan rerata -1,14±2,20 menit dengan perbedaan tidak signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, tidak didapatkan perbedaan pemberian asam traneksamat, estamsylate dan kombinas keduanya dengan waktu perdarahan.Effects of Tranexamic Acid, Etamsylate, and Combination with Bleeding Time Profile in Moderate SurgeryThe selection of an excellent hemostatic agent is expected to facilitate intraoperative hemostasis and further improve patient outcomes. This study aimed to determine the difference between hemostatic agents, tranexamic acid and etamsylate, or a combination of hemostatic effects in bleeding caused by moderate surgery. This study was an experimental clinical trial with a pre-and post-action research design consisting of 33 subjects undergoing moderate surgery. The study was conducted at Dr. Moewardi Hospital Surakarta from August to October 2017. After randomization, the bleeding time was checked before and after treatment, 30 minutes before the procedure. This study used a comparative numerical, analytical test with an ordinal scale followed by statistical tests using nonparametric Kruskal-Wallis. The difference in bleeding time before and after treatment with the tranexamic acid group decreased with a mean of -0.05 ±0.57 minutes, the etamsylate group decreased with a mean of -0.73±1.95 minutes, and the etamsylate + tranexamic combination group decreased with a mean of -1.14±2.20 minutes, p-value=0.501 (p&gt;0.05). In conclusion, there is no difference in the hemostatic effect between tranexamic acid, etamsylate, and the combination of tranexamic acid and etamsylate.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemilihan agen hemostatis yang baik diharapkan dapat memfasilitasi hemostasis intraoperatif dan selanjutnya akan dapat memperbaiki hasil akhir pasien. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan agen hemostatik antara asam traneksamat dan etamsylate atau dengan kombinasi terhadap efek hemostatik pada kasus perdarahan yang disebabkan oleh operasi sedang. Penelitian ini merupakan uji klinis eksperimental dengan rancangan penelitian pre dan post tindakan yang terdiri dari 33 subjek yang menjalani operasi sedang. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Solo selama Agustus–Oktober 2017. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pemeriksaan bleeding time sebelum dan sesudah tindakan yang telah diberi perlakuan 30 menit sebelum tindakan. Penelitian ini menggunakan tes analitik komparatif numerik dengan skala ordinal dilanjutkan dengan uji statistik mengunakan non parametrik Kruskal-Wallis. Selisih waktu perdarahan sebelum dengan sesudah perlakuan pada kelompok asam traneksamat mengalami penurunan rerata -0,05±0,57 menit, kelompok etamsylate mengalami penurunan rerata -0,73±1,95 menit, dan kelompok kombinasi etamsylate dan asam traneksamat mengalami penurunan rerata -1,14±2,20 menit dengan perbedaan tidak signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, tidak didapatkan perbedaan pemberian asam traneksamat, estamsylate dan kombinas keduanya dengan waktu perdarahan. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2461</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2461</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 10-16</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 10-16</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2461/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3000</identifier>
				<datestamp>2024-02-01T08:33:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Derajat Nyeri Setelah Pemberian Gabapentin dengan Amitriptilin sebagai Adjuvan Analgetik Pasien Nyeri Kanker</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan derajat nyeri setelah pemberian Gabapentin dan Amitriptilin sebagai adjuvan analgetik pasien nyeri kanker</dc:title>
	<dc:creator>Subeki, Farlin</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Bangun, Chrismas Gideon</dc:creator>
	<dc:creator>Amelia, Rina</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Amitriptilin; gabapentin; nyeri kanker</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penggunaan opioid tunggal pada nyeri kanker kurang efektif sehingga perlu dikombinasikan dengan analgetik non opioid. Tujuan penelitian adalah membandingkan derajat nyeri pada pemberian gabapentin dengan amitriptilin sebagai adjuvan analgetik pasien nyeri kanker. Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda, subjek penelitian adalah pasien poli nyeri RSUP H. Adam Malik dengan derajat nyeri berat yang dibagi 3, yaitu kelompok gabapentin, amitriptilin, dan plasebo sebagai adjuvan. Penelitian dilakukan selama periode April–Juni 2022. Sampel dievaluasi derajat nyeri, pain DETECT dan efek samping hari 1 (T1), hari 3 (T2), dan hari 7 (T3). Derajat nyeri berat pengukuran T1 pada grup gabapentin didapatkan 1,8%, amitriptilin 10,5% dan plasebo 7%. Pada T2, T3 tidak didapatkan derajat berat pada semua kelompok. Pemeriksaan pain DETECT dijumpai rerata 29,4±5,3. Pada T1 dan T2 tidak terdapat perbedaan bermakna. Pada T3 terdapat perbedaan bermakna dengan nilai p 0,003 antara penggunaan gabapentin dan plasebo. Pada penelitian ini didapatkan penurunan NRS secara klinis pada penggunaan adjuvan analgetik dibanding dengan plasebo, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Pada pain DETECT ditemukan perbedaan bermakna setelah pemberian adjuvan gabapentin setelah hari ke-7 dibanding dengan plasebo. Simpulan penelitian ini terdapat penurunan derajat nyeri secara klinis penggunaan adjuvan analgetik dibanding dengan plasebo, tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang membantu untuk memberikan tanda bahwa sedang terjadi kerusakan jaringan atau akan terjadi kerusakan jaringan. Pada keganasan nyeri yang ditimbulkan oleh gangguan pada sistem saraf disebut nyeri neuropatik, tatalaksana nyeri kanker bisa dengan analgetik dan adjuvan, salah satunya Gabapentin dan Amitriptilin. Desain penelitian  ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda, sampel yang digunakan adalah pasien poli nyeri dengan diagnosis keganasan dengan derajat nyeri NRS berat dengan pemberian MST dan Parasetamol sampel di bagi 3 kelompok yaitu kelompok yang diberikan Gabapentin, Aamitriptilin dan placebo sebagai adjuvan. Kemudian sampel akan di evaluasi derajat nyeri,  hari 1 (T1), hari 3 (T2) dan hari 7 (T3). Didapatkan hasil NRS pada grup Gabapentin  pada T1 derajat berat menjadi  1 orang (1.8%), grup Amitriptilin 3 orang (10,5%) dan plasebo 4 orang (7%). Pada T2 tidak di dapatkan NRS derajat berat pada semua kelompok. Pada grup Gabapentin  pada T2 derajat sedang menjadi 15 orang (26,3%), grup Amitriptilin 15 orang (26,3%) dan plasebo 14 orang (24,6%). Pada T3 tidak di dapatkan NRS derajat berat pada semua kelompok. Pada grup Gabapentin  pada T3 derajat sedang menjadi 14 orang (26,3%), grup Amitriptilin 12 orang (21,1%) dan plasebo 15 orang (26,3%).Pada penelitian ini secara klinis didapatkan penurunan NRS secara klinis pada penggunaan adjuvan analgetik dibandingkan Plasebo tetapi tidak terdapat perbedaan bermakna secara statistik. Pada penilaian nyeri neuropatik dengan Pain DETECT ditemukan perbedaan bermakna setelah pemberian adjuvan Gabapentin setelah hari ke-7 dibandingkan dengan Plasebo. Efek samping setelah pemberian obat pada penelitian tidak terdapat perbedaan bermakna.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3000</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3000</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 61-69</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 61-69</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3000/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3631</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T07:01:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Terapi Substitusi Ginjal pada Sindrom Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelets (HELLP) dan Cedera Ginjal Akut</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Terapi Substitusi Ginjal pada Sindrom HELLP ( Hemolysis, Elevated Liver Enzymes and Low Platelets) dan Cedera Ginjal Akut</dc:title>
	<dc:creator>Tanto, Dedi</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">AKI; CRRT; HELLP; PEB; RRT</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anaesthesiology, intensive care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">PEB, sindrom HELLP, AKI, RRT, CRRT</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Renal replacement therapy (RRT)/terapi substitusi ginjal untuk pasien cedera ginjal akut di unit perawatan intensif menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre-eklamsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dL. Pasien hamil dengan pre-eklamsia berat (PEB) dan sindrom hemolysis, elevated liver enzymes levels and low platelet levels (HELLP) merupakan salah satu faktor risiko cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresivitas terjadi strok iskemik Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan pascaoperasi sectio caesaria dengan indikasi gawat janin pada pre-eklamsia berat disertai cerebrovascular disease infarct, acute kidney injury dd/acute on chronic kidney disease, asidosis metabolik, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Pascaoperasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan kadar kreatinin dan terjadi hiperkalemia refrakter maka pada pasien dilakukan continuous renal replacement therapy. (CRRT). Tujuan CRRT pada pasien ini adalah menekan progresivitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika, serta menghindari progresivitas cerebrovascular disease (CVD) iskemik.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Terapi substitusi ginjal (RRT) untuk pasien cedera ginjal akut (AKI) di unit perawatan intensif (ICU) menghadirkan masalah unik dalam menyediakan pembuangan biokimia dan cairan pada pasien dengan instabilitas sirkulasi, inotropik, dan peningkatan permeabilitas kapiler. Pasien pre eklampsia dengan insufisiensi ginjal dapat ditegakkan diagnosisnya jika kadar kreatinin serum lebih atau sama dengan 1,1 mg/dl. Pasien hamil dengan preeklampsia dan sindroma HELLP merupakan salah satu faktor resiko untuk terjadinya cedera ginjal akut pada kehamilan. Peningkatan kreatinin juga dilaporkan meningkatkan progresifitas terjadinya stroke iskemik 1,2,3Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan post operasi SC dengan indikasi gawat janin pada pre eclampsia berat disertai CVD infarct, AKI dd/ acute on CKD, asidosis metabolic, elektrolit imbalans, masuk di rawat di ruang rawat intensif RSU. Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Paska operasi pasien masih dalam keadaan tersedasi dan terintubasi, untuk kemudian dikontrol pernapasannya. Karena terjadi peningkatan nilai creatinine dan terjadinya hiperkalemia refrakter, maka pada pasien dilakukan CRRT. Tujuan dilakukan CRRT pada pasien ini adalah untuk menekan progresifitas cedera ginjal akut serta hiperkalemia, menghindari fluktuasi hemodinamika serta menghindari progresifitas CVD iskemik.Penggunaan modalitas terapi substitusi ginjal pada pasien preeklampsia dengan cedera ginjal akut, pneumonia dan CVD iskemik berguna untuk menekan progresifitas penurunan fungsi ginjal dan evolusi CVD iskemik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3631</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3631</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 70-80</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 70-80</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3631/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3631/4493</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3631/4494</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4413</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik dan Analgetik pada Vitrektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Blokade Peribulbar dengan Adjuvan Fentanil: Efek Hemodinamik  dan Analgetik pada Vitrektomi</dc:title>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Nadya, Siti Fairuz</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:creator>Tavianto, Doddy</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar; fentanil; ropivakain; stabilitas hemodinamik; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Regional Anesthesia; Eye block</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Blokade peribulbar; fentanil; ropivakain; stabilitas hemodinamik; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Studi ini merupakan penelitian pertama yang membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Desain penelitian ini adalah single blind randomized controlled trial yang melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/ml. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji t tidak berpasangan, Mann Whitney dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastolik, dan MAP antara kedua kelompok (p&gt;0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/ml memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Operasi vitrektomi membutuhkan analgesia adekuat dan stabilitas hemodinamik, terutama pada pasien usia lanjut dengan komorbiditas. Ropivakain adalah anestesi lokal yang umum digunakan untuk blokade peribulbar, namun kualitas bloknya dapat ditingkatkan dengan penambahan opioid seperti fentanil. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas ropivakain 0,75% dengan kombinasi ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL pada tekanan darah dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi. Penelitian dilaksanakan di Netra Klinik Spesialis Mata 2 Bandung sejak Juni–Agustus 2024 yang menggunakan single blind randomized controlled trial dengan melibatkan 54 pasien yang menjalani vitrektomi. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok yang terdiri atas 27 pasien: kelompok R yang menerima ropivakain 0,75% dan kelompok RF yang menerima ropivakain 0,75% dan fentanil 3 μg/mL. Tekanan darah sistolik, diastolik, MAP, serta kualitas analgesia (NRS) diukur pada tiga waktu yaitu sebelum, selama dan setelah operasi. Analisis statistik menggunakan uji-t tidak berpasangan, Mann Whitney dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna dalam perubahan tekanan darah sistolik, diastol, dan MAP antara kedua kelompok (p&gt;0,05). Kualitas analgesia yang dinilai menggunakan NRS juga tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, kombinasi ropivakain 0,75 % dan fentanil 3 mcg/mL memberikan hasil yang sebanding dengan ropivakain 0,75 % saja dalam hal stabilitas hemodinamik dan kualitas analgesia pada operasi vitrektomi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">No supporting agent</dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4413</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4413</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 105-113</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 105-113</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4413/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5658</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5660</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5674</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4413/5919</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2457</identifier>
				<datestamp>2021-09-28T01:36:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Laporan Kasus: COVID-19 dengan ARDS Berat dan Komorbiditas yang Bertahan tanpa Ventilasi Mekanik Invasif di ICU Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">A Case Series of COVID-19 with Severe ARDS and Comorbidities who Survived without Invasive Mechanical Ventilation in ICU at Wisma Atlet Kemayoran COVID-19 Field Hospital, Jakarta</dc:title>
	<dc:creator>Dewi, Made Yudha Asrithari</dc:creator>
	<dc:creator>Irfan, Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ARDS, COVID-19, HFNC, ICU, prone position</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care; Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ARDS, COVID-19, HFNC, ICU, prone position</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sebagian besar orang yang terinfeksi COVID-19 asimtomatis ataupun bergejala ringan. Namun tidak sedikit juga yang mengalami acute respiratory distress syndrome (ARDS), membutuhkan perawatan ICU bahkan berakhir dengan kematian. Indonesia bahkan telah melampaui angka dunia dengan angka 2,7%. Keadaan ini lebih berisiko dialami oleh pasien dengan komorbid seperti hipertensi (50,1%), diabetes (36,6%), dan obesitas (13,3%). Kebutuhan terapi oksigen dengan ventilasi mekanik hingga tindakan intubasi meningkat pada kebanyakan kasus dengan komorbid. Serial kasus ini melaporkan dua pasien terkonfirmasi COVID-19 dengan komorbid yang memenuhi kriteria intubasi, namun tidak dilakukan. Dalam perjalanannya kedua kasus mengalami perbaikan klinis dan sembuh. Beberapa kemungkinan yang dapat dijelaskan, yaitu terdapat perbedaan antara ARDS pada COVID-19 (CARDS) dan ARDS klasik. Selain itu, prone position yang membantu meningkatkan oksigenasi dan mengatasi hipoksemia melalui beberapa mekanisme. Penggunaan HFNC dini pada pasien COVID-19 dan pemberian regimen kombinasi terapi antibiotik, antivirus, antikoagulan, serta antiinflamasi dinilai dapat menurunkan morbiditas pasien. Tujuan penanganan ARDS ialah menangani hipoksemia dengan meningkatkan oksigenasi. Selain dengan pemberian terapi oksigen untuk meningkatkan FiO2, dapat juga dilakukan dengan prone position. Prone position pada kasus dengan kombinasi HFNC dinilai berhasil karena pasien mampu bertahan tanpa penggunaan ventilasi mekanik dan mengalami perbaikan klinis hingga sembuh. Two Reported Cases of COVID-19 with Severe ARDS and Comorbidities who Survived without Invasive Mechanical Ventilation in ICU at Wisma Atlet Kemayoran COVID-19 Field Hospital, JakartaMost patients with COVID-19 are either asymptomatic or have mild symptoms. However, many also experience acute respiratory distress syndrome (ARDS), requiring ICU, or even lead to death. Indonesia’s case fatality rate of 2.7% has exceeded the global case. Patients with comorbidities such as hypertension (50.1%), diabetes (36.6%), and obesity (13.3%) are at higher risk of experiencing this situation. The need for oxygen therapy with mechanical ventilation or even intubation is increased in most cases with previously mentioned comorbidities. These serial cases reported two confirmed COVID-19 patients with comorbidities that fulfilled intubation criteria; however, the intubation procedures were not performed. Both cases experienced clinical improvement and improved throughout the treatment period. Several possible explanations include that there are differences between ARDS in COVID-19 (CARDS) and classic ARDS. Moreover, the prone position helps in increasing oxygenation and reducing hypoxemia through several mechanisms. Early HFNC in COVID-19 patients and treatment regimen consisting of antibiotics, antivirus, anticoagulant, and anti-inflammatory drugs are considered to reduce morbidity. The goal of ARDS treatment is to treat hypoxemia by increasing oxygenation. In addition, giving oxygen therapy to increase FiO2 can also be done by prone positioning. Combining prone position and HFNC in these cases was considered successful because the patient were able to survive without the use of mechanical ventilation and experienced clinical improvement until they recovered.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Most patients with COVID-19 are either asymptomatic or have mild symptoms. However, many also experience acute respiratory distress syndrome (ARDS), requiring ICU, or even lead to death. Indonesia’s case fatality rate of 2,7% has exceeded the global case. Patients with comorbidities such as hypertension (50,1%), diabetes (36,6%), and obesity (13,3%) are at higher risk of experiencing this situation. The need for oxygen therapy with mechanical ventilation or even intubation is increased in most cases with previously mentioned comorbidities. These serial cases reported two confirmed COVID-19 patients with comorbidities that fulfilled intubation criteria, however, the intubation procedures were not performed. Both cases experienced clinical improvement and improved throughout the treatment period. Several possible explanations include that there are differences between ARDS in COVID-19 (CARDS) and classic ARDS. Moreover, the prone position helps in increasing oxygenation and reducing hypoxemia through several mechanisms. Early HFNC in COVID-19 patients and treatment regimen consisting of antibiotics, antivirus, anticoagulant, and anti-inflammatory drugs are considered to reduce morbidity.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-08-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2457</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n2.2457</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 127–134</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 127–134</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2457/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2457/2638</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3048</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:51Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hiperkapnia sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID-19</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Hiperkapnia Sebagai Prediktor Mortalitas Pasien COVID-19 di Ruang Rawat Intensif</dc:title>
	<dc:creator>Wijaya, Indra</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Erlangga, M. Erias</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19, hiperkapnia, mortalitas, PaCO2</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19; Terapi Intensif; Hiperkapnia; Mortalitas; PaCO2</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Proses aktivasi trombosis intravaskular pada COVID-19 menyebabkan komplikasi trombosis mikrovaskular dan makrovaskular sehingga terjadi peningkatan ruang mati paru dan meningkatkan kadar PaCO2. Hiperkapnia menyebabkan banyak perubahan fisiologis dalam tubuh meliputi sirkulasi paru dan sistemik dan meningkatkan risiko mortalitas pasien ARDS. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas pasien COVID-19. Penelitian dilakukan berdasarkan data pasien pada periode Maret 2020–Desember 2021. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Data PaCO2 pasien diambil saat hari pertama pasien dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin dan status mortalitas pasien di hari rawat ke-7 dan 28 hari. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis bivariabel simple regression logistic. Hasil analisis statistik diperoleh nilai p&lt; 0,05 dengan OR = 7,07 (CI 2,519–19,850) pada mortalitas hari ke-7, dan nilai p&lt; 0,05 OR 44,33 (CI 9,182–214,062) pada mortalitas hari ke-28. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas hari ke-7 dan ke-28 perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat di ruang rawat intensif isolasi.Hypercapnia as Mortality Predictor in COVID-19 PatientsThe SARS-CoV-2 virus causes COVID-19, an acute respiratory illness that caused a global pandemic. The activation of intravascular thrombosis in COVID-19 results in microvascular and macrovascular thrombosis complications, which increase lung dead space and PaCO2 levels. The hypercapnia condition causes many physiological changes in the body, including pulmonary and systemic circulation. It is known to increase the mortality risk in ARDS patients admitted to the Intensive Care Unit (ICU). This study aimed to determine if hypercapnia was a mortality predictor in COVID-19 patients treated in the isolation intensive care unit at Hasan Sadikin Hospital in Bandung. This observational analytic study used an observational analytic design with a retrospective cohort. The patient's PaCO2 data was collected on the first day of hospitalization in the ICU, and the patient's mortality status was collected on the 7th and 28th days of hospitalization. According to the statistical analysis, hypercapnia was associated with higher mortality, OR 7.07 (CI 2.519–19.850) on the 7th-day mortality and 44.33 (CI 9.182–214.062) on the 28th-day mortality, P value &lt; 0.05. In conclusion, hypercapnia is a mortality predictor on the 7th and 28th days of treatment in COVID-19 patients treated in the isolation intensive care unit. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Proses aktivasi trombosis intravascular pada COVID-19 menyebabkan komplikasi trombosis mikrovaskular dan makrovaskular sehingga terjadi peningkatan ruang mati paru dan meningkatkan kadar PaCO2. Hiperkapnia menyebabkan banyak banyak perubahan fisiologis dalam tubuh, meliputi sirkulasi paru dan sistemik dan diketahui meningkatkan resiko mortalitas pasien ARDS yang di rawat di ICU. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah hiperkapnia sebagai prediktor mortalitas pasien COVID-19 yang dirawat diruang rawat intensif isolasi RSUP Hasan Sadikin Bandung. Penelitian dilakukan berdasarkan data pasien pada periode Maret 2020 – Desember 2021. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan rancangan kohort retrospektif. Data PaCO2 pasien diambil saat hari pertama pasien dirawat di ICU dan status mortalitas pasien di hari rawat ke-7 dan 28 hari. Dari hasil analisis statistik diperoleh nilai P &lt; 0,05 dengan OR = 7,07 (CI 2,519 – 19,850) pada mortalitas hari ke-7, dan nilai P &lt; 0,05 OR 44,33 (CI 9,182 – 214,062) pada mortalitas hari ke-28. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan kondisi hiperkapnia merupakan prediktor mortalitas hari ke-7 dan ke-28 perawatan pada pasien COVID-19 yang dirawat di ruang rawat intensif isolasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3048</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.3048</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 198–204</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 198–204</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3048/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3669</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3761</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3762</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3048/3763</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3761</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:40Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Pemberian Profilaksis Fenilefrin dan Efedrin terhadap Hemodinamik Ibu dan Bayi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN PEMBERIAN PROFILAKSIS ANTARA PHENYLEPHRINE DAN EFEDRIN TERHADAP HEMODINAMIK MATERNAL DAN EFEKNYA PADA AGDA DAN APGAR SKOR BAYI</dc:title>
	<dc:creator>Siregar, Ahmad Solihin</dc:creator>
	<dc:creator>Tanjung, Qadri Fauzi</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">AGDA; APGAR; efedrin; fenilefrin; hemodinamik maternal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">AGDA, APGAR, efedrin, hemodinamik maternal, phenylephrine</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Anestesi spinal pada ibu hamil sering menyebabkan hipotensi yang dapat memengaruhi kondisi ibu dan bayi. Fenilefrin saat ini menjadi pilihan utama karena dianggap lebih aman terhadap janin dibanding dengan efedrin. Kedua agen vasopresor ini diketahui memengaruhi parameter penting seperti tekanan darah maternal, pH darah umbilikal, skor APGAR, dan analisis gas darah, namun efektivitasnya masih menjadi perdebatan, terutama pada kondisi gawat janin. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas fenilefrin dan efedrin sebagai profilaksis dalam mempertahankan hemodinamik maternal serta pengaruhnya terhadap analisis gas darah arteri (AGDA) dan skor APGAR pada seksio sesarea dengan anestesi spinal. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda terhadap 38 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok. Hasil menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah sistol dan MAP (p&gt;0,05), namun terdapat perbedaan signifikan pada tekanan diastol dan denyut jantung (p&lt;0,05). Skor APGAR pada menit ke-0 dan ke-5 juga menunjukkan perbedaan signifikan (p&lt;0,05), sedangkan AGDA tidak berbeda secara signifikan.Simpulan, kedua obat efektif dalam mempertahankan hemodinamik maternal, namun fenilefrin menunjukkan hasil yang lebih baik pada skor APGAR dan AGDA.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan: Phenylephrine adalah pilihan untuk mengatasi hipotensi pada anestesi spinal pada pasien yang menjalani seksio sesarea, karena tidak memengaruhi janin. Penggunaan efedrin atau phenylephrine dapat memengaruhi parameter seperti pH darah umbilikal, nilai APGAR, dan analisa gas darah, dengan bukti yang mengarah pada manfaat phenylephrine. Namun, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memahami pengaruh kedua vasopresor ini, terutama dalam kasus gawat janin akut.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa perbandingan phenylephrine dan efedrin sebagai profilaksis dalam mempertahankan hemodinamik maternal dan pengaruh terhadap Analisa gas darah arteri dan skor APGAR bayi setelah seksio sesarea dengan spinal anestesi.Metode: Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda dengan membandingkan 2 kelompok, yaitu 19 orang di kelompok yang mendapatkan obat efedrin dan 19 orang mendapatkan obat phenylephrine.Hasil: Tidak terdapat perbedaan signifikan antara efek obat efedrin dan phenylephrine terhadap TD sistolik dan MAP pada kelompok pasien yang diberikan obat tersebut (p&gt;0,05). Namun, terdapat perbedaan signifikan pada TD diastolik dan denyut jantung antara kedua kelompok (p&lt;0,05). Selain itu, nilai APGAR skor pada menit ke-0 dan menit ke-5 pada kelompok phenylephrine maupun efedrin masing-masing berbeda secara bermakna (p&lt;0,05), yang berarti terdapat perubahan nilai APGAR skor yang bermakna pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada AGDA pada kelompok phenilephrine bila dibandingkan dengan kelompok efedrin (p&gt;0,05).Kesimpulan: Phenylephrine dan efedrin sama baiknya dalam mempertahankan hemodinamik maternal, tetapi lebih baik dalam nilai APGAR dan AGDA bila dibandingkan dengan efedrin. Kata Kunci : AGDA, APGAR, efedrin, hemodinamik maternal, phenylephrine</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3761</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3761</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 33-40</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 33-40</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3761/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3761/5861</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2385</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:45Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perioperative Management of a Giant Ovarian Tumour in  an Adolescence  with Severe Scoliosis and Unilateral  Diaphragmatic Dysfunction: A Case Report</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID"></dc:title>
	<dc:creator>Giwangkancana, Gezy Wita</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniadi, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Putri, Yunita Susanto</dc:creator>
	<dc:creator>Maryani, Euis</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Adolescence, diaphragm dysfunction, malignancy, ovarian tumour, surgery</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Though giant ovarian tumor are rare but due to the limitations in oncology surgery during the COVID-19 pandemic, many oncology patients are presented with a more severe stage and giant ovarian tumors may be more commonly seen during this period. The aim of this case report study was to describe the perioperative management of an adolescent patient with a giant ovarian tumor, severe scoliosis, and unilateral diaphragm dysfunction. An 18-years-old girl weighing 28 kgBW came with a giant abdominal mass that extended to her thoracic and back areas. The patient had a history of severe scoliosis since childhood. She had signs of respiratory distress and was not comfortable lying down. Preoperatively, the surgeon used ultrasonography to guide cyst puncture using a thoracic tube and 6,500 cc of mucinous fluid was drained. Inhalational induction with preservation of spontaneous breathing was performed. Two massive masses filled the entire abdominal area, adhering to the peritoneum while pushing and tenting the diaphragm cranially and laterally to the right and bilateral salpingo-oophorectomy was conducted. Serial radiological examinations showed unilateral diaphragmatic dysfunction and a progressing ventilator associated pneumonia. Improving post-operative outcome of patients with giant intraabdominal masses must include preoperative assessment of potential peri-operative respiratory complications, preparation of intraoperative hemodynamic, and ventilatory disturbances with gentle weaning and multidisciplinary approach during the post-operative care to assess readiness of ventilator weaning. Manajemen Perioperatif Pasien dengan Tumor Ovarium Permagna pada Remaja dengan Skoliosis Berat dan Gangguan Diafragma UnilateralTumor ovarium berukuran masif pada anak jarang ditemukan di masa moderen karena perbaikan sistem pelayanan kesehatan namun di masa COVID-19, kasus dapat ditemukan karena hambatan pelayanan pembedahan onkologi. Laporan kasus ini bertujuan melaporkan manajemen perioperatif pada pasien remaja dengan tumor ovarium massif, skoliosis berat dan disfungsi diafragma. Remaja berusia 18 tahun dengan berat 35 kilogran datang dengan massa abdomen sangat besar disertai riwayat skoliosis. Pasien memiliki tanda ancaman gagal napas dan tidak nyaman pada posisi berbaring dan hanya dapat beristirahat dalam posisi duduk. Sebelum induksi, dokter bedah melakukan punksi massa dan didapatkan 6.500 cc cairan musin. Pasien diinduksi dengan napas spontan menggunakan gas anestesi. Bilateral salfingoofarektomi dilakukan dan pascaoperasi pasien dirawat di ruang intensif. Selama masa pemulihan pasien sulit disapih dari ventilator dan hasil pemeriksaan radiologis berulang menunjukkan tanda disfungsi diafragma dan pneumonia. Simpulan, meningkatkan hasil keluaran pada pasien dengan massa intraabdomen massif harus meliputi pemeriksaan preoperatif yang cermat mengenai komplikasi pernafasan perioperative, persiapan permasalahan hemodinamik intraoperative dan strategi penyapihan dari ventilator yang efektif dengan melibatkan pendekatan multidisiplin.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID"></dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-04-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2385</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n1.2385</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 50-57</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 50-57</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2385/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2385/2484</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2385/2485</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2617</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:25Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Respons Peserta PPDS Anestesi FK Unpad terhadap Pernyataan Seputar COVID-19 dan Tata laksana Jalan Napas Pasien COVID-19</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Respons Peserta PPDS Anestesi FK Unpad Terhadap Pernyataan Seputar COVID-19 dan Tatalaksana Jalan Napas Pasien COVID-19</dc:title>
	<dc:creator>Herman, Hansen Wangsa</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19, peserta PPDS anestesi, tata laksana jalan napas COVID-19</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesiologi; Manajemen Perioperatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19, Peserta PPDS Anestesi, Tatalaksana Jalan Napas COVID-19</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi adalah salah satu tenaga kesehatan yang rentan terinfeksi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh paparan droplet dan aerosol saat mereka mengerjakan prosedur tata laksana jalan napas pasien. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bagaimana respons peserta PPDS anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) terhadap pernyataan seputar COVID-19 dan tata laksana jalan napas pada pasien COVID-19. Penelitian ini adalah sebuah studi deskriptif dengan desain potong lintang.  Pengambilan data secara survei daring yang dilakukan kepada sebanyak 98 peserta PPDS Anestesi bulan Oktober 2021. Data penelitian terdiri atas karakteristik partisipan, respons terhadap pernyataan seputar COVID-19, dan tata laksana jalan napas pasien COVID-19. Data kemudian dianalisis dengan metode statistika deskriptif dengan aplikasi SPSS versi 26. Hasil penelitian ini adalah mayoritas peserta PPDS anestesi FK Unpad menunjukkan respons yang sesuai dengan referensi yang ada kecuali respons terhadap pernyataan mengenai periode inkubasi, lokasi pemeriksaan praoperatif, karantina setelah intubasi, dan masker laring sebagai pilihan pertama pembukaan jalan napas, dan pemberiaan pra-medikasi bagi pasien COVID-19 yang akan dianestesi. Simpulan penelitian ini adalah walaupun mayoritas peserta PPDS Anestesi FK Unpad sudah memberikan respons yang sesuai, namun masih diperlukan peningkatan literasi mengenai COVID-19, dan tata laksana jalan napas pasien COVID-19 agar mereka semakin aman dalam pekerjaannya. Responses of Universitas Padjadjaran Anesthesiology Residents to COVID-19 and Airway Handling for COVID-19 PatientsAnesthesiologists are healthcare workers vulnerable to COVID-19 infection as they are exposed to droplets and aerosols when working with patients' airways. This study aimed to describe how anesthesiology residents of the Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran responded to statements about COVID-19 and airway management in COVID-19 patients. This research was a descriptive study with a cross-sectional design. Data were collected through an online survey of 98 anesthesiology resident participants in October 2021. The data collected consisted of participant characteristics, responses to statements about COVID-19, and airway management of COVID-19 patients. Data analysis used descriptive statistical methods using the SPSS version 26 application. Study results were: most of the participants showed an appropriate response according to existing references except for responses to statements regarding the incubation period, preoperative examination location, quarantine after intubation, and laryngeal mask as the first choice to establish an airway, and providing premedication for COVID-19 patients who would be anesthetized. This study concludes that although most participants have responded appropriately, they must increase literacy about COVID-19 and the airway management of COVID-19 patients to remain secure at work. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi adalah salah satu tenaga kesehatan yang rentan terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh paparan droplet dan aerosol saat mereka mengerjakan prosedur tatalaksana jalan napas pasien. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan bagaimana respons peserta PPDS anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK UNPAD) terhadap pernyataan seputar COVID-19 dan tatalaksana jalan napas pada pasien COVID-19. Penelitian ini adalah sebuah studi deskriptif dengan desain potong lintang.  Pengambilan data secara survei daring yang dilakukan kepada sebanyak 98 peserta PPDS Anestesi bulan Oktober 2021. Data penelitian terdiri atas karakteristik partisipan, respons terhadap pernyataan seputar COVID-19 dan tatalaksana jalan napas pasien COVID-19. Data kemudian dianalisis dengan metode statistika deskriptif dengan aplikasi SPSS versi 26. Hasil penelitian ini adalah mayoritas peserta PPDS anestesi FK UNPAD menunjukkan respons yang sesuai dengan referensi yang ada kecuali respons terhadap pernyataan mengenai periode inkubasi, lokasi pemeriksaan pra-operatif, karantina setelah intubasi, dan masker laring sebagai pilihan pertama pembukaan jalan napas, dan pemberiaan pra-medikasi bagi pasien COVID-19 yang akan dianestesi. Simpulan penelitian ini adalah walaupun mayoritas peserta PPDS Anestesi FK UNPAD sudah memberikan respons yang sesuai namun masih diperlukan peningkatan literasi mengenai COVID-19 dan tatalaksana jalan napas pasien COVID-19 agar mereka semakin aman dalam pekerjaannya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2617</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2631</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 95–106</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 95–106</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2617/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3042</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3044</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3045</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3047</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2617/3048</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3480</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Awake Tracheal Intubation sebagai Pendekatan Anestesi pada Pasien dengan Predictive Difficult Airway: Laporan Kasus dari Perspektif Frontliner</dc:title>
	<dc:creator>Swari, Rani Pradnya</dc:creator>
	<dc:creator>Sanjaya, Dewa Ngakan Gde Dwija</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Awake Intubation; kekakuan leher; manajemen jalan napas sulit; sendi temporomandibular tidak teraba</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia, Anesthesiology, Perioperative</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Awake Intubation, Difficult airway</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Laporan kasus ini bertujuan meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan napas yang sulit di daerah pedesaan dengan kekurangan fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kekurangan obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Abstrak: Laporan kasus ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang tantangan risiko dan pengelolaan masalah jalan nafas yang sulit di daerah pedesaan dengan kurangnya fasilitas di ruang operasi. Kami melaporkan kasus laki-laki 31 tahun dengan karsinoma sel skuamosa masif di sisi kiri leher yang dikirim untuk eksisi dan drainase tumor. Pasien dinilai dengan status fisik ASA III karena prediksi jalan napas sulit dan suspek septik. Kami mengalami kesulitan untuk meraba sendi temporomandibular dan kekakuan pada leher. Pasien kami intubasi dalam kondisi sadar sepenuhnya dengan beberapa kesulitan karena kurangnya obat dan alat di rumah sakit kami. Pasien diekstubasi dalam kondisi sadar dengan aman setelah proses operasi dan dipindahkan ke ICU.Kata Kunci: Awake Intubation, sendi temporomandibular tidak teraba, kekakuan leher, manajemen jalan napas sulit.Abstract:  This case report aims to raise awareness about risk challenging and management difficult airway problem in the rural area with lack of facilities on operating room. We report a case of 31-years-old man with large squamous cell carcinoma on the left side of neck who sent for tumor excision and drainage. Patient was assessed with ASA III physical status due to predictive difficult airway and septic suspected. We experienced difficulties to palpable temporomandibular joint and neck stiffness. Patient proceeding with fully awake intubation with some difficulties due to lack of drugs and devices in our hospital. The patient was awake extubated safely after surgery process and transported to the ICU.Keywords: Awake Intubation, unpalpable temporomandibular joint, neck stiffness, difficult airway management</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">dr. Dewa Ngakan Gde Dwija Sanjaya, Sp.An, Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, RSUD Bangli</dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3480</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3480</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 185-191</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 185-191</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3480/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4266</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4267</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4268</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3480/4269</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3779</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:17:32Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi antara Doppler-Based Renal Resistive Index dan Nilai Kreatinin pada Pasien Sakit Kritis</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">KORELASI ANTARA DOPPLER-BASED RENAL RESISTIVE INDEX DAN NILAI KREATININ PADA PASIEN SAKIT KRITIS</dc:title>
	<dc:creator>Tanto, Dedi</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Erlangga, Erias</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kreatinin serum; RRI; sakit kritis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">kreatinin serum, RRI, sakit kritiskreatinin serum, RRI, sakit kritis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Indeks resistriksi renal/renal resistive index (RRI) merupakan pemeriksaan ultrasonografi non invasif untuk menilai renovascular dan dapat dilakukan dengan prinsip point-of-care testing (POCT) RRI merefleksikan perubahan aliran darah arteri intrarenalis, yang dapat terganggu pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, yang tercermin dalam peningkatan nilai kreatinin serum. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan desain potong lintang, bertujuan untuk mengetahui hubungan antara RRI dan nilai kreatinin serum pada pasien sakit kritis di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung, dari Mei hingga Agustus 2023. Sebanyak 51 pasien berusia 18–65 tahun menjalani pemeriksaan RRI dan kreatinin serum pada 24 jam pertama dan kedua setelah masuk ICU. Analisis korelasi menunjukkan nilai R sebesar 0,538, koefisien determinasi (r²) sebesar 0,298, dan nilai p&lt;0,001. Hasil ini menunjukkan korelasi positif moderat antara RRI dan nilai kreatinin serum.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemeriksaan indeks resistriksi renal / Renal Resistive Index (RRI) merupakan bagian dari pemeriksaan ultrasonografi non invasif terhadap renovaskular serta dapat dilakukan dengan prinsip POCT ( Point-of-Care Testing ) , dan RRI merefleksikan perubahan profil aliran darah arteri arkuata intrarenalis atau arteri interlobaris renalis. Gangguan fungsi ginjal akan mengakibatkan peningkatan nilai kreatinin serum. Perubahan profil aliran darah pembuluh arteri intra renal juga ditemukan pada gangguan fungsi ginjal. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross-sectional dan  analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara nilai parameter RRI dengan peningkatan nilai kreatinin serum yang diakibatkan oleh kerusakan sel ginjal yang terjadi pada pasien sakit kritis yang dirawat dalam kurun waktu Mei hingga Agustus 2023 di ICU RSUP. dr. Hasan Sadikin, Bandung. 51 pasien dengan rentang usia 18 – 65 tahun dilakukan pemeriksaan RRI dan nilai kreatinin serum dalam kurun waktu 24 jam pertama dan 24 jam kedua sejak pasien diterima rawat di ICU.Nilai R untuk nilai korelasi RRI dengan nilai kreatinin serum sebesar 0.538 ; koefisien determinasi r2 = 0,298 ; nilai p &lt; 0.001. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa RRI memiliki korelasi positif dengan nilai kreatinin serum dengan kekuatan korelasi moderate. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3779</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3779</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 183-192</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 183-192</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3779/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3779/5300</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3779/5301</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2060</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:09Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kita adalah Klinisi, bukan Sekedar Penghobi Ultrasonografi: Keterbatasan Ultrasonografi Point-Of-Care Jantung dalam Memandu Resusitasi Cairan</dc:title>
	<dc:creator>Sumantri, Syahrul Mubarak Danar</dc:creator>
	<dc:creator>Fauzana, Fauzana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Resusitasi, responsivitas cairan, syok, ultrasonografi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemeriksaan penunjang ultrasonografi point-of-care (POCUS) jantung sangat berguna dalam memandu resusitasi pasien kritis dengan penyakit penyerta jantung. Namun, POCUS jantung memiliki keterbatasan dan harus tetap dipandu pemeriksaan fisis klinis. Seorang perempuan berusia 84 tahun, mendapatkan perawatan di ruang intensif atas indikasi hemodinamik tidak stabil pascaperdarahan akut gastrointestinal bawah. Pasien tampak somnolen, takipnea, hipotensi disertai distensi vena jugularis. Pemeriksaan laboratorium hanya menunjukkan tanda anemia akut, sedangkan pada rontgen toraks didapatkan kardiomegali dan pacu jantung-tanam. Pasien ditemukan di bangsal dalam kondisi hipotensi dan diberikan bolus cairan. Evaluasi pascabolus cairan, pasien menunjukkan tanda hemodinamik stabil yang transien akibat perdarahan yang terus menerus. Dengan kecurigaan awal bahwa terdapat gangguan fungsi jantung maka ekokardiografi digunakan untuk memandu resusitasi cairan. Pada pemeriksaan tidak didapatkan variasi left ventricular outflow tract velocity time integral (VTi) disertai regurgitasi aorta (AR) moderat dan parameter lain yang membatasi fungsi ultrasonografi POCUS jantung dalam memandu uji responsivitas cairan. Penulis akhirnya melakukan resusitasi cairan dengan panduan pemeriksaan klinis secara berulang semata disertai pemeriksaan ultrasonografi inferior vena cava (IVC). Pasien berhasil diresusitasi dengan bolus cairan intravena dalam jumlah besar tanpa komplikasi sekunder. Penilaian klinis tetap diperlukan terutama pada kondisi patologis tertentu yang membatasi utilisasi POCUS jantung. We are Clinicians, not Ultrasound Geeks: when Cardiac Point-of-Care Ultrasonography Meets its Limitation in Guiding Fluid ResuscitationCardiac point-of-care ultrasonography (POCUS) has shown its superiority in guiding resuscitation of compromised critically ill patients. Despite its emerging usage, cardiac POCUS has limitations that should involve physical examination during its interpretation. An 84-year-old woman was admitted to the intensive care unit with hemodynamic instability following acute lower gastrointestinal bleeding. The patient appeared somnolent with physical examination revealed tachypnea, hypotension, and jugular venous distention. Laboratory data underlined no other than acute anemia. Chest radiography revealed cardiomegaly and implanted pacemaker. The patient was found hypotensive in her ward and treated with fluid bolus. In clinical reevaluation, the patient showed transient hemodynamic stability, for she underwent persistent lower gastrointestinal bleeding. Due to suspected compromised cardiac function, a cautious fluid resuscitation guided by echocardiography was commenced revealing no visible variation of the left ventricular outflow tract (LVOT) velocity-time integral (VTi), moderate aortic regurgitation (AR), and other parameters that might limit cardiac POCUS utility to assist fluid responsiveness test. We decided to administer fluid based on a regular reassessment of clinical hemodynamic parameters combined with inferior vena cava (IVC) ultrasound, Finally, the patient survived and did not suffer any complication following a large intravenous volume bolus. Intensivists' clinical assessment is paramount, especially in particular pathological conditions that limit cardiac POCUS utilization.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-28</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2060</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2060</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 187–193</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 187–193</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2060/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1927</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1928</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1929</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1930</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1931</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1932</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2060/1933</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2561</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Spray Lidokain pada Pipa Endotrakea terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaoperasi yang Dihubungkan dengan Lama Anestesi/Intubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektivitas Spray Lidokain pada Pipa Endotrakea terhadap Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaoperasi yang Dihubungkan dengan Lama Anestesi/Intubasi</dc:title>
	<dc:creator>Salsabila, Novie</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Lama anestesi/intubasi; lidokain; nyeri tenggorok pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiologu; Medical</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">lama anestesi/intubasi; lidokain; nyeri tenggorok pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Postoperative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi anestesi yang mengurangi kenyamanan pasien dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Lidokain merupakan salah satu medika mentosa yang dapat digunakan untuk mencegah POST. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas spray lidokain pada endotracheal tube (ETT) yang dihubungkan dengan lama anestesi/intubasi pada periode Desember 2020–Februari 2021 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji klinis dilakukan terhadap 113 subjek yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu dengan lama operasi &lt;1 jam (kelompok 1), 1–2 jam (kelompok 2), dan &gt;2 jam (kelompok 3). Penilaian dilakukan pada jam ke-0, 1, 6, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis post-hoc menggunakan uji Mann Whitney. Terdapat perbedaan POST yang signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 3, serta kelompok 2 dengan 3 (p&lt;0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 2 (p&gt;0,05). Pemberian lidokain pada ETT untuk mencegah POST efektif pada lama anestesi/intubasi kurang dari 2 jam. Diperlukan modalitas lain untuk mencegah POST pada operasi dengan durasi lebih dari 2 jam.Effectiveness of Lidocaine Spray for Preventing Postoperative Sore Throat in Several Durations of AnesthesiaPostoperative sore throat (POST) is a common postoperative complaint after general anesthesia, which can cause dissatisfaction and discomfort after surgery. Lidocaine is one of the drugs used to reduce or prevent POST. This study aimed to determine the effectiveness of lidocaine in preventing POST at various durations of anesthesia/intubation. The study was conducted from December 2020 to February 2021 at Dr. Hospital. Hasan Sadikin Bandung. This study enrolled 113 subjects who were divided into three groups, namely the group with a duration of anesthesia/intubation of less than 1 hour (group 1), between 1–2 hours (group 2), and the group with a duration of more than 2 hours (group 3). The postoperative sore throat was assessed immediately after the patient was extubated, 1, 6, and 24 hours post-extubation. Nonparametric statistical analysis was performed with the Kruskal Wallis test. The results showed that the severity of POST was statistically different between the groups (p&lt;0.05). Post-hoc analysis using the Mann-Whitney test showed significant differences between groups 1 and 3 and between groups 2 and 3 (p&lt;0.05). The difference was not statistically significant in group 1 compared to group 2 (p&gt;0.05). Administration of a lidocaine spray for preventing POST is effective in an anesthetic duration of fewer than 2 hours. Other modalities may be required for an anesthesia duration of more than 2 hours. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Postoperative sore throat (POST) merupakan salah satu komplikasi anestesi yang mengurangi kenyamanan pasien dengan angka kejadian yang cukup tinggi. Lidokain merupakan salah satu medika mentosa yang dapat digunakan untuk mencegah POST. Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas spray lidokain pada endotracheal tube (ETT) yang dihubungkan dengan lama anestesi/intubasi pada periode Desember 2020–Februari 2021 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji klinis dilakukan terhadap 113 subjek yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu dengan lama operasi &lt;1 jam (kelompok 1), 1–2 jam (kelompok 2), dan &gt;2 jam (kelompok 3). Penilaian dilakukan pada jam ke-0, 1, 6, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik nonparametrik menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis post-hoc menggunakan uji Mann Whitney. Terdapat perbedaan POST yang signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 3, serta kelompok 2 dengan 3 (p&lt;0,05). Tidak terdapat perbedaan signifikan pada perbandingan kelompok 1 dengan 2 (p&gt;0,05). Pemberian lidokain pada ETT untuk mencegah POST efektif pada lama anestesi/intubasi kurang dari 2 jam. Diperlukan modalitas lain untuk mencegah POST pada operasi dengan durasi lebih dari 2 jam.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2561</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2561</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 58-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 58-64</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2561/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2561/2815</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2561/2816</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3295</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:04Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Anestesi Dosis Rendah pada Pasien Asma dan Suspek Hipertiroid yang  Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Anestesi Dosis Rendah pada Pasien Asma dan Suspek Hipertiroid yang Menjalani Seksio Sesarea: Sebuah Laporan Kasus</dc:title>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Ridharakhim, Hernanda</dc:creator>
	<dc:creator>Hartani, Hartani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Asma; hipertiroid; ketuban pecah dini; seksio sesarea</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia, Anestesi Obstetri</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Asma, hipertiroid, ketuban pecah dini, seksio sesarea</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kehamilan dengan penyakit sistemik merupakan kasus yang menjadi perhatian khusus. Asma sebagai penyakit penyerta berisiko tinggi pada jalan napas ibu, sedangkan hipertiroid merupakan salah satu penyakit sistemik pada kehamilan yang dapat menimbulkan kegawatan pada ibu dan janin. Terdapat beberapa laporan kasus terkait manajemen anestesi pada ibu hamil dengan asma maupun hipertiroid, namun masih jarang yang membahas keduanya secara bersamaan. Kami melaporkan wanita 25 tahun dengan G2P1A0 yang menjalani seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dini, hipertiroid, asma intermiten, dan riwayat seksio sesarea. Tekanan darah 143/93 mmHg, laju nadi 111 kali per menit, saturasi 98–100% udara ruang. Pemeriksaan preoperasi didapatkan eksoftalmus, tremor, dan benjolan di leher. Pemeriksaan jantung didapatkan bunyi jantung I–II reguler tanpa murmur, suara paru vesikular dengan mengi minimal di kedua lapang paru. Pemeriksaan leopold didapatkan janin tunggal dengan presentasi kepala, denyut jantung janin 141 kali per menit. Pasien stabil selama operasi dengan anestesi spinal menggunakan bupivakain 7,5 mg adjuvan fentanil 25 mcg. Manajemen anestesi dengan multikomorbid memerlukan tata laksana yang cermat untuk memperoleh luaran yang baik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kehamilan dengan penyakit sistemik merupakan kasus yang menjadi perhatian khusus. Asma sebagai penyakit penyerta berisiko tinggi pada jalan napas ibu. Sedangkan hipertiroid merupakan salah satu penyakit sistemik pada kehamilan yang dapat menimbulkan kegawatan pada ibu dan janin. Terdapat beberapa laporan kasus terkait manajemen anestesi pada ibu hamil dengan asma maupun hipertiroid, namun masih jarang yang membahas keduanya secara bersamaan. Kami melaporkan wanita 25 tahun dengan G2P1A0 yang menjalani seksio sesarea atas indikasi ketuban pecah dini, hipertiroid, asma intermiten, dan riwayat seksio sesarea. Tekanan darah 143/93 mmHg, laju nadi 111 kali per menit, saturasi 98-100% udara ruang. Pemeriksaan preoperasi didapatkan eksoftalmus, tremor, dan benjolan di leher. Pemeriksaan jantung didapatkan bunyi jantung I-II reguler tanpa murmur, suara paru vesikuler dengan mengi minimal di kedua lapang paru. Pemeriksaan leopold didapatkan janin tunggal dengan presentasi kepala, denyut jantung janin 141 kali per menit. Pasien stabil selama operasi dengan anestesi spinal menggunakan bupivacaine 7,5 mg ajuvan fentanil 25 mcg. Manajemen anestesi dengan multikomorbid memerlukan tatalaksana yang cermat untuk memperoleh luaran yang baik</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3295</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3295</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 116-124</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 116-124</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3295/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3295/4028</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3740</identifier>
				<datestamp>2024-09-04T01:27:59Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28) dan Biaya Perawatan Pasien di ICU</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Derajat Keparahan Penyakit (Skor APACHE II) terhadap Utilisasi Sumber Daya (Skor TISS-28)  dan Biaya Perawatan Pasien di ICU</dc:title>
	<dc:creator>Nur, Muhammad Ikhwan</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Pison, Osmond Muftilov</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Biaya perawatan ICU; keparahan penyakit; skor APACHE II; skor TISS-28; utilisasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">keparahan penyakit; skor APACHE II; skor TISS-28; utilisasi; biaya perawatan ICU</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret–Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor APACHE II, sementara utilisasi sumber daya ICU dinilai dengan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28  harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp6.657.925,00. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r=0,538; r2=0,289; p ≤0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r=0,502;r2=0,253; p≤0,001. Derajat keparahan berdasarkan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">ICU merupakan unit perawatan di rumah sakit yang membutuhkan biaya tinggi. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi utilisasi sumber daya biaya perawatan pasien ICU. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi utilisasi sumber daya dan biaya perawatan ICU adalah keparahan penyakit. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan desain kohort prospektif Subjek penelitian ini adalah pasien ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang dirawat pada bulan Maret-Mei 2023. Derajat keparahan penyakit dinilai menggunakan skor APACHE II. Utilisasi sumber daya ICU dinilai menggunakan skor TISS-28. Uji Pearson Product Moment digunakan untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r) dan koefisien determinasi (r2) skor APACHE II terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien ICU. Sebanyak 113 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Rata-rata skor TISS-28 harian 25,6 dan biaya perawatan harian pasien ICU Rp 6.657.925,-. Dari analisis skor APACHE II terhadap skor TISS-28 harian didapatkan nilai r = 0,538; r2 = 0,289; p ≤ 0,001. Sedangkan dari analisis skor APACHE II dan biaya perawatan harian pasien ICU didapatkan r = 0,502 ; r2 = 0,253 ; p ≤ 0,001. Derajat keparahan skor APACHE II berpengaruh terhadap skor TISS-28 dan biaya perawatan pasien di ICU dengan arah korelasi positif. Hasil studi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan pasien di ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3740</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3740</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 109-118</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 109-118</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3740/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3740/4631</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3740/4632</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3830</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:32Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Comparative Analysis of Enhanced Recovery After Cesarean Surgery (ERACS) and Conventional Spinal Anesthesia on Maternal and Neonatal Outcomes: A Retrospective Study</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Penggunaan Metode ERACS terhadap Kualitas Hidup Ibu dan Anak di Rumah Sakit Bina Sehat</dc:title>
	<dc:creator>Efendi, Erfan</dc:creator>
	<dc:creator>Sisdayani, Alfina Galuh Hannie</dc:creator>
	<dc:creator>Safitri, Athiyah Naura</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APGAR score; caesarean section; early ambulation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ERACS, operasi sesar, mobilisasi dini, durasi rawat inap, apgar score</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: The Caesarean section (CS) rate has increased every year. However, this increase is not entirely due to medical indication. This phenomenon may put bot mothers and newborns at risk of short- and long-term complications associated with CS. Enhanced recovery after caesarean surgery (ERACS) is CS approach that incorporates preoperative, intraoperative, and postoperative. This study compared maternal and neonatal outcomes between ERACS and conventional caesarean delivery.Methods: A retrospective cohort study was conducted using medical records of caesarean deliveries at Bina Sehat Hospital, Jember (Sep tember2022–Aug 2023). Fifty ERACS and fifty conventional cases were included. Outcomes were early ambulation (≤12 h), length of stay (≤2 days), and good APGAR score (7–10) at 1 and 5 minutes. Data were analyzed using chi-square test.Results: Early ambulation (≤12 h) occurred in 38/50 ERACS VS 18/50 conventional cases. Leng of stay ≤2 days occurred in 40/50 ERACS vs 15/50 conventional cases. Good APGAR score in first minute 38/50 ERACS vs 37/50 conventional cases and in fifth minute 48/50 ERACS vs 49/50 conventional cases. The relationship between postoperative ambulation and length of stay is significant.Discussion: Preoperative, intraoperative, and postoperative modifications can accelerate patient mobilization after caesarean section. In addition, early ambulation improves various body functions related to metabolism. Theses factor has direct impact on postoperative ambulation and shorter length of stay.Conclusion: ERACS was associated with higher rate of early postoperative mobilization and shorter hospital length of stay compared with conventional caesarean delivery.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode SC yang menggunakan pendekatan khusus untuk mengoptimalkan kesehatan ibu pre operasi, intraoperasi, dan pasca operasi sesar yang memiliki keunggulan mempercepat waktu pemulihan pasien dan durasi rawat inap pasien. Pada ERACS anestesi yang diberikan dengan dosis rendah dan diberi kombinasi yang dapat berpengaruh pada Apgar score. Analisis observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan September – November 2023 di RS Bina Sehat Jember. Jumlah sampel penelitian sebanyak 100 sampel, dengan rincian 50 ibu dan bayinya yang dilahirkan dengan metode SC ERACS dan 50 ibu dan bayinya yang dilahirkan dengan metode SC konvensional. Data dianalisis menggunakan chi-square untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang bermakna mengenai waktu mobilisasi, durasi rawat inap, dan Apgar bayi score antara metode SC konvensional dengan metode ERACS SC.  Hasil penelitian menunjukkan 56 ibu dapat mobilisasi jalan ≤12 jam pasca operasi dan 44 ibu dapat mobilisasi jalan &gt;12 jam pasca operasi serta 55 ibu dengan durasi rawat inap ≤2 hari dan 35 ibu dengan durasi rawat inap &gt;2 hari. Selain itu pada menit pertama 75 bayi dengan Apgar score baik, 25 bayi dengan Apgar score sedang, serta pada menit kelima terdapat 97 bayi dengan apgar score baik dan 3 bayi dengan apgar score sedang. Terdapat perbedaan signifikan antara metode sectio caesarea yang digunakan dengan kecepatan mobilisasi jalan dan durasi rawat inap pasca operasi pasien, tetapi tidak terdapat perbedaan pada Apgar score pada bayi yang lahir menggunakan sectio caesarea metode konvensional dengan bayi yang lahir menggunakan sectio caesarea.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Jember University</dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3830</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.3830</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 133-138</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 133-138</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3830/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3830/4756</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3830/4759</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2484</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:27Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Pemberian EMLA 5% Dibanding dengan Spray Etil Klorida Spray untuk Mengurangi Nyeri pada Suntikan Jarum Epidural</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektifitas Pemberian EMLA 5 % Dibandingkan dengan Etil Klorida Spray untuk Mengurangi Nyeri pada Suntikan Jarum Epidural</dc:title>
	<dc:creator>Purnomo, Heri Dwi</dc:creator>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Citra, Ariffandy Dwi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi, epidural,  Nyeri (VAS) spray etil klorida</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi ; EMLA 5 %; Epidural; Ethil Klorida Spray; Nyeri (VAS)</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pada saat penyuntikan jarum epidural menjadi kekurangan terhadap aplikasi tindakan epidural. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektivitas pemberian EMLA 5% dibanding dengan etil klorida spray untuk mengurangi nyeri pada suntikan jarum epidural dengan skor visual analoge scale (VAS). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan pendekatan uji klinis dengan teknik single blind. Terdapat 30 subjek penelitian menjalani tindakan epidural di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan status fisik ASA I dan II berusia  20–65 tahun. Sampel meliputi 10 subjek dengan pemberian EMLA 5%, 10 subjek etil klorida spray dan 10 subjek lidokain 2%. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pengukuran intensitas nyeri dengan skor VAS pada kedalaman jarum epidural 0,5–1 cm dan 1–4 cm. Hasil pemberian EMLA 5% memberikan hasil yang lebih baik terhadap nilai VAS saat penyuntikan jarum epidural dibanding dengan etil klorida spray, perbedaan tingkat nyeri ditunjukkan pada kedalaman jarum epidural 0,5–1 cm (p=0,006) dan 1–4 cm p=0,000 (p&lt;0,05). Simpulan, pemberian EMLA 5% efektif mengurangi rasa nyeri pada suntikan epidural.Effectiveness of EMLA 5% Administration Compared to Ethyl Chloride Spray to Reduce Pain in Epidural Needle InjectionsPain at the time of injection of the epidural needle becomes a drawback to applying epidural action. This study aimed to determine the difference in the effectiveness of administrating EMLA 5% compared to ethyl chloride spray to reduce pain on epidural needle injections with a visual analog scale (VAS) score. This study was experimental research with a clinical trial approach with a single-blind technique. There were 30 research subjects undergoing an epidural at Dr. Moewardi Hospital Surakarta with the physical status of ASA I and II, aged between 20–65 years. The samples included ten subjects with 5% EMLA administration, ten subjects with ethyl chloride spray, and ten with 2% lidocaine. After randomization, pain intensity was measured with a VAS score at an epidural needle depth of 0.5–1 cm and 1–4 cm. The administration of EMLA 5% gave better results on the VAS value when injecting the epidural needle compared to ethyl chloride spray; the difference in pain level was shown at the epidural needle depth of 0.5–1 cm (p=0.006) and 1–4 cm p=0.000. In conclusion, administration of 5% EMLA is effective in reducing pain on epidural injections.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri pada saat penyuntikan jarum epidural menjadi kekurangan terhadap aplikasi tindakan epidural. Berkembangnya ilmu pengetahuan dibidang anestesia, khususnya penanganan nyeri, dikembangkan konsep penanganan nyeri yang dilakukan sebelum nyeri muncul. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui perbedaan efektifitas pemberian EMLA 5 % dibanding dengan Ethil klorida Spray untuk mengurangi nyeri pada suntikan jarum epidural dengan skor VAS (Visual Analoge Scale). Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental dengan pendekatan uji klinis dengan teknik single blind. Terdapat 30 subjek penelitian menjalani tindakan epidural di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan status fisik ASA I dan II berumur antara 20-65 tahun. Sampel meliputi 10 subyek dengan pemberian EMLA 5 %, 10 subyek Ethil Klorida Spray dan 10 subyek Lidokain 2%. Setelah dilakukan randomisasi dilakukan pengukuran intensitas nyeri dengan skor VAS pada kedalaman jarum epidural 0,5-1cm dan 1-4 cm. Hasil Pemberian EMLA 5 % memberikan hasil yang lebih baik terhadap nilai VAS (Visual Analoge Scale) saat penyuntikan jarum epidural dibandingkan Ethil klorida spray, perbedaan tingkat nyeri ditunjukkan pada kedalaman jarum epidural 0,5-1 cm p=0,006 (p&lt;0,05) dan 1-4 cm p=0,000 (p&lt;0,05). Sehingga dapat disimpulkan pemberian EMLA 5% efektif mengurangi rasa nyeri pada suntikan epidural.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2484</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2484</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 168–173</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 168–173</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2484/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2484/2685</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2793</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:54Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio pada Pasien COVID-19 Derajat Berat</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Kadar Limfosit dengan Nilai P/F Rasio Pada Pasien Covid-19 Derajat Berat</dc:title>
	<dc:creator>Bustomi, Yazid</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19; Limfosit; P/F rasio</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">COVID-19, Limfosit,  P/F rasio</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek dirawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125; R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit &lt;1.000 uL dan P/F rasio &lt;150 mmHg (p&lt;0,05). Simpulan, tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada COVID-19 derajat berat, walaupun pada sebagian besar kasus COVID-19 derajat berat didapatkan penurunan limfosit dan P/F rasio. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Virus SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit pernapasan akut yang disebut COVID-19 dan menyebabkan pandemi global. Limfopenia adalah salah satu kelainan laboratorium utama pada pasien COVID-19 derajat berat yang mengalami ARDS dengan penurunan P/F rasio. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar limfosit dengan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat sebagai prediktor terjadinya kerusakan paru atau ARDS. Penelitian dilakukan di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan menelusuri rekam medik pada periode Januari hingga Juli 2021. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kohort retrospektif menggunakan model pendekatan waktu secara longitudinal atau time period approach. Penilaian dilakukan pada saat subjek di rawat pada hari ke-1, 3, dan ke-7 di ICU COVID-19 RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji normalitas data numerik menggunakan uji Shapiro Wilk didapatkan hasil data berdistribusi tidak normal. Selanjutnya, pada penelitian ini dilakukan uji korelasi Spearman. Tidak terdapat korelasi antara kadar limfosit dan P/F rasio pada pasien COVID-19 derajat berat (p=0,125 dan R=0,126). Didapatkan sebagian besar pasien COVID-19 derajat berat memiliki kadar limfosit &lt;1000 uL dan P/F rasio &lt;150 mmHg  (p&lt;0,05).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2793</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2793</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 35–42</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 35–42</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2793/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3407</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3408</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3409</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3410</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2793/3411</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3676</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T04:19:50Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Skor Apache II, SOFA, dan NEWS dengan Kejadian Prolonged   Mechanical Ventilator di ICU RSUP H. Adam Malik, Medan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">HUBUNGAN ANTARA SKOR APACHE II, SOFA, EWS  TERHADAP KEJADIAN PROLONGED MECHANICAL VENTILATOR DI ICU RSUP H. ADAM MALIK MEDAN</dc:title>
	<dc:creator>Johan, T. Abdurrahman</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Irina, Rr. Sinta</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APACHE II; NEWS; PMV; SOFA</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">APACHE II, SOFA, NEWS, PMV</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien yang dirawat di ICU sekitar 30−60% membutuhkan ventilasi mekanik. Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa 3−7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan prolonged mechanical ventilator (PMV). Prevalensi individu yang membutuhkan ventilator assisted individuals (VAI) berkisar 6,6 hingga 23 per 100.000 pasien. Individu dengan VAI meningkat mengindikasikan peningkatan kebutuhan ventilasi mekanik yang lama/prolonged mechanical ventilation (PMV) dan prognosis yang lebih buruk. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis apakah penilaian skor APACHE II, SOFA, dan NEWS memiliki hubungan dengan penggunaan ventilator mekanik yang memanjang selama Januari–Desember 2022 di ICU RSUP H. Adam Malik Medan. Desain penelitian ini menggunakan uji analitik retrospektif dengan rancangan cohort. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dipilih dengan metode total sampling. Jumlah sampel 96 pasien yang dinilai skor APACHE, SOFA, NEWS, dan apakah pasien mengalami PMV. Hasil penelitian ini pasien dengan PMV didapatkan skor APACHE dengan nilai median 18, pada skor SOFA 7 dan pada skor NEWS 12, dengan nilai p=0,001 pada ketiga penilaian ditemukan hubungan yang signifikan. Simpulan penelitian ini didapatkan hubungan skor APACHE II, SOFA, dan NEWS dengan kejadian PMV.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Di  antara pasien yang dirawat di ICU, 30 - 60% membutuhkan Ventilasi Mekanik.  Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa  3-7% pasien dengan ventilasi mekanis memerlukan PMV (Prolonged Mechanical Ventilator). Prevalensi individu yang membutuhkan  ventilator (ventilator assisted individuals/ VAI) berkisar  antara  6,6  hingga 23 per 100.000  pasien. Meningkatnya individu dengan VAI mengindikasikan  peningkatkan kebutuhan  ventilasi mekanis yang lama (prolonged mechanical  ventilation/  PMV) dan  prognosis yang lebih buruk.  Desain  penelitian  ini menggunakan  uji  analitik  retrospektif dengan rancangan cohort.  Subjek  yang  memenuhi  kriteria  inklusi  dan  eksklusi dipilih dengan  metode total sampling. Dengan total   sampel 96, yang  dinilai skor APACHE,  SOFA,  NEWS, dan  apakah pasien  mengalami  PMV. Dari hasil penelitian ini, pasien  dengan   PMV   didapatkan  skor APACHE   dengan  nilai  median 18, pada skor  SOFA 7,  dan pada skor  NEWS 12, dengan nilai P pada ketiga penilaian 0,001 yang ditemukan  adanya  hubungan yang  signifikan. Kesimpulan dari penelitian ini didapatkan hubungan  yang  signifikan  pada  skor APACHE II, SOFA, dan  NEWS  dengan  kejadian  PMV.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3676</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3676</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 26-32</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 26-32</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3676/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3676/4550</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3676/4614</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4426</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Faktor Komorbiditas sebagai Prediktor Mortalitas Sepsis  di Unit Perawatan Intensif</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Faktor Risiko Komorbid pada Mortalitas Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Pramono, Ardi</dc:creator>
	<dc:creator>Maryani, Nova</dc:creator>
	<dc:creator>Wardhani, Ufita Dauma Ummi Nusuka</dc:creator>
	<dc:creator>Ramadhan, Muhammad Tahfiz</dc:creator>
	<dc:creator>Afaki, Sajida Fihrisa</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Gangguan paru; komorbid; mortalitas; sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">sepsis; komorbid; mortalitas; gangguan paru</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis merupakan disfungsi organ yang disebabkan oleh respons berlebihan tubuh terhadap infeksi dan dapat mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun dengan tingkat moralitas 26,7%. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi luaran pasien adalah komorbiditas. Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang dilakukan untuk menilai faktor risiko komorbid yang berhubungan dengan kematian pasien sepsis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping pada tahun 2022–2023. Berdasarkan data rekam medik diperoleh 55 subjek dengan sepsis, baik yang meninggal maupun hidup, dengan komorbid meliputi gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, dua faktor berhubungan signifikan dengan mortalitas, yaitu gangguan paru dan gangguan ginjal (p&lt;0,05).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Sepsis adalah kondisi disfungsi organ yang disebabkan oleh reaksi berlebihan tubuh terhadap infeksi dan mengancam jiwa. Secara global, insiden sepsis di rumah sakit mencapai 189 kasus per 100.000 orang per tahun, dengan tingkat kematian 26,7%. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kondisi akhir pasien sepsis adalah komorbiditas. Studi observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan untuk mengetahui faktor risiko komorbid terkait kematian pasien sepsis di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Dari data rekam medik diperoleh 55 subjek sepsis meninggal maupun hidup dengan beberapa komorbid yaitu: gangguan paru, gangguan jantung, gangguan ginjal, gangguan saraf, dan diabetes mellitus. Hasil analisis data menggunakan regresi bivariat chi square menunjukkan bahwa dari lima faktor komorbid yang dianalisis, terdapat dua faktor yang secara signifikan terkait dengan mortalitas pasien sepsis, yaitu gangguan paru, dan gangguan ginjal (p&lt; 0,05).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4426</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4426</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 71-76</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 71-76</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4426/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4426/5689</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4426/5690</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4426/5762</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2426</identifier>
				<datestamp>2021-09-28T01:36:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Angka Keberhasilan dan Lama Intubasi antara Metode Laringoskopi Direk dan Videolaringoskopi pada Pasien Obesitas</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">perbandingan angka keberhasilan dan lama intubasi antara metode laringoskopi direk dan videolaringoskopi pada pasien obesitas</dc:title>
	<dc:creator>Lestari, Riri</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliasah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Keberhasilan intubasi, lama waktu intubasi, metode laringoskopi direk, metode videolaringoskopi, pasien obesitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anestesiologi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">keberhasilan intubasi; lama waktu intubasi; metode laringoskopi direk; metode videolaringoskopi; pasien obesitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Obesitas merupakan salah satu prediktor independen jalan napas sulit. Laringoskopi direk menggunakan laringoskop Macintosh merupakan teknik standar yang paling sering digunakan untuk intubasi endotrakeal. Penggunaan videolaringoskop (VL) telah meningkatkan angka keberhasilan intubasi pada pasien dengan jalan napas sulit dan memberikan waktu intubasi yang lebih singkat dibanding dengan laringoskopi direk. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan angka keberhasilan dan lama intubasi antara metode laringoskopi direk dan videolaringoskopi pada pasien obesitas. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental, randomized single blind study dengan jumlah sampel sebanyak 22 pasien di Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode November 2020–Januari 2021. Analisis statistik menggunakan Uji Eksak Fisher dan t dua kelompok independen. Dilakukan penilaian keberhasilan dan lama waktu intubasi endotrakeal setiap kelompok yang diuji. Pada kelompok VL, intubasi endotrakeal berhasil dilakukan pada 11 subjek dengan tidak ada subjek gagal, sementara pada kelompok direk didapatkan 6 subjek berhasil dan 5 subjek gagal. Lama intubasi pada kelompok VL rerata 27,69±7,73  detik dan kelompok direk 26,73±4,53 detik. Penelitian ini memberikan hasil angka keberhasilan intubasi endotrakeal dengan metode videolaringoskopi lebih tinggi secara signifikan (p&lt;0,05) dengan waktu intubasi lebih lama yang tidak signifikan secara statistik (p&gt;0,05). Simpulan, penggunaan metode videolaringoskopi pada saat intubasi pada pasien obesitas meningkatkan keberhasilan intubasi, namun tidak mempersingkat lama waktu intubasi. Comparison of Success Rate and Intubation Time between Direct Laryngoscopy and Videolaryngoscopy Methods on Obese Patients Obesity is one of independent predictors of difficult airway. Direct laryngoscopy with Macintosh blade is the frequent standard technique for endotracheal intubation. The use of videolaryngoscope has increased the success rate of intubation in patients with difficult airway and provided a shorter intubation time compared to direct laryngoscopy. The purpose of the study was to compare the result and time discrepancy when intubating obese patients with direct laryngoscopy and videolaryngoscopy methods. This study used prospective analytical comparative experimental, randomized single blind methods, on 22 patients at the central operating theatre Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung during November 2020–January 2021. The study assessed the successful result and duration in doing endotracheal intubation from each study groups. In videolaryngoscopy group, 11 subjects were intubated successfully with no subject failed, while in group with direct laryngoscopy, 6 subjects were intubated successfully and 5 subjects failed. The mean time duration rate used to intubate in videolaryngoscopy group was 27.69±7.73 seconds, meanwhile in group with direct laryngoscopy was 26.73±4.53 seconds. The study shows higher successful rate of endotracheal intubation significantly (p&lt;0.05) and longer time duration of intubation that is not significant statistically (p&gt;0.05) in videolaryngoscopy group. In conclusion, intubation using videolaryngoscope increase the success of intubation but not  lessen the duration of  intubation time in  obese patients.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kegagalan penatalaksanaan jalan napas mengakibatkan komplikasi yang serius bahkan kematian. Obesitas merupakan salah satu prediktor independen jalan napas sulit. Laringoskopi direk dengan menggunakan laringoskop Macintosh merupakan teknik standar yang paling sering digunakan untuk intubasi endotrakeal. Penggunaan videolaringoskop (VL) telah meningkatkan angka keberhasilan intubasi pada pasien dengan jalan napas sulit dan memberikan waktu intubasi yang lebih singkat dibandingkan dengan laringoskopi direk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan angka keberhasilan dan lama intubasi antara metode laringoskopi direk dan videolaringoskopi pada pasien obesitas. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental, randomized single blind study dengan jumlah sampel sebanyak 22 pasien di Instalasi Bedah Sentral RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung pada periode November 2020 sampai Januari 2021. Analisis statistik menggunakan uji eksak fisher dan t dua kelompok independen. Dilakukan penilaian keberhasilan dan lama waktu intubasi endotrakeal dari setiap kelompok yang diuji. Pada kelompok VL, intubasi endotrakeal berhasil dilakukan pada 11 subjek dengan tidak ada subjek gagal, sementara pada kelompok direk didapatkan 6 subjek berhasil dan 5 subjek gagal. Lama intubasi pada kelompok VL rata-rata 27,69±7,73  detik dan kelompok direk 26,73±4,53 detik. Penelitian ini memberikan hasil angka keberhasilan intubasi endotrakeal dengan metode videolaringoskopi lebih tinggi secara signifikan (p&lt;0,05) dengan waktu intubasi lebih lama yang tidak signifikan secara statistik (p&gt;0,05). Simpulan penelitian adalah penggunaan metode videolaringoskopi pada saat intubasi pada pasien obesitas meningkatkan  keberhasilan intubasi namun tidak mempersingkat lama waktu intubasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-08-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2426</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n2.2426</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 93–101</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 93–101</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2426/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2426/2585</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2426/2586</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2426/2587</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2426/2588</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2975</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:50Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Delirium Pascaoperasi sebagai Prediktor Mortalitas pada Geriatri yang Menjalani Operasi Non-Kardiak</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Delirium Pasca Operasi sebagai Prediktor Mortalitas pada Geriatri yang Menjalani Operasi Non-Kardiak: Tinjauan Sistematis</dc:title>
	<dc:creator>Tantri, Aida Rosita</dc:creator>
	<dc:creator>Andreas, Muncieto</dc:creator>
	<dc:creator>Talitaputri, Clarissa Emiko</dc:creator>
	<dc:creator>Johannes, Saur Maruli Evan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi, delirium pascaoperasi, geriatri, mortalitas, operasi non-kardiak</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia, Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">delirium postoperatif; mortalitas; geriatri, anestesi; operasi non-kardiak</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Delirium postoperatif merupakan suatu bentuk delirium yang sering tidak disadari serta dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan masih terdapat konflik terkait hubungan delirium pascaoperasi sebagai prediktor mortalitas, terutama pada pasien geriatri. Oleh karena itu, tinjauan sistematis ini bertujuan mengetahui hubungan delirium pascaoperasi sebagai prediktor mortalitas pada pasien geriatri yang menjalani anestesi pada pembedahan non-kardiak. Penelusuran dilakukan melalui database online seperti Medline®, ClinicalKey®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, dan Cochrane®. Telaah kritis terhadap artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dilakukan berdasarkan Center of Evidence-Based Medicine, University of Oxford for prognosis study.Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh tiga studi yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Hasil telaah kitis terhadap ketiga studi tersebut menunjukkan tidak terdapat cukup bukti kuat yang mendukung delirium pascaoperasi merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pada pasien geriatri. Delirium pascaoperasi bukan merupakan prediktor independen, namun meningkatkan risiko mortalitas bersama faktor lain seperti frailty, usia, jenis operasi, urgensi operasi, dan komorbid, hingga terdapat studi yang cukup kuat untuk mendukung delirium pascaoperasi bukan sebagai prediktor mortalitas. Klinisi tetap harus berupaya mencegah kondisi delirium pascaoperasi agar tidak menjadi mediator yang meningkatkan risiko mortalitas. Postoperative Delirium as Mortality Predictor in Geriatrics Undergoing Non-Cardiac Surgery: A Systematic ReviewPostoperative delirium is a form of delirium that often goes unrecognized and can increase morbidity and mortality. However, there are still conflicts in previous studies regarding the relationship between postoperative delirium as a predictor of mortality, especially in geriatric patients. Therefore, this systematic review aimed to determine the relationship to postoperative delirium as a predictor of mortality in geriatric patients undergoing anesthesia for non-cardiac surgery. Searches were conducted through online databases such as Medline®, Clinical Key®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, and Cochrane®. A critical review of scientific articles that met the inclusion and exclusion criteria was carried out by the Center for Evidence-Based Medicine, University of Oxford, for prognostic studies. The search resulted in three studies that met the inclusion criteria. A clinical review of these three studies has shown insufficient evidence to support that postoperative delirium is an independent predictor of death in geriatric patients. Postoperative delirium is not an independent predictor but increases the risk of death and other factors such as frailty, age, type of surgery, urgency of surgery, and co-morbidities. Until there are sufficiently robust studies to support postoperative delirium rather than as a predictor of mortality, clinicians should continue to strive to prevent postoperative delirium from becoming a mediator that increases the risk of death.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Latar belakang: Delirium postoperatif merupakan suatu bentuk delirium yang sering tidak disadari serta dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan masih terdapat konflik terkait hubungan delirium postoperatif sebagai prediktor mortalitas, terutama pada pasien geriatri. Oleh karena itu, tinjauan sistematis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan delirium postoperatif sebagai prediktor mortalitas pada pasien geriatri yang menjalani anestesi pada pembedahan non-kardiak.Metode: Penelusuran dilakukan melalui database online seperti Medline®, ClinicalKey®, Science Direct®, EBSCO®, ProQuest®, dan Cochrane®. Telaah kritis terhadap artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dilakukan berdasarkan Center of Evidence-Based Medicine, University of Oxford for prognosis study.Hasil: Berdasarkan hasil penelusuran diperoleh tiga studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil telaah kitis terhadap ketiga studi tersebut menunjukkan tidak terdapat cukup bukti yang kuat yang mendukung delirium postoperatif merupakan prediktor independen terhadap mortalitas pada pasien geriatri.Kesimpulan: Delirium postoperatif bukan merupakan prediktor independen, namun meningkatkan risiko mortalitas bersama faktor lain seperti frailty, usia, jenis operasi, urgensi operasi, dan komorbid. Hingga terdapat studi yang cukup kuat untuk mendukung delirium postoperatif bukan sebagai prediktor mortalitas, klinisi tetap harus berupaya mencegah kondisi delirium postoperatif agar tidak menjadi mediator yang meningkatkan risiko mortalitas.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2975</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2975</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 157–166</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 157–166</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2975/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2975/3570</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3966</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:41Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Nilai Prognostik Optical Nerve Sheath Diameter, Transcranial Doppler Pulsatility Index, dan Skor APACHE II terhadap Mortalitas di Ruang Intensif pada Pasien Pascabedah Otak</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN NILAI PROGNOSTIK OPTICAL NERVE SHEATH DIAMETER, TRANSCRANIAL DOPPLER PULSATILITY INDEX DAN SKOR APACHE II TERHADAP MORTALITAS DI RUANG INTENSIF  PADA PASIEN PASCABEDAH OTAK</dc:title>
	<dc:creator>Halimi, Radian Ahmad</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APACHE II, mortalitas, ONSD, TCD-PI, ICU</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Skor Acute Physiology and Chronic Health Evaluation II (APACHE II) merupakan alat yang umum digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit dan memprediksi mortalitas pasien di unit perawatan intensif (ICU), termasuk pasien bedah saraf. Pemeriksaan optic nerve sheath diameter (ONSD) dan transcranial doppler pulsatility index (TCD-PI) telah dikembangkan sebagai alat pemantauan noninvasif untuk mendeteksi komplikasi dan memperkirakan risiko kematian pada pasien dengan gangguan sistem saraf pusat. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik prospektif yang bertujuan membandingkan nilai prediktif ONSD, TCD-PI, dan skor APACHE II terhadap mortalitas pasien pascabedah otak di ICU. Sebanyak 36 pasien diikutsertakan, dengan pemeriksaan dilakukan 12–24 jam pascabedah. Analisis dilakukan menggunakan area under the receiver operating characteristic curve (AUROC) untuk menilai kemampuan diskriminatif tiap-tiap variabel. Hasil menunjukkan bahwa ONSD memiliki AUROC tertinggi (0,824), dibanding dengan TCD-PI (0,786) dan skor APACHE II (0,808). Uji statistik DeLong menunjukkan bahwa ONSD secara signifikan lebih baik dibanding dengan TCD-PI (p=0,01), namun tidak berbeda bermakna dibanding dengan APACHE II (p=0,12). Simpulan, ONSD menunjukkan nilai prognostik yang lebih baik dalam memprediksi mortalitas pasien pascabedah otak dibandingkan TCD-PI dan setara dengan skor APACHE II. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Saat ini sistem skoring acute physiologic and chronic health evaluation (APACHE II) digunakan untuk menilai keparahan penyakit pasien dan prediktor mortalitas pada pasien di ruang intensif (ICU) untuk pasien bedah saraf, namun penilaian ini mengalami overestimated dan underestimated. Pemeriksaan optic nerve sheath diameter (ONSD) dan transcranial doppler pulsatility index (TCD-PI) dapat digunakan sebagai alat pemantauan, prediktor komplikasi dan mortalitas pada pasien kritis dengan gangguan sistem saraf pusat di ICU. Penelitian ini merupakan studi prospektif observasional analitik yang membandingkan pemeriksaan ONSD, TCD-PI dan skor APACHE II sebagai prediktor mortalitas pasien pascabedah otak yang dirawat di ICU dengan jumlah sampel sebanyak 36 pasien. Pemeriksaan ketiga alat ukur dinilai saat 12-24 jam pascaoperasi. Performa prognostik menggunakan uji diskriminasi Area Under Curve dari Receiver Operating Characteristic (AUROC) digunakan untuk menentukan nilai prediksi masing-masing variabel terhadap mortalitas kemudian dibandingkan nilai prognostik diantara ketiga pemeriksaan tersebut. Perbandingan nilai AUROC masing-masing model prognostik menggunakan uji Delong’s didapatkan ONSD (0,824) lebih baik secara statistik dibandingkan TCD-PI (0,786) dan skor APACHE II (0,808) dalam memprediksi mortalitas pasien pascabedah otak di ICU (p = 0,01 dan 0,12). Pemeriksaan ONSD memiliki nilai prognostik mortalitas pada pascabedah otak di ICU yang lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan TCD-PI dan skor APACHE II.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3966</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3966</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 60-66</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 60-66</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3966/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3966/4984</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3966/4985</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2275</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:45Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Analisis Faktor Risiko Oxygenation Index, Oxygen Saturation Index, dan Rasio Pao2/Fio2 sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Pneumonia COVID-19 dengan ARDS di Ruang Perawatan Intensif Isolasi Khusus RSUD Dr Soetomo</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Analisis Faktor Risiko Oxygenation Index, Oxygen Saturation Index, dan Rasio Pao2/Fio2 sebagai Prediktor Mortalitas Pasien Pneumonia COVID-19 dengan ARDS di Ruang Perawatan Intensif Isolasi Khusus RSUD Dr Soetomo</dc:title>
	<dc:creator>Rory, Samuel Hananiel</dc:creator>
	<dc:creator>Utariani, Arie</dc:creator>
	<dc:creator>Semedi, Bambang Pujo</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ARDS, COVID-19, indeks oksigenasi, indeks saturasi oksigen, mortalitas, pneumonia, rasio PaO2 /FiO2</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">OI, OSI, Rasio PaO2/FiO2, ARDS, Pneumonia, COVID-19, Mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pada kasus berat, pneumonia COVID-19 terjadi perburukan secara cepat dan progresif yang menyebabkan ARDS. Pengukuran parameter oksigenasi seperti oxygenation index (OI) dan oxygen saturation index (OSI) pada beberapa penelitian menunjukkan superioritas dibanding dengan rasio PaO2/FiO2 dalam menilai status oksigenasi dan derajat keparahan ARDS. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis faktor risiko OI, OSI, dan Rasio PaO2/FiO2 terhadap mortalitas pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS. Penelitian ini adalah penelitian analitik observaional dengan desain cohort-prospective terhadap pasien dewasa pneumonia COVID-19 dengan ARDS berdasar atas kriteria Berlin. Data perhitungan OI, OSI, dan rasio PaO2/FiO2 diambil pada 30 menit pertama pascapemasangan ventilator mekanik. Analisis regresi logistik digunakan untuk menganalisis faktor risiko OI, OSI, dan rasio PaO2/FiO2 terhadap mortalitas 28 hari pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS. Hasil penelitian didapatkan pada 77 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi, hanya variabel OI yang terbukti signifikan sebagai prediktor independen mortalitas dengan nilai p 0,043, sementara OSI dan rasio PaO2/FiO2 tidak signifikan. Dari ketiga variabel, OI mempunyai AUC tertinggi, yakni 0,935 dibanding dengan variabel OSI dan rasio PaO2/FiO2. Simpulan, OI terbukti sebagai prediktor independen mortalitas pada pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS.Oxygen Index, Oxygenation Saturation Index, and Pao2/Fio2 Ratio as Predictors of Mortality in Pneumonia Covid-19 with ARDS Patients Treated in Intensive Isolated Care Unit In severe COVID-19 cases, worsening of pneumonia occurs rapidly and leads to ARDS. Oxygenation parameters such as oxygenation index (OI) and oxygen saturation index (OSI) has been shown to be superior when compared to the PaO2/FiO2 ratio in assessing the oxygenation status and ARDS severity in some studies. Currently, there are limited studies that explore the prognostic values of these parameters in pneumonia COVID-19 with ARDS. This study aimed to analyze the OI, OSI, and PaO2/FiO2 Ratio as predictors of mortality in pneumonia COVID-19 with ARDS in patients treated in the intensive isolated care room. This was an observational analytic study conducted at dr. Soetomo Hospital, Indonesia, on adult patients who met the criteria for pneumonia COVID-19 with ARDS based on Berlin criteria. Data on OI, OSI, and PaO2/FiO2 were collected based on the results of measurements 30 minutes post-intubation and mechanical ventilation in these patients. Logistic regression analysis was used to analyze the OI, OSI, and PaO2/FiO2 as risk factors for 28 days mortality of pneumonia COVID-19 patients with ARDS. In a total of 77 patients eligible for the analyses, it was observed that OI was independently associated with hospital mortality (p 0.043) while OSI and PaO2/FiO2 ratio were not statistically significant. From these three variables, the AUC for mortality prediction was the greatest for OI (AUC 0.935, p&lt;0.05). In conclusion, OI is the only one that is proven to be the independent predictor mortality with the highest sensitivity and specificity compared to the OSI and PaO2/FiO2 ratio for patients with pneumonia covid-19 with ARDS.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pada kasus berat, pneumonia COVID-19 terjadi perburukan secara cepat dan progresif yang  menyebabkan ARDS. Pengukuran parameter oksigenasi seperti oxygenation index (OI) dan oxygen saturation index (OSI) pada beberapa penelitian menunjukkan superioritas dibanding dengan rasio PaO2/FiO2 dalam menilai status oksigenasi dan derajat keparahan ARDS. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis faktor risiko OI, OSI, dan Rasio PaO2/FiO2 terhadap mortalitas pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS. Penelitian ini adalah penelitian analitik observaional dengan desain cohort-prospective terhadap pasien dewasa pneumonia COVID-19 dengan ARDS berdasar atas kriteria Berlin. Data perhitungan OI, OSI, dan rasio PaO2/FiO2 diambil pada 30 menit pertama pascapemasangan ventilator mekanik. Analisis regresi logistik digunakan untuk menganalisis faktor risiko OI, OSI, dan rasio PaO2/FiO2 terhadap mortalitas 28 hari pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS. Hasil penelitian didapatkan pada 77 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi, hanya variabel OI yang terbukti signifikan sebagai prediktor independen mortalitas dengan nilai p 0,043, sementara OSI dan rasio PaO2/FiO2 tidak signifikan.  Dari ketiga variabel, OI mempunyai AUC tertinggi, yakni 0,935 dibanding dengan variabel OSI dan rasio PaO2/FiO2. Simpulan, OI terbukti sebagai prediktor independen mortalitas pada pasien pneumonia COVID-19 dengan ARDS.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-04-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2275</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n1.2275</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 1-9</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 1-9</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2275/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2275/2268</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2275/2269</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2275/2270</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2275/2271</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2431</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:24Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Efektivitas Penambahan Natrium Bikarbonat 1 mEq pada Lidokain 2% dalam Balon ETT untuk Pencegahan Nyeri Tenggorokan Pascaintubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Efektivitas Penambahan Sodium Bikarbonat 1 mEq pada Lidokain 2% dalam Balon ETT untuk Pencegahan Nyeri Tenggorokan Paska Intubasi</dc:title>
	<dc:creator>Ihsaniar, Aura</dc:creator>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Balon ETT, intubasi, lidokain, nyeri tenggorokan, natrium bikarbonat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Balon ETT, Intubasi, Lidokain, Nyeri tenggorokan, Sodium bikarbonat</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemberian lidokain dalam balon selang endotrakeal dapat berdifusi menyebar menembus dinding membran semipermeabel selang endotrakeal dan merangsang efek anestesi pada trakea. Alkalinisasi lidokain menggunakan natrium bikarbonat (NaHCO3) diprediksi dapat meningkatkan presentasi fraksi obat tidak terionisasi sehingga diharapkan dapat lebih efektif. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penambahan natrium bikarbonat 1 mEq pada lidokain 2% dalam balon ETT untuk pencegahan nyeri tenggorokan pascaintubasi. Penelitian ini menggunakan metode double-blind randomized controlled trial dari Juli–September 2020 di Rumah Sakit Moewardi Surakarta. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan non-probability sampling dengan metode consecutive sampling yang berjumlah 36 pasien ASA I–II. Sesaat setelah intubasi, balon selang endotrakeal dikembangkan dengan lidokain 2% dan lidokain 2% ditambah NaHCO3 1 mEq pada tiap-tiap kelompok hingga tekanan 20–30 cmH2O. Pasien yang telah menjalani operasi dinilai skala nyeri tenggorokan pascaoperasi dan dievaluasi komplikasi yang terjadi selama 24 jam. Data demografik dan durasi anestesi pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Skor nyeri tenggorokan pada waktu 30–60 menit, 6–8 jam, dan 24 jam pascaoperasi, kelompok lidokain 2% ditambah NaHCO3 1 mEq (LN) lebih rendah dibanding dengan kelompok lidokain 2% murni (L). Berbeda bermakna secara statistik (p&lt;0,05) pada waktu 30–60 menit dan 6–8 jam, tetapi tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05) pada jam ke-24. Tidak didapatkan komplikasi berkaitan dengan overdosis. Simpulan, pada grup LN lebih efektif dibanding dengan grup L untuk pencegahan nyeri tenggorokan pascaintubasi.  Sodium Bicarbonate Efficacy to Lidocaine in Prevention of Sore Throat Post ETT Balloon Intubation When lidocaine is injected into the ETT cuff, it spreads through the semi-permeable membrane wall and induces anesthesia in the trachea. Alkalinization of lidocaine with sodium bicarbonate (NaHCO3) to increase the non-ionized lidocaine is expected to be more effective. This study aimed to determine the effectiveness of adding one mEq NaHCO3 to lidocaine into the ETT cuff to prevent sore throat post-intubation. This study used a double-blind, randomized controlled trial from July to September 2020 at the Moewardi Regional General Hospital Surakarta. The method used was non-probability sampling with consecutive sampling, totaling 36 ASA I-II patients. Shortly after intubation, the ETT cuff was inflated with 2% lidocaine and 2% lidocaine plus one mEq NaHCO3 in each group. Patients who had undergone surgery were assessed on the postoperative sore throat scale and observed for complications for 24 hours. Both groups' demographic data and anesthesia duration were not statistically significant (p&gt;0.05). Sore throat scores at 30-60 minutes, 6-8 hours, and 24 hours after surgery were lower in the 2% lidocaine plus one mEq NaHCO3 (LN) group than in the 2% lidocaine (L) group. It was statistically significant (p&lt;0.05) at 30-60 minutes and 6-8 hours but not significant (p&gt;0.05) at 24 hours. No complications were associated with lidocaine overdose, systemic toxicity, or ETT balloon rupture. In conclusion, the LN group is more effective than the L group in reducing the incidence of postoperative sore throat.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri tenggorokan paska operasi sering terjadi setelah anestesi umum menggunakan intubasi endotrakeal. Pemberian lidokain dalam balon selang endotrakeal dapat berdifusi menyebar menembus dinding membran semipermeabel selang endotrakeal dan merangsang terjadinya efek anestesi pada trakea. Hanya bentuk obat basa tidak terionisasi yang dapat berdifusi melintasi dinding klorida polivinil hidrofobik dari manset selang endotrakeal. Dengan alkalinisasi lidokain menggunakan sodium bikarbonat (NaHCO3) diprediksi dapat meningkatkan presentasi fraksi obat tidak terionisasi sehingga diharapkan dapat lebih efektif mencegah nyeri tenggorokan paska operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penambahan sodium bikarbonat 1 mEq pada lidokain 2% dalam balon ETT untuk pencegahan nyeri tenggorokan paska intubasi. Penelitian ini menggunakan metode double-blind randomized controlled trial dari Juli hingga September 2020 di Rumah Sakit Moewardi Surakarta. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan non-probability sampling dengan metode consecutive sampling yang berjumlah 36 pasien ASA I-II. Sesaat setelah intubasi, balon selang endotrakeal dikembangkan dengan lidokain 2% dan lidokain 2% ditambah sodium bikarbonat 1 mEq pada masing-masing kelompok hingga tekanan 20-30 cmH2O. Pasien yang telah menjalani operasi dinilai skala nyeri tenggorokan paska operasi (skor 0-3) dan dievaluasi komplikasi yang terjadi selama 24 jam. Data demografik dan durasi anestesi pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Skor nyeri tenggorokan pada waktu 30-60 menit, 6-8 jam, dan 24 jam paska operasi, kelompok lidokain 2% ditambah sodium bikarbonat 1 mEq (LN) lebih rendah dibanding kelompok lidokain 2% murni (L). Berbeda bermakna secara statistik (p&lt;0,05) pada waktu 30-60 menit dan 6-8 jam, tetapi tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05) pada jam ke-24. Tidak didapatkan komplikasi berkaitan dengan overdosis. Penambahan sodium bikarbonat 1 mEq pada lidokain 2% dalam balon ETT lebih efektif dibandingkan lidokain 2% untuk pencegahan nyeri tenggorokan paska intubasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2431</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2431</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 86–94</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 86–94</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2431/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2431/2598</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3625</identifier>
				<datestamp>2024-03-15T02:54:33Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efikasi MgSO4 dan Ketamin sebagai Adjuvan Multimodal Analgesia Pascaoperasi Seksio Sesarea</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN EFIKASI MGSO4 DENGAN KETAMIN SEBAGAI ADJUVAN MULTIMODAL ANALGESIA PASKA OPERASI SEKSIO SESARIA</dc:title>
	<dc:creator>Miharja, Eka Setia</dc:creator>
	<dc:creator>Ihsan, Mhd</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ketamin; MgSO4; multimodal analgesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri perut pascaseksio sesaria tampaknya menjadi masalah yang signifikan, namun cukup bervariasi, berbagai modalitas analgesia diketahui dapat digunakan sebagai analgesia pascaoperasi. Salah satunya adalah ketamin dan magnesium sulfat yang sering digunakan sebagai tambahan untuk analgesik pascaoperasi. Penelitian ini merupakan studi randomized control trial (RCT) dilakukan selama Agustus–September 2023. Sampel merupakan pasien hamil yang akan menjalani pembedahan seksio sesaria dalam anetesi spinal. Penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, MgSO4, ketamin, dan kontrol. Pada periode pascaoperasi, kelompok MgSO4 diberikan infus MgSO4 20 mg/kg/jam, kelompok ketamin menerima infus ketamine 0,2 mg/kg/jam selama 12 jam. Lalu, dilakukan penilaian skala nyeri pascaoperasi Penelitian terdiri dari 30 sampel, yaitu 10 sampel setiap kelompok. Berdasarkan skala nyeri istirahat dan aktivitas didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada pemantauan jam ke-12 dan jam ke-24, p&lt;0,05. Sementara pada perubahan hemodinamik selama pemantauan tidak didapatkan perbedaan bermakna pada perubahan MAP dan detak jantung pada seluruh waktu pemantauan, p&gt;0,05. Didapatkan 2 kejadian sedasi pada perlakuan ketamin dan 8 sampel memerlukan rescue opioid. Terdapat perbedaan efikasi ketamin dibanding dengan magnesium sulfat sebagai adjuvan analgesia pascaoperasi. Ketamin memberikan efek analgesia yang lebih baik dibanding dengan magnesium sulfat. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan : Nyeri perut paska seksio sesaria tampaknya menjadi masalah yang signifikan namun cukup bervariasi, berbagai modalitas analgesia diketahui dapat digunakan sebagai analgesia postoperatif. Salah satunya adalah ketamin dan magnesium sulfatyang sering digunakan sebagai tambahan untuk analgesik paska operasi.Metode : Penelitian ini merupakan studi Randomized Control Trial (RCT) dilaksanakan yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan Rumah Sakit Haji Medan pada bulan Agustus-September 2023. Sampel merupakan pasien hamil yang akan menjalani pembedahan seksio sesaria dalam anetesi spinal. Penelitian dibagi menjadi 3 kelompok, MgSO4, ketamin, dan kontrol. Seluruh kelompok menerima perlakuan preoperasi dan intraoperasi yang sama. Pada periode postoperatif, kelompok MGSO4 diberikan infus MgSO4 20 mg/kg/jam, kelompok ketamin menerima infus ketamine 0,2 mg/kg/jam selama 12 jam. Lalu, dilakukan penilaian skala nyeri postoperatif dan efek samping perlakuan pada jam ke-0 (T0), ke-6 (T1), Ke-12 (T2), dan ke-24 (T3).Hasil : Penelitian terdiri dari 30 sampel, yaitu 10 sampel setiap kelompok. Berdasarkan skala nyeri istirahat dan aktivitas didapatkan perbedaan bermakna secara statistik pada pemantauan jam ke-12 dan jam ke-24, p&lt;0,05. Sementara pada perubahan hemodinamik selama pemantauan tidak didapatkan perbedaan bermakna pada perubahan MAP dan detak jantung pada seluruh waktu pemantauan, p&gt;0,05. Didapatkan 2 kejadian sedasi pada perlakuan ketamin, dan 8 sampel memerlukan rescue opioid.Simpulan : Terdapat perbedaan efikasi ketamin dibandingkan dengan magnesium sulfat sebagai ajuvan analgesia paska operasi. Ketamin memberikan efek analgesia yang lebih baik dibandingkan magnesium sulfat</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3625</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3652</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 154-162</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 154-162</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3625/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3625/4506</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3625/4508</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3765</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Diagnosis dan Tatalaksana Ensefalitis Autoimun Antibodi-Negatif di ICU</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Diagnosis dan Tatalaksana Ensefalitis Autoimun Antibodi Negatif</dc:title>
	<dc:creator>Hosen, Dewi Ramadani</dc:creator>
	<dc:creator>Pison, Osmond Muftilov</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Antibodi-negatif; ensefalitis autoimun; imunosupresan; rituximab</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">antibodi negatif, ensefalitis autoimun, imunosupresan, rituximab</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ensefalitis autoimun merupakan penyebab utama ensefalitis non-infeksi. Kasus ensefalitis autoimun antibodi-negatif yang dicurigai secara klinis sulit dikonfirmasi. Pada kasus ini dihadapkan pasien laki-laki 27 tahun dirawat dengan demam, penurunan kesadaran, kejang. dan perubahan perilaku sejak 1 bulan yang lalu. Gambaran EEG menunjukkan gelombang epileptiform. Pemeriksaan LCS tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. Pencitraan CT-Scan tidak menunjukkan gambaran khas ensefalitis. Pemeriksaan imunologis IgG dan IgM HSV non-reaktif. Pemeriksaan anti-NMDAR didapatkan hasil negatif. Pasien dirawat di ICU dengan ventilasi mekanik, disertai pemberian midazolam dan levitiracetam sebagai sedasi dan pengontrol kejang. Acyclovir diberikan sesuai pedoman tatalaksana ensefalitis selama 10 hari namun tidak menunjukkan perbaikan klinis. Setelah pemberian kortikosteroid, pasien tidak menunjukkan perbaikan neurologis. Pengobatan dilanjutkan dengan rituximab setiap minggu selama 2 minggu. Pada pemberian minggu pertama pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dengan pemulihan derajat kesadaran. Laporan kasus ini mempertimbangkan penegakan diagnosis ensefalitis autoimun antibodi-negatif berdasarkan tanda klinis dan setelah menyingkirkan kemungkinan etiologi lain. Rituximab memainkan peran penting dalam mengendalikan efek merugikan dari ensefalitis autoimun. Di samping itu, ensefalitis autoimun mungkin memerlukan tindak lanjut rutin untuk mengevaluasi adanya gejala atau penyakit lain yang dapat mengubah strategi tatalaksana.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ensefalitis autoimun merupakan penyebab utama ensefalitis non-infeksi. Sulit untuk mendiagnosis ensefalit autoimun hanya dengan presentasi klinis. Selain itu, kasus ensefalit autoimun antibodi negatif yang dicurigai secara klinis sulit dikonfirmasi. Pada kasus ini dihadapkan pada pasien laki-laki 27 tahun dirawat dengan demam, penurunan kesadaran dan kejang. Terdapat perubahan perilaku sejak 1 bulan sebelum dirawat. Gambaran EEG menunjukan gelombang epilepticform. Pemeriksaan LCS tidak mengarah pada adanya infeksi. Pencitraan CT-  Scan tidak menjukkan gambaran khas adanya suatu ensefalitis. Pemeriksaan imonologis IgG dan IgM HSV non-reaktif. Pemeriksaan anti-NMDAR didapatkan hasil negatif. Pasien di rawat di ICU dengan ventilasi mekanik dengan pemberian midazolam dan levitiracetam sebagai sedasi dan pengontrol kejang. Acyclovir diberikan sesuai pedoman tatalaksana ensefalitis selama 10 hari namun tidak menunjukkan perbaikan klinis. Methylprednisolon 1g/ 24 jam selama 3 hari dilanjutkan Prednison 6 x 50 mg sebagai imunosupresan lini pertama. Setelah pemberian kortikosteroid pasien tidak menunjukkan perbaikan neurologis. Pengobatan dilanjutkan dengan rituximab setiap miggu selama 2 minggu. Pada pemberian minggu pertama pasien menunjukkan perbaikan status neurologis dengan pemulihan derajat kesadaran. Laporan kasus ini mempertimbangkan penegakan diagnosis ensefalitis autoimun antibodi negatif berdasarkan tanda klinis dan setelah menyingkirkan kemungkinan etiologi lain. Rituximab memainkan peran penting dalam mengendalikan efek merugikan dari ensefalitis autoimun. Disamping itu, ensefalitis autoimun mungkin memerlukan tindak lanjut rutin untuk mengevaluasi adanya gejala atau penyakit lain yang dapat mengubah strategi tatalaksana.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3765</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3765</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 153-160</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 153-160</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3765/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3765/4663</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2096</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:09Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Fentanil dengan Ketamin terhadap Skor Pemulihan Pascaanestesi Umum Diukur dengan QoR-40 serta Perubahan Tekanan Darah dan Nadi pada Operasi Odontektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN EFEK FENTANYL DENGAN KETAMIN  TERHADAP SKOR PEMULIHAN  PASCAANESTESI UMUM PADA OPERASI ODONTEKTOMI DIUKUR DENGAN QoR-40 DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT  Dr HASAN SADIKIN BANDUNG</dc:title>
	<dc:creator>Pratama, Adhitya</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Erlangga, M. Erias</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Fentanil, ketamin, odontektomi, QoR-40, skor pemulihan pascaanestesi umum</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penggunaan fentanil pada anestesi umum memiliki pengaruh terhadap pemulihan pascaoperasi danpenurunan hemodinamik saat induksi. Metode anestesi umum menggunakan analgetik nonopioiddiharapkan meningkatkan kualitas pemulihan pascaoperasi. Pemberian ketamin dosis subanestesi memberi efek analgetik dengan efek samping minimal serta perubahan tekanan darah dan nadi lebih stabil. Tujuan penelitian ini membandingkan efek fentanil dengan ketamin terhadap kualitas pemulihan serta perubahan tekanan darah dan nadi saat induksi. Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar ganda pada 30 pasien yang menjalani operasi odontektomi dengan anestesi umum di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung dari Januari–Maret 2020. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok ketamin, diinduksi menggunakan ketamin 0,5 mg/kgBB dan kelompok fentanil, diinduksi menggunakan fentanil 1,5 mcg/kgBB. Data dianalisis dengan uji-t tidak berpasangan, Uji Mann Whitney, dan Uji Kolmogorov-smirnov dengan nilai p&lt;0,05 dianggap bermakna. Terdapat penurunan tekanan darah dan nadi yang signifikan (p&lt;0,05) di menit ke-1, 3, dan 5 pada grup fentanil. Penilaian QoR-40 pada kelompok ketamin memiliki angka lebih tinggi (181,07±5,32) dibanding dengan kelompok fentanil (176,60±2,59) secara bermakna (p&lt;0,05). Simpulan, skor pemulihan pascaanestesi umum dengan ketamin lebih tinggi dibanding dengan fentanil pada operasi odontektomi yang dinilai dengan QoR-40 dan ketamin dengan dosis subanestesi saat induksi menunjukkan hemodinamik yang lebih stabil dibanding dengan induksi menggunakan fentanil. Comparison of Fentanyl and Ketamine’s Effects on Post-General Anesthesia Recovery Scores Measured by QoR-40 and Changes in Blood Pressure and Pulse in Odontectomy SurgeryThe use of fentanyl in general anesthesia has side effects that may prolong postoperative recovery and hemodynamic decline when induction. Methods of general anesthesia without fentanyl may improve the quality of postoperative recovery. Ketamine in subanesthetic doses has analgesic effects with minimal side effects and more stable blood pressure and pulse changes. This study aimed to compare fentanyl and ketamine’s effects on quality of recovery and changes in blood pressure and pulse. This was a double-blinded clinical study in 30 patients with odontectomy under general anesthesia in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January–March 2020. Patients were divided into two groups, a ketamine group, induced using 0.5 mg/kgBW ketamine, and a fentanyl group, induced using 1,5 mcg/kgBW fentanyl. Data were analyzed using the unpaired t-test, Mann Whitney, and Kolmogorov-Smirnov test, a p-value of &lt;0.05 was considered significant. Values of QoR-40 in the ketamine group had a significantly (p&lt;0.05) higher value (181.07±5.32) compared to the fentanyl group (176,60±2,59). In conclusion, the quality of post-general anesthesia recovery using ketamine is higher than fentanyl in odontectomy evaluated using QoR-40. Induction using subanesthetic  doses of ketamine shows more stable hemodynamic than fentanyl.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">ABSTRAK Penggunaan fentanyl pada anestesi umum memiliki efek samping yang dapat memperpanjang pemulihan pascaoperasi. Metode anestesi umum tanpa menggunakan fentanyl dapat meningkatkan kualitas pemulihan pascaoperasi. Ketamin dengan dosis subanestesi memiliki efek analgetik dan efek samping minimal. Tujuan penelitian ini membandingkan efek fentanyl dan ketamin terhadap kualitas pemulihan. Metode penelitian dengan uji klinis tersamar ganda pada 30 pasien yang menjalani operasi odontektomi dengan anestesi umum di rumah sakit umum pusat Hasan Sadikin dari Januari 2020 – Maret 2020. Pasien dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok ketamin, diinduksi dengan menggunakan ketamin 0.5 mg/kg dan kelompok fentanyl, diinduksi dengan menggunakan fentanyl 1,5 mcg/kg. Pada 24 jam pascaoperasi, dilakukan wawancara terhadap sampel untuk mengisi kuesioner QoR-40 untuk mengevaluasi kualitas pemulihan pascaoperasi. Data dianalisis dengan uji t tidak berpasangan, uji mann whitney dan uji kolmogorov-smirnov, nilai p&lt;0.05 dianggap bermakna. Angka penilaian QoR-40 pada kelompok ketamin memiliki angka lebih tinggi (181.07±5.32) dibandingkan dengan kelompok fentanyl (176,60±2,59) secara bermakna (p&lt;0.05). Simpulan penelitian ini kualitas pemulihan pascaanestesi umum dengan ketamin lebih tinggi dibandingkan fentanyl pada operasi odontektomi yang dinilai dengan QoR-40.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2096</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2096</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 149–157</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 149–157</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2096/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3987</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:39Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Variations in Patient-Ventilator Asynchrony Frequencies Across Different Sedation Levels in Critically Ill Patients</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Frekuensi PVA (Patient Ventilator Asynchrony) Pada Beberapa Level Sedasi Pasien Kritis</dc:title>
	<dc:creator>Ridwan, Romi</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian Kestriani Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Ineffective trigger; mechanical ventilation; patient-ventilator asynchrony (PVA); sedation</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ineffective trigger, Patient-Ventilator Asynchrony (PVA), sedasi ringan, ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Patient–ventilator asynchrony (PVA) is a frequent but often underrecognized phenomenon in mechanically ventilated patients, associated with adverse outcomes. Sedation depth is a modifiable factor affecting PVA, yet data from resource-limited ICUs remain scarce. This study aimed to evaluate PVA prevalence and its association with sedation depth and mechanical ventilation duration.Methods: A cross-sectional observational study included 60 adult ICU patients on mechanical ventilation. Ventilator waveform recordings were analyzed over 30-minute periods, totaling 41,372 breaths. PVA events were identified, classified, and quantified. Sedation depth was categorized as fully awake, light sedation, or deep sedation. Associations between sedation depth, PVA frequency, and mechanical ventilation duration were assessed using statistical tests.Results: A total of 2,539 PVA events were detected, yielding an overall asynchrony rate of 6.1%. Ineffective effort was most common (58%), followed by double triggering (17.2%) and flow asynchrony (15.3%). Mean PVA values increased significantly with deeper sedation (p&lt;0.05). A weak but statistically significant positive correlation existed between average PVA and duration of mechanical ventilation (r=0.306, p&lt;0.05).Discussion: PVA is prevalent in mechanically ventilated ICU patients, with ineffective effort predominating. Deeper sedation levels are associated with higher PVA frequency, which correlates with prolonged ventilation. These findings emphasize the need for careful sedation management and routine ventilator waveform monitoring to improve patient–ventilator interaction.Conclusion: Patient–ventilator asynchrony is common and significantly associated with sedation depth and ventilation duration. Optimized sedation and vigilant waveform monitoring may enhance synchrony and reduce ventilation time</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Patient-ventilator asynchrony (PVA) dapat didefinisikan sebagai ketidaksesuaian antara pasien dan ventilator dalam hal waktu, flow, volume, atau tuntutan tekanan dari sistem pernapasan, yang memasok kebutuhan tersebut  selama ventilasi mekanis. Faktor yang mempengaruhi terjadinya PVA bisa berhubungan dengan pasien, ventilator, atau keduanya. Faktor pasien meliputi tingkat keparahan penyakit, diagnosis yang mendasari, indikasi penggunaan ventilasi mekanis, dan respons pasien terhadap perawatan medis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi perbandingan frekuensi terjadinya PVA pada tiga level sedasi pasien kritis. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah studi cross-sectional  dengan menganalisis rekaman ventilator 60 pasien di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, yang dibagi menjadi 3 kelompok level sedasi masing-masing 20 orang. Hasil analisis rekaman ventilator pada 60 pasien selama 30 menit, didapatkan 5 jenis asinkroni yaitu  IT(ineffective trigger) sebanyak 58%, DT (Double Trigger) 17,2%, FA (Flow Asynchrony) 15,3%, dan  SC (Short Cycling) PC (Prolong Cycling) masing-masing 6,5% dan 3 %. Dilakukan uji perbandingan pada masing-masing kelompok sedasi. Simpulan didapatkan bahwa rerata PVA pada kelompok level sadar-penuh &lt; sedasi ringan &lt; sedasi dalam secara berurutan.  Diperlukan penelitian lebih lanjut tentang efek adanya PVA yang berat terhadap mortalitas dan lama rawatan di ICU.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3987</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.3987</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 191-197</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 191-197</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3987/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3987/5004</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3987/5005</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2462</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan antara Mobilisasi Cepat dan Mobilisasi Lambat terhadap Komplikasi Neurologis pada Pasien Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan antara Mobilisasi Cepat dan Mobilisasi Lambat terhadap Komplikasi Neurologis pada Pasien Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:creator>Setijanto, Eko</dc:creator>
	<dc:creator>Thamrin, Husni</dc:creator>
	<dc:creator>Caprianus, Andi Rizki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi spinal; komplikasi neurologis; mobilisasi cepat; mobilisasi lambat; komplikasi neurologis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi spinal; komplikasi neurologis; mobilisasi cepat; mobilisasi lambat; komplikasi neurologis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Anestesi spinal merupakan metode yang ekonomis, aman, nyaman, dan efektif yang memberikan anestesi cepat dan dapat diandalkan. Pasien pascaoperasi dengan anestesi spinal yang dilakukan mobilisasi cepat memberikan keuntungan dibanding dengan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam. Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan antara pasien mobilisasi cepat dan mobilisasi lambat pada pasien pasca-anestesi spinal terhadap komplikasi neurologis yang terjadi. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama Juli–Agustus 2018. Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda pada 30 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang mendapat perlakuan mobilisasi setelah efek anestesi spinal hilang dan kelompok yang mendapat perlakuan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam. Hasil penelitian didapat tidak ada perbedaan yang signifikan komplikasi neurologis pada pasien pascaanestesi spinal yang dilakukan mobilisasi cepat dibanding dengan mobilisasi lambat dengan nilai p=0,456. Simpulan penelitian ini tidak ada perbedaan kejadian komplikasi neurologis antara pasien pascaanestesi spinal dengan mobilisasi cepat dan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam.Comparison of Neurological Complications between Rapid and Slow Mobilization in Spinal Anesthesia PatientsSpinal anesthesia is an economical, safe, convenient, and effective method that provides fast and reliable anesthesia. Postoperative patients under spinal anesthesia who underwent rapid mobilization provided an advantage over mobilization after 24 hours of bed rest. This study aimed to compare patients' fast and slow mobilization after spinal anesthesia with neurological complication incidence at the Central Surgical Installation of Dr. Moewardi Hospital Surakarta. The study was conducted in July–August 2018. This study used a double-blind, randomized clinical trial on 30 patients undergoing surgery under spinal anesthesia who met the inclusion criteria. The sample was divided into two groups: the group that received mobilization treatment after the effects of spinal anesthesia disappeared and the group that received mobilization treatment after 24 hours of bed rest. The results showed no significant difference in neurological complications in post-spinal anesthesia patients who underwent rapid mobilization compared with slow mobilization with a p-value = 0.456. This study concludes that there is no difference in the incidence of neurological complications between post-spinal anesthesia patients with rapid and slow mobilization.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Anestesi spinal merupakan metode yang ekonomis, aman, nyaman, dan efektif yang memberikan anestesi cepat dan dapat diandalkan. Pasien pascaoperasi dengan anestesi spinal yang dilakukan mobilisasi cepat memberikan keuntungan dibanding dengan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam. Penelitian ini bertujuan menilai perbandingan antara pasien mobilisasi cepat dan mobilisasi lambat pada pasien pasca-anestesi spinal terhadap komplikasi neurologis yang terjadi. Penelitian dilakukan di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama Juli–Agustus 2018. Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda pada 30 pasien yang menjalani operasi dengan anestesi spinal yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang mendapat perlakuan mobilisasi setelah efek anestesi spinal hilang dan kelompok yang mendapat perlakuan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam. Hasil penelitian didapat tidak ada perbedaan yang signifikan komplikasi neurologis pada pasien pascaanestesi spinal yang dilakukan mobilisasi cepat dibanding dengan mobilisasi lambat dengan nilai p=0,456. Simpulan penelitian ini tidak ada perbedaan kejadian komplikasi neurologis antara pasien pascaanestesi spinal dengan mobilisasi cepat dan mobilisasi setelah tirah baring 24 jam.Kata kunci: Anestesi spinal, komplikasi neurologis, mobilisasi cepat, mobilisasi lambat, komplikasi neurologis </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2462</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2462</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 29-34</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 29-34</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2462/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3388</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:04Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Nilai Numeric Rating Scale (NRS) pascaoperasi pada           Pemberian Multimodal Analgesia Parecoxib dan Asetaminofen dengan Ketorolak dan Asetaminofen Intravena</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN NILAI NUMERIC RATING SCALE (NRS) POSTOPERATIF PADA PEMBERIAN MULTIMODAL ANALGESIA PARECOXIB DAN ACETAMINOPHEN DENGAN KETOROLAC DAN ACETAMINOPHEN INTRAVENA</dc:title>
	<dc:creator>Awaluddin, Awaluddin</dc:creator>
	<dc:creator>Wijaya, Dadik Wahyu</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Asetaminofen; general anesthesia; ketorolak; laparotomi; NRS; parecoxib</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">NRS, laparotomi, general anesthesia, Parecoxib dan Acetaminophen dan Ketorolac.</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pascaoperasi adalah reaksi fisiologis yang kompleks terhadap kerusakan jaringan yang terjadi akibat pembedahan. Penggunaan NSAID baik ketorolak maupun parecoxib telah terbukti memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit pascaoperasi yang diberikan sebelum atau sesudah operasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan NRS pada pasien pascaoperasi laparotomi dengan multimodal analgesia antara parecoxib dan asetaminofen serta ketorolak dan asetaminofen intravena. Penelitian ini bersifat analitik dengan metode penelitian double blind randomized clinical trial. Seluruh pasien elektif yang menjalani bedah laparotomi dengan teknik anestesi general anesthesia di RSUP H. Adam Malik Medan Januari–Maret 2023. Sampel merupakan pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dikumpulkan dengan metode total sampling. Pada penilaian nyeri menggunakan skala NRS (T1) 30 menit dan (T4) 24 jam didapatkan perbedaan bermakna secara statistik menggunakan uji T tidak berpasangan (p&lt;0,05) pada nilai NRS antara parecoxib+asetaminofen dan ketorolak+asetaminofen , yaitu dengan nilai p pada T1 0,010; pada T2 0,023; pada T3 0,001; dan pada T4 0,034. Pemberian multimodal analgesia parecoxib dan asetaminofen memberikan hasil analgesia yang baik pada pasien yang menjalani laparotomi dengan general anesthesia dibanding dengan ketorolak dan asetaminofen. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan: Nyeri paska operasi adalah suatu reaksi fisiologis yang kompleks terhadap kerusakan jaringan yang terjadi akibat pembedahan. Penggunaan NSAID baik ketorolac maupun Parecoxib telah terbukti memiliki kemampuan untuk mengurangi rasa sakit paska operasi yang diberikan sebelum atau sesudah operasi.Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan NRS pada pasien post operatif laparotomi dengan general anestesi dengan multimodal analgesia parecoxib dan acetaminfen dan ketorolac dan asetaminofen intravena.Metode: Penelitian ini bersifat analitik dengan metode Penelitian ini adalah double blind randomized clinical trial. Seluruh pasien elektif yang menjalani bedah laparotomi dengan teknik anestesi general anesthesia Sampel merupakan pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dikumpulkan dengan metode total sampling. Hasil: Pada Penilaian nyeri menggunakan skala NRS T1-T4 didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistic menggunakan uji T tidak berpasangan (P&lt;0,05) pada nilai NRS antara Parecoxib + Acetaminophen dengan Ketorolac + Acetaminophen yaitu dengan nilai P pada T1 0,010, Pada T2 0,023, Pada T3 0,001 dan pada T4 0,034.Kesimpulan: Pemberian multimodal analgesia parecoxib dan acetaminophen memberikan hasil analgesia yang baik pada pasien yang menjalani laparotomi dengan general anesthesia dibandingkan Ketorolac dan Acetaminophen.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3388</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3388</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 70-75</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 70-75</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3388/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3388/4169</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3551</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T08:14:50Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Lama Penggunaan Ventilator, ICU-LOS, dan Mortalitas Pasien Ventilated Hospital  Acquired Pneumonia dan Ventilated Community Acquired Pneumonia di GICU  RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Januari–Desember 2021</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Lama Penggunaan Ventilator, ICU-LOS dan Mortalitas Pasien Ventilated Hospital Acquired Pneumonia dan Ventilated Community Acquired Pneumonia di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Periode Januari–Desember 2021</dc:title>
	<dc:creator>Simanjuntak, Sugianto Parulian</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Sitanggang, Ruli Herman</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ICU; LOS; mortalitas; pneumonia; ventilator</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ICU; LOS; Mortality; Pneumonia; Ventilator</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ventilated hospital-acquired pneumonia (V-HAP) dan ventilated community-acquired pneumonia (V-CAP) merupakan subtipe klinis penyakit hospital-acquired pneumonia dan community-acquired pneumonia yang ditatalaksana dengan ventilasi mekanik di ICU. Penelitian yang mengeksplorasi karakteristik umum dan luaran kedua kategori pasien tersebut masih sangat terbatas. Penelitian observasional retrospektif ini menganalisis rekam medis pasien V-HAP dan V-CAP berusia 18 tahun ke atas yang dirawat di GICU Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin, Bandung antara Januari–Desember 2021. Terdapat 23 pasien V-HAP dan 21 pasien V-CAP. Ditemukan bahwa pasien V-HAP lebih lama menggunakan ventilator (rerata: 16,33±9,88 hari) dibanding dengan V-CAP (rerata: 8,25±4,92 hari). Pasien V-HAP juga lebih lama dirawat di ICU (rerata ICU-LOS: 19,33±13,42 hari) dibanding dengan V-CAP (rerata ICU LOS: 9±4,74 hari). Mortalitas yang tinggi pada kelompok V-HAP (87%) dan V-CAP (81%) dipengaruhi oleh komorbiditas dan kondisi dasar pasien. Pada biakan sputum juga ditemukan lebih banyak kuman gram negatif yang didominasi multi drug resistant organism (MDRO), yaitu sebanyak 93% pada V-HAP dan 78% pada V-CAP. Pasien V-HAP di ICU memiliki durasi penggunaan ventilator dan perawatan ICU yang lebih lama serta tingkat mortalitas yang tinggi dibanding dengan pasien V-CAP dan dengan prevalensi kuman gram negatif resisten obat yang lebih dominan.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ventilated hospital-acquired pneumonia (V-HAP) and ventilated community-acquired pneumonia (V-CAP) represent clinical subtypes of hospital-acquired pneumonia and community-acquired pneumonia treated with mechanical ventilators in the ICU. Despite their high prevalence, research on the common characteristics and outcomes of these patients is limited in Indonesia. This retrospective observational study analyzed medical records of V-HAP and V-CAP patients aged 18 and above in the GICU of Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, from January to December 2021. Out of 44 records (23 V-HAP, 21 V-CAP), primary outcomes examined included mechanical ventilator duration (MVD), ICU length of stay (ICU-LOS) and mortality. V-HAP patients had a longer MVD (average: 16.33±9.88 days) than V-CAP patients (average: 8.25±4.92 days). V-HAP patients also had extended ICU stays (average ICU-LOS: 19.33±13.42 days) compared to V-CAP patients (average ICU-LOS: 9±4.74 days. The high mortality rates in both V-HAP (87%) and V-CAP (81%) groups were influenced by patient comorbidities and underlying conditions. Sputum cultures also revealed a higher presence of gram-negative bacteria dominated by multi drug resistant organisms (MDRO), with 93% in V-HAP and 78% in V-CAP. In conclusion, patients with V-HAP in the ICU have longer durations of ventilator use and ICU stay, higher mortality rates, and a higher prevalence of drug-resistant gram-negative bacteria compared to V-CAP patients.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3551</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3551</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 44-55</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 44-55</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3551/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3551/4432</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3551/4433</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3551/4434</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3551/4435</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4452</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:20Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Anestesi Perioperatif Operasi Bypass Jantung pada Pasien dengan Fraksi Ejeksi 26% dan Regurgitasi Aorta</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Manajemen Anestesi Perioperatif Operasi Bypass Jantung pada Pasien dengan Fraksi Ejeksi 26 % dan Regurgitasi Aorta Berat</dc:title>
	<dc:creator>Tanpomas, Irvan</dc:creator>
	<dc:creator>Boom, Cindy Elfira</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi bedah jantung; bypass arteri koroner; penggantian katup Aorta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan kondisi ketika suplai darah ke miokardium tidak optimal akibat pengerasan dan penyempitan arteri koroner, dan menjadi penyebab 26,4% kematian di Indonesia. Regurgitasi aorta adalah aliran balik darah pada fase diastole dari aorta ke ventrikel kiri yang terjadi akibat kegagalan koaptasi katup aorta, baik karena kelainan pada daun katup aorta maupun akar aorta. Kondisi ini menyebabkan beban volume berlebih pada atrium dan ventrikel kiri, meningkatkan tekanan ventrikel kiri, menimbulkan disfungsi ventrikel, serta mengurangi perfusi koroner. Laporan kasus ini membahas manajemen anestesi pada pasien laki-laki berusia 65 tahun dengan PJK dan regurgitasi aorta berat yang menjalani operasi bypass arteri koroner dan penggantian katup aorta di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita pada Maret 2025. Pasien dengan fraksi ejeksi rendah dan regurgitasi aorta memerlukan strategi anestesi yang cermat karena berisiko mengalami penurunan curah jantung, berkurangnya perfusi sistemik, serta perburukan kondisi hemodinamik. Operasi berlangsung selama 5,5 jam, pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif, dilakukan ekstubasi 24 jam pascaoperasi, dan dirawat selama 4 hari di ruang intensif. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">AbstrakPenyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan kondisi di mana suplai darah ke miokardium tidak optimal akibat pengerasan dan penyempitan arteri koroner dan menjadi penyebab 26,4% kematian di Indonesia. Regurgitasi aorta adalah pembalikan aliran darah diastolik dari aorta ke ventrikel kiri. Regurgitasi aorta terjadi akibat kegagalan koaptasi daun katup aorta yang disebabkan oleh penyakit pada daun katup aorta atau akar aorta. Regurgitasi Aorta dapat mengakibatkan kelebihan volume pada atrium dan ventrikel kiri sehingga dapat meningkatkan tekanan ventrikel kiri, menyebabkan disfungsi ventrikel kiri dan kemudian mengakibatkan perfusi koroner yang berkurang. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien laki-laki berusia 65 tahun dengan PJK dan Regurgitasi Aorta berat yang menjalani operasi bypass arteri koroner dan penggantian katup aorta. Pasien yang menjalani operasi operasi bypass arteri koroner dengan penyakit Regurgitasi Aorta harus menerapkan rencana anestesi dan pertimbangan khusus yang dibutuhkan pasien pada saat pembedahan. Operasi berlangsung selama 5,5 jam dan pasien dipindakan ke ruang intensif. Pasien dilakukan ekstubasi setelah 24 jam paskaoperasi dangan lama perawatan di ruang intensif selama 4 hari. Kata kunci: Penyakit Jantung Koroner, Regurgitasi Aorta, Ventrikel kiri</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4452</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.4452</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 114-121</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 114-121</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4452/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4452/5800</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2382</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Premedikasi Lidokain dengan Torniket Lebih Baik Dibanding dengan Kombinasi Lidokain dan Propofol untuk Mencegah Nyeri Injeksi Propofol</dc:title>
	<dc:creator>Laksono, Ristiawan Muji</dc:creator>
	<dc:creator>Isngadi, Isngadi</dc:creator>
	<dc:creator>Hadinata, Yudi</dc:creator>
	<dc:creator>Yupono, Karmini</dc:creator>
	<dc:creator>Hartono, Ruddi</dc:creator>
	<dc:creator>Basuki, Djudjuk Rahmad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Propofol merupakan jenis obat induksi intravena yang paling sering digunakan dalam pembiusan umum, namun dapat menimbulkan rasa nyeri pada lokasi injeksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan persentase nyeri pascainjeksi propofol setelah premedikasi lidokain dengan perlakuan torniket selama satu menit dan teknik campuran lidokain fropofol. Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal bersifat eksperimental. Penelitian dilaksanakan di RSUD Dr. Saiful Anwar pada April–Mei 2013. Subjek penelitian adalah 50 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok A (n=25) mendapat perlakuan campuran 40 mg lidokain dalam propofol intravena (i.v.). Kelompok B (n=25) mendapat perlakuan lidokain 40 mg (i.v.) dengan perlakuan torniket selama satu menit, diikuti injeksi propofol. Derajat nyeri diukur menggunakan Verbal Rating Score. Hasil pengukuran dianalisis statistik dengan uji normalitas, homogenitas, dan Mann Whitney menggunakan software SPSS (versi 18, IBM Statistic, USA). Pemberian lidokain dengan perlakuan torniket signifikan dapat merunkan detajat nyeri lebih baik (24/25 tidak nyeri, 1/25 nyeri) dibanding dengan kelompok campuran lodokain dan propofol (10/25 tidak nyeri, 11/25 nyeri ringan, 4/25 nyeri sedang) (p=0,000). Premedikasi lidokain dengan perlakuan torniket lebih baik dalam menurunkan derajat nyeri dibanding dengan pemberian campuran lidokain dan propofol.Premedication Using Lidocaine with Tourniquet Technique is Superior to Combining Lidocaine and Propofol to Prevent Propofol Injection PainPropofol is one of the most used intravenous induction drugs in general anesthesia, but it produces pain at the injection site. This study aimed to compare the post-propofol injection pain after premedication using lidocaine with the tourniquet technique and a mixture of lidocaine in propofol. This study was a single-blind, experimental clinical trial conducted from April to May 2013. The study's subject was 50 patients divided into two groups. Group A (n=25) received a mixture of 40 mg lidocaine in propofol intravenously (i.v.). Group B (n=25) received 40 mg lidocaine (i.v) with a tourniquet technique for one minute, followed by propofol injection. The degree of pain is measured using the Verbal Rating Score. The results were statistically analyzed using the normality, homogeneity, Mann-Whitney test using SPSS (version 18, IBM Statistic, USA) software. The administration of lidocaine with the tourniquet technique was significantly better in reducing the pain levels (24/25 painless, 1/25 mild pain) compared to the mixture of lidocaine in the propofol group (10/25painless, 11/25 mild pain, 4/25 moderate pain) (p= 0,000). The premedication of lidocaine with the tourniquet technique significantly produces lower pain levels than the mixture of lidocaine in propofol. Premedication of lidocaine with a tourniquet technique can prevent pain after injecting propofol.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">Lidokain, nyeri akut, pascainjeksi propofol, premedikasi, torniket</dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2382</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2382</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 135–141</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 135–141</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2382/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2382/2476</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2469</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:52Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Terapi Albumin dari Ekstrak Channa micropeltes dan Channa striata dengan Peningkatan Kadar Albumin pada Pasien Hipoalbuminemia</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Terapi Albumin dari Ekstrak Channa Micropeltes Dan Channa Striata Terhadap Peningkatan Kadar Albumin pada Pasien Hipoalbuminemia</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Kurniawan, Prima Artya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Albumin; hipoalbumin; ikan gabus; ikan toman; teknologi nano</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Albumin Teknologi Nano, Hipoalbumin, Ikan Gabus, Ikan Toman</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Suplemen albumin yang selama ini sering digunakan adalah ekstrak ikan gabus (Channa striata). Ikan toman (channa micropeltes) diduga memiliki protein yang lebih tinggi dari pada ikan gabus. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan peningkatan kadar albumin dari ekstrak ikan toman dan ikan gabus dengan peningkatan kadar albumin darah pada pasien hipoalbuminemia. Penelitian ini dilakukan di ICU RSUD Dr. Muwardi Surakarta pada bulan November 2019–Januari 2020. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 30 pasien yang menjalani perawatan intensif dengan hipoalbuminemia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok dengan pemberian albumin ekstrak ikan toman (A) dan kelompok pemberian albumin ekstrak ikan gabus (B). Kedua kelompok diberikan albumin dengan dosis 5 gram tiap 12 jam selama tiga hari berturut-turut. Dilakukan pencatatan kadar albumin darah sebelum perlakuan dan tiga hari berturut-turut sejak pemberian ekstrak albumin. Penelitian menunjukan hasil bahwa selisih perubahan kadar albumin hari ke 1-baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,17+0,12, sedangkan kelompok B 0,11+0,08 (p=0,163). Pada hari ke-2 baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,41+0,15, sedangkan kelompok B 0,39+0,21 (p=0,785); pada hari ke-3 baseline kelompok A mengalami peningkatan rerata 0,74+0,35, sedangkan kelompok B 0,55+0,23 (p=0,785). Simpulan, ekstrak ikan toman memberikan peningkatan albumin yang lebih baik dibanding dengan ikan gabus, meskipun tidak berbeda secara statistik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Hipoalbuminemia adalah kadar albumin darah kurang dari 3,5 g/dL. Pemberian suplemen peroral albumin selama ini menggunakan ekstrak dari ikan gabus (Channa striata). Ikan Toman (Channa micropeltes) diduga memiliki protein yang lebih tinggi dari ikan gabus. Tujuan ini adalah membandingkan peningkatan kadar albumin pada pemberian albumin teknologi nano dari ekstrak ikan toman dengan ekstrak ikan gabus pada penderita hypoalbuminemia. Penelitian menggunakan uji klinis acak tersamar tunggal pada 30 pasien yang menjalani perawatan intensif dengan hipoalbuminemia yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 15 pasien, yaitu kelompok dengan pemberian albumin ekstrak Ikan Toman dan kelompok pemberian albumin ekstrak Ikan Gabus. Kedua kelompok diberikan albumin dengan dosis 5 gram tiap 12 jam selama tiga hari berturut-turut. Dilakukan pencatatan kadar albumin darah sebelum perlakuan dan tiga hari berturut-turut, serta efek samping dari pemberian ekstrak albumin. Penelitian menunjukan hasil bahwa selisih perubahan kadar albumin hari ke 1-Baseline kelompok A mengalami peningkatan rata-rata 0,17 +0,12, sedangkan kelompok B 0,11 +0,08 (p=0,163); pada hari ke 2 - Baseline kelompok A mengalami peningkatan rata-rata 0,41 +0,15, sedangkan kelompok B 0,39 +0,21 (p=0,785); pada hari ke 3 - Baseline kelompok A mengalami peningkatan rata-rata 0,74 +0,35, sedangkan kelompok B 0,55 +0,23 (p=0,785). Efek samping albumin hanya ditemukan keluhan mual muntah pada Kelompok A (2 pasien) dan Kelompok B (3 pasien). Simpulan, Albumin teknologi Nano Ekstrak Ikan Toman memberikan hasil peningkatan albumin yang lebih baik dibanding Ikan Gabus meskipun tidak berbeda signifikan secara statistik</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2469</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2469</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 1–5</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 1–5</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2469/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4332</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:38Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efektivitas Anestesi Spinal Menggunakan Levobupivakain dengan atau Tanpa Fentanil 25 Microgram Sebagai Adjuvan pada Pasien Seksio Sesarea</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Efektivitas Anestesi Spinal Menggunakan Levobupivakain dengan atau Tanpa Fentanyl 25 Microgram Sebagai Adjuvan pada Pasien Seksio Sesarea</dc:title>
	<dc:creator>Jason, Jason</dc:creator>
	<dc:creator>Bisono, Luwih</dc:creator>
	<dc:creator>Solihat, Yutu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi spinal; fentanil; levobupivakain; sectio caesarea</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology and Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi Spinal, Fentanyl, Levobupivakain, Sectio Caesarea</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Levobupivakain merupakan salah satu agen anestesi lokal yang sering digunakan dalam anestesi spinal. Penambahan adjuvan seperti fentanil terbukti dapat meningkatkan kualitas anestesi, khususnya pada tindakan seksio sesarea. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang bertujuan membandingkan efektivitas levobupivakain 0,5% dosis 12,5 mg dengan levobupivakain 0,5% dosis 10 mg yang dikombinasikan dengan fentanil 25 µg pada pasien yang menjalani seksio sesarea dengan anestesi spinal. Hasil menunjukkan bahwa onset blok sensorik dan motorik lebih cepat pada kelompok kombinasi (2,90 menit dan 2,92 menit) dibanding dengan levobupivakain tunggal (4,22 menit dan 5,15 menit; p&lt;0,05). Durasi blok sensorik lebih lama pada kombinasi (97 menit vs 80 menit; p&lt;0,05), sedangkan durasi blok motorik lebih panjang pada levobupivakain tunggal (153 menit vs 119 menit; p&lt;0,05). Parameter hemodinamik tetap stabil pada kedua kelompok tanpa perbedaan bermakna (p&gt;0,05). Efek samping yang sering ditemukan adalah mual muntah (18,5% pada levobupivakain tunggal dan 40,7% pada kombinasi) serta menggigil (37% dan 44,4%). Simpulan, penambahan fentanil 25 µg pada levobupivakain mempercepat onset dan memperpanjang durasi sensorik, namun disertai peningkatan kejadian mual muntah.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Levobupivakain digunakan untuk anestesi spinal. Penambahan adjuvan seperti fentanyl pada anestesi spinal merupakan pilihan yang menjanjikan pada persalinan SC. Penelitian ini merupakan penelitian experimental clinical trial double blind, untuk mengetahui perbandingan efektifitas penggunaan levobupivakain 0,5% 12,5 mg dan levobupivakain 0,5% 10 mg dengan fentanyl 25 mcg pada pasien seksio sesarea yang menjalani anestesi spinal. Onset kerja sensorik dan motorik dengan levobupivakain sebesar 4,22 (3,02-5,03) dan 5,15 (4,27-5,90), dan dengan kombinasi levobupivakain dan fentanyl sebesar 2,90 (2,00-3,25) (p&lt;0,05) dan 2,92 (2,62-3,98) (p&lt;0,05). Durasi kerja sensorik dan motorik dengan levobupivakain sebesar 80,00 (70,00-89,00) dan 153,00 (141,00-165,00), dan dengan kombinasi levobupivakain dan fentanil sebesar 97,00 (88,00-104,00) (p&lt;0,05) dan 119,00 (109,00-130,00) (p&lt;0,05). TDS, TDD, dan MAP pasien pasca pemberian anestesi pada kelompok levobupivakain masing-masing sebesar 113,00 (102,00-132,00), 69,00 (60,00-77,00), dan 83,60 (74,60-93,30), dan pada kelompok levobupivakain dan fentanil masing-masing sebesar 109,00 (102,00-128,00) (p&gt;0,05), 69,00 (58,00-81,00) (p&gt;0,05), dan 80,60 (74,00-96,60) (p&gt;0,05). Pada kelompok levobupivakain tunggal dan regimen kombinasi, masing-masing sebanyak 18,5% dan 40,7% mengalami efek samping mual dan muntah, serta 37% dan 44,4% orang mengalami efek samping menggigil. Didapatkan perbedaan efektivitas anestesi spinal menggunakan levobupivakain dengan atau tanpa fentanyl 25 mcg sebagai adjuvan pada pasien yang menjalani seksio sesarea.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4332</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.4332</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 10-17</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 10-17</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4332/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4332/5534</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4332/5535</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2388</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:47Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Anesthesia Management of Oculocardiac Reflex in Strabismus Surgery:  A Case Study</dc:title>
	<dc:creator>Ritonga, Diva Zuniar</dc:creator>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Adli, Muhamad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care; Eye Center; Eye Hospital; Ophthalmic</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Oculocardiac reflex; strabismus</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">There are various types of eye surgery with each requires special attention in anesthesia management. Strabismus surgery has several risks that need to be considered; one of which is oculocardiac reflex. The oculocardiac reflex is a condition characterized by decreased heart rate caused by the pressure on the globe or by traction on the extraocular muscles and conjunctiva or the orbital structures. This reflex can manifest as an asystole if left untreated. This is a case report of a 19-year-old male with ASA classification 1 presented with esotropia of left and right eyes. General anesthesia was used for anesthesia with 100 mcg fentanyl, 100 mg propofol, and 25 mg atracurium for induction and, for airway management, LMA size 3 was used. Sevoflurane 2–3 vol% with oxygen and nitrous oxide was given as maintenance. During the surgery, the heart rate dropped to 35 beats per minute when the operator pulled the medial rectus muscle in the first eye. The surgery was then paused and the heart rate was incrementally increased to 65 beats per minute without any other intervention. Then, as the operator pulled the medial rectus muscle in the second eye, the heart rate decreased to 55 beats per minute and the surgery continued with the heart rate slowly increased without any intervention. The remaining surgery time was uneventful. Knowledge and early intervention of oculocardiac reflex conditions should be well understood by all anesthesiologist to avoid more catastrophic conditions. Manajemen Anestesi untuk Reflek Okulokardiak pada Operasi Strabismus: Laporan KasusTerdapat banyak jenis operasi pada mata, setiap operasi membutuhkan penanganan anestesi yang khusus. Operasi strabismus memiliki beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian, salah satunya adalah refleks okulokardiak. Refleks okulokardiak merupakan konisi yang ditandai dengan penurunan denyut jantung disebabkan oleh tekanan pada bola mata atau penarikan pada otot-otot ekstraokular pada konjungtiva atau strukur orbita. Tanpa penanganan refleks ini dapat menyebabkan asistol. Sebuah laporan kasus mengenai laki-laki 19 tahun dengan klasifikasi ASA 1, dengan esotropi pada kedua mata yang akan dilaksanakan operasi strabismus. Anestesi umum dilaksanakan dengan obat-obat induksi fentanil 100 mcg, propofol 100 mg, dan atrakurium 25 mg, LMA ukuran 3 digunakan untuk managemen jalan napas. Sevofluran 2–3% dengan oxygen dan nitrous oxide digunakan untuk rumatan. Sewaktu operasi denyut nadi menurun sampai 35 kali per menit ketika operator menarik otot medial rektus pada mata pertama, kemudian operasi diminta dihentikan sementara, kemudian denyut nadi meningkat perlahan kembali ke 65 kali per menit tanpa pemberian intervensi lain. Kemudian, ketika operatot menarik otot medial rektus pada mata kedua denyut jantung menurun ke 55 kali per menit, operasi dilanjutkan dan denyut jantung meningkat tanpa intervensi lain. Operasi berlangsung tanpa kejadian lain. Pengetahuan dan penanganan awal kondisi refleks okulokardiak perlu diketahui oleh dokter anestesi untuk mencegah kondisi yang lebih berbahaya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-04-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2388</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n1.2388</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 58-64</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 58-64</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2388/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2388/2496</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2388/2497</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2388/2501</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2388/2502</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3051</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:26Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Anestesi Kaudal pada Neonatus dengan Suspek Sindrom Down dan Hipotiroid Kongenital yang dilakukan Tindakan Anoplasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">ANESTESI KAUDAL  PADA NEONATUS DENGAN SUSPEK SINDORM DOWN DAN HIPOTIROID KONGENITAL YANG DILAKUKAN TINDAKAN ANOPLASTI</dc:title>
	<dc:creator>Aditya, Ricky</dc:creator>
	<dc:creator>Bustomi, Yazid</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi kaudal, anoplasty, neonatus</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anestesi kaudal, anoplasti, neonatus</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Dokter anestesi menghadapi beberapa tantangan dalam manajemen anestesi untuk neonatus yang menjalani operasi di bawah anestesi umum karena ketidakmatangan berbagai organ, toleransi terhadap agen anestesi, dan cadangan oksigen rendah. Tindakan regional neuroaksial kaudal dapat digunakan sebagai alternatif yang aman pada neonatus yang dilakukan tindakan anoplasti. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan keberhasilan penatalaksanaan anestesi pada neonatus yang menjalani operasi anoplasti dengan anestesi kaudal. Seorang bayi baru lahir aterm dengan usia 3 hari dan BB 2.800 gram disertai dengan suspek sindrom Down dan hipotiroid kongenital dikonsulkan untuk menjalani anoplasti. Pada pemeriksaan fisis didapatkan wajah tampak mongolid dengan abdomen yang distensi dan produksi orogastric tube kehijauan sebanyak 10 mL. Pada preoperatif, pasien dipuasakan dan diberikan maintenance cairan. Operasi dilakukan dengan tindakan regional kaudal menggunakan bupivakain 0,25% sebanyak 0,5 mL/kgBB. Untuk menjaga pasien tetap tenang saat intraoperatif, pasien diberikan dot. Efektivitas blok diperiksa menggunakan tes pinprick di bawah umbilikal. Tidak diberikan sedasi saat intraoperasi. Saat intaoperasi didapatkan bayi tenang dan operasi dapat diselesaikan dengan baik. Tindakan kaudal anestesi pada anoplasti dapat dilakukan dengan aman terutma pada pasien neonatus yang memiliki risiko tinggi untuk dilakukan tindakan general anestesi. Caudal Anesthesia for Anoplasty in Neonates with Suspected Down Syndrome and Congenital HypothyroidAnesthesiologists face several challenges in anesthetic management for neonates undergoing surgery under general anesthesia due to the immaturity of various organs, tolerance to anesthetic agents, and low oxygen reserves. Caudal anesthesia can be used as a safe alternative in neonates undergoing anoplasty. This case report aimed to describe the success of anesthetic management in neonates who underwent anoplasty surgery under caudal anesthesia. A term newborn baby aged three days and weighing 2800 grams with suspected Down syndrome and congenital hypothyroidism was consulted for anoplasty. On physical examination, the face appeared Mongolian, with a distended abdomen and ten ccs of greenish orogastric tube production. Preoperatively, the patient fasted and was given fluid maintenance. The operation was performed by caudal regional action using 0.25% bupivacaine as much as 0.5 mL/kgBW. The patient needed to be calm intraoperatively, so the patient was given a pacifier. The effectiveness of the block was checked using the pinprick test below the umbilical. No intraoperative sedation was given. At the intraoperative time, the baby was calm, and the operation was completed. Caudal anesthesia in anoplasty can be performed safely, especially in neonates who are at high risk for general anesthesia.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Dokter anestesi menghadapi beberapa tantangan dalam manajemen anestesi untuk neonatus yang menjalani operasi di bawah anestesi umum karena ketidakmatangan berbagai organ, toleransi terhadap agen anestesi, dan cadangan oksigen rendah. Tindakan regional neuroaksial kaudal dapat digunakan sebagai alternatif yang aman pada neonatus yang dilakukan tindakan anoplasti. Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan keberhasilan penatalaksanaan anestesi pada neonatus yang menjalani operasi anoplasti dengan anestesi kaudal. Seorang bayi baru lahir aterm dengan usia 3 hari dan BB 2800 gram disertai dengan suspek sindrom down dan hipotiroid kongenital dikonsulkan untuk menjalani anoplasti. Pada pemeriksaan fisik didapatkan wajah tampak mongolid dengan abdomen yang distensi dan produksi orogastric tube kehijauan sebanyak 10 cc. Pada preoperatif, pasien dipuasakan dan diberikan maintenance cairan. Operasi dilakukan dengan tindakan regional kaudal menggunakan bupivakain 0,25% sebanyak 0,5 cc/kgBB. Untuk menjaga pasien tetap tenang saat intraoperatif, pasien diberikan dot. Efektifitas blok diperiksa menggunakan tes pinprick di bawah umbilical. Tidak diberikan sedasi saat intraoperasi. Saat intaoperasi didapatkan bayi tenang dan operasi dapat diselesaikan dengan baik. Tindakan kaudal anestesi pada anoplasti dapat dilakukan dengan aman terutma pada pasien neonatus yang memiliki risiko tinggi untuk dilakukan tindakan general anestesi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3051</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.3051</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 121–125</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 121–125</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3051/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3051/3671</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3370</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Pemberian Aminofilin pada Pasien  dengan Difficult Weaning Ventilator Mekanik Pascaevantrasio Diafragma</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Pemberian Aminophylline pada Pasien  dengan Difficult Weaning Ventilator Mekanik Paksa Evanterasi Diafragma</dc:title>
	<dc:creator>Tarigan, Franz Josef</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Aminofilin; evanterasi diafragma; kesulitan penyapihan; ventilator mekanik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">aminophylline; evanterasi diafragma; kesulitan penyapihan; ventilator mekanik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penggunaan ventilasi mekanik dapat mengakibatkan kelemahan diafragma yang didiagnosis sebagai ventilator induced diaphragmatic injury (VIDD) yang dapat terjadi mulai 72 jam pascapenggunaan ventilator mekanik. Aminofilin, derivat teofilin diketahui dapat meningkatkan rangsangan nervus phrenicus dan kontraktilitas diafragma pada kasus kelemahan diafragma akibat penggunaan ventilator mekanik. Laporan kasus ini membahas pemberian terapi aminofilin pada pasien dengan kesulitan penyapihan ventilator mekanik pascaevanterasio diafragma, dengan komorbiditas ventilator associated pneumonia (VAP) selama rawatan. Aminofilin diberikan dengan dosis 6 mg/kgBB selama lima hari. Evaluasi dilakukan dengan menilai tidal volume, pressure support, dan keberhasilan spontaneous breathing trial. Pada pasien didapatkanpeningkatan tidal volume dengan penurunan kebutuhan pressure support (PS) signifikan pada hari pertama dan kedua pemberian terapi. Penurunan PS dari 12 menjadi 9 mmHg pada hari pertama, dan 6 mmHg pada hari kedua. Pasien dapat dilakukan spontaneous breathing trial (SBT) pada hari ketiga, dan penyapihan ventilator mekanik berhasil dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa pemberian aminofilin bermanfaat dalam membantu penyapihan ventilator mekanik pada pasien dengan kesulitan penyapihan. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penggunaan ventilasi mekanik dapat mengakibatkan kelemahan diafragma yang didiagnosa sebagai ventilator induced diaphragmatic injury (VIDD). VIDD dapat terjadi mulai 72 jam paska penggunaan ventilator mekanik. Aminophylline, derivat Theophylline diketahui dapat meningkatkan rangsangan nervus phrenicus dan konrtaktilitas diafragma pada kasus kelemahan diafragma akibat penggunaan ventilator mekanik. Laporan kasus ini membahas pemberian terapi aminophylline pada pasien dengan kesulitan penyapihan ventilasi mekanik paskaevanterasi diafragma, dengan komorbiditas ventilator associated pneumonia selama rawatan. Aminophylline diberikan dengan dosis 6 mg/kgBB selama lima hari. Evaluasi dilakukan dengan menilai tidal volume, pressure support, dan keberhasilan spontaneous breathing trial. Pada pasien didapati peningkatan tidal volume dengan penurunan kebutuhan pressure support signifikan pada hari pertama dan kedua pemberian terapi. Penurunan pressure support dari 12 menjadi 9 mmHg pada hari pertama, dan 6 mmHg pada hari kedua. Pasien dapat dilakukan spontaneous breathing trial (SBT) pada hari ke tiga, dan penyapihan ventilator mekanik berhasil dilakukan. Kami menyimpulkan bahwa pemberian aminophylline bermanfaat dalam membantu penyapihan ventilator mekanik pada pasien dengan kesulitan penyapihan.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Padjadjaran University, Department of Anesthesiology and Intensive Care</dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3370</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3370</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 192-198</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 192-198</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3370/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3370/4165</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3826</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:16:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Uji Kesesuaian Pengukuran Berat Badan antara Metode Lorenz dan Metode Modifikasi PAWPER-XL MAC dengan Tempat Tidur Bertimbangan Khusus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Uji Kesesuaian Pengukuran Berat Badan antara Metode Lorenz dan Metode Modifikasi PAWPER-XL MAC dengan Tempat Tidur Bertimbangan Khusus</dc:title>
	<dc:creator>Pamugar, Bramantyo</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Berat badan aktual, metode Lorenz, metode modifikasi PAWPER-XL MAC, timbangan khusus</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">berat badan aktual; metode Lorenz; metode modifikasi PAWPER-XL MAC; timbangan khusus</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan potong lintang pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement (LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Berat badan aktual sangat penting di Intensive Care Unit (ICU). Baku standar penilaian berat badan aktual adalah timbangan khusus, namun timbangan ini tidak banyak tersedia di ICU. Alternatif lain untuk estimasi berat badan aktual dapat menggunakan metode antropometrik. Penelitian ini merupakan uji kesesuaian antara estimasi berat badan aktual menggunakan metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan berat badan aktual menggunakan timbangan khusus baku standar. Penelitian ini adalah analitik observasional dengan cross-sectional pada 83 pasien ICU rumah sakit Hasan Sadikin Bandung antara Agustus hingga November 2023. Uji kesesuaian menggunakan: uji t, P10, P20, mean percentage error (MPE), dan limit of agreement(LOA). Pasien metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC dengan rerata perawatan 2,00±1,704 dan rerata balans kumulatif 126,99±1483,62, didapatkan nilai p adalah 0,646 dan 0,717 secara berurutan, nilai P10 adalah 84,3% dan 71,1% secara berurutan, nilai P20 adalah 98,8% dan 95,2% secara berurutan, nilai MPE adalah 0,361 dan 0,463 secara berurutan, nilai LOA adalah -14,75 s/d 15,53 dan -18,12 s/d 19,04 secara berurutan. Semua berada dalam rentang yang direkomendasikan. Pengukuran estimasi berat badan aktual metode Lorenz dan modifikasi PAWPER-XL MAC sesuai dengan pengukuran berat badan aktual dengan tempat tidur bertimbangan khusus pada pasien-pasien ICU.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3826</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3826</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 193-201</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 193-201</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3826/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3826/4846</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3826/5363</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2174</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:11Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Penatalaksanaan Syok Sepsis dengan Penyulit Cedera Ginjal Akut pada Pasien Peritonitis Sekunder</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Management of Septic Shock with Complications of Acute Renal Failure in Patients with Secondary Peritonitis</dc:title>
	<dc:creator>Najamuddin, Masriani</dc:creator>
	<dc:creator>Nurdin, Haizah</dc:creator>
	<dc:creator>Muchtar, Faisal</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Cedera ginjal akut, peritonitis, peritonitis sekunder, syok sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">acute kidney injury, shock, sepsis shock, peritonitis, secondary peritonitis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peritonitis akibat infeksi intraabdominal, khususnya peritonitis sekunder merupakan salah satu penyebab syok sepsis dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Perkembangan dalam pemahaman fisiologi, pemantauan, dan tunjangan sistem kardiopulmonal, serta penggunaan obat-obat baru secara rasional membuat mortalitas stabil pada kisaran 30%. Kasus ini mengenai seorang pasien perempuan usia 67 tahun masuk rumah sakit dengan diagnosis peritonitis generalisata karena suspek perforasi Hollow viscous. Setelah menjalani operasi laparatomi untuk source control, pasien dirawat di ICU selama 5 hari. Selama perawatan pasien mengalami edema paru, sepsis, anemia, hipokalemia, hipoalbuminemia, serta acute kidney injury (AKI). Pada pasien dilakukan tindakan ventilasi mekanik selama 4 hari yang diiringi dengan pemantauan analisis gas darah arteri dan furosemid untuk tata laksana edema paru dan fluid overload. Resusitasi dan pemeliharaan cairan sambil memantau hemodinamik konvensional dan melalui ICON, balance kumulatif, fluid overload, tekanan vena sentral, serta urine output. Terapi antimikrob diberikan berdasar atas pedoman terapi infeksi intraabdominal dan antibiogram ICU rumah sakit. Kondisi perfusi dipantau dengan kadar laktat dan SCVO2. Respons antibiotik dan perbaikan sepsis dipantau dengan pemeriksaan prokalsitonin dan leukosit. Perbaikan AKI dipantau dengan produksi urine serta kadar ureum dan kreatinin. Penatalaksanaan peritonitis sekunder dengan komplikasi sepsis dengan penyulit AKI telah berhasil dilakukan di ICU. Peritonitis sekunder memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi, namun dengan source control yang adekuat dan manajemen di ICU yang agresif maka diperoleh hasil yang baik seperti pada kasus ini.Management of Septic Shock with Acute Renal Failure Complications in Secondary Peritonitis PatientsPeritonitis due to intraabdominal infection, especially secondary peritonitis is one of the major causes of septic shock with high morbidity and mortality. Developments in understanding the physiology, monitoring and supportive therapy for cardiopulmonary system and rational use of new drugs, make mortality stable at around 30%. A 67-year-old female patient was hospitalized with generalized peritonitis due to suspected Hollow Viscous perforation. After undergoing laparotomy for source control, the patient was treated in the ICU for five days. During treatment, the patient experiences pulmonary edema, sepsis, anemia, hypokalaemia, and hypoalbuminemia, and acute kidney injury (AKI). The patient received mechanical ventilation intervention for four days accompanied by monitoring of arterial blood gas analysis and furosemide administration for pulmonary edema and fluid overload management. Fluid resuscitation and maintenance are monitored by conventional hemodynamic monitoring and through ICON, and by cumulative balance calculation, fluid overload calculation, central venous pressure, and urine output. Antimicrobial therapy is given based on guidelines for intraabdominal infection therapy and antibiogram at the hospital ICU. The condition of perfusion is monitored by examination of lactate and SCVO2 levels. Antibiotic response and improvement in sepsis are monitored by examination of procalcitonin and leukocytes. AKI improvement is monitored by urine production, and urea and creatinine levels. Management of secondary peritonitis with complications of sepsis and AKI has been successfully carried out in the ICU. Secondary peritonitis has a fairly high mortality rate, but with adequate source control and aggressive management in the ICU, good results are obtained as in this case.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peritonitis due to intraabdominal infection, especially secondary peritonitis is one of the major causes of septic shock with high morbidity and mortality. Developments in understanding the physiology, monitoring and supportive therapy for cardiopulmonary system, as well as rational use of new drugs, make mortality stable at around 30%. A 67-year-old female patient was hospitalized with generalized peritonitis due to suspected Hollow Viscous perforation. After undergoing laparotomy for source control, the patient was treated in the ICU for 5 days. During treatment, the patient experiences pulmonary edema, sepsis, anemia, hypokalaemia, and hypoalbuminemia, as well as acute kidney injury (AKI). Patients received mechanical ventilation intervention for 4 days accompanied by monitoring of arterial blood gas analysis and furosemide administration for pulmonary edema and fluid overload management. Fluid resuscitation and maintenance monitored by conventional hemodynamics monitoring and through ICON, and by cumullative balance calculation, fluid overload calculation, and measured of central venous pressure, and urine output. Antimicrobial therapy is given based on guidelines for intraabdominal infection therapy and antibiogram at the hospital ICU. The condition of perfusion is monitored by examination of lactate and SCVO2 levels. Antibiotic response and improvement in sepsis are monitored by examination of procalcitonin and leukocytes. AKI improvement is monitored by urine production, as well as urea and creatinine levels. Management of secondary peritonitis with complications of sepsis and AKI has been successfully carried out in the ICU. Secondary peritonitis has a fairly high mortality rate, but with adequate source control and aggressive management in the ICU, good results are obtained as in this case.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2174</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2174</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 194–205</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 194–205</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2174/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2574</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:19Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Sensitivitas dan Spesifisitas Kuesioner COVID-19 untuk Skrining Pasien Praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Sensitifitas dan Spesifisitas Kuesioner Covid-19 untuk Skrining Pasien Praoperatif di RSUP dr. Hasan Sadikin</dc:title>
	<dc:creator>Simamora, Marrylin Tio</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">COVID-19; kuesioner;praoperatif;sensitivitas; spesifisitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) memberi dampak ke seluruh aspek, salah satunya dalam pelayanan kesehatan. Skrining praoperatif menjadi salah satu hal penting dalam persiapan dan pemilihan pasien yang akan menjalani operasi elektif di masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas kuesioner COVID-19 yang digunakan untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari 2021 hingga Maret 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan hasil kuesioner dengan hasil PCR COVID-19 yang diambil dari data pasien praoperatif bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa sensitivitas kuesioner COVID-19 untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin sangat lemah (36,4%), sedangkan spesifisitasnya sangat kuat (97,2%). Rasio kemungkinan positif sempurna (13), sedangkan rasio kemungkinan negatif cukup (0,65). Simpulan penelitian ini kuesioner COVID-19 kurang baik bila digunakan pada populasi dengan prevalensi yang rendah, tetapi cukup baik untuk menyaring pasien yang sehat, namun masih belum dapat dijadikan sebagai alat uji diagnostik, masih membutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendiagnosis COVID-19.Covid-19 Sensitivity and Specificity Questionnaire for Screening Preoperative Patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungThe 2019 Corona Virus Disease (COVID-19) pandemic impacts all aspects, one of which is health services. Preoperative screening is one of the essential things in the preparation and selection of patients who will undergo elective surgery during the COVID-19 pandemic. This study aimed to determine the sensitivity and specificity of the COVID-19 questionnaire used to screen preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital. The study was conducted at the Medical Record Unit of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung from February 2021 to March 2021. This study was a retrospective descriptive study with a cross-sectional design to compare the results of the questionnaire with the results of the COVID-19 PCR taken from preoperative patient data from June 2020 to August 2020. The results found that sensitivity in the COVID-19 questionnaire for screening preoperative patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital was very weak (36.4%), while the specificity was very strong (97.2%). The positive likelihood ratio was perfect (13), while the negative likelihood ratio was moderate (0.65). This study concludes that the COVID-19 questionnaire is unsuitable for use in a low prevalence population but is good enough to screen healthy patients. However, it still cannot be used as a diagnostic test tool and requires other supporting tests to diagnose COVID-19.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) memberi dampak ke seluruh aspek, salah satunya dalam pelayanan kesehatan.Aspek penting yang perlu menjadi perhatian khusus yaitu menghindari potensi penularan dari pasien COVID-19. Skrining praoperatif menjadi salah satu hal penting dalam persiapan dan pemilihan pasien yang akan menjalani operasi elektif di masa pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sensitivitas dan spesifisitas dari kuesioner COVID-19 yang digunakan untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari 2021 hingga Maret 2021. Penelitian ini merupakan studi deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan hasil kuesioner dengan hasil PCR COVID-19 yang diambil dari data pasien praoperatif bulan Juni 2020 hingga Agustus 2020. Hasil penelitian didapatkan bahwa sensitivitas kuesioner COVID-19 untuk skrining pasien praoperatif di RSUP Dr. Hasan Sadikin sangat lemah (36,4%), sedangkan spesifisitasnya sangat kuat (97,2%). Rasio kemungkinan positif sempurna (13), sedangkan rasio kemungkinan negatif cukup (0,65). Simpulan penelitian ini kuesioner COVID-19 kurang baik bila digunakan pada populasi dengan prevalensi yang rendah, tapi cukup baik untuk menyaring pasien yang sehat namun masih belum dapat dijadikan sebagai alat uji diagnostik, masih membutuhkan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mendiagnosis COVID-19.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2574</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2574</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 50-57</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 50-57</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2574/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2574/2813</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2574/2814</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3110</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:03Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Komplikasi Berat Pemasangan Central Venous Catheter: Serial Kasus</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Komplikasi Berat Pemasangan Central Venous Catheter: Serial Kasus</dc:title>
	<dc:creator>Muchtar, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Adil, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Syukur, Rusmin Bolo</dc:creator>
	<dc:creator>Kusumanegara, Jayarasti</dc:creator>
	<dc:creator>Pangerang, Andi Wija Indrawan</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Central venous catheter; pembedahan endovaskular; resusitasi; syok hemoragik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Central venous catheter; pembedahan endovaskular; resusitasi; syok hemoragik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Kateter vena sentral/central venous catheter (CVC) diindikasikan untuk melakukan pemantauan terhadap tekanan vena sentral/central venous pressure (CVP), pemberian cairan untuk menangani hipovolemia dan syok, nutrisi parenteral dan untuk mendapatkan akses vena bagi pasien yang akses vena perifernya sulit didapatkan. Salah satu komplikasi pemasangan CVC yang paling umum adalah penusukan arteri yang dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan penanganan syok hemoragik pascapemasangan CVC melalui resusitasi yang adekuat dan pembedahan endovaskular.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Kateter vena sentral (central venous catheter [CVC]) diindikasikan untuk melakukan pemantauan terhadap tekanan vena sentral (central venous pressure [CVP]), pemberian cairan untuk menangani hipovolemia dan syok, nutrisi parenteral dan untuk mendapatkan akses vena bagi pasien yang akses vena perifernya sulit untuk didapatkan. Salah satu komplikasi pemasangan CVC yang paling umum adalah penusukan arteri yang dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan jiwa. Laporan kasus ini menunjukkan keberhasilan penanganan syok hemoragik pasca pemasangan CVC melalui resusitasi yang adekuat dan pembedahan endovaskular.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3110</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3110</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 125-130</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 125-130</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3110/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3741</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Nilai Platelets to Lymphocyte Ratio dengan Length of Stay ICU  pada Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Nilai Platelets to Lymphocyte Ratio Dengan Length of Stay ICU Pada Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Sigai, Erlina Ana Sepra Liber</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Aditya, Ricky</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Keparahan pasien ICU; limfosit, platelet; platelets to lymphocytes ratio; sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Keparahan pasien ICU; limfosit, platelet; platelets to lymphocytes ratio, sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang ditandai adanya disfungsi organ yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi respons inflamasi yang tidak terkendali atau imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis. Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai Platelets to Lymphocyte Ratio (PLR) dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di ICU. Sebanyak 102 data rekam medis pasien sepsis diamati dalam penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU diperoleh r=0,611 (p≤0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU=(0,11xnilai PLR)–7,96 hari. Berdasarkan penelitian ini, terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Sepsis merupakan kondisi mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi respons imun terhadap infeksi. Pada sepsis dapat terjadi suatu respons inflamasi yang tidak terkendali ataupun imunosupresi. Trombosit dan limfosit memainkan peran penting dalam proses imun dan rasionya dapat menggambarkan derajat keparahan pasien sepsis.  Perawatan pasien sepsis di ICU seringkali membutuhkan waktu yang lama, tergantung pada keparahan penyakit dan topangan organ yang dibutuhkan pasien. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba mengevaluasi korelasi nilai PLR dengan lama rawat ICU pada pasien sepsis di ICU. Penelitian ini merupakan studi observasional kuantitatif retrospekstif pada pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari-Desember 2022. Uji Pearson digunakan untuk menganalisis korelasi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien sepsis di ICU. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mendapatkan persamaan prediksi antara nilai PLR dengan lama rawat pasien di  ICU. Sebanyak 102 data rekam medik pasien sepsis diamati pada penelitian ini. Dari analisis statistik nilai PLR terhadap lama rawat ICU didapatkan r = 0,611 (p ≤ 0,001). Dari regresi linear sederhana didapatkan prediksi lama rawat ICU = (0,11 x nilai PLR) – 7,96 hari.  Bedasarkan penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat korelasi positif antara nilai PLR dan lama rawat pasien sepsis di ICU. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3741</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3741</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 119-125</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 119-125</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3741/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3741/4633</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3741/4634</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4591</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:03:15Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Prognostic Value of Alactic Base Excess for 28 Day Mortality in Sepsis Patients: A Retrospective Prognostic Accuracy Study in an Intensive Care Unit</dc:title>
	<dc:creator>Sulistiono, Paulus</dc:creator>
	<dc:creator>Sudjud, Reza Widianto</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Alactic base excess; Intensive Care Unit; mortality; prognosis; sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Introduction: Prognostication in sepsis is challenging. Serum lactate is widely used but cannot separate non-lactate contributions to metabolic acidosis. Alactic Base Excess (ABE) provides a more complete assessment of acid–base status. This study assessed ABE’s value in predicting 28-day mortality in sepsis patients.Methods: A retrospective study included 109 adult sepsis patients meeting Sepsis-3 criteria with arterial blood gas analysis within 24 hours of ICU admission. ABE was calculated from base excess and lactate. Prognostic performance was evaluated using ROC analysis, and association with mortality was assessed using odds ratios (OR).Results: Of 109 patients, 59 (54.1%) died within 28 days. Non-survivors had more negative median ABE than survivors (-7.04 vs. -0.15; p&lt;0.001). Optimal ABE cut-off was ≤ -4.1. Patients with ABE ≤-4.1 had a higher risk of mortality (OR 38.6; 95% CI: 13.2–112.9; p&lt;0.001).Discussion: ABE showed strong prognostic performance, reflecting non-lactate metabolic acidosis not captured by lactate alone. As it is derived from routine arterial blood gas analysis, ABE is practical for early risk stratification in critically ill sepsis patients.Conclusion: ABE demonstrates excellent prognostic value for 28-day mortality in ICU sepsis patients. An ABE ≤-4.1 is linked to significantly higher mortality and may serve as a readily available biomarker for early risk assessment and timely clinical decisions.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4591</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4591</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 174-181</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 174-181</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4591/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4591/5917</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4591/5918</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2549</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:28Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Kombinasi Parasetamol dan Deksametason dengan Deksametason Praoperasi untuk Mengurangi Angka Kejadian Nyeri Tenggorok Pascaanestesi Umum</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Kombinasi Parasetamol dan Deksametason dengan Deksametason Praoperasi untuk mengurangi angka kejadian nyeri tenggorok pasca operasi anestesi umum di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung</dc:title>
	<dc:creator>Laory, Jansen</dc:creator>
	<dc:creator>Kadarsah, Rudi Kurniadi</dc:creator>
	<dc:creator>Indriasari, Indriasari</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi umum, parasetamol, postoperative sore throat</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anestesi umum, parasetamol, postoperative sore throat</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Postoperative sore throat (POST) setelah anestesi umum dengan pemasangan pipa endotrakea merupakan komplikasi yang sering terjadi dan tidak diinginkan. Angka kejadian nyeri tenggorok pascaoperasi setelah pemasangan pipa endotrakea adalah 6–76%. Penelitian ini bertujuan membandingkan efek kombinasi parasetamol dan deksametason dengan deksametason tunggal untuk mengurangi angka kejadian POST pada pasien setelah anestesi umum. Penelitian ini merupakan eksperimental dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin bulan Januari–April 2021. Total 92 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok deksametason dan parasetamol (n=46) diberikan deksametason 10 mg dan parasetamol 1.000 mg intravena. Kelompok deksametason (n=46) diberikan deksametason 10 mg intravena dan plasebo. Pada penelitian ini, derajat POST dipantau. Angka kejadian POST didapatkan lebih rendah pada kelompok kombinasi deksametason dan parasetamol dibanding dengan kelompok deksametason dan plasebo pada jam ke-0, 1, dan 6 (p=0,0001, p=0,001, dan p=0,0001). Simpulan penelitian ini adalah kombinasi deksametason parasetamol lebih baik dibanding dengan deksametason tunggal dalam menurunkan angka kejadian POST anestesi umum.Comparison of Combined Paracetamol and Dexamethasone with Preoperative Dexamethasone for Reducing Sore Throat Post General AnesthesiaPostoperative sore throat (POST) following general anesthesia with endotracheal tube insertion is a common and undesirable complication. The incidence of postoperative sore throat after insertion of an endotracheal tube is  6–76%. This study aimed to compare the effect of combined paracetamol and dexamethasone with single-dose dexamethasone to reduce POST incidence in patients after general anesthesia. This experimental study conducted a double-blind, complete randomized controlled clinical trial at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung during  January–April 2021 Ninety-two patients scheduled for elective surgery were randomly assigned to two groups. The dexamethasone and aracetamol group (n=46) were given dexamethasone 10 mg and paracetamol 1000 mg intravenously. Dexamethasone group (n=46) was given dexamethasone 10 mg intravenously and placebo. In this study, the degree of POST was monitored. Results showed that the incidence of POST was lower in the dexamethasone and paracetamol combination group than in the dexamethasone and placebo group at 0, 1, and 6 hours (p=0.0001, p=0.001, and p=0.0001). This study concludes that the combination of dexamethasone paracetamol is better than single-dose dexamethasone in reducing the incidence of POST general anesthesia. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Postoperative sore throat (POST) setelah anestesi umum dengan pemasangan pipa endotrakea merupakan komplikasi yang sering terjadi dan tidak diinginkan. Angka kejadian nyeri tenggorok pascaoperasi setelah pemasangan pipa endotrakea antara 6 – 76%. Pada penelitian ini, dilakukan perbandingan efek kombinasi parasetamol dan deksametason dengan deksametason tunggal untuk mengurangi angka kejadian POST pada pasien setelah anestesi umum. Penelitian ini merupakan eksperimental dengan melakukan uji klinis rancangan acak lengkap terkontrol buta ganda. Total 92 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok Deksametason dan Parasetamol (n=46) diberikan Deksametason 10 mg dan Parasetamol 1000 mg intravena. Kelompok Deksametason (n=46) diberikan Deksametason 10 mg intravena dan plasebo. Derajat POST dipantau, selain itu sebagai tambahan skala nyeri luka operasi pascaoperasi dan penggunaan opioid pascaoperasi dibandingkan. Didapatkan hasil angka kejadian POST lebih rendah pada kelompok kombinasi Deksametason dan Parasetamol dibandingkan Deksametason dan placebo pada jam ke 0, 1 dan 6 (p=0,0001, p=0,001, dan p=0,0001). Mekanisme POST disebabkan adanya inflamasi pada faring dan trakea saat tindakan intubasi endotrakea. Deksametason dan parasetamol memiliki efek antiinflamasi dan penghambatan cyclooxygenase (COX) sebelum dilakukan tindakan intubasi endotrakea. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi deksametason parasetamol lebih baik dibandingkan deksametason tunggal dalam menurunkan angka kejadian POST anestesi umum.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2549</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2549</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 174–181</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 174–181</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2549/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2769</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2770</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2771</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2549/2772</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3116</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Mula Kerja Ropivakain 0,75% dengan Levobupivakain 0,5% untuk Blokade Peribulbar pada Pasien yang Menjalani Operasi Vitrektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Mula Kerja Ropivacaine 0,75% dengan Levobupivacaine 0,5% untuk Blokade Peribulbar pada Pasien yang Menjalani Operasi Vitrektomi</dc:title>
	<dc:creator>Fahruzi, Odih</dc:creator>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Prihartono, M. Andy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar; levobupivakain; ropivakain; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">peribulbar</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan membandingkan mula kerja antara ropivakain dan levobupivakain pada blokade peribulbar. Jenis penelitian ini berupa eksperimental prospektif yang menggunakan desain double blind randomized controlled trial dengan analisis statistik menggunakan uji Mann Whitney. Subjek terdiri dari 34 orang yang menjalani operasi vitrektomi dengan blokade peribulbar. Penelitian dilakukan bulan Maret–April 2022 di di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung. Enam belas subjek dilakukan blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dan 18 subjek mendapatkan levobupivakain 0,5%. Mula kerja rerata pada grup ropivakain 0,75% didapatkan 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit dengan perbedaan bermakna (p&lt;0,05). Volume rerata grup ropivakain 0,75% adalah 8,06±1,44 mL, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 mL. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding dengan levobupivakain. Simpulan penelitian ini adalah mula kerja levobupivakain 0,5% pada blokade peribulbar lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%.  </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pendahuluan. Blokade peribulbar merupakan salah satu teknik anestesi regional yang dapat digunakan untuk operasi vitrektomi. Ropivakain dan levobupivakain merupakan anestetik lokal yang memiliki keunggulan durasi kerja yang lama, dan tingkat komplikasi lebih rendah dibanding dengan bupivakain. Penelitian ini bertujuan mencari mula kerja dari ropivakain dan levobupivakain. Metode. Sebanyak 34 subjek dilakukan vitrektomi di Netra Klinik Spesialis Mata Bandung dengan blokade peribulbar. Enam belas subjek mendapatkan ropivakain 0,75% dan delapan belas subjek mendapatkan levobupivakain 0,5% untuk blokade peribulbar. Setelah penyuntikan dilakukan penilaian gerak bola mata untuk menilai akinesia, dinilai Cicendo Akinesia Score (CAS) setiap menit selama 10 menit, blokade tercapai bila skor CAS 2 atau 3. Hasil. Grup ropivakain 0,75% didapatkan mula kerja rerata 11,3 menit, sedangkan grup levobupivakain 0,5% rerata 7,78 menit setelah penyuntikan. Hasil statistik didapatkan nilai p &lt;0,05 yang berarti bermakna dari mulai kerja kedua obat. Volume rerata grup ropivakain 0,75%  8,06±1,44 ml, sedangkan grup levobupivakain 0,5% mendapatkan volume rerata 7,00±1,79 ml.  Diskusi. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibanding dengan ropivakain 0,75%, hal tersebut kemungkinan berhubungan dengan perbedaan lipid solubilitas, ropivakain 10 kali lebih rendah lipid solubilitasnya dibanding levobupivakain. Anatomi bola mata diselubungi oleh jaringan lemak, kemungkinan penetrasi ropivakain lebih lambat dibanding dengan levobupvakain. Simpulan. Mula kerja levobupivakain 0,5% lebih cepat dibandingkan dengan ropivakain 0,75% pada blokade peribulbar. Kata Kunci: blokade peribulbar, levobupivakain, ropivakain, vitrektomi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Padjajaran University</dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3116</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.3116</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 43–48</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 43–48</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3116/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3702</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T05:10:01Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Nyeri dengan Agitasi pada Pasien yang Terintubasi di Intensive Care  Unit (ICU) RSUP Haji Adam Malik Medan</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">CORRELATION OF PAIN AND AGITATION IN INTUBATED PATIENTS IN HAJI ADAM MALIK GENERAL HOSPITAL ICU</dc:title>
	<dc:creator>Syakur, Muhammad</dc:creator>
	<dc:creator>Hamdi, Tasrif</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Agitasi; CPOT; ICU; nyeri; RASS</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Agitation, CPOT, ICU,  Pain, and RASS</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Agitasi umum terjadi pada pasien ICU dan dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungan baru, paparan obat, kondisi medis, dan kondisi kesehatan mental. Nyeri juga banyak dialami oleh pasien yang diintubasi di ICU yang menerima perawatan medis seperti suctioning ETT, pemasangan kateter urin, nasogastrik, dan tindakan perawatan pasien rutin sehari-hari dapat memperburuk agitasi. Dalam perawatan ICU, penting mempertimbangkan hubungan antara agitasi, nyeri, delirium, dan faktor-faktor lain untuk mengelola dan mengatasi kondisi pasien secara efektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nyeri menggunakan critical-care pain observation tool (CPOT) dan agitasi menggunakan RASS pada pasien intubasi di ICU Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik. Desain penelitian adalah analitik observasional dengan studi cross sectional menggunakan skala CPOT dan Richmond agitation sedation scale (RASS) sebagai alat ukur selama periode Oktober 2023. Didapatkan perbedaan yang signifikan antara pengukuran pagi dan malam di semua penilaian hemodinamik. Diketahui ada korelasi positif yang signifikan antara CPOT dan RASS pada pagi hari dengan tingkat korelasi sedang dan arah korelasi positif. Perbedaan nilai CPOT pagi dan RASS pagi dengan sore hari signifikan secara statistik. Simpulan, didapatkan korelasi antara nyeri dan agitasi pada pasien yang diintubasi di ICU RSUP Adam Malik dengan tingkat korelasi sedang. CPOT dianggap memiliki manfaat untuk digunakan di ICU.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Agitation is common in ICU patients and can be caused by factors such as the new environment, drug exposure, medical conditions, and mental health conditions. Pain is also widely experienced by patients intubated in the ICU who receive medical care such as ETT suctioning, urinary catheter insertion, nasogastric, and routine daily patient care actions can worsen agitation. In ICU care, it is important to consider the relationship between agitation, pain, delirium, and other factors to effectively manage and cope with the patient's condition. This study aimed to analyze the correlation between pain using CPOT and agitation using RASS in intubated patients in the ICU of Haji Adam Malik General Hospital. The study design was observational analytic with a cross-sectional study using the CPOT and RASS scales as measuring tools during the October 2023 period. There was a statistically significant difference between morning and evening measurements across all hemodynamic assessments. It is known that there is a significant positive correlation between CPOT and RASS in the morning with a moderate degree of correlation and a positive correlation direction. It is known that the difference in morning CPOT and morning and evening RASS values is statistically significant. The conclusion of this study showed a significant correlation between pain and agitation in patients intubated in the ICU of Adam Malik General Hospital with a moderate degree of correlation. CPOT is considered to have benefits for use in the ICU.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3702</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3702</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 33-43</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 33-43</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3702/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3702/4581</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3702/4888</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3743</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Skor Apgar antara Seksio Sesaria Metode Konvensional dengan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery di Rumah Sakit Bina Sehat Jember</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Apgar Score pada Menit Pertama antara Sectio Caesarea Metode Konvensional dengan Enhanced Recovery After Caesarean Surgery di RS Bina Sehat Jember</dc:title>
	<dc:creator>Safitri, Athiyah Naura</dc:creator>
	<dc:creator>Efendi, Erfan</dc:creator>
	<dc:creator>Rumastika, Nindya Shinta</dc:creator>
	<dc:creator>Shodikin, Muhammad Ali</dc:creator>
	<dc:creator>Parti, Dita Diana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Enhanced recovery after caesarean surgery; skor apgar; seksio sesaria</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ERACS, Enhanced Recovery After Caesarean Surgery, Sectio Caesarea, Apgar Score</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) merupakan metode seksio sesaria yang menggunakan pendekatan multimodal untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan ibu sebelum, selama, dan setelah pembedahan dengan tujuan mempercepat pemulihan pascapersalinan. Metode ERACS terbukti memberikan manfaat klinis bagi ibu, namun penelitian mengenai dampaknya terhadap kondisi bayi masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan skor Apgar bayi antara prosedur seksio sesaria konvensional dan ERACS. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Bina Sehat Jember periode September 2022–Agustus 2023. Total terdapat 92 sampel, terdiri atas 46 bayi yang lahir melalui seksio sesaria konvensional dan 46 bayi yang lahir dengan metode ERACS. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk menilai perbedaan skor Apgar antara kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76 bayi memiliki skor Apgar baik, 16 bayi memiliki skor Apgar sedang, dan tidak terdapat bayi dengan skor Apgar rendah. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara skor Apgar bayi pada kelompok seksio sesaria konvensional dan ERACS (p=0,099).</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Background: Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) is a sectio caesarea method that uses a special approach to optimize maternal health pre-operatively, intra-operatively, and after cesarean surgery with the purpose of faster post-natal recovery. ERACS has been proven to have a good impact on mothers, but there is no research on the impact of ERACS on babies, so this research was conducted on the difference in baby Apgar scores between conventional SC and ERCAS.Methods: This research is an analytical observational study using medical record data from Bina Sehat Jember Hospital for the period September 2022 - August 2023. The total number of research samples was 92 samples, with 46 babies born using conventional SC and 46 babies born using ERACS SC. The data were analyzed using chi-square to determine whether there was a significant difference in the baby's Apgar score between the conventional SC method and the ERACS SC method.Results: The research results showed that 76 babies were born with good Apgar scores, 16 babies were born with moderate Apgar scores, and no babies were born with low Apgar scores.Conclusion: There is no significant difference between the Apgar scores of babies born using the conventional cesarean section method and babies born using the Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) section method with a value of p=0.099.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3743</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.3743</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 83-87</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 83-87</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3743/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3743/4643</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3743/4659</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2419</identifier>
				<datestamp>2021-09-28T01:49:42Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Premedikasi Ketamin 0,3 Mg/kgBB terhadap Respons Tubuh Pasien Saat Insersi Jarum Spinal dan Penerimaan Pasien</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PENGARUH PREMEDIKASI KETAMIN 0,3 MG/KGBB TERHADAP RESPONS TUBUH PASIEN  SAAT INSERSI JARUM SPINAL DAN KEPUASAN PASIEN</dc:title>
	<dc:creator>Janardika, Ardi</dc:creator>
	<dc:creator>Oktaliansah, Ezra</dc:creator>
	<dc:creator>Prihartono, M. Andy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anestesi spinal, penerimaan pasien,  premedikas ketamin, respons  tubuh  saat insersi jarum spinal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anestesi spinal; kepuasan pasien; premedikasi ketamin; respons tubuh saat insersi jarum spinal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemberian premedikasi dapat mengurangi kecemasan preoperatif dan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal. Premedikasi membuat intervensi spinal menjadi lebih nyaman bagi pasien, pasien kooperatif selama penyuntikan, dan mengurangi respons saat insersi jarum spinal. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh premedikasi ketamin 0,3 mg/kgBB yang diberikan 3 menit sebelum dilakukan anestesi spinal terhadap respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan penerimaan pasien terhadap anestesi spinal. Penelitian dilakukan periode Agustus–Desember 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian bersifat komparatif eksperimental dengan menggunakan uji klinis acak buta ganda terhadap 46 subjek yang dibagi acak ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol (kelompok C, n=23) dan kelompok premedikasi ketamin (kelompok K, n=23). Pascapemberian premedikasi ketamin dinilai respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal menggunakan prick response score dan penerimaan pasien dengan numeric rating scale. Analisis statistik untuk respons penyuntikan dan penerimaan pasien diuji dengan tes chi-square. Hasil penelitian menunjukkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal berkurang (p&lt;0,01) dan penerimaan pasien meningkat (p&lt;0,01) pada kelompok perlakuan. Simpulan penelitian, yaitu premedikasi ketamin 0,3 mg/kgBB yang diberikan 3 menit sebelum anestesi spinal menurunkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan meningkatkan penerimaan pasien terhadap anestesi spinal. The Effect of Ketamine Premedication 0.3 mg/kgBW before Spinal Anesthesia to Body Response during Spinal Needle Insertion and SatisfactionPremedication may reduce preoperative anxiety and response during spinal needle insertion. Premedication leads to a more comfortable spinal intervention for the patients, making them more cooperative and allaying response during spinal needle insertion. The aims of this study were to determine the effects of 0.3 mg/kgBW ketamine premedication administered 3 minutes before spinal anesthesia on the patient`s body response during spinal needle insertion and patient satisfaction. The study was conducted in August–December 2020 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. This was a comparative experimental study with a randomized, double blinded clinical trial on 46 subjects randomly divided into 2 groups, a control group (group C, n=23), and a ketamine premedication group (group K, n=23). After premedication with ketamine, the patient`s body response were evaluated during spinal needle insertion using the prick response score and their satisfaction using the numeric rating scale. Statistical analysis for response during needle insertion and patient satisfaction was evaluated using the chi-square test. Results of the study showed that patient`s body response during spinal needle insertion were reduced (p&lt;0.01) and patient satisfaction was increased (p&lt;0.01) in the ketamine premedication group. In conclusion, 0.3 mg/kgBW ketamine premedication administered 3 minutes before spinal anesthesia reduces patient body response during spinal needle insertion and increases patient satisfaction on spinal anesthesia.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemberian premedikasi dapat mengurangi kecemasan preoperatif dan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal. Ketamin memiliki efek ansiolitik, sedatif-hipnotik, dan amnesia. Premedikasi membuat intervensi spinal menjadi lebih nyaman bagi pasien, pasien kooperatif selama penyuntikan, dan mengurangi respons saat insersi jarum spinal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh premedikasi ketamin 0,3 mg/kgBB yang diberikan 3 menit sebelum dilakukan anestesi spinal terhadap respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan kepuasan pasien terhadap anestesi spinal. Penelitian dilakukan periode Agustus-Desember 2020 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian bersifat komparatif eksperimental dengan menggunakan uji klinis acak buta ganda terhadap 46 subjek yang dibagi acak ke dalam 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol (kelompok C, n=23) dan kelompok premedikasi ketamin (kelompok K, n=23). Pasca pemberian premedikasi ketamin dinilai respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal menggunakan prick response score dan kepuasan pasien dengan numeric rating scale. Analisis statistik untuk respons penyuntikan dan kepuasan pasien diuji dengan tes Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal berkurang (p&lt;0,01) dan kepuasan pasien meningkat (p&lt;0,01) pada kelompok perlakuan. Simpulan penelitian yaitu premedikasi ketamin 0,3 mg/kgBB yang diberikan 3 menit sebelum anestesi spinal menurunkan respons tubuh pasien saat insersi jarum spinal dan meningkatkan kepuasan pasien terhadap anestesi spinal</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-08-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2419</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n2.2419</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 102–110</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 102–110</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2419/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2419/2566</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2419/2567</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2419/2568</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2419/2569</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2610</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:49Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Kejadian Nyeri Kronis dan Kualitas Hidup Pascaoperasi Jantung Terbuka di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari–Desember 2019</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Kejadian Nyeri Kronis dan Kualitas Hidup Pascaoperasi Jantung Terbuka di Rumah Sakit DR. HAsan Sadikin Bandung Periode Januari 2019-Desember 2019</dc:title>
	<dc:creator>Putra, Andri Febriyanto Eka</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:creator>Zulfariansyah, Ardi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Kualitas hidup, kuesioner McGill, kuesioner SF-36, nyeri kronis, pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Kualitas hidup; kuesioner McGill; kuesioner SF-36; nyeri kronis; pascaoperasi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Operasi merupakan salah satu penyebab tersering nyeri kronis, salah satu operasi yang paling sering menimbulkan nyeri kronis pascaoperasi adalah tindakan operasi di regio jantung (sebesar 55%). Nyeri kronis pascaoperasi dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental dan menurunnya kualitas hidup yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian nyeri kronis dan kualitas hidup pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melakukan studi potong lintang melalui pengisian kuesioner yang dilakukan melalui wawancara jarak jauh dengan telepon terhadap pasien pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai Desember 2019. Hasil penelitian menyatakan angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih tinggi 78% (45 dari 58 orang) dengan nyeri intensitas ringan sebanyak 31 orang dan intensitas sedang sebanyak 14 orang, sedangkan kualitas hidup pasien pascaoperasi jantung terbuka pada 58 pasien secara keseluruhan baik. Skor SF-36 pada kelompok yang tidak mengalami nyeri kronis lebih tinggi dibanding dengan kelompok yang mengalami nyeri kronis, skor SF-36 pada kelompok yang mengalami nyeri intensitas ringan lebih tinggi dibanding dengan kelompok nyeri intensitas sedang. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Januari sampai dengan Desember 2019 masih tinggi, namun memiliki kualitas hidup yang baik. Chronic Pain and Quality of Life Post Open Heart Surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung in January–December 2019Surgery is one of the most common causes of chronic pain, one of the operations that most often causes postoperative chronic pain is surgery in the heart region (55%). Postoperative chronic pain can lead to mental health problems and significantly reduced quality of life. This study aimed to determine the incidence of chronic pain and quality of life after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung. This descriptive study is conducting a cross-sectional study by filling out questionnaires through long-distance telephone interviews with patients after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin, General Hospital Bandung from January to December 2019. The study results stated that the incidence of chronic pain after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin Bandung was still high at 78% (45 out of 58 people), with mild-intensity pain in 31 people and moderate intensity in 14 people. At the same time, the overall quality of life for patients after open heart surgery in 58 patients was good. The SF-36 score in the group that did not experience chronic pain was higher than in the group that experienced chronic pain. The SF-36 score in the group that experienced mild-intensity pain was higher than the moderate-intensity pain group. This study concludes that the incidence of chronic pain after open heart surgery at Dr. Hasan Sadikin Bandung from January to December 2019 is still high; however, it has a good quality of life.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Operasi merupakan salah satu penyebab tersering nyeri kronis, salah satu operasi yang paling sering menimbulkan nyeri kronis pascaoperasi adalah tindakan operasi di regio jantung (sebesar 55%). Nyeri kronis pascaoperasi dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental dan menurunnya kualitas hidup yang signifikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian nyeri kronis dan kualitas hidup pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melakukan studi potong lintang melalui pengisian kuesioner yang dilakukan melalui wawancara jarak jauh dengan telepon terhadap pasien pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2019 sampai Desember 2019. Hasil penelitian mengungkapkan angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung masih tinggi 77,6% (45 dari 58 orang) dengan nyeri intensitas ringan sebanyak 31 orang dan intensitas sedang sebanyak 14 orang sedangkan kualitas hidup pasien pascaoperasi jantung terbuka pada 58 pasien secara keseluruhan baik. Skor SF-36 pada kelompok yang tidak mengalami nyeri kronis lebih tinggi dibanding dengan kelompok yang mengalami nyeri kronis, skor SF-36 pada kelompok yang mengalami nyeri intensitas ringan lebih tinggi dibanding dengan kelompok nyeri intensitas sedang. Simpulan penelitian ini adalah angka kejadian nyeri kronis pascaoperasi jantung terbuka di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Januari 2019 sampai dengan Desember 2019 masih tinggi namun memiliki kualitas hidup yang baik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2610</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2607</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 167–179</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 167–179</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2610/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2610/3109</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3981</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:40Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Korelasi Nilai Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI) dengan  Durasi Ventilasi Mekanik pada Pasien Pascabedah Otak</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Korelasi Nilai Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI) dengan  Durasi Ventilasi Mekanik pada Pasien Pasca Operasi Bedah Otak</dc:title>
	<dc:creator>Prasetya, Raka Jati</dc:creator>
	<dc:creator>Maskoen, Tinni Trihartini</dc:creator>
	<dc:creator>Pison, Osmond Muftilov</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Cedera otak; perawatan kritis; tekanan intrakranial; ultrasonografi doppler  transkranial; ventilator</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Tekanan Intrakranial (TIK); Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI); durasi ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan kondisi umum pada pasien pascabedah otak dan berpotensi menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan drive napas, serta cedera paru akut, yang dapat menyulitkan proses penyapihan ventilator. Pemantauan TIK secara invasif belum menjadi prosedur rutin, sehingga dibutuhkan alternatif noninvasif, salah satunya Transcranial Doppler Pulsatility Index (TCD-PI). Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik pada pasien pascabedah otak. Desain penelitian ini adalah observasional prospektif, dilakukan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Februari–April 2024. Pemeriksaan TCD-PI dilakukan 12–24 jam setelah pasien masuk ICU. Sebanyak 39 pasien memenuhi kriteria inklusi. Hasil menunjukkan rerata nilai TCD-PI sebesar 1,39 dan rerata durasi ventilasi mekanik selama 6,59 hari. Analisis korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik, dengan koefisien korelasi r=0,671 dan koefisien determinasi r²=0,450 (p&lt;0,001). Simpulan, terdapat korelasi positif dengan kekuatan sedang antara nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik, sehingga TCD-PI berpotensi sebagai indikator noninvasif untuk memprediksi lamanya ventilasi mekanik pada pasien pascabedah otak. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peningkatan tekanan intrakranial (TIK) merupakan masalah yang sering  terjadi pada pasien pasca operasi bedah otak. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan drive pernapasan dan cedera paru akut pada pasien neurokritis sehingga sulit untuk lepas dari bantuan ventilasi mekanik. Pemantauan TIK dengan metode invasif tidak rutin dilakukan dan memiliki berbagai risiko dan komplikasi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi di otak seperti TCD-PI (Transcranial Doppler Pulsatility Index) dapat menjadi alternatif untuk mengevaluasi TIK. Penelitian ini menggunakan studi prospektif observasional dengan analisis korelasi untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi (r), koefisien determinasi (r2) dan arah korelasi dari pemeriksaan TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik pasien pasca operasi bedah otak. Subjek penelitian adalah pasien yang dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari-April 2024 dengan melakukan pemeriksaan TCD-PI pada pasien pasca bedah otak 12-24 jam setelah  admisi di ICU. Sebanyak 39 pasien ICU disertakan sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata TCD-PI pada seluruh subjek penelitian adalah 1,39 dan rata-rata durasi ventilasi mekanik pada seluruh pasien penelitian adalah 6,59 hari. Dari uji Pearson product moment antara TCD-PI dengan durasi ventilasi mekanik didapatkan koefisien korelasi r = 0,671dan koefisien determinasi r2 = 0,450 (p &lt; 0,001). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai TCD-PI dan durasi ventilasi mekanik memiliki arah korelasi positif berkekuatan medium/sedang. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3981</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3981</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 50-59</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 50-59</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3981/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3981/4996</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3981/4997</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3981/4998</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2251</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:43Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Syndecan-1 Laktat dan Profil Lipid sebagai Faktor Risiko Keparahan dan Mortalitas Sepsis</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Analisis Syndecan-1 Laktat dan Profil Lipid Sebagai Faktor Risiko Keparahan dan Mortalitas Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Wiguna, Yopie</dc:creator>
	<dc:creator>Setiawan, Philia</dc:creator>
	<dc:creator>Semedi, Bambang Pujo</dc:creator>
	<dc:creator>Purwanto, Bambang</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Keparahan sepsis, laktat, mortalitas 7 hari, profil lipid, sepsis, syndecan-1</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">intensive care; anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">sepsis; syndecan-1; laktat; profil lipid; keparahan sepsis; mortalitas 7 hari</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pada sepsis, endothelial glycocalyx (EG), dapat rusak dan luruh melepaskan syndecan-1 ke dalam plasma. Kerusakan EG akan mengganggu mikrosirkulasi, menimbulkan hipoperfusi jaringan, dan meningkatkan kadar laktat. Gangguan profil lipid pada sepsis terjadi karena gangguan metabolisme dan kerusakan langsung hepatosit akibat meluruhnya EG. Penelitian ini bermaksud menganalisis syndecan-1, laktat, dan profil lipid sebagai faktor risiko keparahan dan mortalitas pada pasien sepsis. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional pada 39 pasien dewasa yang memenuhi kritera sepsis-3. Keparahan sepsis diklasifikasikan menjadi sepsis dan syok septik dan ditentukan dalam 6 jam setelah time zero berdasarkan penggunaan vasopresor, kecukupan resusitasi cairan, dan nilai laktat ulangan. Kematian 7 hari dihitung sejak time zero sepsis. Syndecan-1, laktat, dan profil lipid diambil dalam jam pertama setelah time zero dianalisis sebagai faktor risiko keparahan dan mortalitas 7 hari. Analisis data dilakukan dengan uji logistik regresi bivariat dan multivariat. Pada penelitian ini didapatkan 20 pasien dengan sepsis, 19 pasien dengan syok septik. Berdasar atas mortalitas 7 hari, 10 pasien meninggal dan 29 pasien bertahan hidup. Laktat dan syndecan-1 merupakan prediktor keparahan pada sepsis. Laktat merupakan variabel yang lebih superior dibanding dengan syndecan-1 sebagai prediktor keparahan sepsis. Laktat merupakan prediktor untuk mortalitas 7 hari pada pasien sepsis. Simpulan penelitian ini adalah laktat dan syndecan-1 merupakan prediktor keparahan pada sepsis. Laktat merupakan prediktor kematian 7 hari pada sepsis. Syndecan-1 Lactate and Lipid Profiles as Risk Factors for Severity and Mortality in SepsisIn sepsis, endothelial glycocalyx (EG) may experience damages and decay, releasing syndecan-1 into plasma. EG damages will disrupt microcirculation, causing tissue hypoperfusion and increasing lactate levels. Disorders of the lipid profile in sepsis occur due to metabolic disorders and direct hepatocyte damages due to EG shedding. This study intended to analyze the Syndecan-1, lactate, and lipid profiles as risk factors for severity and mortality in septic patients. This was an observational analytic study on 39 adult patients who met the criteria for sepsis-3. Sepsis severity was classified into sepsis and septic shock and was determined within 6 hours after time zero based on the vasopressor use, adequacy of fluid resuscitation, and repeat lactate values. The 7-day mortality was counted from time zero sepsis. Syndecan-1, Lactate, and Lipid Profiles were assessed within the first hour after time zero and analyzed as risk factors for severity and 7-day mortality. Data analysis was performed using bivariate and multivariate logistic regression tests. In this study, there were 20 patients with sepsis, 19 patients with septic shock. Based on the 7-day mortality, 10 patients died and 29 patients survived. Lactate and Syndecan-1 are predictors of severity in sepsis. Lactate is superior than Syndecan-1 as a predictor of sepsis severity and is a predictor of 7-day mortality in septic patients. Nonetheless, both lactate and Syndecan-1 are predictors of severity in sepsis.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pada sepsis, endothelial glycocalyx (EG), akan rusak dan luruh, melepaskan syndecan-1 ke dalam plasma. Kerusakan EG akan mengganggu mikrosirkulasi, menimbulkan hipoperfusi jaringan dan meningkatkan kadar laktat. Gangguan profil lipid pada sepsis terjadi karena gangguan metabolism dan kerusakan langsung hepatosit akibat meluruhnya EG. Tujuan: Menganalisis Syndecan-1, Laktat dan Profil Lipid sebagai faktor risiko keparahan dan mortalitas pada pasien sepsis. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional pada 39 pasien dewasa yang memenuhi kritera sepsis-3. Keparahan sepsis diklasifikasikan menjadi sepsis dan syok septik dan ditentukan dalam 6 jam setelah time zero berdasarkan penggunaan vasopressor, kecukupan resusitasi cairan dan nilai laktat ulangan. Kematian 7 hari dihitung sejak time zero sepsis. Syndecan-1, Laktat dan Profil Lipid diambil dalam jam pertama setelah time zero dianalisis sebagai faktor risiko keparahan dan mortalitas 7 hari. Digunakan analisis normalitas data, uji logistik regresi bivariat dan multivariat. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan 20 pasien dengan sepsis, 19 pasien dengan syok septik. Berdasarkan mortalitas 7 hari, 10 pasien meninggal dan 29 pasien bertahan hidup. Laktat dan Syndecan-1 merupakan prediktor keparahan pada sepsis. Laktat (RR 3,597 CI 95% 1,373 – 9,421 p 0,009) merupakan variabel yang lebih superior dibandingkan Syndecan-1 (RR 1,009 CI 95% 1,002 – 1,016 p 0,018) sebagai prediktor keparahan sepsis. Laktat (RR 2,369 CI 95% 1,021 – 5,495 p 0,045) merupakan prediktor untuk mortalitas 7 hari pada pasien sepsis. Simpulan: Laktat dan Syndecan-1 merupakan prediktor keparahan pada sepsis. Laktat merupakan prediktor kematian 7 hari pada sepsis.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-05-11</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2251</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n1.2251</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 18-26</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 1 (2021); 18-26</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2251/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2251/2216</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2251/2217</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2251/2218</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2251/2219</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2428</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:35:24Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Adductor Canal Block dan Femoral Nerve Block dengan Kekuatan Otot Kuadrisep Femoris Pascaoperasi Total Knee Replacement</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Adductor Canal Block Dan Femoral Nerve Block  Terhadap Kekuatan Otot Quadriceps Femoris Pascaoperasi Total Knee Replacement</dc:title>
	<dc:creator>Tari, Eva Srigita</dc:creator>
	<dc:creator>Fuadi, Iwan</dc:creator>
	<dc:creator>Prihartono, M Andy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Adductor canal block, blokade saraf femoral, kekuatan otot paha, manual muscle test, total knee replacement</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Adductor canal block; blokade saraf femoral; manual muscle test; kekuatan otot paha; total knee replacement</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Abstrak Blokade saraf femoral telah digunakan terlebih dahulu dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperasi total knee replacement (TKR). Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan kekuatan otot paha pascaoperasi TKR antara femoral nerve block (FNB) dan adductor canal block ACB dengan mengukur nilai manual muscle test (MMT), selain itu penelitian ini membandingkan nilai numeric rating scale (NRS) dengan total kebutuhan patient controlled anlagesia (PCA) morfin yang digunakan pascaoperasi TKR. Penelitian dilakukan pada periode Oktober–November 2020 di RS Santosa Bandung. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal melibatkan 18 pasien yang menjalani operasi TKR. Pasien dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kelompok ACB, n=9 dan kelompok FNB, n=9. Pemeriksaan MMT otot kuadrisep femoris dilakukan pada jam ke-24 pascaoperasi TKR. Analisis data numerik dengan uji T tidak berpasangan dan Mann Whitney. Data kategorik dengan uji chi square. Nilai NRS ACB lebih tinggi pada jam ke- 24 saat diam dan bergerak serta total kebutuhan PCA morfin lebih tinggi pada kelompok ACB, namun tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Nilai MMT pascaoperasi TKR pada jam ke-24 pada kelompok ACB lebih tinggi dibanding dengan kelompok FNB dengan perbedaan bermakna (p&lt;0,05). Adductor canal block sebagai modalitas penatalaksanaaan nyeri pascaoperasi total knee replacement memberikan efek analgetik yang tidak berbeda dengan femoral nerve block, namun lebih baik memulihkan kekuatan motorik otot kuadrisep femoris yang dibuktikan  dengan penilaian MMT yang lebih baik. Comparison of Adductor Canal Block and Femoral Nerve Block with Quadriceps Femoris Muscle Strength PostoperativeTotal Knee Replacement Femoral nerve blocks (FNB) were previously used in pain management post-total knee replacement (TKR). This study aimed to determine the differences in thigh muscle strength post-TKR surgery between patients with FNB and adductor canal block (ACB) by measuring manual muscle tests (MMT). In addition to MMT scores, this study also compared the NRS scores and total patient-controlled analgesia (PCA) of morphine required post-TKR surgery. The study was conducted in October-November 2020 at Santosa Hospital, Bandung. The study was a controlled, randomized, blinded study of 18 patients who underwent TKR surgery. Patients were divided into two groups, one ACB group, n=9, and one FNB recipient group, FNB n=9. Next, an MMT examination of the quadriceps femoris muscle was performed 24 hours post-TKR surgery. Numerical data were analyzed using the unpaired T-test and Mann-Whitney test. Categorical data using chi-square test. MMT measurements in the ACB group were higher than in the FNB group at 24 hours (p), whereas NRS scores in the ACB group were higher at 24 hours when idle and with movement. The total PCA morphine required was higher in the ACB group but was not statistically significant. MMT examination in postoperative TKR patients was better in ACB patients compared to FNB patients. Adductor canal block as a postoperative pain modality in total knee replacement procedure provides a similar analgesic effect as a femoral nerve block. However, it is better in restoring motor strength of the quadriceps femoris muscle, as evidenced by a better assessment of MMT.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Blokade saraf femoral telah digunakan terlebih dahulu dalam penatalaksanaan nyeri pascaoperasi Total Knee Replacement (TKR), namun Femoral Nerve Block (FNB) menurunkan kekuatan otot Quadriceps femoris yang berperan penting dalam mobilitas. Adductor Canal Block (ACB) merupakan blokade saraf terbaru yang khusus memengaruhi saraf sensorik paha depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekuatan otot paha pascaoperasi TKR antara FNB dan ACB dengan mengukur nilai Manual Muscle Test (MMT), selain itu penelitian ini membandingkan nilai Numeric Rating Scale (NRS) dan total kebutuhan Patient Controlled Anlagesia (PCA) morphine yang digunakan pascaoperasi TKR. Penelitian dilakukan pada periode Oktober- November 2020 di RS Santosa Bandung. Penelitian ini menggunakan metode uji klinis acak terkontrol buta tunggal melibatkan 18 pasien yang menjalani operasi TKR.Pasien dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang dilakukan ACB (kelompok ACB, n=9) dan kelompok yang dilakukan FNB (kelompok FNB, n=9). Pemeriksaan MMT otot Quadriceps Femoris dilakukan pada jam ke-24 pascaoperasi TKR. Analisis data numerik dengan uji T tidak berpasangan dan Mann Whitney. Data kategorik dengan uji Chi Square. Nilai NRS ACB lebih tinggi pada jam ke- 24 saat diam dan bergerak dan total kebutuhan PCA morphin lebih tinggi pada kelompok ACB namun tidak bermakna secara statistik (p&gt;0,05). Nilai MMT pascaoperasi TKR pada jam ke-24 pada kelompok ACB lebih tinggi dibandingkan kelompok FNB dengan perbedaan bermakna (p&lt;0,05).</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2428</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n2.2428</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 107–114</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 2 (2022); 107–114</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2428/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2590</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2591</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2592</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2428/2593</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3686</identifier>
				<datestamp>2024-03-14T07:44:55Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Remifentanil Vs Fentanil terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol pada Pasien dengan Ventilasi Mekanis di Ruang Rawat Intensif</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Remifentanil Vs Fentanyl Terhadap Hemodinamik dan Kadar Kortisol Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanis Di Ruang Rawat Intensif</dc:title>
	<dc:creator>Fitrianti, Nadia</dc:creator>
	<dc:creator>Muchtar, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Hisbullah, Hisbullah</dc:creator>
	<dc:creator>Salahuddin, Andi</dc:creator>
	<dc:creator>Ratnawati, Ratnawati</dc:creator>
	<dc:creator>Palinrungi, Ari Santri</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Analgosedasi; fentanil; remifentanil; ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">analgosedasi, fentanyl, remifentanil, ventilasi mekanik</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pascaventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tata laksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antarpasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam pascaoperasi tiroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni–Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanil. Respons hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistole, diastole, rerata tekanan arteri serta denyut jantung yang lebih stabil daripada fentanil. Penggunaan fentanil menunjukkan penurunan kadar kortisol dalam 24 jam yang lebih tinggi daripada penggunaan remifentanil (p&lt;0,05), tetapi kadar kortisol serum dalam 24 jam lebih rendah pada kelompok remifentanil dibanding dengan kelompok fentanil. Simpulan, remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri pasca ventilasi mekanik membutuhkan analgosedasi untuk tatalaksana nyeri, namun belum ada rekomendasi pasti tentang penggunaan opioid dan perubahan fisiologis spesifik berdampak langsung pada farmakologi obat yang menyebabkan perbedaan respons antar pasien. Penelitian eksperimental secara double blind randomized control trial (RCT) pada 32 pasien dengan status fisik ASA I–II, usia 18–70 tahun, terventilator dengan durasi 24 jam post operasi tyroid di Intensive Care Unit (ICU) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Juni sampai Agustus 2023. Pasien dibagi dalam kelompok analgosedasia Remifentanil dan kelompok analgosedasia Fentanyl. Respon hemodinamik, dan kadar kortisol dicatat dan dilakukan uji statistik dengan student t-test dan chi-kuadrat. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok Remifentanil menunjukkan perubahan tekanan darah sistol, diastol, rerata tekanan arteri, denyut jantung, frekuensi pernapasan dan suhu tubuh yang lebih stabil daripada Fentanyl. Penggunaan Fentanyl menunjukkan penurunan kadar kortisol yang lebih tinggi daripada penggunaan Remifentanil (p &lt; 0,05).. Simpulan bahwa Remifentanil lebih mempertahankan stabilitas hemodinamik dan memberikan kadar kortisol serum yang lebih rendah pada pasien yang terventilasi mekanik.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3686</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n3.3686</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 146-153</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 3 (2023); 146-153</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3686/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3889</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:14:54Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan antara Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol dengan Ketorolak dan Parasetamol Intravena Terhadap Derajat Nyeri dan Rasio Neutrofil Limfosit Pasca-Functional Endoscopic Sinus Surgery</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Antara Kombinasi Ibuprofen dan Parasetamol dengan Ketorolak dan Parasetamol Intravena Terhadap Derajat Nyeri dan Rasio Neutrofil Limfosit Pasca-Functional Endoscopic Sinus Surgery</dc:title>
	<dc:creator>Rahim, Muh. Rezah</dc:creator>
	<dc:creator>Musba, A. M. Takdir</dc:creator>
	<dc:creator>Palinrungi, Ari Santri</dc:creator>
	<dc:creator>Ahmad, Muh. Ramli</dc:creator>
	<dc:creator>Muhadi, Ratnawati</dc:creator>
	<dc:creator>Rum, Muhammad</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">functional endoscopic sinus surgery, ibuprofen, ketorolak, nyeri pascaoperasi, parasetamol</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">anesthesia; pain</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">functional endoscopic sinus surgery, ibuprofen, ketorolak, nyeri pascaoperasi, parasetamol</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Prosedur ini tetap menimbulkan rasa nyeri pascaoperasi, walaupun tindakan bersifat minimal invasif. Parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Penelitian ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL yang dilakukan di RSUlP Wahidin Suldirohulsodo dan rumah sakit jejaring antara bulan Agustus 2023 hingga Februari 2024. Desain penelitian adalah uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p&gt;0,05) dan juga RNL (p&gt;0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Hingga saat ini, functional endoscopic sinus surgery (FESS) adalah metode gold-standard pada manajemen rinosinusitis kronik. Tindakan FESS, walaupun bersifat invasif minimal, tetap menimbulkan rasa nyeri pada pasien pascaoperasi. Asetaminofen atau parasetamol yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti ibuprofen dan ketorolak dapat digunakan untuk analgesik pascaoperasi. Hal lain yang perlu diperhatikan sebagai faktor prognostik dalam suatu pembedahan adalah nilai rasio neutrofil limfosit (RNL). Studi ini mengamati penggunaan analgesia multimodal pada nyeri pascaoperasi serta apakah terdapat hubungan dengan RNL. Penelitian ini menggunakan desain penelitian uji acak tersamar ganda yang membandingkan kelompok P1 (pemberian kombinasi parasetamol dan ibuprofen intravena [IV]) dengan kelompok P2 (kombinasi parasetamol dan ketorolak IV) pascaoperasi FESS. Pasien dialokasikan ke masing-masing kelompok secara acak. RNL dihitung perioperatif, jam ke-6 dan ke-24 pascaoperasi. Penilaian derajat nyeri dilakukan pada 6 jam, 12 jam, 24 jam dan 48 jam pascaoperasi. Total didapatkan 40 pasien yang dibagi ke dua kelompok secara rata. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada derajat nyeri antar kelompok (p&gt;0,05) dan juga RNL (p&gt;0,05). Kombinasi parasetamol baik dengan ibuprofen maupun ketorolak dapat menjadi pilihan sebagai multimodal analgesia pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3889</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3889</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 161-168</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 161-168</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3889/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3889/4853</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3889/4854</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3889/5415</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2156</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:11Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hubungan Profil Lipid (Kadar Trigliserida, HDL, LDL, Total Kolesterol) dengan Jenis Infeksi Bakteri pada Pasien Sepsis</dc:title>
	<dc:creator>Wiguna, Yopie</dc:creator>
	<dc:creator>Setiawan, Philia</dc:creator>
	<dc:creator>Airlangga, Prananda Surya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Infeksi bakteri gram negatif, infeksi bakteri gram positif, profil lipid, sepsis</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Gangguan profil lipid berhubungan dengan peningkatan kejadian gagal organ dan kematian pada pasiensepsis. Gangguan profil lipid mungkin berbeda antarjenis infeksi bakteri (gram positif vs gram negatif),perbedaan ini mungkin jadi disebabkan oleh perbedaan klirens endotoksin yang berbeda dan mekanisme imunologis host yang berkaitan dengan metabolism lipid. Tujuan, menganalisis perbedaan profil kadar lipid (HDL, LDL, Trigliserida, total kolesterol) dengan jenis infeksi bakteri pada pasien sepsis di ruang perawatan intensif RSUD Dr. Soetomo yang dilaksanakan pada bulan April–Juli 2020. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional pada pasien dewasa yang memenuhi kritera sepsis-3. Jenis infeksi bakteri diklasifikasikan menjadi infeksi bakteri gram negatif, infeksi bakteri gram positif, infeksi campuran, dan tidak tumbuh kuman. Penelitian ini menganalisis perbedaan profil kadar lipid antarjenis infeksi bakteri menggunakan analisis normalitas data dan analisis varian data. Hasil dari 38 pasien sepsis dewasa pada penelitian ini didapatkan 13 pasien infeksi bakteri gram negatif, 13 pasien infeksi gram positif, 5 pasien infeksi campuran gram positif dan negatif, dan tidak didapatkan pertumbuhan kuman pada 7 pasien. Kadar HDL lebih rendah pada infeksi bakteri gram negatif dan infeksi bakteri campuran gram positif-gram negatif (p&lt;0,05). Kadar trigliserida lebih tinggi pada infeksi bakteri gram negatif dan infeksi bakteri campuran gram positif - gram negatif (p&lt;0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar LDL dan total kolesterol antarjenis infeksi bakteri. Simpulan, kadar HDL plasma lebiH rendah dan kadar trigliserida lebih tinggi pada pasien sepsis infeksi bakteri gram negatif dan bakteri campuran gram positif–gram negatif disbanding dengan pasien sepsis infeksi bakteri gram positif dan tidak didapatkan pertumbuhan kuman. Relationship of Lipid Profile (Levels of Triglyceride, HDL, LDL, Total Cholesterol) with Types of Bacterial Infection in Sepsis PatientsImpaired lipid profiles are associated with an increased incidence of organ failure and mortality in septic patients. Disorders of the lipid profile may differ between bacterial infection types (gram-positive vs gram-negative). Differences could be due to dissimilarities in different endotoxin clearance and host immunological mechanisms related to lipid metabolism. The study analyzed differences in lipid profiles (HDL, LDL, triglycerides, total cholesterol) with the bacterial infection type in septic patients in the intensive care room of Dr. Soetomo Hospital in April–July 2020. This study was an observational analytic study of 38 adult patients who met the criteria for sepsis-3. Bacterial infection types were classified into gram-negative bacterial infections, gram-positive bacterial infections, mixed infections and culture negative. This study analyzed differences in lipid profiles between bacterial infection types, and used data normality analysis and data variant analysis. Results showed that 13 patients had gram-negative bacterial infection, 13 patients were with gram-positive infection, five patients were with mixed gram-positive gram-negative infections, and seven patients had no germ growth. Plasma HDL levels were lower in gram-negative bacterial infections and mixed gram-positive gram-negative bacterial infections (p&lt;0.05). Plasma triglyceride levels were higher in gram-negative bacterial infections and mixed gram-positive gram-negative bacterial infections (p&lt;0.05). There was no significant difference in LDL levels and total plasma cholesterol between bacterial infections types. In conclusion, plasma HDL levels are significantly lower, and triglyceride levels were significantly higher in septic patients with gram-negative and mixed gram-positive bacterial infections than in sepsis patients with gram-positive bacterial infections and culture negative.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">Departemen anestesi dan terapi intensif FK Unair RSUD dr Soetomo</dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">LPDP</dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2156</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2156</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 158–166</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 158–166</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2156/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2156/2074</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2156/2075</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2156/2076</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2156/2077</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/4454</identifier>
				<datestamp>2026-02-05T04:01:34Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Hemodynamic Effects of Phenylephrine 100 µg versus Ephedrine 5 mg During Propofol-Induced General Anesthesia: A Randomized Study</dc:title>
	<dc:creator>Sibarani, Nicholas Hamonangan</dc:creator>
	<dc:creator>Lubis, Andriamuri Primaputra</dc:creator>
	<dc:creator>Bangun, Chrismas Gideon</dc:creator>
	<dc:creator>Yunanda, Yuki</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">APGAR score; caesarean section; early ambulation; enhanced recovery after surgery</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Background: Propofol is widely used for induction of general anesthesia; however, it frequently associated hypotension due to vasodilation and myocardial depression. Vasopressors such as phenylephrine and ephedrine are commonly administered to counteract this effect, but evidence comparing their hemodynamic efficacy during induction remains limited.Methods: This randomized double-blind clinical trial included 80 patients undergoing elective surgery under general anesthesia. Patients were randomly allocated into two groups to receive either phenylephrine 100 µg or ephedrine 5 mg at the time of propofol induction. Demographic characteristics (sex, age, body mass index, and ASA physical status) were recorded. Hemodynamic parameters, including systolic blood pressure, diastolic blood pressure, mean arterial pressure, and heart rate, were measured after premedication and 30 seconds following propofol administration.Results: Baseline characteristics were comparable between the two groups. At 30 seconds after induction, there were no statistically significant differences in systolic blood pressure, diastolic blood pressure, mean arterial pressure, or heart rate between the phenylephrine and ephedrine groups. Both vasopressors effectively maintained hemodynamic stability during propofol induction.Discussion: The findings suggest that phenylephrine and ephedrine have similar hemodynamic profiles when administered during propofol induction. Despite their differing pharmacological mechanisms, both agents were equally effective in preventing early hypotension without significant differences in heart rate or blood pressure responses.Conclusion: Phenylephrine 100 µg and ephedrine 5 mg demonstrated comparable efficacy in maintaining hemodynamic stability during propofol-induced general anesthesia, with no significant difference in their ability to prevent hypotension. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4454</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n3.4454</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 148-154</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 3 (2025); 148-154</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/4454/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4454/5878</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4454/5879</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/4454/5880</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2463</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:18Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Efektivitas Gabapentin, Deksametason, dan Gabapentin+Deksametason terhadap Angka Kejadian PONV Pascaoperasi Telinga Tengah</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Efektivitas Gabapentin, Deksametason, dan Gabapentin+Deksametason terhadap Angka Kejadian PONV Pascaoperasi Telinga Tengah</dc:title>
	<dc:creator>Santosa, Sugeng Budi</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Wardhana, Irfan Tri Budhi</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Deksametason; gabapentin; PONV,; operasi telinga tengah</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Deksametason; gabapentin; PONV; operasi telinga tengah</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Post operative nausea vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi tersering pascaoperatif terutama pada operasi risiko tinggi seperti operasi telinga tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason dalam mencegah PONV. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan double blind randomized control trial pada 30 pasien ASA I dan II yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi telinga tengah dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Moewardi Surakarta pada Maret–Mei 2019. Kelompok sampel terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok deksametason, kelompok gabapentin, dan kelompok gabapentin+deksametason. Pencatatan meliputi skala PONV (0–3) yang dinilai pada jam ke-1, 12, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik yang digunakan untuk uji perbedaan PONV adalah Uji Kruskal. Skala PONV pada jam ke-1, 12, dan 24 antara ketiga kelompok tidak didapatkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason tidak memiliki perbedaan efektivitas terhadap angka kejadian PONV pascaoperasi telinga tengah, akan tetapi kombinasi kedua obat tersebut memberikan hasil yang lebih baik.Differences in Effectiveness of Gabapentin, Dexamethasone, and Gabapentin-Dexamethasone on Incidence Rate of PONV Post Middle Ear SurgeryPostoperative nausea and vomiting (PONV) are among the most common complications after anesthesia, especially after high-risk PONV surgery, such as middle ear surgery. This study aimed to analyze the differences in the effectiveness of gabapentin+dexamethasone in preventing PONV post-middle ear surgery. This study was an experimental study with a double-blind, randomized controlled trial on 30 samples that met the inclusion criteria and was conducted in the Central surgical installation of Dr. Moewardi Hospital Surakarta from March to May 2019. The sample was divided into three groups receiving dexamethasone, gabapentin, or both treatments. Records included the PONV (0–3) scale, graded at 1, 12, and 24 hours postoperatively. The statistical analysis used to test for differences in PONV was the Kruskal test. There was no significant difference between the two groups on the PONV scale at 1, 12, and 24 hours (p&gt;0.05). In conclusion, gabapentin, dexamethasone, and gabapentin+dexamethasone have no difference in effectiveness in the PONV incidence post-middle ear surgery. However, the combination of the two drugs gives better results.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Post operative nausea vomiting (PONV) merupakan salah satu komplikasi tersering pascaoperatif terutama pada operasi risiko tinggi seperti operasi telinga tengah. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason dalam mencegah PONV. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan double blind randomized control trial pada 30 pasien ASA I dan II yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan menjalani operasi telinga tengah dengan anestesi umum di Instalasi Bedah Sentral RSUD dr Moewardi Surakarta pada Maret–Mei 2019. Kelompok sampel terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok deksametason, kelompok gabapentin, dan kelompok gabapentin+deksametason. Pencatatan meliputi skala PONV (0–3) yang dinilai pada jam ke-1, 12, dan 24 pascaoperasi. Analisis statistik yang digunakan untuk uji perbedaan PONV adalah Uji Kruskal. Skala PONV pada jam ke-1, 12, dan 24 antara ketiga kelompok tidak didapatkan perbedaan signifikan (p&gt;0,05). Simpulan, gabapentin, deksametason, dan gabapentin+deksametason tidak memiliki perbedaan efektivitas terhadap angka kejadian PONV pascaoperasi telinga tengah, akan tetapi kombinasi kedua obat tersebut memberikan hasil yang lebih baik.  </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2463</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2463</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 1-9</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 1-9</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2463/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3159</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:03Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Mortalitas dan Morbiditas Pasien Bedah Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ditinjau berdasarkan Skor American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS)</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Mortalitas dan Morbiditas Pasien Bedah Elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Ditinjau Berdasarkan Skor American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS)</dc:title>
	<dc:creator>Alfasha, Alkadia</dc:creator>
	<dc:creator>Suwarman, Suwarman</dc:creator>
	<dc:creator>Bisri, Dewi Yulianti</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">ASA-PS; morbiditas; mortalitas</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Elective Surgery;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">ASA-PS, morbiditas, mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari risiko mortalitas dan morbiditas yang meningkat. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019−2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intraoperatif maupun pascaoperasi. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Peningkatan kapasitas tindakan pembedahan tidak terlepas dari meningkatnya risiko mortalitas dan morbiditas. Sistem klasifikasi American Society of Anesthesiologists-Physical Status (ASA-PS) merupakan salah satu alat evaluasi pasien sebelum operasi yang dianggap mudah, akurat, dan komprehensif untuk memprediksi luaran pascaoperasi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran mortalitas dan morbiditas pasien bedah yang ditinjau berdasarkan skor ASA-PS. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dari data rekam medis pasien bedah elektif di RSUP Dr. Hasan Sadikin periode 2019-2022. Jumlah mortalitas dan morbiditas pada periode penelitian ini sebanyak 29 dan 25 kasus dan selanjutnya dikelompokan berdasarkan usia. Departemen obstetri dan ginekologi menjadi departemen tertinggi pada kedua kasus mortalitas dan morbiditas. Mortalitas tertinggi terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II (48,27%), diikuti oleh ASA III (31,03%), dan IV (20,68%), dan umumnya terjadi pascaoperasi. Morbiditas tertinggi juga terjadi pada subjek dengan skor ASA-PS II yaitu sebesar 64%, diikuti  ASA-PS III sebesar 28%. Penyebab morbiditas subjek beragam pada berbagai sistem organ. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan mortalitas dan morbiditas didominasi oleh pasien dengan skor ASA-PS II dan umumnya disebabkan oleh henti jantung dan syok, baik intra operatif maupun pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3159</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 86-96</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 86-96</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3159/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3159/3854</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3159/3859</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3866</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pengaruh Blok Peritonsiler Levobupivakain Isobarik 0,125% terhadap Intensitas Nyeri dan Kadar Interleukin 6 Pascatonsilektomi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pengaruh Blok Peritonsiler Levobupivacaine Isobarik 0,125% Terhadap Intensitas Nyeri Dan Kadar Interleukin 6 Pada Pascabedah Tonsilektomi</dc:title>
	<dc:creator>Silaban, Herman Mangasi</dc:creator>
	<dc:creator>Palinrungi, Ari Santri</dc:creator>
	<dc:creator>Ahmad, Muh. Ramli</dc:creator>
	<dc:creator>Salam, Syamsul Hilal</dc:creator>
	<dc:creator>Husain, Alamsyah Ambo Ala</dc:creator>
	<dc:creator>Tan, Charles Wijaya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Interleukin-6; levobupivakain; intensitas nyeri; tonsilektomi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Interleukin-6, Levobupivacaine, Nyeri, Tonsilektomi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Nyeri pascatonsilektomi memengaruhi banyak aspek pada pasien. Intensitas nyeri berhubungan dengan kadar interleukin (IL)-6 yang meningkat pada proses inflamasi. Levobupivakain merupakan anestesi lokal potensi tinggi dengan durasi kerja panjang dan onset kerja relatif lambat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivakain isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pascatonsilektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin dan Rumah Sakit jejaring pendidikan pada bulan Desember 2023–Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok yaitu kelompok intervensi (diberikan levobupivakain isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah. Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pascabedah pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan kelompok intervensi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pascabedah (P&lt;0,05). Perubahan kadar IL-6 pascabedah juga berbeda secara signifikan (p=0,033) dengan kelompok kontrol (74,56±33,79) mengalami kenaikan lebih tinggi dibanding dengan kelompok intervensi (44,67±45,44). Simpulan didapatkan bahwa levobupivakain isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Nyeri pascatonsilektomi mempengaruhi banyak aspek pada pasien. Dilaporkan ada hubungan antara intensitas nyeri dengan kadar interleukin (IL)-6, yang berhubungan dengan inflamasi. Levobupivacaine merupakan anestesi lokal potensi tinggi, kerja lama dengan onset kerja yang relatif lambat. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh blok peritonsiler levobupivacaine isobarik terhadap intensitas nyeri dan kadar interleukin 6 pasca tonsilektomi.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUP Wahidin Sudirohusodo dan RS jejaring pendidikannya pada bulan Desember 2023 – Januari 2024. Pasien dibagi secara acak dalam dua kelompok: intervensi (diberikan levobupivacaine isobarik pascabedah) dan kontrol. Intensitas nyeri, jumlah opioid, dan efek samping pada 4, 8, 12, 24 jam pascabedah dievaluasi. Pemeriksaan IL-6 dilakukan sebelum pembedahan dan 12 jam pascabedah.Total 30 pasien diikutkan dengan 15 pasien pada tiap kelompok. Intensitas nyeri pada kelompok kontrol lebih tinggi secara signifikan pada kelompok intervensi pascabedah tonsilektomi pada 2, 4, 6, hingga 8 jam pasca bedah (P&lt;0,05). Perubahan kadar IL-6 juga berbeda secara signifikan pascabedah (p = 0,033), dimana kelompok kontrol (74,56 ± 33,79) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibanding kelompok intervensi (44,67 ± 45,44).Didapatkan bahwa levobupivacaine isobarik dapat menurunkan intensitas nyeri dan kadar IL-6 pascatonsilektomi. Kata kunci: Interleukin-6, Levobupivacaine, Nyeri, Tonsilektomi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Ari Santri Palinrungi1,Muh. Ramli Ahmad1, Syamsul Hilal Salam1, Alamsyah Ambo Ala Husain1, Charles Wijaya Tan1 1Departemen Ilmu Anestesi Dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin</dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3866</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3866</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 81-88</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 81-88</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3866/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/4818</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/4848</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/4861</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3866/5157</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3374</identifier>
				<datestamp>2025-10-31T01:44:21Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Manajemen Anestesi pada Pasien Osteogenesis Imperfecta</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Manajemen Anestesi pada Pasien Achondroplasia dan Osteogenesis Imperfecta</dc:title>
	<dc:creator>Purwoko, Purwoko</dc:creator>
	<dc:creator>Ihsaniar, Aura</dc:creator>
	<dc:creator>Cinkalasari, Bunga Ayu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Displasia; kesulitan intubasi; manajemen anestesia; osteogenesis imperfecta</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Achondroplasia; Kesulitan intubasi; Manajemen Anestesia ; Osteogenesis imperfecta</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Osteogenesis Imperfecta (OI) merupakan bentuk displasia skeletal yang jarang ditemukan, diturunkan secara autosomal dominan, dan ditandai oleh gangguan osifikasi endokondral yang menyebabkan perawakan pendek, penurunan massa tulang, serta kerapuhan tulang. Dari sudut pandang anestesi, pasien dengan OI menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama pada manajemen jalan napas. Kelainan kraniofasial seperti hipoplasia midface, makroglosia, dan keterbatasan ekstensi tulang servikal sering menyulitkan laringoskopi langsung serta menghambat visualisasi glotis. Kondisi ini meningkatkan risiko kesulitan intubasi dan komplikasi perioperatif. Pemberian anestesi umum yang cermat dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, serta persiapan menyeluruh terhadap kondisi darurat sangat penting untuk menjaga stabilitas hemodinamik dan oksigenasi, sehingga keselamatan pasien dapat dipertahankan. Laporan kasus ini menggambarkan manajemen anestesi pada pasien dengan osteogenesis imperfecta serta strategi yang digunakan untuk menghadapi tantangan tersebut.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Administrasi anestesi umum yang hati-hati dengan ventilasi terkontrol, pemantauan invasif, dan persiapan untuk kondisi darurat memastikan kondisi yang aman untuk mempertahankan hemodinamik dan oksigenasi sehingga memberikan hasil yang sangat baik bagi pasien. Achondroplasia adalah penyakit genetik autosomal dominan yang ditandai dengan berkurangnya massa tulang dan kerapuhan tulang. Manajemen anestesi pasien dengan achondroplasia membuktikan tantangan dengan kelainan saluran udara bagian atas mereka dan kesulitan memvisualisasikan pembukaan glotis pada laringoskopi langsung. Kata Kunci : Achondroplasia; Kesulitan intubasi; Manajemen Anestesia ; Osteogenesis imperfecta</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3374</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n2.3374</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 122-126</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 2 (2025); 122-126</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3374/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3374/4474</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2493</identifier>
				<datestamp>2022-06-27T12:47:27Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbedaan Kebutuhan Morfin PCA Pascalaparatomi antara Infiltrasi Ketamin dan Infiltrasi Levobupivakain</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbedaan Kebutuhan Morfin PCA Pasca Laparatomi  antara  Infiltrasi Ketamin Dan Infiltrasi  Levobupivakain</dc:title>
	<dc:creator>Purnomo, Heri Dwi</dc:creator>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Widayat, Arif Wahyu</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Infiltrasi ketamin, infiltrasi levobupivakain, laparatomi, morfin, PCA</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Penanganan nyeri akut yang tidak adekuat merupakan faktor risiko terjadin nyeri kronik dan komplikasi lainnya. Metode yang efektif dan efisien mengontrol nyeri akut yang berat adalah infiltrasi tepi luka operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infiltrasi ketamin dan levobupivakain dalam mengurangi kebutuhan morfin patient controlled analgesia (PCA) pascalaparatomi. Penelitian ini merupakan uji klinik acak tersamar tunggal yang dilakukan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada bulan Agustus 2018. Sampel terdiri atas 30 subjek yang dilakukan operasi laparatomi dengan anestesi umum yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok infiltrasi levobupivakain, infiltrasi ketamin, dan infiltrasi saline. Semua pasien mendapatkan morfin PCA pascaoperasi. Setelah itu dinilai jumlah penggunaan morfin dan efek mual-muntah pascaoperasi, dan efek samping tindakan infiltrasi. Penggunaan morfin PCA pada kelompok ketamin rerata 2,20+1,32 mg, pada kelompok levobupivakain penggunaan morfin rerata 5,80+1,03 mg, dan pada kelompok NaCl penggunaan morfin rerata 10,00+1,76 mg. Uji statistik Kruskal Wallis didapatkan perbedaan yang signifikan penggunaan morfin PCA antara pasien kelompok ketamin, levobupivakain dan NaCl (p&lt;0,05). Simpulan penelitian ini bahwa infiltrasi ketamin mengurangi nyeri pascalaparatomi lebih baik dibanding dengan infiltrasi levobupivakain dan saline.Differences in Post-laparotomy PCA Morphine Needs between Ketamine Infiltration and Levobupivacaine Infiltration Inadequate acute pain management is a risk factor for chronic pain and other complications. Laparotomy is a painful procedure with severe acute pain. Patient controlled analgesia (PCA) morphine use in acute pain control is promoted for efficiency and effectiveness. Wound infiltration is also effective in reducing acute pain. This study aimed to determine the effectiveness of ketamine and levobupivacaine wound infiltration in reducing the need for post-laparotomy PCA morphine. This study used a single-blind randomized clinical trial at RSUD Dr. Moewardi Surakarta on 30 subjects who underwent laparotomy and met the inclusion criteria. The samples were divided into three groups: wound infiltration with levobupivacaine, wound infiltration with ketamine, and wound infiltration with saline. All patients received standard general anesthetic treatment and were then evaluated for the total use of PCA morphine. It also assessed the effects of postoperative nausea-vomiting and the side effects of wound infiltration. The average PCA morphine use in the ketamine group was 2.20+1.32 mg. In the Levobupivacaine group was 5.80+1.03 mg, and in the NaCl group was 10.00+1.76 mg. Kruskal Wallis statistical test obtained p-value=0.000 (p&lt;0.05), which means that there was a significant difference in PCA morphine use after 24 hours between the three groups. No complication occurred with the three-group wound infiltration. Thus, there is a significant difference in the use of PCA morphine between wound infiltration with ketamine and wound infiltration with levobupivacaine and with saline infiltration. Ketamine wound infiltration can be used effectively to reduce post-laparotomy pain. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Penanganan nyeri akut yang tidak adekuat merupakan faktor risiko terjadinya nyeri kronik dan komplikasi lainnya. Laparatomi merupakan operasi dengan nyeri operasi berat. Patient Controlled Analgesia (PCA) adalah suatu metode yang efektif dan efisien untuk mengontrol nyeri akut yang berat. Infiltrasi tepi luka efektif untuk mengurangi nyeri dan penggunaan PCA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infiltrasi ketamin dan Levobupivakain dalam mengurangi kebutuhan Morfin PCA pasca laparatomi. Penelitian ini menggunakan uji klinik acak tersamar tunggal di RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada 30 subyek yang dilakukan operasi laparatomi dan memenuhi kriteria inklusi dimulai pada bulan Agustus 2018. Sampel dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok infiltrasi dengan Levobupivakain, infiltrasi dengan ketamin dan infiltrasi dengan saline. Semua pasien mendapatkan perlakuan anestesi umum sesuai standar dan kemudian diberikan Morfin PCA pasca operasi. Setelah itu dinilai jumlah penggunaan morfin dan efek mual-muntah pasca operasi, dan efek samping tindakan infiltrasi. Ketiga kelompok memiliki karakteristik dasar yang homogen. Penggunaan morfin PCA pada kelompok ketamin rata-rata 2,20 +1,32 mg, pada kelompok Levobupivakain penggunaan morfin rata-rata 5,80 +1,03 mg, dan pada kelompok NaCl penggunaan morfin rata-rata 10,00 +1,76 mg. Uji statistik kruskal wallis didapatkan nilai p=0,000 (p&lt;0,05) yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan penggunaan morfin PCA antara pasien kelompok Ketamin, Levobupivakain dan NaCl. Dengan demikian, terdapat perbedaan penggunaan morfin PCA yang bermakna antara infiltrasi ketamin dan infiltrasi Levobupivakain serta infiltrasi saline. Infiltrasi ketamin dapat digunakan secara efektif untuk mengurangi nyeri pasca laparatomi.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2021-12-24</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2493</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n3.2493</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 142–149</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 3 (2021); 142–149</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2493/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2493/2696</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2490</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:49:53Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Pola Bakteri dari Jam Tangan dan Kacamata yang Dibawa ke Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Pola Bakteri dari Jam Tangan dan Kacamata yang Dibawa ke Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta</dc:title>
	<dc:creator>Arianto, Ardana Tri</dc:creator>
	<dc:creator>Putro, Bambang Novianto</dc:creator>
	<dc:creator>Siregar, Geovaldy</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Infeksi nosokomial; jam tangan; kacamata; pola bakteri; Staphylococcus hominis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID"></dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tenaga kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata tenaga kesehatan yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggnakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni–Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian terhadap 40 hardware, yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (83%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata. Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis sebanyak 16 hardware (40%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10%). Simpulan penelitian ini adalah hardware yang diteliti mayoritas terdapat patogen (83%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah staphylococcus hominis pada 40% hardware.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Ruang bedah berperan sebagai penyebab infeksi nosokomial terutama akibat luka bedah. Transmisi patogen oleh tangan petugas kesehatan berperan penting dalam rute infeksi silang. Beberapa jam tangan mengandung bakteri patogen, namun efeknya sebagaipembawa bakteri belum dapat dijelaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola bakteri jam tangan dan kacamata yang dibawa ke kamar operasi di Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif laboratorik di Instalasi Bedah Sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada Juni - Juli 2018. Sampel adalah seluruh hardware yang dibawa masuk ke ruang bedah umum dan memenuhi kriteria inklusi. Pengambilan sampel menggunakan metode swab dan dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret untuk diidentifikasi. Data dianalisis dengan Uji Fhiser Exact Test. Hasil penelitian terhadap 40 hardware yaitu 19 jam tangan dan 21 kacamata yang dipakai dan dibawa ke kamar operasi Instalasi Bedah Sentral RS Dr. Moewardi Surakarta. Hardware yang dibawa dan mengandung bakteri patogen sebanyak 33 hardware (82,5%). Hardware yang terkontaminasi patogen paling banyak adalah kacamata, (p= 0,040). Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus            hominis sebanyak 16 hardware (40,0%). Staphylococcus haemolyticus ditemukan pada 7 hardware (17,5%). Staphylococcus epidermidis ditemukan pada 4 hardware (10,0%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah hardware yang diteliti dan terdapat pathogen ada 33 hardware (82,5%).Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan adalah Staphylococcus hominis pada 40,0% hardware.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2490</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n1.2490</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 6–12</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 1 (2023); 6–12</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2490/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2490/2691</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3494</identifier>
				<datestamp>2025-09-27T02:15:39Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Kombinasi Bupivakain 0,25 % dan Epinefrin 1:10.000 dengan Epinefrin 1:10.000 terhadap Perdarahan Intranasal setelah Intubasi Nasotrakeal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Bupivacain 0,25 % + Epinefrin 1:10.000 dengan Epinefrin 1:10.000 dalam Mencegah Perdarahan Intranasal Setelah Intubasi Nasotrakeal</dc:title>
	<dc:creator>Rachman, Abdul</dc:creator>
	<dc:creator>Unaesih, Uun</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bupivakain; epinefrin; epistaksis; intubasi nasotrakeal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anaesthesiology</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Intubasi Nasotrakeal, Epistaksis,Bupivacaine+Epinefrin</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Epistaksis dan rasa tidak nyaman pada hidung merupakan komplikasi paling umum dari intubasi nasotrakeal, dengan angka kejadian yang dilaporkan antara 22–77%. Pencegahan komplikasi ini penting untuk meningkatkan kenyamanan pasien serta kelancaran prosedur anestesi dan pembedahan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas kombinasi bupivakain dan epinefrin dibanding dengan epinefrin tunggal dalam mengurangi epistaksis dan nyeri intranasal pascaoperasi. Penelitian dilakukan dengan desain uji klinis acak tersamar tunggal di RSUD Dr. Agoesdjam, Ketapang, Kalimantan Barat, pada Juni–Juli 2023. Sebanyak 72 pasien yang menjalani pembedahan elektif dengan intubasi nasotrakeal diacak ke dalam dua kelompok. Kelompok kombinasi (BE, n=36) menerima 2 mL larutan bupivakain 0,25%+epinefrin 1:10.000 intranasal, sedangkan kelompok epinefrin (E, n=36) menerima 2 mL epinefrin 1:10.000. Parameter yang dievaluasi meliputi status hemodinamik, kejadian epistaksis, dan nyeri intranasal pascaoperasi. Hasil menunjukkan bahwa angka kejadian epistaksis serupa pada kedua kelompok, namun skor nyeri intranasal pascaoperasi secara signifikan lebih rendah pada kelompok BE. Simpulan, kombinasi bupivakain dan epinefrin memberikan efektivitas setara dalam mencegah epistaksis dan memberikan manfaat tambahan berupa penurunan nyeri intranasal pascaoperasi.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Intubasi nasotrakeal dapat menyebabkan epistaksis, bakteremia, kerusakan mukosa, dan rasa tidak nyaman pada hidung. Epistaksis adalah komplikasi intubasi nasotrakeal yang paling umum dan kejadiannya telah dilaporkan berkisar antara 22% sampai 77%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efikasi praterapi bupivakain dan epinefrin untuk mengurangi epistaksis dan nyeri hidung dibandingkan dengan praterapi epinefrin. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pendekatan single blind randomized control trial. Penelitian dilakukan di RSUD Dr. Agoesdjam Ketapang Kalimantan Barat bulan Juni-Juli 2023. Total 72 pasien yang dijadwalkan operasi elektif dibagi secara acak menjadi 2 kelompok. Kelompok bupivacaine+epinefrin (n=36) diberikan  2 ml intranasal. Kelompok epinefrin (n=36) diberikan 2 ml intranasal. Pada penelitian ini,hemodinamik, epistaksis dan nyeri intranasal di pantau.Angka kejadian epistaksis sama pada kedua kelompok tapi nyeri hidung paska operasi lebih rendah pada kelompok bupivacaine+epinefrin. Bupivacain 0,25 % + Epinefrin 1:10.000 sama efektifnya dengan Epinefrin 1:10.00 dalam pencegahan epistaksis tetapi lebih baik dalam pencegahan nyeri hidung paska operasi. Kata kunci : Intubasi Nasotrakeal, Epistaksis,Bupivacaine+Epinefrin</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2025-04-26</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3494</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v13n1.3494</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 18-24</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 13, No 1 (2025); 18-24</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v13n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3494/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3494/4288</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3494/5849</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2025 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2395</identifier>
				<datestamp>2021-09-28T01:36:15Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Pemberian Ketorolak dengan Parecoxib Intravena terhadap Kadar Trombosit, Aggregasi Trombosit, dan Profil Koagulasi pada Operasi Seksio Sesarea</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Pemberian Ketorolak dengan Parecoxib Intravena Terhadap Kadar Trombosit, Aggregasi Trombosit dan Profil Koagulasi pada Operasi Seksio Sesarea</dc:title>
	<dc:creator>Salim, Hendra</dc:creator>
	<dc:creator>Ahmad, Muhammad Ramli</dc:creator>
	<dc:creator>Arif, Syafri Kamsul</dc:creator>
	<dc:creator>Salam, Syamsul Hilal</dc:creator>
	<dc:creator>Arrasjid, Zulkarnain</dc:creator>
	<dc:creator>Tan, Charles Wijaya</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Aggregasi trombosit, ketorolak, parecoxib, profil koagulasi</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; pain management</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Ketorolak, Parecoxib,  Aggregasi trombosit, Profil koagulasi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pengelolaan nyeri pascabedah bertujuan menghasilkan analgesia yang optimal serta menghambat respons stres akibat pembedahan. Pengaruh OAINS baik COX 1 dan COX 2 terhadap trombosit baik jumlah maupun aggregasinya perlu dinilai untuk menentukan obat terpilih yang aman dalam mengatasi nyeri pascabedah. Penelitian ini bertujuan membandingkan pemberian ketorolak dengan parecoxib intravena terhadap jumlah trombosit, aggregasi trombosit, dan profil koagulasi pada operasi seksio sesarea. Penelitian ini menggunakan uji klinis acak tersamar ganda. Penelitian dilakukan di RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar pada bulan Oktober 2020–Maret 2021. Pengukuran dilakukan di awal dan setelah perlakuan dengan jumlah sampel masing-masing 11 orang. Data dianalisis menggunakan uji statistik Independen T-Test. Tidak berbeda bermakna perubahan kadar trombosit pada pemberian ketorolak dengan parecoxib sebagai analgesia pascabedah seksio pasca 24 jam dan pasca 48 jam (p&gt;0,05). Berbeda bermakna perubahan agregasi trombosit pada pemberian ketorolak dengan parecoxib sebagai analgesia pascabedah seksio pasca 48 jam (p&lt;0,05). Parecoxib tidak menyebabkan penurunan agregasi trombosit sehingga dapat digunakan sebagai alternatif untuk analgetik pascabedah terutama untuk pasien yg mengalami gangguan hemostatis. Parecoxib tidak menyebabkan gangguan faal hemostasis dibanding dengan ketorolak. Parecoxib dan ketorolak tidak memengaruhi jumlah trombosit Comparison of Intravenous Ketorolac with Parecoxib on Platelet Count, Platelet Aggregation and Coagulation Profile in Caesarean SectionPost-surgical pain management aims to produce optimal analgesia and also inhibit the stress response due to surgery. The effect of NSAIDs, both COX-1 and COX-2, on thrombosis, both in amount and aggregation, need to be assessed to determine which drug is safe for postoperative pain management to compare the administration of intravenous ketorolac with intravenous parecoxib on the platelet count, platelet aggregation and coagulation profile in cesarean section surgery. This study was a randomized double-blind clinical trial. Research site was at Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar from October 2020 to March 2021. Measurements were made at the beginning and after treatment with 11 samples on each group. Data were analyzed using the Independent T-Test. There was no significant difference in platelet count in the administration of ketorolac and parecoxib as analgesia after 24 hours post cesarean section surgery and 48 hours post cesarean section surgery (p&gt;0.05). There was a significant difference in platelet aggregation between ketorolac and parecoxib group after 48 hours of post cesarean section surgery (p&lt;0.05). Parecoxib does not cause a decrease in platelet aggregation; therefore, it can be used as an alternative for post-surgical analgesics, especially for patients with hemostatic disorders. Parecoxib does not cause hemostatic physiological disorders compared to ketorolac. Both parecoxib and ketorolac do not affect the platelet count.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Background: Post-surgical pain management aims to produce optimal analgesia and also inhibit the stress response due to surgery. The effect of NSAIDs, both COX-1 and COX-2, on thromobsit, both in amount and aggregation, need to be assessed to determine which drug is safe for postoperative pain management.Objective: To compare the administration of intravenous ketorolac with intravenous parecoxib on the platelet count, platelet aggregation and coagulation profile in cesarean section surgery.Methods: The design used in this study was a randomized double-blind clinical trial. In experimental design, measurements or observations are made at the beginning and after treatment with 11 samples on each group. Data were analyzed using the Independent T-Test.Results: There was no significant difference in platelet count in the administration of ketorolac and parecoxib as analgesia after 24 hours post cesarean section surgery and 48 hours post cesarean section surgery (p&gt; 0.05). There was a significant difference in platelet aggregation between ketorolac and parecoxib group after 48 hours of post cesarean section surgery at concentration of 1uM, 2uM, 5uM, and 10uM reagents respectively (p &lt;0.05). There was alteration on clotting time (CT) and bleeding time (BT) in ketorolac group except for T0 and T1 in the first 24 hours. There was no alteration in parecoxib group for CT and BT. However, when compared between ketorolac and parecoxib, no significant differences were found on CT and BT (p&gt; 0.05).Conclusion: Parecoxib does not cause a decrease in platelet aggregation therefore it can be used as an alternative for post-surgical analgesics, especially for patients with hemostatic disorders. Parecoxib does not cause hemostatic physiological disorders compared to ketorolac. Both parecoxib and ketorolac do not affect the platelet count Keywords: Coagulation Profile, Ketorolac, Parecoxib, Platelet Aggregation. ABSTRAKLatar Belakang: Pengelolaan nyeri pasca bedah, bertujuan menghasilkan analgesia yang optimal serta menghambat respon stres akibat pembedahan. Pengaruh OAINS baik COX 1 dan COX 2 terhadap tromobosit baik jumlah maupun aggregasinya perlu dinilai untuk menentukan obat terpilih yang aman dalam mengatasi nyeri pasca bedah yang aman.Tujuan: Membandingkan pemberian ketorolak dengan parecoxib intravena terhadap jumlah trombosit, aggregasi trombosit dan profil koagulasi pada operasi seksio sesarea.Metode: Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah uji klinis acak tersamar ganda (Randomized double blind clinical trial). Dalam rancangan eksperimental, pengukuran atau observasi dilakukan diawal dan setelah perlakuan dengan jumlah sampel masing-masing 11 orang. Data dianalisis menggunakan uji statistik Independen T Test.Hasil Penelitian: Tidak ada  perbedaan yang bermakna perubahan kadar trombosit pada pemberian ketorolak dan parecoxib sebagai analgesia pasca bedah seksio post 24 jam dan post 48 jam (p&gt; 0.05). Ada  perbedaan yang bermakna perubahan agregasi trombosit pada pemberian ketorolak dan parecoxib sebagai analgesia pasca bedah seksio post 48 jam pada reagen concentrate 1uM, 2uM, 5uM, dan 10uM (p&lt; 0.05). Tidak ditemukan pemanjangan CT dan BT pada pemberian ketorolak kecuali untuk T0 dan T1 pada 24 jam pertama. Pada pemberian parecoxib tidak didapatkan perubahan untuk CT dan BT. Namun bila dibandingkan antara ketorolak dan parecoxib tidak ditemukan perbedaan yang bermakna untuk CT dan BT (p&gt; 0.05).Simpulan: Parecoxib tidak menyebabkan penurunan agregasi trombosit sehingga dapat digunakan sebagai alternatif untuk analgetik pasca bedah terutama untuk pasien yg mengalami gangguan hemostatis. Parecoxib tidak menyebabkan gangguan faal hemostasis dibandingkan ketorolak. Parecoxib dan ketorolak tidak mempengaruhi jumlah trombositKata kunci: Ketorolak, Parecoxib,  Aggregasi trombosit, Profil koagulasi</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID">Hasanuddin University</dc:contributor>
	<dc:date>2021-08-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2395</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v9n2.2395</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 65–75</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 9, No 2 (2021); 65–75</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v9n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2395/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2395/2521</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2395/2522</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2395/2523</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2021 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2465</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T04:39:48Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Efek Durasi Blokade Sensorik dan Motorik, Gejolak Hemodinamik, serta Efek Samping Deksmedetomidin dengan Fentanil sebagai Adjuvan pada Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Perbandingan Efek Durasi Blokade Sensorik dan Motorik, Gejolak Hemodinamik, serta Efek Samping Deksmedetomidin dengan Fentanil sebagai Adjuvan pada Anestesi Spinal</dc:title>
	<dc:creator>Purnomo, Heri Dwi</dc:creator>
	<dc:creator>Dewi, Fitri Hapsari</dc:creator>
	<dc:creator>Muslihan, Frans Kausario</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Adjuvan, deksmedetomidin, fentanil, spinal</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Adjuvan; Dexmedetomidin; Fentanyl; Spinal</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Fentanil dan deksmedetomidin merupakan agen yang berpotensi baik sebagai adjuvan anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan menilai kecepatan mula kerja, pemanjangan lama kerja blokade sensorik dan motorik anestesi spinal, termasuk pengaruhnya terhadap gejolak hemodinamik serta efek samping. Penelitian ini merupakan single blind randomized control trial untuk membandingkan pengaruh penambahan deksmedetomidin 3 mcg dengan fentanil 25 mcg pada lidokain 75 mg hiperbarik yang diberikan sebagai anestesi spinal di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta bulan Maret–Mei 2018. Subjek penelitian adalah pasien usia 19–64 tahun yang menjalani pembedahan abdomen bagian bawah dan ekstremitas bawah secara elektif dengan anestesi spinal dengan ASA I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penambahan deksmedetomidin dan fentanil pada lidokain 5% yang diberikan sebagai anestesi spinal, dengan menilai perbedaan kecepatan onset dan pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik, yaitu penambahan deksmedetomidin 3 mcg (diencerkan dalam NaCl 0,9% 0,5 mL) pada 1,5 mL Lidokain 5% lebih efektif dalam pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik dibanding dengan penambahan fentani 25 mcg (0,5 mL) pada 1,5 mL lidokain 5% dan tidak berbeda pengaruhnya pada perubahan tanda vital dan juga tidak meningkatkan efek samping. Comparison of Effects of Sensory and Motor Blockade Duration, Hemodynamic Fluctuations, and Side Effects of Dexmedetomidine with Fentanyl as Adjuvant in Spinal AnesthesiaFentanyl and dexmedetomidine are potentially suitable adjuvants to spinal anesthesia. This study aimed to assess the initial onset of work and prolongation of the duration of sensory and motor blockade of spinal anesthesia, including the effect on hemodynamic turbulence that appears and the occurrence of adverse effects. This study was a single-blind randomized control trial, comparing the impact of adding 3 mcg of dexmedetomidine with 25 mcg fentanyl on hyperbaric lidocaine 75 mg given as spinal anesthesia in the operating room of the central surgical installation of RSUD Dr. Moewardi Surakarta from March–May 2018. The research subjects were patients aged 19–64 who underwent elective abdominal and lower extremity surgery under spinal anesthesia with ASA I and II physical status and obtained informed consent. Based on the results of the study, it found that there was an effect of adding dexmedetomidine and fentanyl to 5% lidocaine given as spinal anesthesia by assessing the difference in the speed of onset and the prolongation of the duration of sensory and motor blockade. The addition of dexmedetomidine 3 mcg (diluted in 0.9% NaCl 0.5 mL) to 1.5 mL lidocaine was 5% more effective in prolonging the duration of sensory and motor blockade compared to 25 mcg fentanyl (0.5 mL) at 1.5 mL 5% lidocaine and no difference in changes in vital signs. Moreover, it also did not increase the occurrence of side effects. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Fentanil dan deksmedetomidin merupakan agen yang berpotensi baik sebagai adjuvan anestesi spinal. Penelitian ini bertujuan menilai kecepatan mula kerja, pemanjangan lama kerja blokade sensorik dan motorik anestesi spinal, termasuk pengaruhnya terhadap gejolak hemodinamik serta efek samping. Penelitian ini merupakan single blind randomized control trial untuk membandingkan pengaruh penambahan deksmedetomidin 3 mcg dengan fentanil 25 mcg pada lidokain 75 mg hiperbarik yang diberikan sebagai anestesi spinal di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta bulan Maret–Mei 2018. Subjek penelitian adalah pasien usia 19–64 tahun yang menjalani pembedahan abdomen bagian bawah dan ekstremitas bawah secara elektif dengan anestesi spinal dengan ASA I dan II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penambahan deksmedetomidin dan fentanil pada lidokain 5% yang diberikan sebagai anestesi spinal, dengan menilai perbedaan kecepatan onset dan pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik, yaitu penambahan deksmedetomidin 3 mcg (diencerkan dalam NaCl 0,9% 0,5 mL) pada 1,5 mL Lidokain 5% lebih efektif dalam pemanjangan durasi blokade sensorik dan motorik dibanding dengan penambahan fentani 25 mcg (0,5 mL) pada 1,5 mL lidokain 5% dan tidak berbeda pengaruhnya pada perubahan tanda vital dan juga tidak meningkatkan efek samping.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2465</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n3.2465</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 133–140</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 3 (2022); 133–140</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2465/pdf</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3126</identifier>
				<datestamp>2024-07-26T02:47:17Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Bedah Anak pada Persiapan Perioperatif di Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi Jember</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Bedah Anak pada Persiapan Perioperatif di RSD dr. Soebandi Jember</dc:title>
	<dc:creator>Supangat, Supangat</dc:creator>
	<dc:creator>Sakinah, Elly Nurus</dc:creator>
	<dc:creator>Nugraha, Muhammad Yuda</dc:creator>
	<dc:creator>Baswedan, Achmad Haykal</dc:creator>
	<dc:creator>Haritsah, Prisma Atha</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Bedah anak; kecemasan; perioperatif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Perioperative Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Bedah Anak, Kecemasan, Perioperatif</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pasien anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pascaoperasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memengaruhi tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September–Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1–18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya, tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 48% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p=0,000). Sebagian besar pasien yang mengalami kecemasan usia kurang dari 10 tahun. Simpulan, tingkat kecemasan berhubungan dengan usia terutama usia &lt;10 tahun. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pasien yang akan menjalani tindakan pembedahan umumnya akan mengalami cemas, khususnya pada pasien anak-anak. Kecemasan yang dirasakan dapat berhubungan dengan prosedur pembedahan maupun anestesi yang akan dilakukan. Kecemasan yang terjadi akan berdampak pada proses penyembuhan luka pasca operasi. Beberapa penelitian menemukan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pengalaman operasi dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien yang akan mengalami prosedur pembedahan dan dikaitkan dengan usia pasien. Desain penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional pada bulan September-Oktober 2022 di RSD dr. Soebandi Jember pada pasien anak berusia 1-18 tahun yang akan menjalani operasi. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner Modified Yale Preoperative Anxiety Scale sebagai alat ukur tingkat kecemasan pasien. Selanjutnya tingkat kecemasan dianalisis berdasarkan data demografi pasien. Pada penelitian ini didapatkan data responden sebanyak 48 pasien. Hasil penelitian terdapat 47,92% pasien mengalami kecemasan. Tingkat kecemasan pasien ini berhubungan dengan usia (p-value= 0.000), dimana sebagian besar responden yang mengalami kecemasan  pada usia kurang dari 10 tahun.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3126</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n1.3126</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 1-5</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 1 (2024); 1-5</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3126/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3126/3783</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3126/3784</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3838</identifier>
				<datestamp>2025-02-17T06:20:58Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Perbandingan Teknik Pemasangan Pipa Nasogastrik Antara Manuver Reverse Sellick dan Manuver Fleksi Leher Terhadap Angka Keberhasilan dan Durasi Waktu Pemasangan pada Pasien Terintubasi</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">PERBANDINGAN TEKNIK PEMASANGAN PIPA NASOGASTRIK ANTARA MANUVER REVERSE SELLICK DENGAN MANUVER FLEKSI LEHER TERHADAP ANGKA KEBERHASILAN DAN DURASI WAKTU PEMASANGAN PADA PASIEN TERINTUBASI DI RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG</dc:title>
	<dc:creator>Nasution, Muhammad Habibi</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:creator>T. Maskoen, Tinni</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Angka keberhasilan; durasi waktu pemasangan; manuver fleksi leher; manuver reverse Sellick; pemasangan NGT</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">pemasangan NGT, manuver reverse sellick, manuver fleksi leher</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) penting dilakukan pada beberapa pembedahan dan pada pasien di ruang rawat intensif (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit pada pasien terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT. Manuver reverse Sellick merupakan teknik yang dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05). Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse Sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499±1,571 detik dan 20,5,06±3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p&lt;0,05; Tabel 2). Simpulan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse Sellick memiliki angka keberhasilan yang tidak berbeda signifikan dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher. Durasi pemasangan dari kelompok manuver reverse Sellick lebih singkat dibanding dengan kelompok manuver fleksi leher.</dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Pemasangan pipa nasogastrik (NGT) merupakan tindakan penting pada operasi dan pasien-pasien di ruang intensive care unit (ICU). Pemasangan NGT menjadi sulit karena berada dalam keadaan terintubasi dan paling sering tertahan pada sinus priformis, kartilago aritenoid, dan esofagus yang tertekan oleh balon ETT sehingga NGT terpilin atau tertekuk didalam rongga orofaring. Manuver reverse sellick merupakan teknik dilakukan dengan cara menggenggam kartilago krikoid lalu diangkat ke arah anterior dan Manuver fleksi leher merupakan suatu cara menekukkan leher pasien semaksimal mungkin pada saat memasang NGT. Penelitian ini menggunakan metode prospektif analitik komparatif eksperimental dengan rancangan randomized clinical trial single blind study. Penelitian telah dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (RSHS) sejak tanggal 12 Juni 2023 hingga 17 Juli 2023 terhadap 94 subjek. Analisis statistik data kategorik menggunakan Uji Chi Square dan uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov smirnov. Hasil uji statistik perbandingan tingkat keberhasilan pada kelompok manuver reverse sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 85,1% dan 74,5% dengan perbedaan yang tidak bermakna (p&gt;0,05) dan Durasi pemasangan NGT pada kelompok manuver reverse sellick dan kelompok manuver fleksi leher adalah 13,499 ± 1,571 detik dan 20,5,06 ± 3,051 detik dengan perbedaan signifikan (p&lt;0,05; Tabel 4.2). Simpulan dari penelitian ini yaitu Manuver reverse sellick memiliki tingkat keberhasilan pada pemasangan pertama lebih tinggi dan durasi pemasangan yang lebih singkat daripada teknik fleksi leher. Kata kunci: Angka keberhasilan; durasi waktu pemasangan; manuver fleksi leher; manuver reverse sellick; pemasangan NGT</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-12-31</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3838</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n3.3838</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 202-208</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 3 (2024); 202-208</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v12.n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3838/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3838/4772</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3838/4822</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2193</identifier>
				<datestamp>2021-06-25T02:41:11Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Intervention in Undergoing Surgery with Undiagnosed Wolff-Parkinson-White Syndrome: Case Report</dc:title>
	<dc:creator>Giwangkancana, Gezy Weita</dc:creator>
	<dc:creator>Astuti, Astri</dc:creator>
	<dc:creator>Budipratama, Dhany</dc:creator>
	<dc:creator>Wibawamukti, Aviryandi</dc:creator>
	<dc:creator>Rahman, Fityan Aulia</dc:creator>
	<dc:creator>Septriana, Rani</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Medical; Anaesthesiology; Intensive Care</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">: Arrhythmia, case report, sudden cardiac arrest, tachycardia, Wolff-Parkinson-White syndrome</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Wolff-Parkinson-White (WPW) syndrome is a commonly undiagnosed cardiac rhythm anomaly in a previously healthy patient who may precipitate malignant arrhythmia under surgical stress. We report successful management of a reconstruction surgery patient who developed cardiac arrest under general anesthesia due to undiagnosed WPW syndrome and a malignant arrhythmia during subsequent emergency surgery. A male patient with no previous history of the co-existing disease, age 23 years old underwent 14 hours of leg reconstruction with a posterior back flap. At the end of the surgery, the patient developed malignant arrhythmia that worsens to pulseless ventricular tachycardia. High-quality resuscitation was conducted and resulted in the return of spontaneous circulation. The patient had to undergo emergency surgery the next day, and another episode of intraoperative malignant arrhythmia was treated with propafenone and diltiazem. The patient underwent ablation postoperatively and, on the 14th day, was discharged without any residual complications. In conclusion, WPW may appear asymptomatic in a healthy young patient. Good anesthesia management and monitoring, knowledge of selective antiarrhythmic drugs and high-quality resuscitation skills can provide an optimal outcome in an unpredicted intraoperative crisis.Laporan Kasus: Manajemen Pasien Sindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) yang Menjalani Tindakan PembedahanSindrom Wolff-Parkinson-White (WPW) adalah kelainan irama jantung yang sering tidak terdiagnosis pada pasien usia muda dan sering tanpa gejala. Stres akibat pembedahan dapat memicu aritmia maligna pada kelainan ini. Kami melaporkan keberhasilan manajemen pada pasien bedah plastik rekonstruksi dalam anestesi umum yang mengalami henti jantung karena sindrom WPW yang tidak terdiagnosis sebelumnya dan terjadi aritmia maligna serupa pada operasi darurat berikutnya. Seorang laki-laki berusia 23 tahun tanpa riwayat penyakit penyerta sebelumnya, menjalani rekonstruksi kaki dengan flap posterior selama 14 jam. Pada akhir pembedahan, pasien mengalami aritimia maligna dan berkembang menjadi ventricular takikardia tanpa nadi. Tindakan resusitasi jantung paru berkualitas tinggi dilakukan dan sirkulasi spontan kembali muncul. Pasien harus menjalani operasi darurat keesokan harinya dan mengalami episode aritmia maligna ulangan intraoperatif yang telah berhasil diidentifikasi pada pemeriksaan pascaoperasi pertama sebagai sindrom Wolff-Parkinson-White. Aritmia maligna tersebut diatasi dengan pemberian propafenon dan diltiazem. Pasien menjalani tindakan ablasi pascaoperasi dan pulang pada hari keempat belas perawatan tanpa gejala sisa. Simpulan, sindrom WPW mungkin tampak asimtomatik pada pasien muda yang sehat. Manajemen anestesi yang baik, pengetahuan mengenai profil berbagai obat antiaritmia serta pelaksanaan tindakan resusitasi berkualitas tinggi dapat memberikan hasil keluaran yang optimal bila terjadi krisis intraoperatif yang tidak diperkirakan sebelumnya.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US">Gezy Weita Giwangkancana, Unpad Univercity, Department of Anaesthesiology and Intensive Care</dc:contributor>
	<dc:date>2020-12-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2193</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v8n3.2193</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 206-214</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 8, No 3 (2020); 206-214</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v8n3</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2193/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2193/2126</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2193/2127</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2193/2128</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2193/2129</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2020 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/2674</identifier>
				<datestamp>2022-12-09T07:34:20Z</datestamp>
				<setSpec>jap:CR</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Blokade Peribulbar Menggunakan Ropivakain 0,75% untuk Vitrektomi  pada Pasien dengan Komorbid</dc:title>
	<dc:creator>Sukmara, Uta Provinsiana</dc:creator>
	<dc:creator>Yadi, Dedi Fitri</dc:creator>
	<dc:creator>Fahruzi, Odih</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Anesthesia; Anaesthesiology;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Blokade peribulbar; ropivakain; vitrektomi</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Pasien dengan kelainan mata yang dilakukan vitrektomi sebagian besar geriatri dan dapat disertai beberapa komorbid, seperti hipertensi dan diabetes melitus. Serial kasus ini melaporkan dua kasus pasien dengan komorbid hipertensi dan diabetes melitus yang dilakukan tindakan vitrektomi. Tindakan anestesi blokade peribulbar dilakukan kedua pada pasien tersebut menggunakan ropivakain 0,75%. Penyuntikan dilakukan dengan pendekatan inferotemporal dan medial kantus, tercapai nilai Cicendo Akinesia Score 3 dan memfasilitasi vitrektomi tanpa komplikasi. Blokade peribulbar dengan ropivakain 0,75% dapat digunakan untuk pembedahan vitrektomi pada pasien geriatri memiliki komorbid. Peribulbar Block Using Ropivacaine 0.75% in Patients with ComorbiditiesMost patients with eye disorders undergoing vitrectomy are geriatric and may have several comorbidities, such as hypertension and diabetes mellitus. This case series reports two patients with hypertension and diabetes mellitus who underwent vitrectomy. Both patients received peribulbar block with 0.75% ropivacaine. Peribulbar injection was performed with an inferotemporal and medial canthus approach. The peribulbar block was successful in both patients with a Cicendo Akinesia score of 3 and facilitated uncomplicated vitrectomy. Peribulbar block using 0.75% ropivacaine can be used for uncomplicated vitrectomy in geriatric patients with comorbidities. </dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:date>2022-04-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2674</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v10n1.2674</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 65–70</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 10, No 1 (2022); 65–70</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v10n1</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/2674/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/2674/3196</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2022 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3013</identifier>
				<datestamp>2023-11-08T05:08:02Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Skor ANDC sebagai Prediktor Kematian pada Pasien COVID-19 di Ruang Intensif Isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung  Periode Januari–Juni 2021</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Skor ANDC sebagai Prediktor Kematian pada Pasien COVID-19 di Ruang Intensif Isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2021 – Juni 2021</dc:title>
	<dc:creator>Munthe, Hengki Saputra</dc:creator>
	<dc:creator>Bisri, Dewi Yulianti</dc:creator>
	<dc:creator>Rismawan, Budiana</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Angka mortalitas; Coronavirus disease 2019 (COVID-19); skor ANDC</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Anesthesia; Anaesthesiology; Medical; Intensive Care;</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), skor ANDC, angka mortalitas</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Coronavirus disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan angka mortalitas tinggi. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan mengetahui gambaran skor Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein (ANDC) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung pada periode Januari–Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah menjadi pandemi global yang menyebabkan tingginya angka mortalitas. Saat ini belum ada sistem skor yang digunakan untuk memprediksi angka mortalitas pada pasien COVID-19 yang dirawat di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif observasional retrospektif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran skor ANDC (Age, Neutrophil to lymphocyte ratio, D-dimer, C-reactive protein) sebagai prediktor kematian pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari-Juni 2021. Data ANDC dari 221 pasien COVID-19 derajat sedang dan berat dicatat di hari pertama dan diolah. Hasil penelitian didapatkan pasien COVID-19 derajat sedang memiliki angka mortalitas sebesar 5,0% untuk skor ANDC risiko rendah, 39,3% untuk skor risiko sedang, dan 50,0% untuk skor risiko tinggi. Sementara pada pasien COVID-19 derajat berat secara umum memiliki angka mortalitas yang tinggi, untuk skor ANDC risiko rendah sebesar 42,1%, skor risiko sedang sebesar 70,6% dan skor risiko tinggi sebesar 78,5%. Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi nilai skor ANDC maka semakin tinggi pula angka mortalitas pasien COVID-19 yang dirawat di ruang intensif isolasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2023-08-30</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3013</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v11n2.3013</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 76-85</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 11, No 2 (2023); 76-85</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:source>10.15851/jap.v11n2</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3013/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3604</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3605</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3606</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/3607</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3013/4134</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2023 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<record>
			<header>
				<identifier>oai:ojs.journal.fk.unpad.ac.id:article/3717</identifier>
				<datestamp>2024-08-29T10:10:46Z</datestamp>
				<setSpec>jap:ART</setSpec>
			</header>
			<metadata>
<oai_dc:dc
	xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"
	xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/
	http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
	<dc:title xml:lang="en-US">Gambaran Mortalitas Pasien Sepsis Berdasarkan Fluid Accumulation di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022</dc:title>
	<dc:title xml:lang="id-ID">Gambaran Mortalitas Pasien Sepsis Berdsarkan Fluid Accumulation di ICU RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022</dc:title>
	<dc:creator>Rachman, Faisal</dc:creator>
	<dc:creator>Pradian, Erwin</dc:creator>
	<dc:creator>Kestriani, Nurita Dian</dc:creator>
	<dc:subject xml:lang="en-US"></dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="en-US">Akumulasi cairan; mortalitas; resusitasi cairan pasien sepsis</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Perawatan Intensif</dc:subject>
	<dc:subject xml:lang="id-ID">Resusitasi Cairan Pasien Sepsis; Mortalitas; Fluid Accumulation</dc:subject>
	<dc:description xml:lang="en-US">Manajemen cairan pasien sakit kritis memiliki risiko terjadinya akumulasi cairan. Resusitasi cairan merupakan bagian penting dalam menstabilkan status hemodinamik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa balans cairan kumulatif positif merupakan faktor prognostik yang kuat untuk mortalitas pasien sepsis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran mortalitas pada pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan selama dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling secara retrospektif melalui rekam medis pasien sepsis yang mengalami akumulasi cairan di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 1 Januari 2021–31 Desember 2022 dengan jumlah sampel adalah 107 orang subjek penelitian. Analisis menunjukkan bahwa karakteristik pasien relatif sama antara kelompok yang mengalami mortalitas dan yang bertahan hidup. Pada kategori akumulasi cairan &gt;10%, semua pasien (100%) mengalami mortalitas, sedangkan pada kategori akumulasi cairan &lt;10%, 27 pasien (51,9%) meninggal dan 25 pasien (48,1%) bertahan hidup. </dc:description>
	<dc:description xml:lang="id-ID">Manajemen cairan pasien sakit kritis memiliki resiko terjadinya fluid accumulation. Resusitasi cairan bagian penting untuk menstabilkan status hemodinamik dan meningkatkan oksigenasi jaringan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa balans cairan kumulatif positif merupakan faktor prognostik yang kuat untuk mortalitas pasien sepsis. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran mortalitas pada pasien sepsis yang mengalami fluid accumulation selama dirawat di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2021–2022. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling secara retrospektif melalui rekam medis pasien sepsis yang mengalami fluid accumulation di ICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2022 dengan jumlah sampel adalah 107 orang subjek penelitian. Analisis data menggunakan program SPSS versi 24.0 for Windows. Hasil penelitian dari keseluruhan analisis karakteristik subjek penelitian, variabel jenis kelamin, usia, BB, dan IMT antara kelompok mortalitas dan kelompok bertahan hidup relatif sama. Namun, terdapat beberapa perbedaan yang dapat diidentifikasi dalam karakteristik seperti terapi ginjal pengganti, skor SOFA, dan skor APACHE II. Pada kategori Fluid Accumulation &gt;10% terdapat 55 pasien dimana semua pasien (100%) mengalami mortalitas. Tidak ada pasien (0%) dalam kategori ini yang bertahan hidup. Sedangkan kategori Fluid Accumulation &lt;10% terdapat 52 pasien dimana 27 pasien (51.9%) mengalami mortalitas. Dari 52 pasien, 25 pasien (48.1%) bertahan hidup. Didapatkan Prevalence Ratio (PR) sebesar 1.93, yang menunjukkan bahwa pasien dengan Fluid Accumulation &gt;10% memiliki peluang mengalami mortalitas 1.93 kali lebih tinggi daripada pasien dengan Fluid Accumulation &lt;10%. Interval Kepercayaan (Confidence Interval, CI) 95% untuk PR adalah antara 1.48 dan 2.50.</dc:description>
	<dc:publisher xml:lang="en-US">Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran</dc:publisher>
	<dc:contributor xml:lang="en-US"></dc:contributor>
	<dc:contributor xml:lang="id-ID"></dc:contributor>
	<dc:date>2024-08-29</dc:date>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/article</dc:type>
	<dc:type>info:eu-repo/semantics/publishedVersion</dc:type>
	<dc:type xml:lang="en-US"></dc:type>
	<dc:format>application/pdf</dc:format>
	<dc:identifier>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3717</dc:identifier>
	<dc:identifier>10.15851/jap.v12n2.3717</dc:identifier>
	<dc:source xml:lang="en-US">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 126-135</dc:source>
	<dc:source xml:lang="id-ID">Jurnal Anestesi Perioperatif; Vol 12, No 2 (2024); 126-135</dc:source>
	<dc:source>2337-7909</dc:source>
	<dc:language>eng</dc:language>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/view/3717/pdf</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3717/4602</dc:relation>
	<dc:relation>https://journal.fk.unpad.ac.id/index.php/jap/article/downloadSuppFile/3717/4603</dc:relation>
	<dc:rights xml:lang="en-US">Copyright (c) 2024 Jurnal Anestesi Perioperatif</dc:rights>
	<dc:rights xml:lang="en-US">http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0</dc:rights>
</oai_dc:dc>
			</metadata>
		</record>
		<resumptionToken expirationDate="2026-04-05T02:37:57Z"
			completeListSize="138"
			cursor="0">331df6bedd728d8b48e7b633dfa91625</resumptionToken>
	</ListRecords>
</OAI-PMH>
